The Damned United: Awal Keabadian Brian Clough

26 comments
Bagi pendukung Nottingham Forrest, nama Brian Clough tak bisa digantikan oleh siapapun. Dua trofi Liga Champions (1979, 1980) dan satu Liga Inggris (1978) menjadi dalil sahih bagi klub kecil ini untuk membangun Brian Clough Stand  di City Ground (kandang Nottingham Forest). Bahkan, fans The Tricky Trees (julukan Nottingham Forest) harus berebut nama “Brian Clough” dengan fans Derby County, yang juga merasakan langsung tuah pria kelahiran Midlesbrough ini.

Bagi kalian yang tidak begitu suka sepak bola, kisah pelatih bernama lengkap Brian Howard Clough ini bisa menjadi peretas jalan kalian untuk mengetahui satu cerita epic di sepak bola Inggris. Sekalipun Clough telah tiada, kisahnya tetap abadi dalam ingatan kita.
sumber: roblufc.org

Film The Damned United adalah salah satu cara untuk mengenang kebesaran seorang Brian Clough.  Film dengan alur cerita maju-mundur ini tak hanya memperlihatkan kebesaran dan kontroversinya seorang Clough, tapi juga mempertontonkan budaya kental orang-orang Inggris di masa itu.

Clough, yang diperankan apik oleh Michael Sheen bukanlah sosok pelatih santun yang biasa kita lihat sekarang-sekarang ini. Ia adalah seorang yang arogan, narsis, rasis, idealis, humoris, dan romantis. Meskipun jumlah film yang dibintanginya kalah banyak dengan Timothy Spall, akting Michael Sheen sangatlah sempurna.   

Pria yang dikenal bermulut besar ini secara perlahan merubah Derby County yang hanya kesebelasan semenjana, di divisi dua pula, menjadi kesebelasan yang mulai diperhitungkan kiprahnya. Dengan Peter Taylor (Timohty Spall) di sisinya, ia berhasil membawa Derby County ke puncak tertinggi sepak bola Inggris.

Ada satu kejadian yang membuat Clough begitu ambisius untuk menang dan naik kasta ke First division (kini bernama Premier League). Dalam sebuah undian babak ketiga Piala FA, Derby County dipertemukan dengan Leeds United, pemuncak teratas Liga Inggris, yang ketika itu diasuh Don Revie.

Clough yang sejak awal mengagumi Don Revie telah mempersiapkan sambutan manis untuk sang idola. Membersihkan ruang ganti pemain dan menyiapkan sampanye adalah jamuan istimewa yang dipersiapkan Clough untuk menyambut sang idola. Dan semua ini ia lakukan dengan tangannya sendiri.

Apa yang kemudian dibayangkan Clough tak berjalan sesuai rencana. Ia diabaikan oleh Revie ketika Clough menyambutnya dan tim Leeds United. Penolakan berjabat tangan yang dilakukan oleh Don Revie ternyata sangat membekas di hati Clough dan menimbulkan satu ambisi baru baginya selain menjadi juara, yaitu mengalahkan Don Revie dengan Leeds Unitednya.

Persaingan tidak sehat antara keduanya ternyata dirasakan oleh banyak orang, tak terkecuali Peter Taylor yang khawatir dengan pengaruh permusuhan ini terhadap peforma Derby County. Dan benar saja, kebencian mendarah daging Clough pada Don Revie akhirnya membawa dampak buruk bagi semua. Tidak Cuma Derby County, tetapi karir Clough beserta Taylor.

Mereka berdua akhirnya dipecat. Keduanya tentu tak ingin pemecatan ini benar-benar terjadi. Tapi komentar-komentar  Clough yang memojokkan jajaran direksi dan pemilik klub mau tak mau membuat mereka didepak dari Derby. Meski sempat protes, Clough tak bisa mengubah keputusan pemilik klub. Akibat hal ini, Peter Taylor pun marah besar padanya.

Cerita baru kembali dimulai oleh Clough-Taylor ketika mereka menerima pinangan Brighton & Holf Albion, klub kecil yang berkubang di divisi tiga Liga. Ambisi besar pemilik senada dengan amibiusnya Clough untuk kembali membangun dinasti baru. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Leeds United yang baru saja ditinggal sang giver, Don Revie, memanggil Clough untuk merumput di Elland Road (kandang Leeds).

Brian Clough yang sebelumnya sudah terikat kontrak dan dibayar mahal oleh Brighton sangat bernafsu untuk menerima tawaran Leeds. Di sini, perpecahan terjadi antara Clough dan Peter Taylor, yang tetap bersikeras bertahan di Brighton karena ingin menghargai kontraknya. Ya, sejak awal permusuhannya dengan Revie, Clough begitu berambisi dan terobsesi pada Leeds United.

Ambisi Clough mengalahkan Don Revie berbuah petaka. Ia tak hanya kehilangan rekan sejawatnya, tapi juga kehilangan kepercayaan dari seluruh penggawa Leeds United yang ketika itu dikapteni William Bremner. Kalimat “buang semua medali, piala yang kalian raih ke tempat pembuangan sampah yang kalian temui. Karena itu semua kalian dapatkan dengan cara yang kotor” menjadi pembuka dendam skuat Leeds United pada Clough. Ditambah bayang-bayang Don Revie yang terus menghantui di tribun penonton semakin membuat Clough tidak nyaman.
sumber: blog.soton.ac.uk

Alhasil, 44 hari saja ia mengabdi di Elland Road. Rentetan kekalahan di awal musim dan terbenamnya posisi Leeds di dasar klasemen menjadi dosa terbesar Clough yang pindah ke Yorkshire tanpa seorang Peter Taylor di sisinya. Kejadian memalukan ini seakan membuka mata Clough bahwa ia tak bisa berjalan jauh sendiri. Ia butuh seorang yang selama puluhan tahun bersamanya, Peter Taylor.

Bersama kedua putranya, Simon dan Nigel Clough, Brian datang ke kediaman Peter untuk meminta maaf dan kembali merajut cerita baru bersama. 
Brian Clough (kiri) bersama Peter Taylor (kanan)
sumber: dailymail.co.uk



***
Film The Damned United ini menyelipkan kisah cinta akan ke-daerah-an yang sangat kental. Ini bisa terlihat bagaimana kerasnya penolakan Brian Clough kala diajak melatih Brighton karena klub tersebut berasal dari Selatan Inggris. Sedangkan dia asli Middlesbrough, Inggris Utara.

Ketika masih membesut Derby County pun, beberapa pemain yang didatangkan berasal dari kampung halamannya, seperti McGovern, Colin Todd, dan John O’Hare.

Untuk diketahui, orang-orang Italia dan Spanyol tidak begitu mencintai daerahnya sendiri, terutama dalam hal sepak bola. mereka cenderung mendukung tim yang hebat, sekalipun tim itu berasal dari daerah lain.

selaiknya film bertema sejarah lainnya, The Damned United juga memperhatikan setiap keotentikan kejadian. ada beberapa kejadian yang terekam dalam film, nyata terjadi ketika itu. seperti saat Brian Clough disandingkan dengan Don Revie dalam sebuah wawancara televisi sesaat setelah ia dipecat. termasuk setelan jas yang mereka pakai ketika itu pun sama. atau bagaimana Clough berseloroh menantang legenda tinju dunia, Muhammad Ali dalam sebuah acara televisi juga terekam jelas di film produksi tahun 2009 ini.

apa yang kemudian menarik dari settingan film ini adalah ketika deretan pertandingan (sebenarnya) Derby County, termasuk perayaan juara mereka disajikan sedemikian rupa. seluruh kru film sangat piawai membagi sebuah pertandingan sungguhan dengan euforia Brian Clough dan Peter Taylor (Michael Sheen dan Timothy Spall) di pinggir lapangan.

Film ini diangkat dari kisah nyata, yang kemudian dibukukan dengan judul yang sama karya David Peace. Peace sendiri mengatakan jika versi filmnya berbeda versi tulisannya. Maka dari itu, ia masih berharap jika The Damned United difilmkan kembali, dengan versi hitam putih



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

26 komentar:

  1. Wuih. Keren nih. Kemaren2 nonton goal dari segi pemain. Sekarang bisa liat dari sudut pandang para pelatih. Mirip2 giant killing

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sih belom nonton giant killing. tapi kata temen-temen yang udah nonton sih emang bagus banget tuh filmnya

      Hapus
  2. Wuih. Keren nih. Kemaren2 nonton goal dari segi pemain. Sekarang bisa liat dari sudut pandang para pelatih. Mirip2 giant killing

    BalasHapus
  3. Kayak Pelle atau Goal ya, ini? Link Bluraynya dong, Gan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Goal mah beda. Kalo pelle.... Ya so so lah. Duh saya nontonnya yg nggak bluray gan. Ntar tak cariin dulu

      Hapus
  4. Belum pernah nonton nih.
    Wah ternyata filmnya juga dibukukan ya kak. Menurut kak wanda lebih seru mana film atau bukunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom baca bukunya man. Rada susah soalnya tuh buku. Jadi ya filmnya aja dulu haha

      Hapus
  5. haduu maaas... aku harus baca perlahan demi perlahaaaaaan banget buat memaknai tulisan berbau bola ini...


    hmmm beda banget ya sama di Indonesia. Kebanyakan orang justru mendukung tim di daerahnya sendiri dan rasa cinta tanah airnya begitu kuat

    BalasHapus
  6. btw, enak ya kalo perjuangan kita diabadikan.
    tapi harus jadi orang yang benar-benar berjuang dan berarti sih
    eh, apa saya bisa ya?

    BalasHapus
  7. Ini di film yang dibukukan, tapi ceritanya berbeda? Mungkin pas nulis dapat ilham dan ide yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebalik mba. buku yang difilmkan. hehe

      Hapus
  8. Ini di film yang dibukukan, tapi ceritanya berbeda? Mungkin pas nulis dapat ilham dan ide yang lain.

    BalasHapus
  9. Oh...ternyata orang Italia dan Spanyol lebih mendukung tim yang bagus daripada timnya sendiri ya...agak masuk akal juga sih hehehe...

    Eh...ternyata enggak hanya pemain ya...pelatih juga bersaing.

    BalasHapus
  10. aih... gimana klo kita bikin paket wisata untuk nonton langsung disana kak Wanda. kita bisa teriak teriak heppi disana

    BalasHapus
  11. Aku enggak mengerti bola atau pun olahrga lainnya, tapi kalau disuruh nonton film kaya gini suka dan mendadak ngerti.
    Pengen nonton. Semoga bakal diputar di Fox.
    Eh itu Itali dan Spanyol lebih mundukung klub yang hebat dibanding negaranya, agak bertolak belakang dengan bangsa kita yang akn bela-belain klub daerahnya sampai suka berakhir rusuh ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga mba. aku belom pernah liat sih di fox hahah

      dalam sepak bola, cenderung begitu mba orang-orang italia dan spanyol.

      Hapus
  12. Hmmmm gak ngerti bola 😐

    BalasHapus
  13. Gak terlalu suka bola kecuali kalo indonesia yg main. Aku sih yakin filmny bagus,krna diangkat dr kisah nyata.

    BalasHapus
  14. Suamiku pasti doyan nih nonton filmnya, apalagi diangkat dari kisah nyata liga inggris yang emang pertandingan2nya beneran ada..keren, aku jg jd pengen ikutan nonton nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba ini kisah nyata. dan ada cuplikan pertandingan sungguhannya. wajib nonton sih emang haha

      Hapus
  15. komentarku muncul enggak ya? entah kenapa susah banget komentar dengan smartphone. #jadicurhat. btw membaca tulisan ini saya jadi sedikit paham dengan dunia sepak bola inggris.

    BalasHapus
  16. keren, yg pada memfilmkan kisah nyata. Kisahnya bikin ikut membayangkan kejadian aslinya.

    BalasHapus
  17. Saya suka film yg diangkat dari kisah nyata apalagi yg inspiratif begini.. ga peduli deh latar belakanya apa, sepakbola, F1 apa saja karena banyak nilai di sana..

    Dan di film ini pelatih arogan, sarkas.., hmm ternyata berhasil mengukir prestasi yaa,,. Terima kasih reviewnya, jadi pengen nonton lengkapnya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mba ira ada film tentang F1? aku mau dong hehehe

      Hapus
  18. Nah aku emang tahu beberapa legenda sepak bola Inggris termasuk Om ini, cuma nggak begitu ngeh sama sejarah hidup dia. Tahu 1900an banyak banget tim di Inggris yang keren.. BTW bagus juga filmnya mengajarkan kita unthk tidak boleh dendamm.. yess dendam bkn kita mati diam2

    Nanti cari ah filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantap jiwa kak ajen. tau blio ini. hhaha.
      bener kak. karena dendam bikin rugi diri sendiri. kek brian clough ini lah. sekalipun akhirnya dia sukses.

      cari kak. di yutub ada kayanya

      Hapus