Memahami dan Memaafkan SBY

16 comments
Medio 2004 hingga 2014 kita dipimpin oleh seorang militer untuk pertama kali pasca reformasi. Membawa semangat baru bagi rakyat juga kaum muda bertalenta di partainya. Sebagai partai baru yang tak memiliki massa dan sudah pasti kalah dengan partai lama yang silih berganti menguasai negara, tentu terpilihnya ia menjadi presiden menjadi cerita lain yang pada akhirnya memimpin negara 10 tahun lamanya.

Susilo Bambang Yudhoyono, atau kondang disapa SBY kembali mencuri perhatian. Sempat hilang untuk beberapa saat pasca bergantinya pucuk kepemimpinan, ia kembali ke panggung hiburan politik. Tentu agak memaksakan jika kemunculannya kembali dianggap sebagai manuver politik untuk merongrong penguasa. Sebagai melankolic sejati, ia rela turun bukit sebagai seorang ayah. Bukan jenderal, apalagi mantan presiden.

Ke-peka-an seorang ayah pula yang membawa Agus, yang kemudian beken dengan gelar AHY ikut pertarungan alot demi kursi gubernur DKI. Betapa cintanya SBY pada Agus, yang belum tiba saatnya sudah dibebankan menjadi DKI 1.  Ia tahu betul apa yang terbaik buat kemajuan anaknya, juga ibukota Negara. Karena jika tidak, sudah pasti SBY akan memilih Ibas yang…………………….silakan kalian isi sendiri

Mari kita lupakan soal Agus, terlebih lagi tentang Ibas. Saya tidak ingin membahas keluarga Cikeas (kuningan) ini, saya hanya ingin konsentrasi pada SBY yang fenomenal. Fenomenal karena mampu memimpin negara 2 periode lamanya. Meski masih banyak yang mencibir SBY hingga kini, saya rasa ia tetap harus kita maafkan. Jika bukan kita, siapa lagi. Jika bukan sekarang, kapan lagi.

Tentu bukan masa bakti 10 tahun yang penuh intrik dan kejanggalan yang harus kita maafkan, melainkan cuitan SBY belakangan ini yang wajib kita maafkan dengan hati riang penuh sukacita. Selayaknya sepak bola, (dalam hal ini) Twitter juga telah memanusiakan manusia dari hal paling dasar.
sumber: bandung.bisnis.com
Aktifnya SBY di Twitter memang sudah lama dilakukan. Satu jam pertama ia muncul di Twitter saja, sejutaan orang sudah tersusun rapi di beranda follower SBY baik yang ingin berinteraksi langsung atau hanya demi nafsu menghujatnya tersalurkan. Maklum saja, ketika itu blio sedang menjabat kepala Negara.

Lambat laun, seiring habisnya masa jabatan SBY sebagai presiden dan maraknya berita-berita Pilkada di lini masa yang menimbulkan berjuta tafsir juga gelak tawa yang – katanya – mengancam kerukunan Indonesia. Melihat gelagat tidak baik ini, SBY dengan cekatan meredam amarah kita sebagai warga Jakarta dengan memohon pada Allah, Tuhan YME agar bangsa ini jauh dari kata hoax dan adu domba. Kita yang sebelumnya sering naik pitam kala membuka lini masa berubah sumringah dengan curahan SBY yang sangat humanis.

Demi kerukunan bangsa pula SBY merasa perlu dan wajib pindah rumah. Cikeas tampaknya sudah terlalu sempit baginya, juga bagi bu Ani yang sepertinya menganggap Cikeas sudah tidak ootd-able untuk memenuhi kewajibannya sebagai selebgram hingga harus pindah ke pusat Jakarta.

Kuningan menjadi destinasi baru SBY sekeluarga. Sebuah tempat di mana hampir sepertiga warga Jabodetabek mengadu nasib dan peruntungan, tak peduli seberapa macet ruas jalan, seberapa keras mereka berusaha. Perjuangan ini pula yang tampaknya menjadi pertimbangan SBY untuk sekali lagi bertarung di kerasnya ibukota demi putra mahkota duduk di balai kota.

Tak lama setelah ia pindah, sang Bapak kembali murka. Dengan cara yang melankolic tentu saja. Tak tahan dengan amuk oknum segelintir orang yang memenuhi kediaman barunya, SBY mengadu sebagai warga biasa. Mempertanyakan hak-hak hidupnya sebagai anak bangsa pada Presiden dan Kapolri di…Twitter dan…..no mention. Entah saya yang kelewat sentimen atau sebaliknya, yang pasti apa yang dilakukan presiden ke 6 ini benar-benar mencerimnkan suatu fakta, bahwa dihadapan Twitter, kedudukan manusia sama.
sumber: twitter.com 
Lewat cuitan berantainya tiga minggu belakangan, sudah semestinya kita menempatkan diri di posisi SBY yang hanya orang biasa yang memiliki rasa takut akan keselamatannya. Seperti yang kita tahu sebelumnya, selama menjadi presiden saja, ia selalu dirundung ketakutan akan menjadi target terorisme yang membuat foto dirinya penuh lubang dan takut pada urusan dapur yang tidak bisa ngebul kala menyadari gajinya yang tak kunjung naik.

Maka dari itu mari kita memaafkan SBY sebagai sesama rakyat jelata yang hanya bisa nyinyir pada penguasa di media sosial. Dengan sisa-sisa kekuatan politik yang ia punya, SBY lebih memilih jalan kekinian dalam mempertanyakan ketidaknyamanan. Meninggalkan atribut partai kala menanggapi beberapa kabar tak sedap yang menyasar dirinya dan keluarga. Lewat kebesaran hatinya pula kita tidak perlu menunggu serial hadirnya Panitia Khusus (pansus) yang kerap dibentuk SBY saat masih menjadi presiden.

Belakangan ini, orang Indonesia telah hancur martabatnya di media sosial hanya karena beda pilihan. SBY, dengan segala keringkihan hatinya mengembalikan kita ke masa di mana media sosial hanya untuk bersenang-senang dan baper-baperan. Lewat cuitannya, kita kembali bisa tersenyum setelah sebelumnya dinaungi amarah. Lewat cuitannya, kita bisa tertawa lepas dan menghibur diri setelah sebelumnya nyaman untuk membenci dan menyakiti.

Untuk itu, sudah selayaknya kita memahami dan memaafkan cuitan SBY dan biarkan ia hidup tenang di Kuningan sebelum nanti kembali ke Cikeas pasca pilkada di Jakarta.






Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

16 komentar:

  1. Betul..maafkan sajalah..Biasanya semakin berumur, orang makin baper #eh 😂

    Salam kenal,
    Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah emang harus kita maafkan dan maklumi biar si bapak makin Jadi. Laaaah

      Salam kenal juga mba tatat yg lagi di jerman :D

      Hapus
  2. Manusiawi.... Itu kata yg cocok menghadapi masalah ini...

    BalasHapus
  3. Manusiawi.... Itu kata yg cocok menghadapi masalah ini...

    BalasHapus
  4. Cukup menjadi hiburan di dunia pertwitteran memang Pak SBY ini 😂

    Salam.
    Andro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bli. Biar kita nggak bosen2 amat di medsos hahah

      Hapus
  5. Okelah,,kita sehati untuk hal ini,,he he salam kenal,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieeee sehati :)))

      Salam kenal juga, mba

      Hapus
  6. Selalu respek dengan kisah presiden dan semua kontroversinya, termasuk bapak sendu kita yang satu ini. Tetep jadi salah satu presiden idola lah, khususon dalam cuitannya.
    Salam kenal ;)

    BalasHapus
  7. 😆 mau gimana lagi, maafkan..kita doakan yg terbaik utk blio.😄

    BalasHapus
  8. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan kepada pak SBY dan Rakyat Indonesia.

    BalasHapus
  9. Jika kata maaf berguna, buat apa ada puisi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat apa berpuisi Kalo bisa bikin lagu. *Bikin kaos

      Hapus
  10. SBY sekarang baperan, tapi biarin aja dah. Bisa jadi bahan lelucon. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma itu yang bisa kita harapkan dari blio

      Hapus
  11. SBY setelah merasakan nikmatnya Twitter langsung curcol seperti anak remaja..haha

    BalasHapus