Rabu, 02 November 2016

Martunis Dalam Kasih Sayang Tuhan

Tuhan menciptakan alam raya ini dengan segala keindahan dan keagungannya, dan kita sebagai makhluk ciptaannya pun diwajibkan untuk selalu mensyukuri apa pemberian tuhan, tak terkecuali musibah. Sudah cukup banyak musibah yang terjadi di dunia dengan jutaan nyawa melayang, salah satunya adalah tragedi gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh.

Sebagai provinsi paling ujung barat Indonesia, Aceh berbatasan langsung dengan samudera hindia yang juga terhubung dengan laut Australia, sehingga tidak heran jika hampir semua daerah di Aceh memiliki pantai yang indah, dan menjadi destinasi wisata favorit para pelancong.

Tepat hari minggu pukul 9 pagi, tanggal 26 desember 2004, Nanggroe Aceh Darrussalam diterjang musibah terdahsyat, gempa berkekuatan 8,9 skala richter yang kemudian diikuti dengan gelombang pasang setinggi 10 meter menyapu bersih seluruh pesisir pantai Aceh. Amukan ombak laut yang tak bisa dibendung dengan apapun ini meratakan seluruh daerah yang berdekatan dengan bibir pantai seperti Meulaboh, Calang, sampai ke ibukota provinsi, Banda Aceh. Tidak ada tempat untuk berlindung ketika air laut datang, kecuali mesjid-mesjid yang tetap kokoh berdiri berkat kebesaran ilahi.

Tsunami yang menurut para ahli Geologi hanya terjadi 200 tahun sekali, dalam sekejap amukannya menghancurkan Serambi Mekkah, tidak ada yang disisakan dari bencana ini kecuali rasa pilu paling dalam warganya, dan mayat yang bergelimpangan disetiap sudut jalan. Tanpa aba-aba, tanpa tanda apa-apa, tuhan menegur keras rakyat aceh dengan bencana maha besar yang merenggut nyawa hampir 200 ribu jiwa ini.

Tapi di balik setiap musibah tuhan selalu menyelibkan keberkahan yang bisa dirasakan umatnya, dan setidaknya Aceh mendapatkan dua keberkahan yang dijanjikan tuhan kepada umatnya di daerah yang menerapkan Syariat Islam ini. Yang pertama, provinsi paling barat Indonesia ini, yang selama belasan tahun dibelenggu konflik antara Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ) dan pemerintah Indonesia akhirnya berdamai pada 15 agustus 2005 – sebuah impian rakyat aceh yang ingin hidup damai tanpa kekerasan akhirnya terwujud. Dan yang kedua, munculnya bocah bernama Martunis yang sekarang sudah menjadi bagian dari club bersejarah Portugal, Sporting Lisbon.

Pagi hari saat tsunami menerjang Aceh, Martunis, yang ketika itu berusia 7 tahun sedang asyik bermain bola bersama beberapa teman sepermainannya. Mengenakan baju tim nasional Portugal bertuliskan Rui Costa, ia terhempas puluhan ribu mil ke tengah tengah samudera Hindia dan terombang-ambing selama puluhan hari dengan hanya berbekal batang pohon yang mengapung, ia tiada henti berjuang untuk terus hidup walau hanya bisa “menikmati” asinnya air laut, pekatnya batang pohon yang dimakan untuk mengisi perut. Tentu itu bukan makanan yang dikehendakinya, tapi apa lagi yang harus dilakukan di tengah laut selama puluhan hari.

Tidak lama setelah itu, tuhan lagi-lagi menunjukkan kebesarannya dengan “mengirim” sebuah kapal dan helikopter asal Belanda untuk menolong Martunis yang sudah tidak tahan dengan “kehidupannya” di laut lepas. Penderitaan selama terjebak di laut pun terbayar seiring pemberitaan yang dilakukan televisi Belanda yang merekamnya sembari memakai jersey negara Portugal.

Tuhan seakan sudah menakdirkannya untuk memakai seragam Portugal pada hari itu, dan berkat “Rui Costa” inilah yang menggugah warga dunia akan dirinya dan tentu negara Portugal yang menaruh simpati amat tinggi untuknya.

Portugal yang ketika itu masih diperkuat generasi emas dengan Rui Costa di dalamnya, Pauleta sebagai penyerang, Luis Figo sebagai rajanya, dan tentu kemunculan bintang baru mereka Cristiano Ronaldo yang masih berumur 20 tahun, bahu membahu membantu Martunis dan rakyat aceh selama rekonstruksi berjalan. Bahkan – menurut saya – mereka menjadikan Martunis sebagai duta negaranya. Baik federasi, pelatih, hingga presiden Portugal mengundang Martunis untuk berkunjung ke negara Eropa barat tersebut.
Martunis bersama seluruh skuat Portugal (sumber: tempo.com)


Tapi lebih dari itu, Martunis mendapatkan perhatian yang luar biasa dari idolanya, Cristiano Ronaldo. Dia menemukan seorang panutan, seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap hidup di tengah laut, seseorang yang selama ini dipanggil dengan sebutan abang dalam diri Cristiano Ronaldo.

Baju Portugal yang ia kenakan telah membawa Cristiano Ronaldo menginjakkan kakinya di bumi Serambi Mekkah selama beberapa hari, hanya untuk menjenguk sang “adik” di kota kelahirannya – seingat   saya, Ronaldo adalah pesepakbola dunia pertama yang berkunjung ke Aceh. Kedatangannya tersebut telah membuat Aceh kembali dibanjiri oleh lautan manusia, tidak ada sudut yang tersisa di Banda Aceh karena orang-orang yang ingin melihat sang superstar dari dekat.
kedatangan Ronaldo ke Aceh pasca Tsunami (sumber: liputan6.com)


Seperti ingin membalas jasanya, Martunis pun gantian menyambangi Ronaldo di Portugal dan menjadi tamu kehormatan di negara Eusobio tersebut, dia pun berkesempatan menonton langsung pertandingan Kualifikasi piala dunia 2006 antara Portugal vs Finlandia, tidak sampai disitu, Martunis bahkan duduk disamping pemain yang jersey nya ia pakai ketika musibah tsunami terjadi, Rui Costa.
Martunis dan legenda hidup Portugal, Eusebio ketika menyaksikan pertandingan Portugal vs Finlandia (sumber: pinteres.com)


Cristiano Ronaldo, merupakan pemain tersukses Portugal bahkan dunia. Sudah banyak trofi yang ia menangkan, sudah tak terhitung pula gol yang ia cetak bersama club dan negaranya, kekayaan yang melimpah ruah nyatanya tak membuat ia lupa dengan anak asuhnya yang tinggal puluhan ribu mil dari benua  Eropa.
Ketika awal tahun lalu ia kembali datang ke tanah air, dia pun tak lupa untuk turut mengundang Martunis ke Bali, tempat dimana Ronaldo singgah. Cristiano yang terakhir bertemu martunis ketika masih kecil, terkaget-kaget ketika melihat sang bocah sudah tumbuh dewasa dan piawai bermain bola.

Ketika semua orang di Indonesia, dan bahkan di Aceh mulai lupa dengan kisah Martunis, club penuh sejarah di Portugal, club dengan penghasil pemain nomor wahid  dunia, Sporting Lisbon, tidak pernah lupa dengan  bocah Aceh ini. disaat pencinta bola tanah air terbuai dengan fenomena konyol bernama Andik Vermansyah yang mengaku dirinya didekati Sporting Lisbon.

Tanpa basa basi, tanpa sorotan media lokal, dan mungkin tanpa disadari oleh dia sendiri, Martunis sudah terbang ke Portugal untuk menandatangani kontrak bermain di akademi Sporting Lisbon. Sebuah akademi yang sudah menghasilkan pemain terbaik dunia semacam Luis Figo, Pedro Pauleta, Luis Nani, dan tentu Cristiano Ronaldo.
bersama idolanya, di sela-sela latihan Sproting Lisbon (sumber: goaceh.com)


Sebuah mimpi semua anak di dunia, sebuah harapan yang nyatanya hanya menjadi mimpi semu bagi seorang pemain profesional sekelas Andik Vermansyah, dapat diwujudkan oleh seorang bocah yang untuk mengejar mimpinya ke Portugal harus berjuang bertaruh nyawa, yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.

Martunis yang kini berusia 17 tahun patut bangga dengan apa yang telah ia capai sejauh ini, walau dengan segala penderitaan yang dialami selama musibah 12 tahun lalu. Kehilangan hampir seluruh keluarga akibat tsunami tak menyulutkan niatnya untuk terus menyambung hidup, dengan tekat pantang menyerah yang turut dibantu Ronaldo sebagai pedoman hidupnya.

Kini martunis bisa menapak tilas perjalanan karir sang mega bintang di Sporting Lisbon, leĆ³es – julukan Sporting bahkan mewariskan nomor punggung 28 kepadanya, nomor pertama yang dikenakan Ronaldo ketika memperkuat Sporting.

Namun, di balik itu semua memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan Martunis mencapai akademi Sporting Lisbon berbau keberuntungan dan jasa Cristiano Ronaldo. Karena kita sendiri tentu tidak tahu sejauh mana keahliannya mengolah bola di lapangan. Tapi apapun itu, kita patut bangga dengan pencapaiannya saat ini, toh, kalaupun kemampuannya belum teruji sekarang dia tentu masih bisa belajar di akademi Lisbon, masih cukup panjang waktu yang ia miliki untuk bisa menjadi pemain bola profesional.

Sekalipun dia tidak mampu menembus tim utama Sporting Lisbon di masa mendatang, dia tentu akan diterima kembali dengan cinta rakyat Indonesia di tanah air dan bisa berbagi ilmu yang didapat dari akademi terbaik Eropa tersebut. Tidak menutup kemungkinan pula ia bermain di liga Indonesia dan tentunya mewujudkan mimpi seluruh anak Indonesia untuk membela negara di ajang internasional.

Tapi, sekali lagi, doa rakyat aceh, juga Indonesia menyertainya untuk bisa menembus tim utama The Lions dan menjadikan ia satu-satunya anak asli Indonesia yang bermain di kancah tertinggi Eropa dan membawa kebanggaan teramat dalam bagi kita, Indonesia.

Pada akhirnya, sepak bola lagi-lagi menunjukkan sisi humanis yang sangat manis untuk kita pelajari. Sepak bola, khususnya Sporting Lisbon telah mengajari kita semua apa arti sepak bola yang sebenarnya melalui hal yang paling dasar. Sebuah club besar yang tidak melulu hanya menghargai pemain besar telah membuka mata kita apa arti kehidupan antar sesama yang sebenarnya. Melalui sepak bola kita bisa menyatukan dunia dengan segala kegetirannya.


Pernah Paul McCartney mengungkapkan satu kalimat kepada John Lennon “Music is Music, Simple”. Maka, kali ini mari sama-sama kita mengatakan “Football is Football, Simple”

5 komentar:

  1. Wahhh. Ada tulisan baru. Kok "abang ade" bukannya doi diangkat anak ya sama CR?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kak. Ya karena si martunis manggil ronaldo nya abang sih haha

      Hapus
  2. Dibalik kisah ini, Keindahan lokasi tsb pengen bgt saya datengin dari dlu, tapi belum kesampaian....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom terlambat kok mas buat dateng kesana...semoga bisa kesampaian :)

      Hapus
  3. hmmmmm, susunan fotonya coba benerin. ya ampun. udah diajarin juga.

    BalasHapus