Senin, 24 Oktober 2016

Syariat Islam dan Budaya Ngopi di Aceh

Baru-baru ini saya mendapati himbauan kepolisian kota Banda Aceh dari seorang teman yang menetap disana. Isinya lebih kurang mengajak warga Aceh agar tidak terlalu berlama-lama duduk di kedai kopi yang semakin membludak di Serambi Mekkah.

Tentu saja himbauan ini perlu kita apresiasi bersama, dan untuk pertama kalinya pula, saya berani mengangkat topi dan membuka baju – bila perlu – sebagai bukti dukungan kepada kepolisian setempat yang akhirnya bisa bersikap kritis dan cerdas terhadap kehidupan sosial di sekitar mereka.

Dan akhirnya pula, kita tidak perlu menganjing-anjingkan para polisi yang seenak perutnya menilang pengendara motor disana-sini, dan tak jarang meminta uang damai senilai 50 ribu rupiah, walau terkadang mereka menolaknya ketika sedang menjadi aktor  “86” di salah satu TV swasta.

Sebagai orang Aceh, saya sangat mengamini himbauan polres kota Banda Aceh tersebut sambil ketawa haha-hihi membayangkan para tengku-tengku di sana yang sedang terbuai dengan aroma khas kopi Aceh yang aduhai, lalu kenikmatan itu “terganggu” oleh lantunan suara adzan. Saya juga tidak sanggup membayangkan bagaimana masamnya muka mereka ketika dihadapkan oleh banner yang terpampang di depan polres Banda aceh tersebut.
banner polres Banda Aceh (sumber: bintang.com)

Kopi dan islam, memang menjadi ciri khas tersendiri di Nanggroe Aceh Darussalam dan memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Kopi beserta jutaan kedainya bahkan sudah muncul sejak zaman Belanda dulu, yang masih bertahan dan sepertinya akan semakin berkembang sekarang ini, mengingat kedai-kedai kopi di Aceh yang semakin besar nan mewah, juga dilengkapi fasilitas wifi. Siapa pula yang tak sanggup berlama-lama jika sudah dimanjakan seperti ini?

Ini pula yang membuat penghuni kedai kopi di Aceh tidak hanya dikuasai oleh para pria, kini kalangan wanita dari segala umur pun sudah mulai meramaikan kedai-kedai kopi dan semakin mempertegas status warga Aceh sebagai penggila kopi yang paling malas. Malas karena tidak ingin beranjak sejengkalpun dari meja kopinya hingga berjam-jam lamanya.

Berlama-lama di kedai kopi memang tidak diatur dalam Qanun syariat disana, karena hal ini memang tidak melanggar aturan apapun dan merugikan siapapun. Mungkin ini pula yang membuat polisi bertindak sedemikian cerdas dan mendahului polisi syariat yang tidak berbuat apa-apa tentang fenomena ini. Tujuannya sangat jelas, yaitu untuk menyentil mereka yang merasa paling benar perihal agama, namun tetap bermalas-malasan di kedai kopi meski kumandang adzan sudah menggema.

Islam adalah agama mayoritas di Aceh, dan menjadi gerbang utama penyebaran islam di nusantara melalui kerajaan Samudera Pasai. Namun begitu, Hukum syariat yang ditegakkan di Aceh memang tidak lebih lama dari keberadaan kedai dan budaya ngopi disana. Tapi, disaat keberadaan kedai kopi semakin mewabah dengan segala fasilitasnya, syariat islam di Aceh sendiri justru semakin mengalami kemunduran ( setidaknya itu yang saya lihat ).

Jika beberapa tahun lalu, polisi syariat, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wilayatul Hisbah, yang akrab ditelinga orang Aceh dengan sebutan “WH” sangat rajin berlalu-lalang, bolak-balik tak karuan untuk menindak kakak-kakak yang tidak memakai kerudung dan abang-abang yang mengenakan celana nanggung.

 Bahkan, dulunya, WH ini rela nyebur ke pantai untuk menindak adek-abang yang sedang pacaran sambil berpegang tangan, ala FTV zaman kekinian. Sekarang, jangankan nyebur ke pantai, panas-panasan dijalanan pun, mereka sudah jarang kelihatan. Yang pasti menurut saya, penegakan syariat islam di Aceh sudah agak melonggar.

Ya, ketika wanita ibukota berama-ramai memakai jilbab dengan segala inovasinya, beberapa kakak-kakak di Aceh malah menanggalkan jilbabnya secara berkala. Artinya, meskipun kerudungnya masih nyangkut di kepala, tapi rambut mereka masih terurai bebas dicelah-celah penutup kepalanya bagai ekor kuda. Belum lagi dengan baju yang super pendek – tak jarang ketat – yang menutupi tubuhnya. “nggak usah pakai kerudung sekalian”, kalau boleh saya berpendapat.

Hal ini bisa terjadi dikarenakan kelalaian dari pihak polisi syariat yang semakin ogah menindak warganya, dan sekarang mereka hanya sesekali melakukan sweeping ala razia kendaraan bermotor yang biasa dilakukan oleh polisi konvensional.

Tapi, setidaknya, pelaksanaan syariat islam di Aceh masih kental terasa ketika memasuki bulan ramadhan, dan hari jum’at. Dua tahun lalu, ketika saya pulang kesana untuk menikmati ramadhan dan lebaran dikampung halaman, seluruh kedai kopi ataupun kedai-kedai lainnya tertutup rapat bagi para konsumen saat waktu shalat taraweh tiba. Walaupun ketika waktu berbuka puasa tiba ramai dikunjungi warga.

Sementara di hari jum’at ( termasuk diluar bulan puasa ) toko-toko, kedai kopi, dan segala macam jenis perdagangan berhenti beroperasi, transportasi seperti tukang becak, labi-labi ( sejenis angkot ) juga berhenti beroperasi. Jika mereka nekat melayani konsumen, maka bersiaplah ditindak oleh WH. Semua ini dilakukan oleh WH untuk menegakkan ajaran islam agar warganya tidak ketinggalan 5 waktu. Hal ini dilakukan polisi syariat Tentu tanpa imbalan serupiah pun dan tidak ada pula undian motor yang dijanjikan kepada warganya.

Baiklah, kita kembali ke topik utama, kedai kopi. Apa yang dilakukan oleh polisi kota Banda Aceh ini sungguh ironis memang. Ironis bukan karena kebudayaan Aceh yang sangat membanggakan “ngopi”, tapi ironis karena fakta yang menunjukkan bahwa polisi konvensional lah yang mengeluarkan maklumat tersebut, bukan polisi syariat yang lebih berwenang dan memiliki tanggung jawab moral untuk masalah ini.

Lalu, ada apa dengan polisi syariat yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman itu? apa yang terjadi pada mereka? Kemana mereka pergi ketika polres Banda Aceh mengeluarkan himbauan seperti itu? hmmm…mungkin mereka sedang ikut ber haha hihi dengan para tengku di kedai kopi sambil menikmati fasilitas wifi. Eh….


66 komentar:

  1. Kedai kopi memang melenakan. Saya rasa tidak hanya di Aceh orang2 menjadi malas berdiri karena keenakan duduk bercengkrama dengan cangkir kopi.

    Saya salut dengan para polisi (polres maupun polisi syariat) yang ada di Aceh. Meski bagi orang aceh, penegakan syariat Islam sudah mulai longgar namun setidaknya jika dibandingkan dengan di provinsi lain di Indonesia, kereligiusan daerah Aceh jauh lebih terjaga dengan adanya para polisi ini. Jika di daerah lain peraturan seperti di atas ditegakkan mungkin akan ada yang berteriak SARA untuk melawannya. Semoga tidak hanya di Aceh penegakan syariat Islam dapat dilaksanakan. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya mba. Salah satu kebanggaan aceh ya syariat islamnya.

      Amiin. Semoga :)

      Hapus
  2. Ada polisi yang baik Wan, pacar aku misalnya...
    Kreatif nih polres banda acehh hahaha...
    Jadi pengen nyoba kopi aceh juga heheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Kak ajen. Ternyata pacarnya polisi. Mantep lah

      Iya ntar kalo balik ke aceh, tak bawain yaa
      *Tau kapan balik nya*
      Hahahah

      Hapus
  3. terbuka wawasan gw soal aceh dan polisi syariahnya.. jika kopi memang melenakan, gw rasa tak hanya di aceh.. di mana pun juga sama.. tinggal kitanya saja yang masih mampu tak menyegerakan panggilanNYA?? :) nice artikel om..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mas. Kopi ini memang racing banget (sekalipun tanpa sianida) haha. Makasih mas :)

      Hapus
  4. Saya lihat hal ini sama dengan yang terjadi di adat2 dalam suku saya mas, kebiasaan yang dahulu rutin dikerjakan kini sudah tidak terlalu ketat lagi, dengan alasan zamannya bukan begitu lagi.

    BalasHapus
  5. Saya lihat hal ini sama dengan yang terjadi di adat2 dalam suku saya mas, kebiasaan yang dahulu rutin dikerjakan kini sudah tidak terlalu ketat lagi, dengan alasan zamannya bukan begitu lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena masih satu pulau bang. Makanya ada bersamaan hehe

      Hapus
  6. Hmmm..kurang bgtu suka bgt dengan kopi.. tp bagus nih artikelnya

    BalasHapus
  7. Sekiranya menurut saya sih ngopi di warung kopi biasanya tidak hanya membahas soal kopi dan perkopian, biasanya di warung kopi justru banyak obrolan seputar aliran agama, aliran politik dan gosip-gosip tertentu dengan mudahnya tersebar dan menyebarkan suatu berita baru.

    Dan obrolan warung kopi terkadang bisa jadi obrolan yg merakyat, jadi ingat sama budaya belitung yang suka ngopi di warung kopi sambil cerita tentang segala hal, semua bahasan bisa berasal dari warung kopi..

    Jadi budaya ngopi memang selain mendekatkan antar sesama juga bisa menjalin silaturahmi antar sesama pecinta kopi :)))

    kirimin kopi aceh dong bang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bung. Saya pernah ngerasain soalnya hahah

      Hapus
  8. Warung kopi emang deh ya sekali masuk susah keluar kayak pasir hisap, apalagi nongkrongnya bareng kawan yg asik bah rasanya baru sekali 2x sruput eh tau2nya udh 2jam nongkrong

    ohiya ngomong2 polisi syariah itu dari kepolisian atau bukan ya mas? saya baru tau kalo di aceh ada yg namanya polisi syariat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mas. Kalo polisi syariat itu khusus menindak mereka yg melanggar peraturan agama (gapake kerudung, maen Judi, zina) dan gaada hubungannya sama polisi biasa hehe

      Hapus
  9. Baca bannernya langsung mak jleb, merasa tersindir.

    Disini warung kopi free wifi juga udah menjamur. Dan yang bikin miris, anak2 Kecil juga suka nongkrong untuk menikmati wifi gratis

    BalasHapus
  10. Hampir setiap daerah sama ya mas, sekarang warung kopi kebanyakan free wifi

    BalasHapus
  11. Aceh yaa..
    Mengagumkan.

    Seandainya syariat yang indah itu diterapkan di seluruh Indonesia...
    In syaa allah jadi negara Islami yang maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba. Walaupun kayanya agak mustahil sih :(((

      Hapus
  12. Ada sisi positif dan negatifnya jika sering-sering ngopi ya, Kak. Bisa mempererat tali siaturahmi dengan para sahabat,ketika berkumpul bersama. Tapi sebaiknya memang tau waktu juga, sih. Kalau sudah berkumandang adzan, bisa kan sholat dulu? Eh, kalo di kafe-kafe itu, ada musalanya gak, ya? Hehehe, maklum belum pernah.

    Saya salut dengan kehidupan di Aceh, syariat Islamnya benar-benar ditegakkan. Semoga ke depannya polisi dan polisi syariahnya selalu menunaikan tugasnya dengan baik. Agar norma-norma keislaman bisa terus terjaga, aamiin.

    BalasHapus
  13. Itulah sebabnya Aceh menjadi Daerah Istimewa krn memang istimewa. Kepengen banget berkunjung ke Aceh suatu waktu nanti.

    Hehehe moga2 polisi juga manusia, mungkin mereka khilaf ikutan ngopi :))

    Tapi seenggak2nya dgn aturan syariat Islam, di Aceh masih msyarakatnya masih religius lha ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Main main ke aceh. Insyaallah ga Nyesel hahaha.

      Hapus
  14. Kopi memang identik banget dgn warga aceh ya. Sepertinya ga komplit jadi warga aceh klo ga suka kopi. waktu main ke sana ibu2nya saya lihat juga suka kopi.

    Sayang ya kalau warung kopi ga ikut dgn kebiajkan setempat. Padahal kan bisa jadi cerita unik dan ciri khas aceh juga bahwa kedai kopi tutup setiap jam shalat. semoga polisi syariah lebih bergigi dan ga hanya berani razia perrmpuan pakai celana.. :-)

    BalasHapus
  15. Meskipun saya jarang ngopi tapi memang budaya ngopi ini sangat kental khususnya di Indonesia bahkan sudah menjadi trend tersendiri. Tapi saya belum pernah nyobain kopi aceh. Rasanya seperti apa ya mbak? heheehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya kayak kopi mba hahaha...
      Kopi aceh banyak jenisnya sih. Ada kopi gayo, pancong, ulee kareng, Sanger, sama saya lupa nama kopi yg di meulaboh. Yg di sangkan dgn gelasnya dibalik. Dan diminum pake setoran haha

      Hapus
  16. aku suka banget sama kalimat yang ada di bannernya, nyentil banget.. keren nih pak polisi di sana :D

    BalasHapus
  17. Tulisan ini semacam mengingatkan saya juga, bisa hahahihi bareng teman2 di kedai kopi. Tapi...ah sudahlah.

    Apalagi setelah tahu yang lelbuat himbauan tsb polisi konvensional ya, wow!
    Tfs.

    BalasHapus
  18. Aku kepo sama Kopi Sanger Aceh nih mas Wanda 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Kopi Sanger memang terkenal di aceh. Kopi Sanger yg terkenal itu ada di warkop solong mba. Di Banda aceh haha

      Hapus
  19. Jd polisinya beda ya? Kirain sama. Agak susah kalo dah jd kebiasaan gitu, terkenal dg warung kopi tp gak boleh lama2 di warkop. Ah semoga byk yg mengingat akhirat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mba. Hehe

      Iya memang susah. Aku pun susah beranjak kalo udah kek gitu wkkwkw

      Hapus
  20. Waah, baru denger ada aturan seperti itu di Aceh. Tapi, untuk jilbab ternyata beberapa wanita Aceh, yang belum memahami makna jilbab, terkadang suka melepas jilbab mereka pas ke Medan, hadeuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu Kak maksudku. Beberapa dari mereka pake jilbab di aceh ya karena takut razia nya aja. Bukan dari hatinya. Kalo udah keluar aceh, ya dibuka jilbabnya.

      Hapus
  21. wah baru tau ada polisi 2 macam di aceh. Ia sich emmang diakui kedai kopi banyak melenakan orang untuk santai dan berlama-lama. Gak cuma aceh, kayaknya hampir setiap kota begitu

    BalasHapus
  22. Yaampun, berbanding terbalik bangeett sama hidup di kota iniii. Orang2 pada pegangan tangan meski blm resmi, dan disana pada diraziaaa. Aaakkkk mau coba main kesana. Tapi apeulah ku tak suka kopi hih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main ya main aja mi. Gaperlu suka kopi. Sekalian surpei kesana hahaha

      Hapus
  23. Terkdang tanpa terasa hal hal yang melena kan itu menjangkau diri dari kebaikan ya.Syariat islam itu dirindukan oleh siapapun yang memegang agama ini dengan benar.

    BalasHapus
  24. Terkdang tanpa terasa hal hal yang melena kan itu menjangkau diri dari kebaikan ya.Syariat islam itu dirindukan oleh siapapun yang memegang agama ini dengan benar.

    BalasHapus
  25. Aduh soal agama...komenku no comment ah...#ehgimana

    BalasHapus
  26. Wah ternyata di aceh ada juga ya polisi syariah. Coba aja polisi tersebut ada di jakarta pasti jd beneran jakarta

    BalasHapus
  27. Luar biasa sekali; informasinya, cara penulisan dan konklusinya. Mas Wanda pinter nulis...
    Jadi, ada 2 polisi di sana, yg menegakkan syariat. Baru tahu...

    Tfs ya. Kita tunggu gebrakan polisi Aceh lagi.
    Btw, serius, tilang masih bayar 50 ribu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah. Makasih mba susi. Duh, jadi melayang-layang ini diginiin :D

      Iya mba ada dua polisi disana. Kalo polisi syariat ya menindak yg melanggar qanun (hukum syariat) yg berlaku.

      Kalo damai aja sih mba 50rb wkwkkk

      Hapus
  28. Ulasan yg menarik, Mas Wanda! :)
    Yup, mental konsumen yg suka dimanjakan, sebenernya merugikan kalau dibiarkan. Secara kopi, atau kesenangan² lain bakalan nyandu kalau ngga diantisipasi. Apa yg ditulis di spanduk polisi itu ngebangunin pikiran orang yg baca. Keren! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba murni. Suka lupa diri memang kalo udah kecanduan gitu

      Hapus
  29. Miris memang ya, negeri syariat tapi kok banyak yang ga shalat? Sering banget lho saya perhatikan, banyak muda-mudi Aceh yang nongkrong di warkop trs waktu azan tetap aja disana, ga berpindah.

    BalasHapus
  30. Kok aku ya terus kepikiran kakak kakak dan dedek dedek yang di Jogja ini ya mas, kopi sudah merambah ke segala usia. Mereka tetap buka waktu sholat tiba. Beberapa aja sih yang tutup. Hmm..

    BalasHapus
  31. Kok aku ya terus kepikiran kakak kakak dan dedek dedek yang di Jogja ini ya mas, kopi sudah merambah ke segala usia. Mereka tetap buka waktu sholat tiba. Beberapa aja sih yang tutup. Hmm..

    BalasHapus
  32. Loh, polisi syariat dengan polisi pemerintah itu beda, toh? Kirain sama eung...

    Kalo disini tetep buka. Bahkan ada yang 24 jam. Bulan puasa sekali pun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda mba. Di aceh juga ada sih kayanya yg 24 jam. Apalagi kalo tengah malemnya ada bola. Makin rame deh...

      Hapus
  33. Baru mampir sudah su.... Ah. Bodo amat.

    Yang gue penasaran wan, sebelum justifikasi "WH" ga ada kerjanya. Apa emang udh ada aturan hukum yang memayungi kewenangan mereka dalam berbuat?

    Misalnya katakanlah, mereka membatasi pengunjung untuk gak lama lama di warung, apa gak jadi pelanggaran hak asasi perkopian,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak ada. Kan disitu gw juga bilang. Emang gaada larangan buat ngopi lama2

      Dan kebiasaan ngopi orang aceh yg kelewat lama. Makanya Polisi nyentilnya kek gitu.

      Hapus
  34. Waahh. Wanda curang nih ga bawa oleh-oleh kopi (GAYO) buat emak.. kan kalau dibawain saya betah lama-lam ngeblog, anggap aja lagi dikedai juga gituuu..wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahahah aku belom balik lagi ke aceh mak. Ntar ya kalo kesana tak bawain kopi gayo. Hehehe

      Hapus
  35. Barangkali mereka memiliki ranah kerja yang berbeda. Tugas mengingatkan adalah kewajiban setiap umat islam bukan, Bang Wanda? Kita doakan saja semoga polisi syariat islam kita semakin disiplin dan istiqomah.
    Btw, tulis tentang sangerlah bang wanda, biar ban sigom donya tau tentang sanger :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah ayi lah yg tulis Sanger. Kan kemaren ada festival Sanger ya? Lon ka trep hana jep Sanger le haha

      Hapus
  36. Jadi penasaran sama kopi aceh tu kayak apa rasanya. Kok sampe bisa bikin orang terlena dan menunda2 sholat..
    Kapan ke Jogja? Bawain yaaa.. :D hehehe

    BalasHapus
  37. Sepertinya fenomena ini bukan hanya terjadi di Aceh, tapi diberbagai daerah, dan bukan hanya mengenai ngopi, apapun yang dilakukan dan memang bawaannya males ya bisa aja jadi biang telat sholat dan ibadah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusiawi ya teh kalo itu wkwkwkw

      Hapus
  38. Tak hanya di Aceh sepertinya, warung kopi itu seperti mempunyai magent untuk berlama-lama di dalamnya. Apalagi dengan adanya fasilita seperti wifi, makin betah deh.

    BalasHapus
  39. Haha. Kopi dan wifi sudah pasti bagaikan gula yang banyak dikerubuti semut.

    BalasHapus
  40. Berasa ditampar ya..
    Kalo jakarta diberlakuin begini gimana ya.wkwkwkkw..

    Ah wanda, gue salah komen. Malah kirim pesen wkwkwkwkkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pesen nya tersampaikan kok mba hahahhaa

      Hapus
  41. Begitu lihat ini langsung saya tunjukkan ke temen dari Takengon. Dan dia bilang bener banget. Terutama bagian banner sama wh yang nyemplung. Emang jaman sekarang sudah berbeda ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah jaman emang cepet berubah ya akhir2 ini haha

      Hapus