Sabtu, 17 September 2016

Sportifitas dan Loyalitas Sepak Bola

Ada kalimat yang lumayan menggelitik bagi saya. “tidak usah jauh-jauh, kita ambil contoh di indonesia” . kalimat tersebut seakan wajib dikeluarkan saat kita ingin membandingkan sesuatu, dalam hal apapun.

Sungguh sayang, kalimat diatas rasa-rasanya tidak pas kita gunakan jika topik yang dibicarakan adalah sepak bola. Seperti yang kita tahu, sepak bola tanah air terlalu banyak kekurangannya, dan mereka di PSSI terus mencari celah kecil untuk membanggakan dirinya sendiri. Maka dari itu, saya akan merasa berdosa jika mencantumkan kalimat diatas dalam tulisan ini.

Ada dua hal yang penting dalam sepak bola, dua hal yang saling berkesinambungan, meski tak jarang menjadi pisau bermata dua. Yaitu sportifitas dan loyalitas.

Permainan yang indah nan menghibur akan menjadi paket  komplit jika seluruh pelaku yang terlibat didalamnya menjunjung tinggi azas sportifitas. Maka tiada keindahan yang lebih hakiki ketika sportifitas para pemain diikuti seluruh fans yang menunjukkan loyalitas tinggi dalam mendukung tim pujaan.

“tidak semua hal yang saling berkaitan bisa berjalan manis”, ungkapan ini tampaknya bisa kita sandingkan dengan dua kata diatas. seperti kita ketahui, loyalitas supporter tak jarang menimbulkan fanatisme berlebihan. Lebih gila, fanatisme itu justru mencoreng club yang mereka puja.

Sportifitas, satu kata yang paling dijunjung dalam dunia olahraga (tidak hanya sepak bola) menjadi kunci utama menarik atau tidaknya sebuah pertandingan. Lewat sportifitas pula, pelakunya menemukan cinta dari penggilanya yang akan selalu memuja, tanpa diminta.

Sportifitas juga tidak mengenal apa, siapa, dan dimana. Siapa sangka pemain sebengal Paolo Di Canio pernah menikmati buah kecintaan supporter karena sportifitas yang ia junjung. Lebih indah lagi, karena bukan Cuma fans Westham United (clubnya ketika itu) yang mengagungkan namanya, tapi juga fans lawan, yang pemainnya ia “selamatkan”.

Tepat pada medio 2000 silam, pemain berdarah Italia ini membuat dunia terdiam dengan aksinya. Tentu bukan hormat ala NAZI yang meroketkan namanya itu, melainkan tindakannya yang secara tiba-tiba menghentikan pertandingan ketika melihat kiper lawan terkapar dilapangan.

Melawat ke Goodison Park, kandang Everton dalam lanjutan liga Inggris. Pertandingan yang berkesudahan 1-1 ini bisa berujung pada kemenangan tim tamu, ketika Westham memiliki peluang emas untuk memenangkan pertandingan di akhir laga. 


Yang dilakukan Di Canio kemudian adalah aksi yang lebih heroik dari pesulap sekalipun, ketika bola yang berada tepat diatas kepalanya justru ditangkap untuk menghentikan permainan. Kawan, lawan, penonton terperangah tidak mengerti dengan apa yang dilakukan mantan pemain Lazio tersebut. sampai pada akhirnya ia menunjuk kiper Everton, Paul Gerrard yang meringis kesakitan.

Semua keheningan dan hujatan pun berubah deru tepuk tangan penonton ketika menyadari  tindakan terpuji Di Canio tersebut. tidak ada yang menyangka pemain yang reputasinya sempat hancur ketika membela Sheffield Wednesday ini berhasil mendapatkan kehormatannya kembali.

Cerita lain pun datang dari tanah Jerman, saat putra daerah mereka, Aaron Hunt mempertontonkan aksi memukau. Meski tidak mencetak gol, kapten Werder Bremen ini menunjukkan sikap terpuji ketika menolak hadiah penalti yang diberi wasit padanya.


Wasit menilai kapten Bremen tersebut dilanggar oleh pemain Nuremberg di kotak terlarang, sehingga berhak mendapat hadiah penalti. Alih-alih senang dengan keputusan wasit, Hunt langsung menghampiri sang pengadil dan berkata bahwa ia terjatuh bukan karena dilanggar, dan menilai timnya tak layak mendapatkan penalti.

Manuel Grafe, wasit yang memimpin laga tersebut akhirnya membatalkan penalti. Dan kejujuran yang ditorehkan Aaron Hunt pun berbuah kemenangan bagi timnya. Tidak hanya itu, ia pun mendapatkan ucapan terima kasih dari seluruh punggawa Nuremberg diakhir laga, yang takjub akan sportifitas sang kapten.

Jika sportifitas adalah senjata utama pemain untuk meraih perhatian penggemar, maka loyalitas adalah cara penggemar untuk meluluhkan hati para pemainnya. Pemain juga tidak meminta banyak kepada penggemar. Mereka hanya menginginkan satu hal, mendukung hingga akhir laga, baik menang, maupun kalah.

Loyalitas yang tinggi, pada perjalanannya akan menimbulkan fanatisme yang tinggi pula. Merasa memiliki akan sesuatu yang kita kasihi, mau tak mau akan menggiring kita ke tingkatan kesetiaan yang berbeda. Yaitu fanatisme berlebihan. Ini pula yang menjadi cikal bakal lahirnya Ultras atau hooligan dalam kelompok supporter sepak bola.

Ini juga yang menjadi pisau tajam di dunia sepak bola, yang bisa menyayat sportifitas yang telah diperjuangkan setiap pemain. Fanatisme berlebihan ini tak jarang mengekspresikan kekerasan dan kerusuhan yang memang sudah menjadi ciri khas tersendiri dalam sepak bola.

Seperti halnya fans Lazio yang mengecam selebrasi selfie kapten AS Roma, Fransesco Totti dalam laga derby ibukota dua musim lalu. Atau ancaman pembunuhan yang dilakukan ultras Galatasaray pada pemain Inggris, Grame Souness yang kala itu menancapkan bendera Fenerbahce (rival Galatasaray di Turki, dan club yang dibela Souness waktu itu) tepat ditengah lapangan, kandang Galatasaray.

Berbicara fanatisme, rasanya haram jika tidak memasukkan tim sekota Milan. Club yang sedang babak belur di liga domestik ini memiliki fans yang saling membenci, sekalipun jarak keduanya hanya dibatasi pintu utara dan selatan stadion Gueseppe Meazza.

Pertandingan yang rawan flare ini sempat menjadi perbincangan publik, ketika derby Milan tersaji di laga semifinal  liga Champions 2007 sempat ditunda akibat lapangan yang dihujani flare oleh kedua tifosi. Uniknya, ketegangan kedua fans tidak berlaku pada tiap pemain kedua kesebelasan. Para pemain justru saling melempar tawa dan kehangatan.

inter milan
Source : http://www.derby-milan.com/
Tanpa fans, club bukanlah apa-apa. Fans, dalam perjalanannya telah menjadi tulang rusuk club dalam mengarungi kompetisi. Dirugikan atau tidak, club begitu membutuhkan fans, begitupula sebaliknya. Karena fans tidak pernah setengah-setengah memberikan dukungannya. Pula club, yang tiada henti memanjakan para pecintanya.

Ketika di Eropa sana, fanatisme berlebihan penggemarnya tidak berpengaruh pada sportifitas pemain, di Indonesia justru sebaliknya. Tingkah supporter yang masih kekanakan malah berbanding lurus dengan kelakuan para pemain yang kerap memperkeruh suasana. Seperti yang kita lihat selama ini.

69 komentar:

  1. Numpang komentar :))

    katanya template baru wajib di kunjungi :)))))))

    BalasHapus
  2. Baru pertama main ke blognya Wanda. Keren templetenya, suka sama avatarnya.
    Cuma bisa bilang "semoga aja suatu saat sepakbola indonesia bakal bisa sprotif dan loyal"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba dian makasih. Bukan saya yg bikin tapi. Ada yang bantu. Saya ga se jago itu bikin template hehehe
      Amiin mba

      Hapus
  3. Bung wanda, pembahasan soal sportifitas di sepak bola seperti yg ada di tulisan ini sudah dapat maksudnya bung, dan mungkin kalo soal contoh bisa ditambahkan lagi soal kasus gol miroslav klose ke gawang napoli. Dia meminta wasit untk membatalkan gol nya karena klose merasa dia nyekornya pakai tangan. Dan gegara kasus sportifitas inilah, membuat badan perwasitan Italia mencanangkan utk memberi kartu hijau Bagi setiap pemain yg sportif di lapangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bung. Tapi emang sengaja semua kasus ga di tulis. Biar nggak kebanyakan. Biar yg baca juga nggak capek hahaha
      Forza inter. Eh

      Hapus
    2. Ya Allah, keren banget ya ada pemain yg jujur begitu. Kartu hijau untuk pemain yg supportif itu nantinya buat apa kak?

      Oya, aku pernah juga sih lihat berita supporter dsana (entah negara mana aku lupa), ada juga yg anarkis sampe bakar2. Cuma karena keseringan berita supporter Indonesia yg diliput, jd keliatannya supporter Indonesia plg anarkis. Hehe

      Pernah ketemu rombongan supporter mana entah di stasiun pasar senen dikawal polisi. Ga kebayang kalo satu kereta apa satu gerbong. Takut.

      Hapus
  4. Tindakan heroik yg dipaparkan tadi sudah pernah saya dengar, tapi ya memang sangat jarang sekali terjadi. Disetiap aspek kehidupan tindakan sportif sangat diperlukan tak hanya dlm urusan olahraga.

    Menyikapi masalah bola dlm negeri saya tidak ingin terlalu ingin berpendapat dan menilai berlebihan, karena saya blm bisa memberikan solusi tepat terkait masalah seperti ini, yg jelas sportifitas harus dimulai dari diri sendiri. Semoga sepakbola Indonesia dapat belajar untuk lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas. Banyak pemain yg kayak gitu. Tapi nggak mungkin semuanya saya paparkan hahahah

      Hapus
  5. Terus kalau soal loyalitas, mungkin cuma saran saya, lebih difokuskan kepada pemain saja bang, biar sejalur dgn pembahasan ttg sportifitas. Contohnya loyalitas one man one club macam Totti, Giggs, Puyol, dsb. Atau juga soal loyalitas pemain yg lebih memilih membela klubnya daripada pindah ke klub lain, misal kasus Buffon, Nedved, Del Piero, pas kasus juve kena calciopoli, mereka lebih memilih bertahan di juve meski bermain di serie b ketimbang pindah ke klub besar yg menawarnya. Atau soal paradoks Daniel Agger yg lebih memilih mudik ke Brondby di usia emasnya, daripada pindah ke Barcelona. Atau cerita ttg Joseba Etxeberria pemain Bilbao yg rela bermain tanpa dibayar atas kecintaannya terhadap sepakbola dan bilbao. Sebenarnya banyak kasus loyalitas lainnya, di Jerman ada, saya lupa nama pemainnya, pemain hamburg kalo gak salah.. Dia lebih memilih pensiun di umur 30an daripada pindah ke lain klub, gegara kontraknya di Hamburg gak diperpanjang..

    Jadi dalam hal ini, loyalitas layaknya dimensi lain yg mana hanya mereka2 saja yg mengerti, bahwa di dunia ini tak semuanya bisa diganti dengan uang. Ya kalo tak percaya, silahkan tanya pada mereka 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo loyalitas pemain udah pernah ku bahas mas ditulisan lama. Kenapa loyalitasnya sama seporter? Karena sepak bola tanpa seporter is nothing. Kalo kata orang inggris. Sengaja nyari korelasinya begitu. Karena memang saling berkaitan dan tidak bisa diusahakan hehe

      Hapus
  6. Menurut saya anarkisme suporter yang terjadi di sini bisa disebabkan kecintaan mereka yang terlalu mendalam pada klub yang mereka dukung. Berbeda dengan yang pernah saya baca tentang tifosi di luar sana, setau saya, rivalitas mereka terjadi hanya ketika hari pertandingan saja. Kelar pertandingan, hidup mereka normal kembali. Bertetangga dan bermasyarakat. Ya, kerusuhan pasti ada, hanya saja tidak seramai yang terjadi di negeri ini.

    Satu lagi, attitude mereka juga lebih baik. Ngeri aja kan misalnya tiba-tiba ketika pertandingan Premier League fans masuk ke dalam lapangan yang notabene tidak ada pembatasan dan jarak yang sangat dekat denggan lapangan.

    Menurut saya sih gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat da. Fans inter sama Milan misalnya. panasnya cuma dipertandingan aja. Luar pertandingan ya biasa aja mereka. musuhannya cuma 90 menit.
      Kalo indonesia ya Kita tau sendiri. Plat nomor kendaraan aja bisa jadi masalah hahah

      Hapus
  7. hemm themanya bola ya. kurang mengerti bola sih saya. akan tetapi mengerti sedikit. loyalitas dan sportifitas di antara negara atau club bola perlu di lakukan. Akan tetapi, kayanya banyak beberapa negara atau club bola yang masih belum menerapkan loyalitas dan sportifitas di dalam permainan

    BalasHapus
  8. duh, gue gak paham, biasanya main bola.
    .
    .
    .
    bekel, bhay.

    BalasHapus
  9. Masalah sikap dan kepribadian memang kompleks yaa, mas.

    Terbentuk dari keluarga dan lingkungan.

    Saya komennya dari sisi parenting niih..mas.
    Karena kurang paham sama dunia bola.

    BalasHapus
  10. Kenapa gue malah tertarik baca about me nya ya hahahahaha...

    BalasHapus
  11. HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
    UDAH NGETIK PANJANG LEBAR MALAH ILANG. DIE.
    NGULANG DEH.

    oke gini :

    yang pertama : Mas Wanda, perhatikan penulisannya. Tanda baca, kapital, kata asing, dan lain sebagainya. Hehehe.

    yang kedua : saya nggak ngerti bola dan nggak memahami, tapi saya mencoba memahami maksudnya...

    yang ketiga : Saya terkadang bingung dengan fanatiknya para suporter, terutama di Indonesia. Ya, sebut saja Indonesia. Untuk cakupan Indonesia. Entah kenapa suporter terlalu berlebihan terhadap pemainnya. Ya, saya juga demikian sih. Namun, ada beberapa suporter yang melakukan tindakan anarkis dan meresahkan sekitar. Sebagai contoh, entah beberapa bulan yang lalu seperti tahun kemarin Persib datang ke Jakarta untuk bertanding entah dengan siapa. Kala itu saya sedang melintas jalur Gatot Subroto. Dan "prank" ada kaca mobil yang terlempar batu oleh Persija. Ya tuhan. Suporter macam apa itu. Sepertinya olahraga cabang lain tidak. misalnya saja Bulutangkis dan basket (ya, saya penggemar kedua olahraga tersebut) suporter dari kedua olahraga tersebut tetap elegan dalam mendukung jagoannya. Sepertinya, memang jiwa-jiwa suporter dibentuk berdasarkan lingkungan dan didikan orang yang ada disekitar...

    yang keempat : udah segitu aja. Assalamualaikum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya saya nggak masukin bola indonesia. Karena seporter masih bar bar. Termasuk pemain dan wait juga bar bar.
      Makasih kabena masukannya :3

      Hapus
  12. Jadi teringat cerita tentang suporter Udinese garis keras yang menonton sendirian timnya ke markas Sampdoria (kalo tidak salah). Namun suporter lawan bukannya mengintimidasi karena menang jumlah, justru salut dan mentraktir kopi pendukung dari Udinese tersebut. Padahal tuan rumah kalah. Subhanallah... *lurusin peci*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya bener. Duh ga inget ini gw. Tau gitu gw mau gw masukin juga. Keren tuh fansnya. Gw pernah liat beritanya dan terharu liatnya.
      *Kendorin sarung*

      Hapus
  13. Saya kurang faham sama dunia sepak bola, seringnya di Indonesia malah dengar soal suporternya yang kadang suka tawuran. Mungkin loyalitasnya kebablasan atau salah jalan kali ya, Mas.

    BalasHapus
  14. Aku jarang (sekali) nonton bola. Pernah sekali-sekalinya nonton bola pas Indonesia lawan Malaysia di GBK. Rame Dan heboh sampe di luar stadion 😂😂😂

    BalasHapus

  15. Inti dari artikel diatas bahwa menjunjung tinggi sportifitas (anaknya dari kejujuran) justru bisa merubah keadaan menjadi lebih menguntungkan bagi pemain.

    Berani jujur itu Paten!!

    BalasHapus
  16. Filosofi ultras dan hooligan anarkis yang masih tidak bisa saya cerna. Entah mengapa selalu saja berujung pada konotasi negatif. Ketika fans, pemain bahkan lawan sekalipun sudah akur, bisakah kita sebut itu sebagai kedewasaan mereka? Maka, fans yang kekanak-kanakan adalah proses menuju dewasa.

    BalasHapus
  17. Walaupun ga ngerti ttg bola, tapi menjunjung tinggi sportivitas dalam olahraga sangatlah berarti.

    Menandakan adanya kejujuran yang dianut sebagai falsafah & supporters ikut andil dalam hal ini. Sepatutnya :)

    Thanks

    Kandida

    BalasHapus
  18. sportif dan loyal, dua hal ini yang menjadi jatidiri sepak bola yang sayangnya ga ada di dunia football kita

    BalasHapus
  19. Pertama kali main ke blognya mas wanda :)
    Btw, aku nggak terlalu mengikuti bola joga, tapi soal suporter Indonesia, aku bisa merasakan aa yang dibilang kabenaaa (hehe kepo tadi). Soalnya, di tempat aku kalau pas para klub bola daerah main, sering rusuh sampai berujung tawuran. Ini baru klub bola daerah ya. Suporternya duhalah aku prihatin liatnya. Intinya, ya tuwuran gitu padahal seharusnya daerahku itu daerah aman. Tapi sekarang sudah lumayanlah, tidak se anarkis dulu walaupun setiap tanding, setiap jalanku pulang kerja ada banyak titk yang dijaga polisi lengkap.

    BalasHapus
  20. Blognya mas Wanda keren. Sportifitas dalam sepakbola adalah sisi positif yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup. Final liga champion inter dan milan nerupakan final yang aneh menurut saya:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Adi. Haha jarang jarang memang itu derby di champions

      Hapus
    2. Loh, Final champion inter sama milan? ndak pernah, paling banter semifinal.

      dan Wanda : ketika derby Milan tersaji di laga semifinal liga Champions 2007

      ini salah.

      Adegan flare ini ada di perempat final musim 2004/05.

      Hapus
  21. Paling ngeselin sih fans fanatik yang ada di Indonesia. Berasa itu klub negara sendiri yang dibela sampe mati-matian. Klub di negara mana, hidup di negara mana, tapi fanatiknya melebihi FPI. #ehgimana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin bisa di adu itu antara fans bola yg kayak gitu sama FPI hahah

      Hapus
  22. Aku kebetulan bukan penggemar bola. Tapi loyalitas fans di sini memang perlu lebih dewasa lagi. :D

    BalasHapus
  23. Baca artikel ini setelah nonton berita PON yang rusuh di cabor Polo Air, kok jadi sedih. Miris gitu sekaligus malu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya. Yang kemaren ya mba. Kaget juga polo air bisa menimbulkan kerusuhan ya. Hih

      Hapus
  24. Saya gak begitu paham dengan permainan sepak bola. Tapi sering mendengar berita tentang para suporter di negeri ini. Seandainya mental anak bangsa ini bisa lebih baik, ya... bisa lebih sportif. Pasti gak akan ada kerusuhan-kerusuhan di setiap pertandingan.

    BalasHapus
  25. Jarang ngikutin info bola sih
    Jadi agak abstrak nangkepnya

    BalasHapus
  26. Aku baru tahj ada istilah Ultras atau hooligan dalam kelompok supporter sepak bola fanatik. Karena bagiku supporter.memang fanatik. Kalo di atas itu.... gimana ya?
    Oh ya, aku jadi ingat suporter Surabaya yg bernama bonek..di jakarta pun ada ultra supporter ya
    Meski tidak paham nama dan peristiwa,aku paham.inti ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ultras sama hooligan itu seporter garis kerasnya mba. Ultras sebutan seporter garis keras di spanyol, Italia, dan beberapa negara lain. Kalo hooligan itu sebutan buat seporter inggris yg sering bikin onar hahah

      Hapus
  27. Hmm, para penggemar bola tuh harusnya gitu, tidak terlalu fanatik biar nggak rusuh. Langsung inget Indonesia deh, yang rusuh di lapangan dan di luar lapangan , dan yang berantem itu para suporternya, hmmm Indonesia dan suporter bola harus bisa mendukung jagoannya kalah atau menang.

    BalasHapus
  28. Kok baru ngeh kalau udah dotcom😂😂😂
    Yang memberhentikan bola setelah melihat kiper jatuh itu bagus eh. Sebenarnya bukan macam heroik sih, tapi lebih ke fokus antar pemain. Gimana ya. Intinya dia ngeliat dan ngeh salah satu pemainnya terluka atau cidera.
    Semoga Indonesia pun demikian, tapi entah mengapa supporter disini kebanyakan cabe, jadi maen esmosi. Hih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga cabe mi. Jadi ya emosi aja bawaannya. Kepedesan mulu kan hahahah

      Hapus
  29. Saya fans inter, suami fans milan. Kata-kataan pas permainan berlangsung wajar, tapi sih tetep enggak anarkis. #Yakali wkwk.

    Bagus tulisannya, Wan. Walaupun bukan fans bola atau gak ngikutin bola sih pasti bisa nangkep isinya insha Alloh, asal dibaca dengan cermat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooh fans inter teh? Pantesan temenan sama ucha. Hahaha.

      Hapus
  30. Keren Mbak isi artikelnya, para suporter dan pemain sepak bola Indonesia wajib banget nih baca artikel ini, agar dunia sepak bola Indonesia lebih baik lagi kedepannya dengan menjunjung sportifitas dan loyalitas. :)

    BalasHapus
  31. Enggak paham bola sebenernya, tapi kalo diminta nontonin saat kamu turnamen bola, adek ridho kok Bang :)

    BalasHapus
  32. Bener gak sih katanya jaman dulu permainan bola itu udah bisa ketebak siapa pemenangnya sebelum tanding? Guyonan bapak2 jaman dulu hehe. Moga2 jaman sekarang enggak gtu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada benarnya juga mba. Soalnya mantan pemain timnas juga pernah bilang gitu. Hahahaha
      Tapi ya semoga aja ga bener..

      Hapus
  33. #ForzaINTER hehehhehehe

    Saya suka saat mas Wanda menuliskan kata "kekanakan". Memang itulah yang masih terjadi pada kita. Hampir semua elemen yang terlibat didalamnya, baik itu pemerintah, organisasi, klub, pemain, suporter bahkan sponsor. Semoga semakin hari, sepakbola kita semakin dewasa ya mas :)

    Oiya mas, kalau saya tidak salah penulisan yang benar itu West Ham United, bukan Westham United.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Terima kasih mas koreksinya hehe

      Hapus
  34. Aku suka bola gara2 sering liat kakakku nnton. Yg main sdh bekerja maksimal eh kadang fansnya yg lbh garang. Tinju sana sini sok bela. Sepakbola Indonesia jg kudu diperbaiki bgt

    BalasHapus
  35. wah mamih nulis ttg bola,

    ga gitu ngerti sebenarnya,
    tapi, mamih mau kutemenin nonton?

    nanti aku streaming drakor aja. *ups*

    BalasHapus
  36. wah mamih nulis ttg bola,

    ga gitu ngerti sebenarnya,
    tapi, mamih mau kutemenin nonton?

    nanti aku streaming drakor aja. *ups*

    BalasHapus
  37. aku setuju sportifitas memang nomor satu, tapi para pendukung juga harus mengerti akan sportifitas kadang ga terima maunya menang aja hihi..

    lanjut main bola kalo gitu..

    BalasHapus
  38. Baru mampir sudah suka sama tuli.... ahh, klise.

    oke gini :

    yang pertama : Mas Wanda, perhatikan penulisannya. Tanda baca, kapital, kata asing, dan lain sebagainya. Hehehe.

    Sayang sekali, ketika membahas tentang sportivitas, loyalitas dan rivalitas. Tidak ikut serta membahasa rivalitas fans River Plate dengan Boca, dimana mereka itulah yang dianggap sebagai rival abadi (paling parah) sepanjang sejarah sepakbola.

    Dan, ya seperti yang sudah disebutkan pada kolom komentar, Rivalitas derby milan hanya terjadi di lapangan, tidak separah rivalitas, laziale vs romanista, atau fans juve dengan fans fiorentina.

    Dan Wanda, tentang Loyaltias? mana bahasan tentang Zanett atau Gerrard? Durhaka kamu!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya beberapa contoh mas dika. Ga mungkin semuanya tak tulis. Tapi emang harusnya super clasico saya masukin. Hahah

      Gerrard udah sering mas. Zaneti belom sih. Harus sempurna kalo Nulis el capitano :)

      Hapus
    2. Hanya beberapa contoh mas dika. Ga mungkin semuanya tak tulis. Tapi emang harusnya super clasico saya masukin. Hahah

      Gerrard udah sering mas. Zaneti belom sih. Harus sempurna kalo Nulis el capitano :)

      Hapus
  39. baca tulisan tentang sepak bola dan suporter gini jadi inget pengalaman nonton sepak bola langsung di stadion, lucu liat ada suporter sepakbola Indonesia yang nonton langsung ke stadion dari awal pertandingan malah ngadep ke tribun penonton dan nyanyi-nyanyi terus sampe pertandingan selesai, mungkin itu salah satu bentuk loyalitas dari suporter juga ya *eh

    BalasHapus
  40. Saya tidak terlalu mengikuti sepak bola. Apalagi sepak bola Indonesia. saya paling gak suka, terlebih lagi sama suporter sepak bola dalam negeri yang anarkis. Bagaimana persepakbolaan Indonesia mau maju kalau suporternya kayak gitu.

    BalasHapus
  41. Padahal kemaren aku udah komen 😢😢😢😢 entah kenapa ngga muncul 😢😢😢😢 aku nga suka bola kaki. Aku sukanya bakso bulat yang kaya bola.

    Semoga bakso dalam satu mangkok bisa digunakan untuk mengobati perasaan yang lagi sedih

    Sekian

    BalasHapus
  42. sama nih ama ben, ga masuk2 ye komen nya. :((((

    du no why, your blog sentiment with my account?
    huhu

    anyway gw bukan penggemar bola jd krg tau banget *peace

    cm gw suka pemain bola luar negeri ganteng2, bs cucik mata.

    kayaknya harus komen pake google bukan link web yes?

    *smg masukkkk

    BalasHapus
  43. Aku penggemar bola.. Fans chelsea sejak lama. Kadang malas juga lihat suporter yang rese huhuhu..
    Nice postingan Wan..

    BalasHapus