Teruntuk aa Fadjroel Rachman

Leave a Comment

Bagi kalian yang mengikuti isu politik sejak kejatuhan orde baru pada 98, atau saat 10 tahun pemerintahan SBY, tentu sangat hafal dan mahfum dengan sosok yang satu ini. ya, beliau adalah Fadjroel Rachman, aktivis 98 yang terus berjuang hingga pemerintahan SBY selesai.



Perjuangan aa Fadjroel tak terhenti sampai disitu, karena selama pemerintahan Jokowi pun aa tetap berjuang. Tetap berjuang untuk rakyat maksudnya? Entahlah, yang pasti berjuang. Aa Fadjroel adalah salah satu tokoh muda yang saya idamkan, makanya, beliau saya beri gelar aa, sebagai rasa hormat saya pada beliau.



Sebagai mana aktivis pada umumnya, masa orde baru menjadi masa paling suram dalam kehidupan aa Fadjroel dan aktivis demokrasi seangkatannya. Keluar masuk penjara, pengasingan, hingga ancaman pembunuhan selalu membayangi hidup aa selama itu.



Lewat perjuangannya yang tak kenal menyerah dan pantang takut inilah, akhirnya rezim orba pun jatuh, dengan aa Fadjroel sebagai salah satu aktor utamanya. Rasa takut yang kerap hinggap dalam fikiran, darah yang terkadar mengucur deras, akhirnya terbayar ketika ratusan ribu mahasiswa berhasil menggulingkan Soeharto beserta anteknya.



Ketika rekan-rekan aktivis ramai masuk partai politik, aa Fadjroel ogah mengkhianati idealisme nya itu, beliau tetap berjalan melalui jalurnya sendiri, dan terus bergerilya melawan tirani pemerintahan sehabis pak Harto menjabat. Siapapun presidennya, maka harus siap di nyinyiran sama aa.



Aa Fadjroel pun berhasil mendirikan media online yang ia beri nama, Pedoman News, yang dengan sekejap menjadi media oposisi paling tajam mengkritik pemerintahan SBY. Ya, 10 tahun SBY menjabat presiden, nama aa Fadjroel Rachman kembali bersinar dijagat politik nasional.



Kritikan tajam terhadap pemerintahan SBY yang disertai analisis akurat, membuat aa Fadjroel mendapat panggungnya kembali. Sangat banyak masyarakat – yang didominasi kaum pemuda – berempati pada aa dan memberi dukungan, tidak terkecuali saya, yang langsung jatuh hati pada beliau. “nih orang kalo nyalonin presiden pasti gue dukung, jadi relawannya oke, ngumpulin KTP buat dia pun jadi, jadi timses nya  pun gue jabanin dah” gumam saya dalam hati, ketika itu.



Harapan saya itu pun seakan menjadi nyata ketika pada 2009 lalu, aa Fadjroel mantap maju menjadi Indonesia 1, dan hebatnya lagi melalui jalur independen. Subhanallah, sumpah keren nih orang. Saya jadi seperti orang gila ketika itu, saat mendengar aa mau jadi presiden atas nama sendiri. “Ya allah ya rabb. Masih ada orang lurus di Indonesia ternyata”



Tapi, niat mulia aa Fadjroel pun gagal. Saya pun tidak jadi ngumpulin KTP, jadi relawan, dan jadi timses beliau. Semuanya gagal total karena undang-undang hanya memperbolehkan calon presiden melalui parpol. Usaha aa lewat Mahkamah Konstitusi pun menemui jalan buntu, upaya saya menyebar selebaran wajah aa dan niat nyablon baju bakal kampanye pun semakin layu.



Salah satu alasan saya bikin akun twitter ya karena aa Fadjroel. Saya tidak ingin ketinggalan satu kalimat pun yang keluar dari mulut aa, dan berhubung beliau aktif di media sosial, jadi ya saya susul lah ia ke twitter, dan seperti dugaan, cuitannya pun sangat berbobot, tajam, menusuk, dan menohok. Pemerintah dibawah SBY dibuat kocar kacir karena tweet aa, saya pun dibikin tak berdaya untuk terus mengidolai aa Fadjroel sebagai tokoh muda paling berpengaruh. 

Banyak pemikiran saya tentang pemerintahan SBYterinspirasi dari beliau. Kalo istilah sepak bola nya, saya ini hooligans nya aa Padjroel lah Satu hal lain yang dimiliki oleh aa dan tidak dimiliki oleh tokoh lain adalah, beliau juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan PLN. Loh kenapa bisa gini? emang aa komisaris utama PLN??? Bukan ya, bukan. Saya pun tidak tahu asal muasal hubungannya dengan PLN, tapi yang pasti semua orang Indonesia, jika daerahnya tengah mati lampu, maka mereka akan melapor ke aa Fadjroel, lewat twiter. 

Dan mayoritas dari mereka yang melapor pada beliau pun puas dengan efek aa Fadjroel. Karena tidak lama setelah mensen ke aa, listrik di daerah mereka pun kembali menyala. Engga percaya? Buktiin aja ke @fadjroel. Eh, tapi udah jarang sih :p



Sekarang, setelah negara api menyerang, saat sinetron-sinetron di TV bertema kan kebun binatang, aa Fadjroel sudah berubah. Beliau sepertinya salah seorang fans mbak Raisa yang tidak mau terjebak nostalgia masa lalu dan memilih move on dibawah kepemimpinan Jokowi.



banyak orang yang beranggapan bahwa aa Fadjroel sebagai pesakitan demokrasi dibawah kepemimpinan Jokowi. Astaghfirullah, sungguh sesat pemikiran mereka. Mereka tidak sadar, bahwa Jokowi lah orang pertama yang membuat aa tidak Golput dalam pemilu, maupun pilkada Jakarta. Sebelum Jokowi nongol dan menjadi komoditas media nasional, aa Fadjroel tidak pernah sekalipun menggunakan hak pilihnya. Karena ia paham betul bagaimana busuknya parpol-parpol tanah air.



Kehadiran Jokowi, secara langsung menyadarkan aa Fadjroel agar terjun langsung dalam proses demokrasi. Beliau menjadi satu dari sekian banyak tokoh yang menjadi “relawan” Jokowi semasa kampanye lalu, dan tentu dikenal paling militan dijagat dunia maya. Ketika satu persatu rekan relawannya menghilang teratur dari permukaan, aa tetap terdepan mengawal Jokowi. Dan ketika banyak “relawan” yang ketiban rejeki di posisi strategis, beliau pun tak mau ketinggalan.



Atas perjuangan tanpa batasnya itu pula, aa menjadi orang nomor satu di PT Adhi Karya. Salah satu BUMN yang terkenal akibat skandal hambalangnya dengan kanda Anas Urbaningrum. Kini, rasa-rasanya, sudah tidak pantas saya memanggil aa Fadjroel dengan sebutan aa. Akan tetapi saya mohon dengan sangat, sebagai komisaris utama, ijinkan saya memanggil anda dengan sebutan aa komisaris, tanpa membuang embel-embel aa sebagai tanda kebesaran cinta saya pada anda.



Begini aa komisaris, duh gimana ya, saya bingung harus gimana, saya jadi ikut-ikutan nge fans sama mbak Raisa ini karena serba salah menyikapi aa komisaris. Nganu loh a, saya tidak tahu harus menyalahkan siapa, tapi ya anggap aja saya yang salah telah seperti ini terhadap aa komisaris.



Saya sering lunglai ketika mendengar orang-orang yang belakangan sering menyindir aa komisaris, kata mereka aa komisaris sudah tidak berjuang lagi, sudah tidak militan lagi, juga tidak mati-matian lagi membela rakyat. Padahal setahu saya, dan sepenafsiran saya, aa komisaris masih terus berjuang kok, masih tetap militan, dan tentu nya mengorbankan nyawa dalam membela……..konglomerat pemerintahan.



Aa komisaris telah meluluh lantakkan hati saya dengan perangai aa komisaris. Padahal masa kampanye lalu, aa komisaris menyanjung Jokowi karena sikap politiknya yang tidak transaksional, tapi aa komisaris sekarang malah menjadi bagian dalam politik transaksional itu. suatu praktek yang aa haramkan semasa SBY dulu.

Kini, malah aa komisaris halalkan itu. maaf sebelumnya a, maaf beribu maaf, aa komisaris sekarang bukan
hanya menjilat ludah sendiri, tapi juga telah memungut kotoran yang telah aa komisaris keluarkan dari dubur aa.



Hati saya pun makin lirih a, ketika aa komisaris, menjadikan media online aa, Pedoman News, dijadikan alat propaganda Jokowi. Tidak cukupkah #AlhamdulillahJokowi #JokowiAdalahKita #TerimaKasihJokowi #GoodNewsFromJokowi berseliweran di temlen aa komisaris? Haruskah hastag-hastag itu juga nempel di halaman Pedoman News yang konon katanya media independen???



Dulu aa komisaris hanya bermusuhan dengan orang-orang Soehartois, sekarang sadarkah, aa komisaris sudah memusuhi semua orang yang mengkritik Jokowi? Padahal mereka belum tentu mendukung Prabowo ketika pemilu lalu. Menurut pandangan sempitku ini, aa komisaris sekarang tampaknya kurang bergaul, atau bahasa kerennya sih pergaulan aa terlalu segmented.



Dengan alasan politis pula aa komisaris sudah tidak nongol lagi di acara ILC TVone, jika begini, siapa a sebenarnya yang gagal move on? Tolong ya a, jangan lapor saya ke polisi atas tuduhan Hate Speech. Karena demokrasi itu bebas tanpa kekangan, benerkan ya a??? oh iya, aa komisaris dukung SE Hate Speech gak ya? Btw.



Asal aa komisaris tahu saja, hati saya menangis dan menjerit karena tiap mensen saya di twiter tidak pernah aa komisaris balas sekalipun. Segitu hina nya kah saya dimata aa? hikksss……giliran mereka yang mengimani Jokowi selalu aa bales mensennya atau aa RT tweetnya. Jika pun aa komisaris berbalas mensen pada pengkritik Jokowi, aa selalu menggolongkannya sebagai orang-orang PKS, menyebar #LHI18Tahun sebagai alibi aa komisaris menghadapi orang-orang kritis. 

Sebegitu dengki nya kah aa pada pengkritik Jokowi? Sampai-sampai semua orang disamakan dengan kasus sapi?pfftttt….



Saya tidak ingin melanjutkan tulisan ini a, karena bisa sampai 2000-an kata lebih, bukan apa-apa a, pegel tangan saya ngetiknya, lagi pula kopi saya pun tinggal ampas doang.



Sebagai penutup ya a. dari semua perubahan dalam diri aa komisaris, hanya satu yang tidak pernah berubah, yaitu aa komisaris tetap GGMU !!!!! Hail Fadjroel Rachman.

*****

Best Regards
pemuja mu
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar