Senin, 16 November 2015

Teruntuk aa Fadjroel Rachman ( Chapter 2 )

Atas kebesaran cinta saya kepada aa komisaris Fadjroel Rachman, saya kembali menulis ini untuk blio, dan mudah-mudahan blio sadar akan kecintaan saya kepadanya.


Jadi gini, beberapa hari ini politik tanah air diguncang dengan transkip percakapan ketua DPR yang di tengarai mencatut nama presiden Jokowi serta wakilnya, Jusuf Kalla perihal Freeport. Transkip percakapan akhirnya bocor ke ranah publik dan sudah pasti disantap habis oleh masyarakat Indonesia.



Berita ini sendiri menjadi besar karena yang dicatut adalah presiden serta wapres, dan yang mencatut adalah ketua parlemen, Setya Novanto, yang bulan lalu kepergok tengah road show di Amerika bersama kekasih gelapnya, Fadli Zon.



Lalu, kenapa paragraf pertama saya menyinggung aa komisaris? Seperti yang saya bilang diatas, blio adalah sosok idola yang amat saya cintai. Dan FYI aja sih, setelah puluhan kali, akhirnya mensen saya dibales sama blio – ya walaupun Cuma say hay doang dan tidak menjawab pertanyaan saya, juga tidak membalas mensen saya berikutnya – tapi tak apalah, yang penting kami sempat berbalas mensen, itu prestasi tersendiri bagi saya.



Pada zaman pemerintahan SBY lalu, ada beberapa pejabat atau pengusaha yang mencatut nama presiden atau wakilnya, Boediono. Dan tentu saja, aa komisaris dengan gagah mendorong agar orang nomor 1 dan 2 negeri ini untuk diseret ke pengadilan untuk di mintai keterangan. Baik itu pencatutan nama lewat rekaman percakapan seperti kasus Setya Novanto sekarang, atau kesaksian seseorang di pengadilan atau di media massa, atau bahkan hanya mengira-ngira saja atas dasar logika nya sendiri, aa komisaris tetap kekeh kalau kedua petinggi negara ini harus memberikan saksi nya ke pengadilan.



Sayang, petunjuk dari aa komisaris tidak pernah didengarkan oleh pihak pengadilan, meskipun Boediono pernah di panggil DPR untuk kasus Bank Century, tapi nama SBY tidak pernah tersentuh oleh pengadilan sekalipun. Beritanya pun menguap begitu saja, dan tentu aa komisaris semakin jengkel dengan keadaan seperti itu.



Namun kini, setelah negara api menyerang ( lagi-lagi ), dan setelah Manny Pacquiao menjadi lawan tanding Chris John di arena Kuku BIma Energy, aa komisaris Fadjorel telah berubah, ia kini lebih kalem dalam berpendapat, tak jarang lebih hati-hati, atau bahasa pejabatnya, normatif. Tapi tak apalah, saya maklumkan
saja, toh blio sudah menjadi pejabat juga kan ya?

Intinya, jika suara rakyat adalah suara tuhan, jadi bisa kita simpulkan bahwa suara aa komisaris Fadjroel adalah suara relawan Jokowi lainnya yang saya yakini pada pemerintahan SBY lalu mereka adalah penghujat setia SBY-Boediono sampai masa baktinya berakhir. Jadi tulisan umumnya kepada para Jokowers yang saya persembahkan khusus kepada aa komisaris, biar tidak ribet dan menghabiskan tenaga saya dalam mengetik huruf-huruf yang timbul di laptop.



Kemunculan rekaman Setya Novanto yang mencatut nama Jokowi-JK tentu membuat kuping semua orang panas, termasuk aa komisaris tentu saja. Bedanya, sekarang ia panas bukan karena ingin menyeret dua “ketuanya” tersebut memberi kesaksian, melainkan menuntut agar Setya Novanto ke pengadilan dan memecatnya dari kedudukannya sebagai ketua DPR. Tentu saya juga setuju dengan usulan ini, tapi ya itu tadi, sikap aa komisaris sudah tidak sama seperti dulu. Wajar sih…



Tapi, kenapa blio tiba-tiba menjadi picik sperti itu – atau saya yang picik? Entahlah – sudah buta kah ia jika pencatutan tersebut memiliki secercah kebenaran? Mengingat Setya Novanto tidak sadar jika pembicaraan tersebut tengah direkam. Media pun mendadak mengikuti arus tersebut dengan beramai-ramai menyudutkan Setya Novanto, yang saya akui dia juga salah. Tapi ini sangat berbeda pada masa SBY ketika media, semua orang, dan tokoh masyarakat kompak menuntut agar SBY ikut di periksa demi keadilan.



Kini, semua menjadi miring sebelah – kalau kata teman karib saya “kapal oleng kapten” – , media, tokoh politik dan pemuda justru menjadi tameng tersendiri bagi Jokowi-JK. Jika memang tudingan itu benar, ya ada baiknya Jokowi-JK juga diperiksa, sembari menjatuhkan Setya Novanto dari kursinya di parlemen. Namun, jika tudingan itu salah, silahkan seret Setya Novanto ke pengadilan atas nama pencemaran nama baik. Engga masuk kategori Hate Speech kan ya ini?



Kembali lagi ke aa komisaris Fadjorel terkasih. Dengan tindak-tanduk aa Komisaris sekarang ini, saya tidak bisa menjamin ini akan menjadi tulisan terakhir saya tentang anda. Bisa jadi ini menjadi partikel dari trilogy “Teruntuk aa Fadjroel”, atau bahkan menjadi” Teruntuk aa Fadjroel” The Series. 

Tergantung sejauh mana anda menjilat ludah sendiri, atau memungut kembali kotoran yang telah anda keluarkan dar dubur sendiri yang mengatasnamakan demokrasi 
#GoodNewsFromJokowi.  Btw








b�uvw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar