Jumat, 27 November 2015

Problema Pelatih Real Madrid



Tim besar, pemain besar, sudah selayaknya dilatih oleh pelatih besar pula. Hal ini memang sudah menjadi hukum tersendiri dalam sepak bola. Sebesar apapun club tersebut, jika dilatih oleh pelatih abal-abal maka akan biasa saja hasilnya, bahkan cenderung menurun.

 Tampaknya ini pula yang beberapa kali terjadi ditubuh Real Madrid, dengan segala kebesaran yang mereka miliki, presiden club, Florentino Perez tidak begitu jeli dalam mendatangkan pelatih besar untuk skuat besarnya.

Rafael Benitez menjadi salah satu kekeliruan Perez selama menjadi orang nomor satu El Real. Benitez memanglah bukan nama baru dalam industri sepak bola Spanyol, ia pernah mengantar Valencia ke tahta puncak liga Spanyol dan piala Uefa di tahun 2004 ( koreksi jika saya salah ), dan menggeser Madrid yang saat itu dikenal dengan Los Galacticos nya.

Dengan modal besar itu, ditambah keberhasilannya memenangi liga Champions bersama Liverpool setahun kemudian, dan kembali mengangkat trofi Europa League ( dulunya bernama piala Uefa ) bersama Chelsea pada 2012 semakin melengkapi CV Benitez. Mungkin ini pula yang menjadi pertimbangan Real Madrid untuk merekrutnya, sepeninggal Carlo Ancelotti yang di pecat akhir musim lalu.

Baru menjalankan kurang lebih 13 pertandingan liga, Benitez sudah dirundung banyak masalah dari dalam. Mulai dari tidak nyamannya para pemain dengan metode latihan, kurang dekatnya dia dengan para pemain, ditambah perseteruan yang santer berhembus antara dirinya dengan mega bintang mereka, Cristiano Ronaldo, semakin membuat Rafa kehilangan kepercayaan.

Sikap pragmatis Rafa dalam bermain bola, dinilai tidak cocok dengan tipe permainan Madrid yang mengandalkan kecepatan dalam diri Ronaldo, dan Gareth Bale, atau kelincahan seorang James Rodriguez, Marcelo, dan juga Isco yang semuanya mendadak “mati gaya” dibawah arahan Benitez. Jarangnya nama Ronaldo menghiasi papan skor membuat isu perselisihan antar keduanya  semakin kencang.

Ronaldo yang musim lalu menjadi El Picici (sebutan top skor La Liga ), kini baru mencetak 6 gol dari 13 pertandingan yang dijalani, tertinggal jauh dari duet Barcelona, Luis Suarez dan Neymar yang silih berganti memuncaki daftar top skorer. Bahkan, rasio gol Ronaldo pun masih kalah mumpuni dibanding penyerang Celta Vigo, Nolito, dan Antoine Griezman dari Atletico Madrid.

Hal-hal semacam ini jelas membuat seorang Cristiano Ronaldo merasa tidak nyaman, ini pula yang sering terlihat dibeberapa sesi latihan Madrid, dimana, Ronaldo seolah tak senang dan enggan mematuhi instruksi dari Benitez selaku pelatihnya. 

Setali tiga uang dengan CR7, kemarahan fans pun semakin memuncak ketika Real Madrid dengan mudah dikalahkan seteru abadi mereka, Barcelona dengan skor mencolok, 0-4 di Santiago Bernabeu, yang sekaligus membuat Madridista melambaikan kain putih, sebagai pertanda jika mereka sudah menyerah dengan Benitez.

Tentu masih prematur jika kita mencap Rafa sebagai pelatih gagal di Madrid, karena kompetisi baru saja dimulai, tapi jika melihat kondisi tim, pembangkangan Ronaldo – yang belakangan diikuti sang kapten, Sergio Ramos – dan masalah luar sepak bola yang menimpa Karim Benzema, fans Madrid patut was-was dengan apa yang akan terjadi nantinya. Namun, satu hal yang perlu diketahui adalah, Benitez memiliki jejak rekam sangat baik dalam melatih sebuah tim di tahun pertamanya.

Valencia, Liverpool, Chelsea, dan Napoli, semua meraih gelar ditahun pertama Rafael Benitez melatih. Statistik ini tampaknya bisa menjadi acuan para Madridista untuk bisa sedikit membusungkan dada jika tim kesayangan mereka akan mendapatkan – setidaknya – satu gelar di akhir musim.

 Apakah trofi La Liga seperti yang ia dapat bersama Valencia? Atau Liga Champions Eropa yang pernah melambungkan namanya bersama Liverpool? Atau mungkin juara Copa yang ia persembahkan untuk warga Napoli? Entahlah, setidaknya salah satu dari piala bergengsi tersebut menjadi kemungkinan amat besar bagi Real Madrid.

Menyadari bahwa krisis yang terjadi di Madrid bukan sepenuhnya kesalahan Rafael Benitez semata, fans pun kini mulai jengah dengan presiden mereka sendiri, Florentino Perez yang dinilai terlalu memaksakan seorang Benitez sebagai pelatih kepala. Tuntutan mundur El Presidente pun mulai didengungkan seisi Bernabeu kala Loz Marengeus dipecundangi Barca pekan lalu.

Dan bukan kali ini saja Perez menunjuk pelatih “biasa” untuk mendidik pemain “luar biasa” yang mereka miliki. Jauh sebelum kehadiran Benitez, Perez mengawali kecerobohannya dengan menunjuk pria asal Portugal, Carlos Queiroz pada 2003 yang sebelumnya hanya menjadi asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United, dan tentu saja hasilnya bisa ditebak, Real Madrid gagal total dan membuat Santiago Bernabeu kosong melompong di sisa musim 2003-2004. 

Bahkan, seorang teman saya di Aceh ketika itu, dengan seloroh berkomentar, “kayaknya Perez sedang buta nyuruh Queiroz ngelatih Madrid, aku aja engga tau siapa dia sebenarnya, kebantinglah ini pemain sama pelatihnya”. Sahut dia, dengan logat Aceh yang amat kental. Padahal dia orang jawa!

Ketika itu, Madrid dikaruniai skuat bintang lima dalam diri Zinedine Zidane, Luis Figo, Roberto Carlos, Ronaldo De Lima, dan tentu pangeran mereka, Raul Gonzalez. Madrid seakan tenggelam oleh Valencia yang sedang menanjak dengan Beniteznya, Deportivo La Coruna yang tengah menjadi buah bibir, dan Barcelona yang memunculkan nama Ronaldinho sebagai fenomena baru di sepak bola dunia. 

Bukannya memperbaiki diri, Perez justru kembali melakukan blunder ketika mendatangkan pelatih “tak” bernama dalam diri Vanderley Luxemburgo setahun kemudian, keberhasilannya menjuarai Piala Libertadores bersama club Brazil, Santos, telah membawa ia ke Real Madrid, yang kala itu dibeli satu paket dengan si Pelle baru, Robinho.

Dengan skuat yang makin mentereng setelah kedatangan David Beckham, nyatanya tak membuat Los Galacticos menjadi lebih baik, dan mengakibatkan Luxemburgo dipecat saat kompetisi sedang berjalan. Nama-nama lain yang tak kalah tak terkenalnya pun silih berganti menjadi pelatih Madrid, seperti Jose Antonio Camacho, Mariano Garcia Ramon, sampai Juan Roman Lopez Carlo pernah menjabat sebagai pelatih kepala di era Galacticos pertama.

Memasuki millennium baru, Galacticos baru kembali berdatangan. Tak tanggung-tanggung, 3 bintang sekaligus dengan bandrol diatas 50 juta euro, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Ricardo Kaka didatangkan. Sialnya, Perez kembali menunjuk pelatih “aji mumpung” dalam diri Manuel Pellegrini.

Dia yang musim sebelumnya berhasil mengangkat Villareal ke papan atas La Liga dan mencicipi semifinal Liga Champions, tidak mampu membawa Madrid lebih jauh dari posisi Runner Up La Liga dan 16 besar Champions League, sekalipun karirnya tidak jelek-jelek amat di ibukota Spanyol itu, Perez akhirnya memecat pelatih asal Chile tersebut di akhir musim.

Florentino Perez, presiden yang kedua kalinya menjabat sebagai orang tertinggi ditubuh Real Madrid, tampaknya memang ogah belajar dari pengalaman sendiri ketika menjadikan Madrid, Los Galacticos pertamanya dilatih oleh pelatih biasa saja. 

Kini ia kembali mengulang kesalahan masa lalu, ketika mendepak Vicente Del Bosque yang telah memberinya gelar Champions dan liga Spanyol, dengan seorang Carlos Queiroz. Dan sepertinya hal itu akan terulang kembali tahun ini, ketika sang presiden menendang Carlo Ancelotti yang meraih La Decima dan Copa Del Rey, lalu menggantinya dengan Rafael Benitez yang membawa setumpuk masalah baru ditubuh El Real.

Nyatanya, pelatih-pelatih gagal yang disebut diatas bukanlah pelatih sembarangan, mereka berhasil mengangkat prestasi club semenjana, dan menjadi besar pula namanya, tapi kebesaran sesaat yang mereka sandang tak sanggup bersanding dengan abadinya kebesaran Real Madrid  yang sudah tersemat sejak lama.
Sumber gambar : edition.cnn.com

4 komentar:

  1. real madrid juara spanyol.

    Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  2. mungkin itu si perez lagi coba-coba aja, cocok ya dipake, nggak ya dibuang :D

    BalasHapus