Penjahat Perang, Pecinta Sepak Bola

5 comments
Manusia pada dasarnya diciptakan atas dasar kesamaan, meski pada perjalannya banyak terjadi perbedaan, namun pada akhirnya manusia akan kembali pada fitrah awalnya. Begitu juga dengan beberapa tokoh kontroversial berikut. Meskipun menjadi pemimpin tinggi suatu negara, dan tak jarang jadi orang paling dibenci seantero bumi, mereka tetaplah manusia biasa yang gila sepak bola, seperti kita pada umumnya.

Jika dahulu kita mengenal Hitler yang disinyalir sebagai pendukung Schalke 04, Joseph Stalin yang merupakan penggila Dynamo Moscow, Jenderal Franco yang mengagumi Real Madrid, dan karibnya, Benitto Mussolini yang seorang Laziale kolot ( sejatinya ia adalah fans Bologna ). Maka orang-orang dibawah ini pun memiliki cerita yang sama seperti pendahulu mereka.

1.       Radovan Karadzic
Kita mulai dengan aktor utama perang Serbia – Bosnia. Sebagai seorang Interisti, saya bingung harus senang atau tidak ketika mendengar Radovan Karadzic seorang fans Inter Milan. Tapi yang pasti, militansi Karadzic selama perang Bosnia pun ditunjukkan saat ia mendukung Inter Milan.

Bertahun-tahun lamanya ia menjadi buronan Interpol, tak menciutkan nyali besarnya untuk menyaksikan club idolanya bermain. saat pasukan gabungan PBB dan Uni Eropa sibuk menyelidiki keberadaannya, Karadzic malah asyik menonton Inter Milan di Gueseppe Meazza beberapa tahun lalu. Tanpa ada yang mendeteksi kedatangannya, ia nyaman duduk di tribun VIP stadion sambil menikmari pertandingan.

Alasan kecintaan Karadzic pada Inter Milan pun cukup sederhana, karena ketika itu Nerrazurri dihuni oleh dua pemain Serbia, Sinisa Mihajlovic dan Dejan Stankovic. Yang kebetulan juga merupakan pemain idola saya.

2.       Muammar Khadafi
Kekagetan saya tidak berhenti sampai pada Radovan Karadzic saja, karena di negara Afrika sana, tepatnya di Libya, presiden tangan besi yang sudah memimpin negara islam tersebut selama lebih 30 tahun, Muammar Khadafi adalah seorang fans berat Liverpool.

Sebelum konflik saudara terjadi di Libya beberapa tahun lalu, ditambah kejatuhan Khadafi dan tewasnya ia ditangan rakyatnya sendiri, sebagai pecandu Liverpool, saya merasa bangga mendengar hal tersebut. tapi setelah konflik terjadi dan terbongkarnya beberapa kebobrokan Khadafi, kebanggaan saya pun sedikit pudar, sekalipun tidak membutakan saya akan kehebatan seorang Muammar Khadafi.

Kecintaan Khadafi pada Liverpool terlihat ketika ia sering menyaksikan pertandingan Liverpool di tv, dan ditemukannya mug putih berlambang Liverpool ditempat persembunyiannya. Selain itu, sang anak, Al Saadi pernah berniat membeli beberapa lembar saham The Reds, meski pada akhirnya niat itu tidak pernah terlaksana.

3.       Robert Mugabe
Jika fans Chelsea khawatir ketika kelak Roman Abramovic kehabisan uang, rasa-rasanya kalian tidak perlu takut, karena presiden Zimbabwe ini, Robert Mugabe siap menjadi penopang keuangan club. Meskipun rakyatnya dilanda kelaparan, tapi Mugabe hidup penuh kemewahan, ia bisa dikatakan presiden terkaya di benua Afrika, disamping predikat negaranya yang merupakan negara miskin.

Ditambah lagi dengan fenomen hyperinflasi Zimbabwe beberapa waktu lalu, yang menjadikan uang senilai 1 milliar tak mampu membeli sepotong roti tawar, bukan tidak mungkin Mugabe mengalihkan uang tersebut untuk – setidaknya – menanamkan modalnya di Chelsea.

Tidak ada yang tahu pasti memang sejak kapan presiden yang telah memimpin Zimbabwe satu dekade lebih ini menggemari Chelsea. Yang jelas, Mugabe pernah mengakui bahwa ia sangat berharap bisa menyaksikan The Blues secara langsung di Stamford Bridge. Dengan uang pribadinya, tentu saja. Gimana fans Chelsea? #MugabeIn

4.       Osama Bin Laden
Ada kah yang tak kenal dengan sosok satu ini? maka, sesatlah kalian jika tidak mengenal nama Osama Bin Laden. Tapi tentu masih sedikit yang menyadari jika orang yang pernah menjadi buruan nomor satu Amerika Serikat dan konco-konconya, yang juga merupakan pemimpin tertinggi Taliban ini adalah fans setia Arsenal.

Rumor ini pun semakin diperkuat ketika Bin Laden beberapa kali menonton Arsenal di Highbury ( stadion Arsenal ketika itu ). Kecintaannya pada club London Utara ini pun coba ia wariskan pada sang anak, saat ia menghadiahi putra nya sebuah replika baju Arsenal, bertuliskan nama legenda club, Ian Wright di punggungnya.

Lalu, apakah Wenger ingin meminjam meriam milik Osama Bin Laden jika sewaktu-waktu meriam mudanya kehabisan amunisi? Just Kidding Gooners. Toh, Osama nya juga udah engga ada.

Sebagai olahraga pemersatu dunia, sepak bola tentu tidak membedakan orang baik dan orang buruk. Ia pun tidak akan melarang seseorang untuk mencintainya, sekalipun mereka berpredikat sebagai orang jahat, atau bisa dikatakan sebagai penjahat perang.

Sepak bola bukanlah tempat menghakimi hal-hal seperti, ia sadar tiap manusia seisi bumi mempunyai hak untuk mencintainya dan sepak bola pun membalas cinta itu tanpa membedakan. Saya pun teringat dengan ungkapan Jurgen Klopp sesaat setelah ditunjuk melatih Liverpool, “selama 90 menit, sepak bola membuat kita melupakan permasalahan hidup yang sering membebani”.




Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

5 komentar:

  1. namanya juga sepak bola, universal bung. siapapun berhak mencintainya

    BalasHapus
  2. sepakat bung. engga ada yang melarang itu

    BalasHapus
  3. sepakat bung. engga ada yang melarang itu

    BalasHapus
  4. Sepakat dengan kalimat penutupnya ini. Artikelnya keren, jangan-jangan penulisnya My Super Soccer nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mas. waduh sayangnya bukan mas.masih independen haha

      Hapus