Kamis, 05 November 2015

Padang Yang Berdagang


Satu kata yang pertama terlintas dalam benak kita setelah mendengar nama Tanah Abang adalah pedagang. Lalu, satu kata baru pun akan muncul setelah kita mendengar pedagang, dialah padang. Tanah Abang, pedagang, dan Padang, menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sejak dulu.



Sebagai sentra perdagangan terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang menjadi tempat favorit pedagang Indonesia, dan biasanya dihuni oleh orang Padang. Di setiap lantai, sudut, bloknya, kita selalu menemukan orang padang yang sedang berdagang. Pernahkah kalian melihat satu sudut saja, atau satu lantai saja, atau satu blok saja, lapak yang tidak dikuasai oleh orang padang???



Tanah Abang hanyalah satu contoh usang bagaimana orang padang begitu lihai dan gemar berdagang. Masih sangat banyak tempat-tempat perbelanjaan yang dikuasai orang Padang, tidak ada yang salah memang, hanya saja, saya takjub dengan fakta ini.



Saya tidak begitu paham kenapa orang Padang sangat gemar berdagang, ketidak tahuan saya akan hal itu membuat saya sedikit berkelakar “oh mungkin karena sama-sama berakhiran ang kali ya”. Tentu ini tidak benar adanya – tapi tidak menutup kemungkinan juga jika benar – karena pasti orang Padang memiliki filosofinya tersendiri mengenai hal ini. tapi ya sudahlah, saya tidak mau ngomongin filosofi atau asal muasal. 

Saya hanya ingin bersenang-senang menulis ini. Khusus Jakarta saja, keberadaan orang Padang yang berdagang bagaikan kacang rebus, sangat banyak jumlahnya, dan tentu saja mudah dijumpai. Mereka juga tidak hanya menjual satu jenis barang, tetapi seluruh barang yang dikenal didunia ini dijual oleh orang Padang. Mulai dari pakaian, teknologi, hingga dibidang jasa.



Ngomong-ngomong bidang jasa, kepintaran orang padang dalam berdagang sudah masuk keseluruh sendi kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Saya tidak bilang semuanya seperti itu, tapi setidaknya, salah satu dosen saya begitu. Memanfaatkan kedudukannya sebagai ketua jurusan ( waktu itu ), ia dengan leluasa menggunakan teknik dagangnya dengan memanfaatkan ketakutan dan kemalasan mahasiswa dalam mengerjakan skripsi atau setidaknya ujian kompre..



Dengan iming-iming akan lulus ujian bagi  yang bayar, dan ancaman tidak lulus bagi yang enggan membayar, transaksi pun ia mulai, nego harga pun kerap terjadi di dalam ruangan. Tentu saja tidak semua mahasiswa seperti itu, karena kebanyakan mahasiswa tingkat akhir yang tengah berada diambang Drop Out lah yang menjadi target utamanya. Sudah banyak pula pundi rupiah yang ia dapat dari mahasiswanya, dan yang saya dengar dari seorang teman adalah, hasil “jasa” skripsinya tersebut digunakanan untuk ia….berdagang di Tanah Abang.



Orang Padang dikenal tidak hanya pintar dalam berdagang, tapi juga gigih dalam merantau. Ini juga yang terjadi dengan pada saya, ketika ia dari tanah kelahirannya merantau ke ibukota, lalu kini merantau lagi ke pulau dewata.

Padahal tujuannya ya sama saja, berdagang. Filosofi turun temurun dari nenek moyangnya membuat ia harus rela meninggalkan si ratu lebah sendirian di Jakarta
#IfYouKnowWhatIMean guys!!!



Sudah banyak pusat perbelanjaan yang saya hampiri – bukan, bukan mau survey orang padang ya :p – dan setiap pedangang yang saya jumpai didalamnya pasti orang Padang. Hal ini pun membuat saya memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pedagang. 
“bang, pusat perbelanjaan yang gak ada orang


padangnya dimana ya?” tanya saya – sembari bercanda 
“saya indak tahu, kamu tanya ke padagang yang lain juga indak ada yang tahu itu”,


jawab si pedagang dengan logat Padang yang kental.



Mendengar jawaban itu saya langsung mengamini, karena memang benar adanya. Taman Puring, Pasar Rumput, Asemka, Mayestik, ITC, dan tentu Tanah Abang, yang menjadi tempat belanja idaman warga ibukota, seluruhnya di huni oleh orang-orang Padang, ini tentu belum termasuk yang masih tersebar di pusat perbelanjaan lainnya di Jakarta.

Dan yang saya dengar pun, mereka mempunyai paguyuban sendiri bagi pedagang-pedagang yang tersebar di ibukota. Keperkasaan orang Padang dalam berdagang pun tidak hanya tersebar di pusat-pusat perbelanjaan diatas, tapi mereka juga telah mengekspansi dagangannya ke toko-toko pinggir jalan, mulai dari yang besar hingga yang kecil, dan umumnya adalah pedagang pakaian – walau sekarang sudah banyak penjual jus buah berasal dari Padang. Hebatnya lagi, mereka kenal satu sama lain, sekalipun ia membuka lapaknya di daerah Ciputat, ia bisa kenal dengan pedagang yang berjualan di Depok.



Saya menaruh hormat tinggi pada pedagang-pedagang asal Padang yang gigih ini. Namun, hanya satu keluhan saya pada mereka. Tolong, kepada para uda dan uni di rumah makan padang, kalau melayani pembeli, janganlah terlalu horror. Berilah kami senyuman, sedikiiiit saja!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar