ISIS. Sampai kapan Amerika?

Leave a Comment
Mungkin kalian sudah bosan mendengar nama ISIS dan sepak terjangnya selama ini. tapi, izinkan saya menambah kejenuhan kalian dengan perspektif saya pribadi. Dengan harapan, agar kalian tahu apa itu ISIS dari seorang radikal seperti saya (wkwkww bercanda ya).

ISIS muncul sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya saya tidak tahu, tidak penting juga bagi saya. Yang pasti kemunculan ISIS bertepatan dengan gejolak yang tengah terjadi di Suriah antara pemberontak dan pemerintahan Bashir Al Assad.

Fenomena yang terjadi di belahan bumi arab, yang diawali pergolakan di Tunisia, antara rakyat dengan presiden yang dijatuhkan, Ben Ali, hingga jatuhnya Hosni Mubarak di Mesir yang kini menghadirkan permasalahan baru dalam pemerintahannya, kini terjadi juga dengan Suriah. 

Sejatinya, bukan hanya Suriah yang “latah” dengan revolusi yang terjadi di Tunisia, namun masih banyak negara Arab yang melakukan hal demikian. Akan tetapi, Suriah lah yang menjadi buah bibir hingga saat ini.
Sayangnya, cita-cita revolusi rakyatnya dulu, kini malah melenceng jauh ke arah yang sangat amat merugikan mereka sendiri, bahkan juga dunia, dengan kemunculan ISIS alias Islamic State Iraq and Syria, yang di ketuai oleh Abu Bakar Al-Baghdadi.

Saya tidak akan menyinggung bagaimana kiprah ISIS selama ini, karena kita sendiri sudah tahu tiindak-tanduk mereka yang saban hari tertangkap kamera televisi. Saya lebih tertarik bagaimana ISIS itu bisa muncul dan mendadak menjadi kekuatan menakutkan, yang menurut saya melebihi Al Qaeda dulu.


Perpecahan di Suriah terjadi pada empat tahun lalu ( koreksi jika saya salah ) antara rakyat yang tidak puas dengan kediktaktoran Al Assad yang juga dilatar belakangi revolusi Arab di Tunisia, Mesir, dan Libya. Rakyat yang tadinya hanya bermodalkan batu untuk melawan pasukan pemerintah, lama kelamaan mendapat
pasokan senjata dari Amerika Serikat dan NATO, belum lagi ditambah dengan beberapa militer yang membelot menjadi oposisi.


Selang setahun kemudian, muncul lah ISIS dengan membawa misi awal yang sama, yaitu menjatuhkan Bashir Al Assad. Namun, seiring berjalannya waktu, ISIS justru semakin meninggalkan Al Assad dan justru semakin menambah penderitaan warga Suriah. Pendiri ISIS sendiri yang bernama Abu Bakar Al Baghdadi pun menjadi misteri tersendiri di kalangan dunia.

Belakangan muncul kabar bahwa Al Baghdadi adalah mantan tahanan Amerika Serikat yang ditahan akibat aksi terorisme – walau pihak CIA mengklaim ia ditahan akibat pemalsuan paspor – yang kemudian dibebaskan beberapa tahun lalu. Jika ditelusuri lebih jauh, maka kehadiran ISIS memiliki hubungan erat dengan keterlibatan AS di dalamnya. 

Kenapa bisa begitu? Ini saya jelasin sedikit. Pertama, Baghdadi adalah mantan tahanan Amerika, yang dikenal mempunyai aturan sangat ketat dan amat keji dan tak jarang menghalalkan segala cara dalam menghukum seorang teroris atau dituduh teroris. Pertanyaannya, dengan aturan seperti itu, kenapa seorang Al Baghdadi bisa dibebaskan oleh AS? Tanpa secuil luka pun?


Kedua, Amerika memiliki ketimpangan hubungan diplomatik dengan Suriah, karena Al Assad lebih condong ke Rusia, sehingga dengan senang hati mereka dan NATO mengirim bantuan segala jenis senjata kepada pemberontak, yang sebelumnya tak pernah dilakukan oleh AS kepada negara manapun, kecuali Israel. Ini pula yang sekaligus memunculkan kaum-kaum ekstrimis untuk menjatuhkan Al Assad, dan tentu
didukung AS. 


Sadar atau tidak, inilah yang menjadi awal kemunculan ISIS, sadar atau tidak pula, Amerika lah yang menciptakan mereka. Dan sekarang, ISIS justru menghancurkan hampir seluruh wilayah di Suriah dan Irak.
Meratakan semua peninggalan sejarah Islam dengan tanah yang tersebar diseluruh negeri. Membunuh mereka yang juga Islam namun berbeda pandangan, dan merekrut “kader-kader” baru dari penjuru dunia, termasuk Amerika dan Eropa.

Lalu, kenapa ISIS menyasar orang-orang barat sebagai anggotanya? Atau lebih tepatnya lagi, kenapa orang-orang barat itu sangat tertarik masuk ISIS? ( terlepas ia Islam atau muallaf ), dan kenapa kelompok baru seperti ISIS ini memiliki senjata lengkap nan mutakhir, juga kumpulan-kumpulan mobil SUV yang mewah bak bangsawan kelas atas barat? Silahkan kalian berandai-andai dengan hal ini.


Jauh sebelum ISIS lahir ke dunia, kita lebih dulu mengenal nama Osama Bin Laden dengan jaringan Al Qaeda nya, yang terkenal dengan serangan 11 september di menara Pentagon Amerika. Bisa dibilang, inilah yang menjadi cikal-bakal kebencian barat terhadap Islam. Dua pesawat komersil yang diterbangkan rendah
tiba-tiba menghentak dua gedung kembar di New York tersebut dan ratusan nyawa pun melayang.


Tak lama, Al Qaeda menyambut aksi tersebut dengan membenarkan aksi mereka ke dunia. Baiklah, saya rasa kita sepakat memang mereka dalangnya. Tapi sadar kah kita, jika itu tidak lepas dari permainan politik konspirasi Amerika dengan sekutu kandungnya, Israel? Begini, gedung Pentagon dan WTC merupakan bangunan maha penting bagi AS dan tentu saja banyak warga Israel atau keturunan yahudi yang bekerja disitu. 

Dan, dari sekian ratus orang yahudi-Israel yang bekerja di WTC maupun Pentagon, tidak ada satupun dari mereka yang menjadi korban nahas tersebut, entah mereka tahu atau tidak, yang pasti saat kejadian, mereka semua kompak tidak masuk kerja.

Kebetulan? Atau direncakan? Jika itu benar konspirasi, kenapa Amerika dan sekutu dengan mudah menghilangkan nyawa warganya sendiri? Jelas saja untuk melanjutkan hegemoni nya di Afganistan yang memiliki opium melimpah, juga minyak yang tiada habisnya. Negara tetangga Pakistan ini pun bertahun-tahun diduduki pasukan AS, bahkan pemerintahnya, presiden Hamid Karzai pun dibawah komando langsung gedung putih. 

Mungkin ini pendapat yang sedikit memaksakan. Tapi, kenapa tidak? Namanya juga politik. Ganjalnya
penumpasan Al Qaeda pun semakin menjadi ketika Amerika mengklaim telah membunuh Osama Bin Laden yang ditandai dengan acara nonton bareng presiden Obama bersama para staffnya di gedung putih. 

Tapi pernah kita melihat jasad Bin Laden? Atau adakah pihak keluarga yang mengklaim kematiannya? Lalu, kenapa pula pihak AS terburu-buru membuang mayatnya ke tengah laut? Politik kotor Amerika pun tidak mentok di Afganistan, karena mereka pun menyerang negeri seribu malam, Irak, yang saat itu sedang damai-damainya. 

Sama halnya dengan Afganistan, kedamaian Irak pun sirna seketika ketika Amerika mulai memasuki Baghdad dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal. Irak membantah, Saddam Hussein pun menuduh Amerika tidak senang dengan kekayaan Irak saat itu, Eropa pun meragukan tuduhan George Bush, presiden AS saat itu. tapi, lagi-lagi, tidak ada yang bisa melarang jika Amerika sudah berkehendak. 

Perang pecah, Irak porak-poranda. Dan sampai digantungnya Saddam Hussein pun, tidak ada yang menemukan senjata pemusnah massal tersebut. dan seperti yang sudah dituding Saddam, AS hanya menemukan minyak bumi, karena memang itu yang mereka cari.

Pernyataan Saddam Hussein akan ke-tamak-an AS sepertinya memang benar. Ini pula yang terjadi dengan Mesir, pasca lengsernya Hosni Mubarak yang pro Amerika dan naiknya Mohammad Mursi, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang mendukung perjuangan Hamas di Palestina, Amerika lagi-lagi memainkan peran vitalnya selaku “penguasa dunia”, dengan mengatur kudeta militer terhadap Mursi, kemudian memenjarakannya, dan menghukum mati para pengikutnya. Kita pun bisa melihat bagaimana Mesir yang kini porak-poranda dan tunduk dengan perintah AS dan sekutu.

Al Qaeda memang tidak ada hubungan historis apapun dengan ISIS, namun, dengan persamaan tujuannya mengintai barat, mereka pun akhirnya membangun afiliasi baru dan saling mendukung satu sama lain. Kebengisan ISIS pun telah sampai ke tanah Afrika, tepatnya di Nigeria, yang mana kelompok ekstrimis lainnya, Boko Haram mendeklarasikan diri setia bersama ISIS.

Laiknya Al Qaeda, Boko Haram pun tidak pernah benar-benar menjadi besar seperti ISIS, tapi kelompok mereka dikenal sangat rapi dan mematikan dalam setiap melancarkan operasinya di Nigeria. Ketiganya memiliki persamaan yang sama pada awal-awal pendirian mereka, yaitu ingin membangun negara Islam yang berdaulat, tapi semakin hari, tujuan mereka terus melenceng dan menjadi musuh Islam itu sendiri.

Ini sungguh berbeda dengan apa yang terjadi di Palestina dengan Hamas yang masih konsisten memperjuangkan kemerdekaan negara dari jajahan Israel, atau pejuang Cecna di Rusia, meskipun sekarang mereka – tampaknya – sudah berdamai dengan pemerintah setempat.

Dengan kemunculan segala macam jenis kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam ini, nampaknya semakin mempertajam wabah Islamphobia di daratan Eropa dan telah memunculkan beberapa kelompok 
ultra-nasionalis anti-salafi, anti-wahabi seperti yang terjadi di Jerman, Belanda, dan Inggris.

Jauh sebelum itu, ada beberapa tokoh kanan dunia yang secara terang benderang menentang segala bentuk ke-islam-an, seperti anggota parlemen Belanda, Geert Wilders yang ingin mempertontonkan kartun Nabi Muhammad dan menyandingkan beberapa ayat Al’Quran dengan aksi terorisme, atau pendeta di Amerika Serikat, Bob Old dan Terry Jones yang hendak membakar Al’Quran dihadapan jemaatnya.


Tahun lalu, Paris diguncang dengan aksi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo yang menewaskan beberapa orang, termasuk pemimpin redaksi majalah satire tersebut. dunia pun berlinang air mata akan aksi itu, yang diklaim dilakukan oleh ekstrimis muslim setempat. Akibat penembakan tersebut, majalah Charlie
Hebdo pun laris manis dalam pembukaan perdana pasca penembakan.


Tapi, sadarkah kita apa sebenarnya yang melatar belakangi penambakan itu? kemana dunia atau negara Islam ketika majalah tersebut menyinggung umat Islam dengan karikatur Nabi Muhammad? Sudah puluhan kali mjalah tersebut memunculkan kartun Nabi sebagai objek jualnya, dan pasca peledakan pun, yang menjadi headline utama mereka tetap me-nyatire-kan Nabi Muhammad.


Saya tentu tidak membenarkan aksi penembakan tersebut, tapi tentu saja aksi penembakan tidak akan pernah terjadi jika Chalie Hebdo tidak lancang menyinggung umat Islam seluruh dunia. Bukan mau sombong atau bagaimana, saya sedikitpun tidak simpati dengan Charlie Hebdo ketika mata dunia berkabung untuk
mereka.



Mari kita kembali ke Amerika dan ISIS. Pertentangan mereka terhadap ISIS, juga perselisihannya dengan presiden Suriah, Bashir Al Assad lagi-lagi menjadikan mereka kalap mata dan terus menjadi polisi dunia dengan mengirim pasukan darat ke Suriah untuk menghancurkan ISIS, tapi di sisi lain, mereka juga terus
mengirim senjata kepada pemberontak untuk menjatuhkan Al Assad. 


Logikanya, bagaimana bisa mereka ingin menumpas dua pihak sekaligus, yang mana dua kubu tersebut juga saling bertentangan? Dan hasilnya pun bisa ditebak, ISIS menjadi semakin kuat, besar dan meluas sampai ke Eropa.

Berbeda dengan AS, Rusia yang menjadi sahabat dekat Suriah di kawasan Timur Tengah, belakangan pun ambil bagian melawan ISIS. Bedanya, Rusia mendukung penuh presiden Assad dan bersama-sama menghancurkan ISIS, seperti yang di katakan Vladimir Putin, “satu-satunya cara menghancurkan ISIS adalah mendukung presiden Assad”. Mereka  pun tidak mengirim pasukan darat, hanya membombardir ISIS lewat udara.

Tindakan ini sepertinya lebih efektif dan berhasil melumpuhkan beberapa markas ISIS di wilayah Suriah, ketimbang mengirim pasukan langsung ke Suriah yang hanya akan menambah korban jiwa tak berdosa. Menyadari hal ini, Irak pun mulai membelot dari Amerika ke Rusia dalam penumpasan ISIS sampai ke akarnya.

Suka tidak suka, kita tidak bisa membutakan mata dan mematikan nalar, bahwa kemunculan ekstrimis yang mengatasnamakan agama meIibatkan pihak Amerika dan sekutunya. Ibarat kata, Timur tengah adalah tanahnya, dan barat menjadi benihnya. 


Untuk memperjelas tulisan saya yang sepertinya tendensius ini, saya sarankan anda-anda membaca essai kang Zen RS berikut : http://kurangpiknik.tumblr.com/


Terakhir, agar tidak salah paham, meski bernama ISIS dan ada embel-embel Islam didalamnya, sumber keuangan mereka nyatanya berasal dari 40 negara. Apakah Amerika, Perancis, Jerman, Inggris, atau mungkin Arab Saudi termasuk didalamnya? Entahlah,silahkan cek di Bank Swiss.

Lebih dan kurang saya mohon maaf, jika ada yang tidak setuju dengan pendapat saya dan ingin menulis dengan pandangan sebaliknya saya akan sangat senang
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar