Guruku Pahlawanku

Leave a Comment

Entah
apa jadinya dunia ini tanpa kehadiran seorang guru. Yang pasti kita hanya akan
menikmati kegelapan pengetahuan, sekalipun matahari silih berganti menyinari
bumi setiap hari. Kita memang tidak bisa hidup tanpa matahari, tapi apa artinya
hidup jika tak berilmu.

Guru
laiknya seorang nabi baru yang diutus Tuhan ke bumi untuk menerangi isinya
dengan ilmu, kita sebagai murid pun harus mempelajarinya, dan tentu mengamalkan
kembali ilmu itu kepada penerus bumi selanjutnya.

Dunia
tidak akan semaju ini tanpa kehadiran seorang guru, dokter tidak akan pernah
mampu mengobadi orang yang sakit tanpa guru yang mengajarkannya, atau presiden
pun tak akan bisa menjadi pemimpin tanpa seorang guru yang membentuk pola fikir
dan kepemimpinannya saat masih sekolah dasar dulu.

Meskipun
guru selalu diidentikkan pada sekolah, jika dirunut lebih dalam lagi, maka
sejatinya guru memiliki pengertian yang cukup luas. Ia tak hanya mengajarkan
pelajaran dalam kelas, tapi juga mengajarkan kita kehidupan di luar kelas.
Artinya, guru tidak hanya guru kita di sekolah, tapi bisa berasal dari
keluarga, orang sekitar, atau bahkan teman kita sendiri.

Seperti
semua orang, saya pun tumbuh seperti sekarang karena berkat guru yang
mengajarkan, membuka pengetahuan saya akan dunia ini secara perlahan. Cukup
banyak guru yang berjasa dalam diri saya, yang telah membentuk karakter saya
seperti sekarang ini, dan rasa-rasanya tidak ada yang mampu saya lakukan selain
mengucap terima kasih dalam setiap doa saya.

Pernah
sekali waktu, ketika saya SMA, dan sedang dalam persiapan menuju UN, sekolah
saya yang terletak di pedesaan Aceh Utara, dengan perlengkapan terbatas, tanpa
adanya laboratorium apapun, kami para siswa dituntut belajar semaksimal
mungkin, mengingat standar nilai yang dipatok pemerintah cukup tinggi.

Sadar
dengan ancaman kegagalan yang menghantui kami para siswa, ditambah keterbatasan
peralatan pihak sekolah, beberapa guru pun berinisiatif membuka pelajaran
tambahan, berupa les pada sore hari, selepas pulang sekolah. Kegiatan ini pun
dilakukan dirumah pribadi guru, bukan disekolah, karena pihak sekolah pun
membuka kegiatan serupa.

Menurut
guru saya ketika itu, “kita tidak punya waktu lagi untuk bersantai, les 3 hari
dalam seminggu tidak cukup untuk mempersiapkan UN yang semakin dekat, jadi mau
tidak mau kita harus mengadakan les tambahan”. ucap guru Ekonomi saya waktu
itu, yang kemudian diikuti oleh guru lainnya dengan melakukan hal serupa.

Kepahlawanan
guru kami ini memang tiada duanya, 6 hari dalam seminggu, ia mencurahkan perhatiannya
untuk seluruh murid yang hendak menyongsong masa depan. Ia dengan sukarela
mengajarkan kami pelajaran tambahan tanpa dibayar satu-rupiah-pun, dan di satu
sisi, beliau juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarga serta anak-anaknya.

Upaya
beliau memang tidak pernah sia-sia, karena kami, murid didiknya berhasil lulus
dengan nilai memuaskan, kami pun berhasil melanjutkan pendidikan ke beberapa
daerah diluar provinsi Aceh, seperti Medan, Yogyakarta, Padang, Bogor, dan
Jakarta seperti saya.

Apalah
artinya saya semua tanpa bapak dan ibu guru, karena saya tidak akan pernah
menjadi apa-apa tanpa kalian. Tidak akan pula saya menginjakkan kaki Jakarta
tanpa peran kalian. Ilmu baru yang kami terima pun berawal dari kalian.
Nilai-nilai kehidupan yang telah kami alami pun bermuara dari kalian, wahai
guru-guruku.

Tulisan ini dibuat
untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”

http://lagaligo.org/lomba-menulis

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar