Minggu, 22 November 2015

Bermula Dari Maya

Saya tidak terlalu menggilai sosial media, dari sekian banyak sosmed yang merajalela, saya hanya tercatat aktif di twitter dan facebook ( yang semakin tak terurus ). Sosmed lain seperti instagram, path sudah hilang terbawa android saya yang berpindah tangan.

Twitter cukup membantu aktifitas saya yang memang haus akan informasi. Sehari saja tidak membukanya, hidup saya seperti jalan ditempat, bahkan bisa berkurang 24 jam. Jika sebelumnya saya mengaktifkan akun twitter hanya untuk mengetahui informasi dunia, maka, sekarang alasan saya pun bertambah satu,  yaitu ingin tahu informasi tentang dirinya.

Saya tidak terlalu ingat pada moment apa saya berkenalan dengannya, entah kenapa pula saya sampai hati memfollow dia saat itu juga. Padahal jelas-jelas dia tidak mengabadikan wajahnya sebagi gambar muka akunnya. Disitu, ia berkamuflase menjadi seorang penyanyi, yang belakangan saya ketahui itu adalah vokalis dari grup band asal Skotlandia, Chvrches, Lauren.

Melihat wajah sang vokalis, saya seolah langsung membenarkan jika wajah aslinya tidak terlalu jauh berbeda dengan Lauren. Namanya pun sangat unik, saking uniknya, saya sempat keteteran mengeja nama depannya yang menurut saya memiliki daya pikat yang cukup mumpuni Tidak cukup hanya melihat ava dan bio nya, saya pun menyempatkan waktu sejenak untuk melihat apa saja yang ia lakukan di twitter.

Demi memastikan bahwa tidak ada seorang pria yang sedang dekat dengannya, juga untuk mengetahui sedikit karakternya lewat celoteh yang ia tumpahkan di beranda twitter. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memantau twitternya karena tidak ada tanda-tanda bahwa ia memiliki seorang yang spesial. Hati saya pun semakin mantap “mengikutinya” setelah melihat beberapa cuitan yang menurut saya sangat berbeda dari
kebanyakan perempuan.

Idealism nya mengenai kehidupan sangatlah kental, begitupula dengan pemikiran-pemikirannya terhadap masalah sosial. Untuk hal ini, saya berani bilang kami punya kesamaan. Meski sudah saya “ikuti”, dia tidak langsung “mengikuti balik” saya di twitter.

Mungkin karena memang tidak kenal makanya ia bersikap demikian, saya pun memakluminya. selang beberapa minggu setelah itu, satu cuitannya mengenai fenomena drama Turki yang tengah mewabah di tanah air saya sambar dengan cara – yang menurut saya –
jenaka.

Awalnya, saya tidak yakin apakah dia akan membalas pendapat saya itu. untungnya, ia benar benar membalas sambaran saya, dan tentu saya lanjutkan kembali hingga tercipta komunikasi dua arah. Saya pun semakin terkejut ternyata dia mengetahui bahwa Turki adalah negara penganut sekuler.

Memang sudah menjadi rahasia umum jika negara setengah Eropa dan setengah Asia tersebut penganut sekuler, tapi saya berani bertaruh, tidak banyak wanita yang tahu akan hal ini Sekali berbalas tawa,
obrolan kami pun semakin mengalir adanya, saya langsung menemukan sosok menyenangkan dalam dirinya.

Masa puberitas yang telah lewat seakan kembali menghampiri dengan mengirim satu sosok – yang saya yakini – jelita dibalik telepon genggamnya. Saya semakin kegirangan ketika tidak berselang lama setelah ber-mention ria, akhirnya dia pun memfollow balik akun twitter saya. Semakin sujud syukurlah saya pada orang yang telah menciptakan twitter.

Obrolan kami seputar “abad kejayaan” dan fenomena Turki lainnya tiba-tiba terhenti, dan berlanjut pada topic yang lain. Dan kali ini, dia lah yang menyambar cuitan saya. Untuk hal yang ini, tampaknya saya harus berterima kasih pada buku 1Q84 karya Haruki Murakami yang saat itu sedang saya baca, dan kebetulan disaat yang bersamaan saya memosting gambarnya di twitter.

Ia terperangah melihat bacaan saya, disisi lain, saya tak kalah terperangah melihat apresiasi luar biasa yang ia tunjukkan, padahal saya merasa terlambat karena baru membaca novel maestro Jepang tersebut. saya tahu jika ia senang membaca, dan dalam fikiran saya dia sudah khatam dengan trilogy 1Q84, dan memang itu yang saya katakan padanya.

Dengan percaya diri tingkat tinggi, saya pun berniat meminjamkan buku tersebut kepadanya, dengan satu harapan “terselubung”yang saya selipkan dalam setiap lembar buku yang tebalnya hampir 500 lembar itu, yakni bisa sekaligus bertemu dengannya, melihat wajah siapa sebenarnya yang berada dibalik Lauren, si vokalis Chvrches yang ayu nan unyu itu.

Tapi untuk satu ini, niat baik saya itu pun belum disambut dengan baik oleh keadaan, karena kami berasal dari kota yang berbeda, saya menetap di ibukota dan harus melewati tol Cipularang yang dikenal angker itu untuk sampai ke kota dimana ia tinggal.

Saya tidak kehilangan akal, toh masih ada mas-mas JNE yang siap mengantar buku itu nanti. Saya akan terus membatin jika 1Q84 dan buku lain yang sudah saya janjikan belum berada di tangannya. Hingga kini, niat tersebut masih sebatas niat saja, saya memang belum meminjamkannya karena beberapa alasan yang mendesak. Tapi saya jamin, ia akan mendapatkan buku ini pada waktu yang tepat.

Seorang teman yang berhaluan komunis pernah bilang kepada saya, bahwa karakter seseorang bisa dilihat dari musik yang ia dengarkan. Dan entah kebetulan atau tidak, kami memiliki selera musik yang sedikit banyaknya nyaris sama. Dia suka Coldplay, aku juga, dia suka The Cure, aku juga, dia suka The Killers, aku juga, dia suka Suede, aku juga, dia suka Efek Rumah Kaca, aku juga, dan dia tergila-gila pada
Chvrches, aku pun mulai menggilai band elektro tersebut. Dan yang baru saja saya tahu ialah, dia juga seorang penggemar Liverpool, juga tim nasional Belanda. Persis dengan saya.

Betapa sempurnanya seorang wanita yang mengerti sepak bola. Ada banyak kesamaan yang menjembatani hubungan kami di ranah maya, sebuah kesamaan yang saya yakini bukan suatu kebetulan, tapi merupakan perencanaan dari sang pemilik jiwa.

Kemarin kami hampir saja bertemu, mengingat dia sedang berada di Jakarta, tapi pertemuan itu pun urung terjadi karena ia lebih dulu pulang ke rumah. Gagalnya pertemuan kemarin bukan berarti kami belum pernah bertemu. Percaya atau tidak, saya sudah tiga kali menemuinya, bukan dalam kisah nyata tentu saja, melainkan dalam dunia bawah sadar ketika saya sedang terlelap tidur.

Jangan tanyakan kenapa saya bisa bertemu dengannya dalam 3 mimpi yang berurutan itu, karena saya juga tidak paham apa yang terjadi. Dalam pertemuan pertama, saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan tanpa keberanian untuk mendekatinya yang sedang terduduk seorang diri di sudut café. Pada pertemuan kedua, kami akhirnya berkenalan, melempar tawa perihal apa yangkami lakukan selama berbalas pesan di
twitter.

Dan pada akhirnya kami benar-benar menjadi akrab tak terpisahkan. Pernahkah kalian mengalami mimpi yang bersambung seperti? Btw. Jarak Bandung – Jakarta tampaknya menjadi tidak berarti dalam mimpi saya, karena saya sama sekali tak merasakan jika kami dijauhkan oleh dua provinsi yang bertetangga ini.

Oleh karena itulah dalam ketiga pertemuan itu saya selalu berharap tidak pernah bangun dari tidur, agar saya bisa menikmati hidup didalam mimpi berdua bersamanya, tanpa harus berbalas pesan di media sosial, dan tanpa perlu menggurutu akan jarak yang memisahkan.

Berlebihan? Mungkin iya, dan saya akui itu. tapi saya bisa apa jika hati yang sudah berkehendak, yang juga didukung oleh tuhan dengan cara yang bijak mempertemukan kami lebih awal lewat alam bawah sadar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar