Sabtu, 17 Oktober 2015

Yakin Bela Negara?


Baru-baru ini tanah air kita tercinta dikejutkan dengan sebuah wacana yang terdengar patriotis, bisa jadi nasionalis juga. Ya, namanya Bela Negara. Dari  namanya saja, seharusnya sih keren ya wacana pemerintah ini – yang semenjak berganti presiden banyak wacana-wacana fenomenal, ya walaupun Cuma sekedar fenomena kampanye politik.



Kita tidak perlu mengingat kembali apa saja wacana pada kampanye masa lalu pak jokowi yang sudah berlalu dan tak berujung itu. Mari kita fokus kan ke masalah Bela Negara ini. Pertanyaan pertama yang ingin saya sampaikan adalah apa itu Bela Negara? Apa pula landasan utama pemerintah ingin melakukan itu? Dan, seberapa penting Negara sebesar, semakmur (katanya) Indonesia membutuhkan wacana ini?



Belakangan, banyak pihak yang mengaitkan wacana ini semacam wajib militer seperti yang dulu pernah berlaku pada masa pemerintahan orde baru. Ada pula yang beranggapan “belanegara’ hanya pelatihan dasar yang diperuntukkan bagi para relawan yang siap ditempatkan dimana saja dalam keadaan darurat. 

Sementara itu, pemerintah (saya lupa namanya siapa ) mengatakan bahwa program ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang tergabung dalam Resimen Mahasiswa atau sejenisnya. Entah mengapa, sejak dulu – selepas orde baru –setiap pemerintah mengeluarkan kebijakan baru selalu di bredel oleh orang lain, orang lain yang saya maksud bukanlah pihak oposisi, karena mereka toh pada dasarnya ya sama saja. Orang lain tersebut adalah kaum-kaum intelektual muda yang selalu berseberangan dengan kebijakan pemerintah, siapapun itu presidennya. Lalu, senaif itu kah para pemimpin bangsa sehingga selalu menuai kontroversi dalam setiap mengambil kebijakan?Atau, sepintar itu kah kaum intelektual tanah air sehingga ada saja celah bagi mereka untuk “menghakimi” pemerintah?



Pada masa pemerintahan jokowi saja, sudah ada beberapa kebijakan baru – namanya doang sih baru, prakteknya ya sama aja, mungkin –, salah satunya, ya “bela Negara” ini. Sebuah konsep sederhana yang pada perjalanannya mengalami tumpang tindih defenisi dari para pembuat kebijakan. Sudah menjadi rahasia umum memang jika suatu program akan berganti defenisi seiring berjalannya kritik.



Latar belakang pemerintah merancang “bela Negara” ini pun sepertinya tidak jelas – ya mungkin saya yang engga peka dengan maksud pemerintah – karena Negara kita sejauh ini baik-baik saja, tidak ada konflik dengan Negara lain, kecuali Malaysia yang suka cari gara-gara.



Yang saya takutkan adalah, ini hanya menjadi program  untuk menimbun pundi rupiah dari para penyokong kekuasaan yang belum mendapatkan “hak-hak”nya? Atau mungkin ini bagian dari bagi-bagi jatah kekuasaan jilid ke entah berapa yang masih terus saja berlanjut dari awal terpilih hingga setahun pemerintahan.  



Jika duo Korea menerapkan “bela Negara” ala wajib militer bagi warganya karena keadaan kedua Negara yang terkadang memanas, walau tak jarang – sesekali dingin membeku, lalu buat apa Indonesia menerapkan “bela Negara”? perang semacam apa yang dikhawatirkan pemerintah sehingga memaksakan diri ingin menerapkan kebijakan mubazir ini? Jangan-jangan (jangan-jangan loh ya), nama “bela negara” ini diperuntukkan bagi mereka yang siap mati mendukung pak jokowi dari segala kritik??? “Memangnya

dengan relawan yang semakin militan dan mematikan nalar tidak cukup ya”. 
Pikir saya

“bela Negara” mungkin adalah wujud nyata dari jargon kesohor nan menyejukkan hati di masa kampanye lalu, “revolusi mental” yang dalam perjalanannya tidak ada mental yang direvolusi, malah semakin menjadi. Yang ada mental hukum yang direvolusi oleh kongsi korupsi.



Terakhir, jika pemerintah ngebet dengan “bela Negara”nya, apa kabar dengan petani yang terbunuh karena mempertahankan tanahnya? Apa kabar dengan nenek yang hanya ketahuan nyolong sebiji mangga kemudian dilaporkan polisi dan diadili? Apa kabar dengan mereka yang rumah ibadahnya dibakar? Apa kabar dengan penegak hukum yang dikriminalkan? Apa kabar pula dengan Munir yang di racun di udara? Blusukan kemana pemerintah ketika peristiwa itu terjadi? Padahal mereka lah pembela negara.



Penutup, sebelum laten bahaya orde baru ini kembali terulang. Bagaimana kalau kita menuntut balik pemerintah me-revolusi mentalnya sendiri beserta para relawan yang ke-pintaran-nya melebihi dewa itu untuk mem “bela rakyat”? karena sebuah blunder besar bagi pemerintah yang menuntut rakyatnya untuk “bela negara” namun pada saat bersamaan mereka tiada membela rakyat.



Percaya atau tidak.Tanpa“bela Negara” kita sudah teramat dalam mencintai Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar