Mengenang Setahun Jokowi

Leave a Comment
Setahun sudah Jokowi memimpin bangsa, sudah setahun pula usia kita bertambah. Setahun sudah Jokowi menjadi presiden, sudah setahun pula Jokowers makin pinter.

Jokowi benar-benar mewujudkan jargon kampanye “Revolusi Mental” nya, sayangnya bukan masyarakat umum yang menjadi sasaran, melainkan para relawan setia yang menjadi perwujudan revolusi mental itu sendiri.

Selama masa kampanye dahsyatnya yang memerahkan Gelora Bung Karno tahun lalu, Jokowi seolah menjadi sosok pembeda dari tokoh politik lainnya, baik lawan, kawan, ataupun para pendahulunya sendiri. Dilihat dari segala sisi, ia memang amat berbeda dibanding kebanyakan pejabat tanah air. Bukan berlatar belakang militer, tidak mempunyai catatan buruk masa lalu, tidak pula hidup bergelimang harta – walau ia seorang pengusaha sukses – semakin membuatnya mudah dicintai.

Mengawali kiprah politik sebagai walikota Solo dua periode, kesempurnaan Jokowi sebagai pejabat yang merakyat pun berlanjut di Jakarta ketika ia terpilih menjadi gubernur ibukota, yang sekaligus mengantarnya ke singgasana istana negara. Kepindahannya dari “balai kota” ke istana mau tak mau mengikis kesempurnaannya secara perlahan.

Lama kelamaan, rakyat tersadar akan “kecantikan” Jokowi yang semakin memudar di telan para penyokong dibelakangnya. Tentu bukan relawan penyebabnya, tetapi para kekuatan besar yang sembunyi manis dibelakang selama masa kampanye lalu.

Kita tentu tidak perlu mengungkit masalah politik transaksional Jokowi yang sampai sekarang masih berlanjut, dengan Fadjroel Rahman sebagai objek transaksi terbarunya. Belum lagi ketidakberdayaannya menentang birahi politik seorang Megawati ketika tetap kekeh menunjuk Budi Gunawan sebagai Kapolri, yang belakangan – sepertinya – dilengkapi oleh RUU KPK yang akan membuat badan anti rasuah tersebut akan semakin tenggelam dimakan zaman.

Revolusi mental ala Jokowi pun semakin tampak ketika ia ingin kembali menghidupkan pasal penghinaan presiden yang telah lama mati. Apakah ini cara Jokowi untuk meredam para kritisi nya? “tentu tidak, presiden kan punya hak” sahut Jokowers, jika ada yang menanyakan hal tersebut.

Ya, jokowers atau dulu dikenal sebagai relawan jokowi ini saban hari semakin menunjukkan identitasnya. Sekelompok orang yang tadinya dikenal sebagai pembeda dalam ajang pemilu lalu, kini tak ada bedanya dengan orang-orang yang berlabel kepentingan. Pembelaan membabi buta mereka terhadap kepemimpinan Jokowi pun melebihi apa yang dilakukan partai politik penyokongnya.

Tanpa melihat latar belakang, jabatan, asal usul, kiprah seseorang di belantika perpolitikan tanah air, mereka dengan blak-blakan meng-counter attack para pengkritik Jokowi bak serangan fajar, siapa pun itu. Bagi saya pribadi, mereka tak lebih dari seorang penjilat kelas teri yang menghakimi para pengkritik jokowi secara keji.

Dangkalnya cara berfikir mereka terhadap yang terjadi dalam tubuh pemerintahan semakin membuka tabir masing-masing, yang hanya bisa menyalahkan pemerintah masa lalu jika terjadi kekurangan dalam sistem pemerintahan baru. Namun, hanya Jokowi lah yang bekerja ketika pemerintah mendapat rapor bagus dari rakyat, tanpa campur tangan masa lalu. Ini murni, tak terbantahkan.

Ke-murtad-an saya terhadap Jokowi – selain kinerjanya yang jauh dari harapan – dilandasi oleh perilaku para jokowers yang makin lama semakin kehilangan pola fikir. Tidak seimbangnya logika antara otak kanan dan kiri mereka membuat para jokowers mati rasa terhadap sesama warga negara.

Mereka buta bahwa Jokowi hanya dijadikan pion oleh Megawati dan KIH nya, rasa mereka pun mati ketika Jokowi melakukan transaksi jabatan kepada orang-orang yang mendanainya selama kampanye lalu secara gamblang. Dan bukan hanya di pemerintahan, obral jabatan ala jokowi pun menghinggapi beberapa pos strategis di BUMN-BUMN besar. Silahkan periksa, BUMN mana yang tidak di komisari-si aktor politik?
Para Jokowers sejatinya adalah orang-orang yang peka, peka ketika Jokowi dihujat, buta disaat rakyat melarat. Kenaikan harga-harga dikalangan masyarakat yang selalu diikuti dengan keluarnya paket-paket kebijakan – yang sekarang sudah paket empat – ala Jokowi yang menjadi bahan pamungkas para jokowers menepis kritik. Padahal, ya, engga jelas juga paket-paketan itu juntrungannya kemana., ke rakyat? Silahkan tanya ke rakyat apakah ada harga barang-barang yang turun?

Masalah rupiah yang sempat menungkik tajam dari 11.000-an menjadi 14.500 dalam tempo dua bulan, kini rupiah juga sudah turun menjadi 13.000-an yang dianggap jokowers sebagai prestasi mengkilap yang disambut gegap gempita oleh Jokowers – padahal ya itu permainan Amerika.

Saya juga tidak ingin mengganggu ketentraman jokowers perihal asap tebal yang menyelimuti sebagian wilayah negeri ini, karena saat ini mereka pasti sedang nikmat menyaksikan final piala presiden sambil menyebar firman bahwa Jokowi lah presiden pertama yang mampu memadamkan perseteruan Viking-The Jak – pentingkah seorang presiden memikirkan seporter sepak bola? Sebaiknya jangan membahas masalah ini.

Efek keberadaan Jokowi  pun terlihat jelas bagaimana rakyat Indonesia terpecah belah antara mereka yang bergerilya bersama TV oon dan mereka yang menjadi hooligan Metromini TV
Jokowers, menurut saya bukanlah sekumpulan penjilat, melainkan sekumpulan orang-orang yang melacurkan diri dari suatu kebenaran, memfatwakan setiap omongan presiden sebagai firman, dan menganggap setiap kritikan sebagai pemurtadan. Ingat  “pemimpin yang di nabikan akan mematikan nalar”. Kata budayawan, Sujiwo tedjo.

Tidak percaya? Monggo tanyakan ini pada mz Fadjroel Rahman
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar