Kamis, 29 Oktober 2015

Mempertanyakan Fans Sejati

Pernahkah anda mendengar kalimat “gue ini fans sejati”? saya yakin kita pasti pernah mendengarnya, sering bahkan. Tapi apa mereka benar-benar memahami apa itu fans sejati? Atau hanya sebatas ucapan dalam kata tanpa berbuat apa-apa demi club tercinta?

Entah kenapa saya sangat yakin, jika mayoritas dari mereka yang menganggap dirinya “fans sejati” hanyalah kamuflase belaka, agar dipandang eksis dalam mendukung tim kesayangan. Sebab, mayoritas dari mereka hanya memandang hasil akhir sebagai tujuan utamanya. Persetan dengan proses  untuk meraihnya, yang penting menang.

Kita tidak perlu memperdebatkan kemunculan fans-fans club yang sedang kekinian, karena mereka hanyalah bagian dari anomali sepak bola itu sendiri. Tapi percaya atau tidak, “fans sejati” ini memang kebanyakan berasal dari club-club yang berpredikat kekinian.

Jangan pula kita menyamakan diri dengan fans di Eropa, dengan mendukung tim yang sama, lalu menjadikan itu sebagai pembenaran perilaku kita di tanah air sebagai fans layar kaca. Mereka disana jelas membela club yang memang berasal dari daerah tempat dimana mereka tinggal. Sementara kita disini? Bukan orang Madrid ( misalnya ), Chelsea ( misalnya ) tapi selalu kebakaran jenggot ketika club pujaan di ledekin, seolah-olah kita penduduk asli sana.

Sama halnya dengan kita orang Indonesia yang mencintai Persib Bandung sebagai warga Jawa Barat, atau Persija Jakarta sebagai warga ibukota. Sah-sah saja rasanya jika kita mempertaruhkan banyak hal untuk mendukung dua tim besar Indonesia ini, karena terdapat unsur ke-daerah-an didalamnya. Jiwa emosional yang telah turun temurun, budaya yang sudah melekat dan mendarah daging pun ikut serta dalam proses naik-turunnya sensitifitas jika club daerah asal di hina.

Maka akan terlihat lucu jika kita yang bukan – misalnya – orang Manchester atau Milan rela bersimbuh darah hanya untuk membela club tersebut. mungkin akan sedikit beda rasanya jika pihak club tahu bahwa kita adalah pendukung setianya. Tapi tentu saja mereka tidak tahu itu, karena kita di Indonesia dan mereka di daratan Eropa.

Mendukung tim kesayangan memang membutuhkan totalitas didalamnya, kita harus masuk sampai ke sendi-sendi club secara keseluruhan, memahami budaya nya, dan mengabadikan sejarahnya. Tapi kebanyakan dari kita hanya mengingatnya ketika ia meraih kemenangan dan melupakan sejenak ketika mengalami kekalahan? Bagi kita fans layar kaca memang sah-sah saja jika ingin melihat club yang dibela harus menang, tapi apakah pantas kita melempar kursi atau sepeda kearah fans rival, dan berkata “kami ini fans sejati”, ketika tim kesayangan menderita kekalahan?

Hanya dengan alasan club tersebut adalah club besar yang dihuni pemain bintang, tanpa memahami sejarah dan budaya club sehingga menjadi besar seperti sekarang, kita bangga mengategorikan diri sebagai fans sejati dan membenarkan segala sifat bar-bar diatas. Yang ada, bukannya meningkatkan eksistensi kita sebagai fans sepak bola, melainkan menjatuhkan reputasi kita sebagai penggemar bola.

Mari ambil contoh dari persaingan Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers di Skotlandia, perbedaan fans yang berlatar belakang agama ini memang memiliki ketegangan tersendiri di Britania Raya. Old Firm Derby yang terus berlangsung panas tiap tahunnya jelas selalu menimbulkan banyak keributan, para fans yang sudah saling benci sejak dalam kandungan pun tidak rela jika kesucian clubnya ternoda oleh yang namanya kekalahan, atau sekedar hinaan dalam bentuk chants.

Kekerasan, pengrusakan fasilitas umum tentu menjadi hal biasa terjadi jika kedua tim tengah bersua dilapangan. Wajar mereka melakukan hal tersebut, karena, kecintaan mereka bukan sekedar atas nama club, melainkan daerah tinggal, budaya yang mengakar, dan tentu keyakinan yang mendarah daging. Kecintaan mereka terhadap daerahnya terwakilkan oleh sepak bola. Mereka bisa memperkenalkan kulturasi setempat ke seantero umat, dengan agama sebagai pedoman, melalui sepak bola.

Lalu, jika kita orang Indonesia, mendukung tim Eropa, dan berbuat demikian, apa landasannya? Keterikatan emosional jelas tidak ada, persamaan budaya jelas berbeda, perbedaan agama apalagi. Sebagai negara inferior dalam bidang sepak bola, kita seolah bersikap superior terhadap club luar  nan besar yang kita dukung, meninggalkan azas ketimuran sebagai pedoman dan mengatas namakan totalitas sebagai acuan.

Mungkin kita akan merasakan hal yang sama dengan mereka yang berada disana, ketika dengan seksama memahami club dan fansnya sampai ke akar, mengubur sejenak gelar yang diraih dan nama besar yang di sandang. Yang ada hanya cinta tulus pada club karena perjuangannya, fansnya, budaya nya. Tanpa pamrih gelar. Bisakah kita seperti itu?

Tentu kita bisa, jika kita mau. Akan tetapi, permasalahan utamanya adalah kita tidak mau. “club kecil, juara engga pernah, pemain bintang engga ada. Apa alasan gue ngedukung club itu?” pasti akan muncul pertanyaan seperti itu di kemudian hari. Benar memang jika banyak orang yang beralasan demikian. Tapi, mari kita renungkan lirik lagu dari Agnes Monica “cinta ini kadang-kadang tak ada logika”.

Sebuah lirik singkat yang akan mematahkan semua opini perihal arti cinta dan kasih sayang, logika kita mati seketika termakan cinta ketika di “haruskan” mendukung club tanpa memandang gelar dan pemain bintang.  Saya sendiri akan menaruh hormat lebih tinggi kepada fans Bordouex ( yang hanya bermain di liga Perancis ), Parma (yang sudah jatuh ke dasar kompetisi semi pro ), Aston Villa, dan Athletic Bilbao yang kini tersebar di Indonesia.

Ketimbang harus bersimpati pada fans United yang kalang kabut ketika ditinggal Sir Alex Ferguson, atau Chelsea, PSG dan Manchester City yang keberadaannya tidak terdeteksi di muka bumi sebelum masuknya investor kaya raya asal Rusia dan Timur Tengah.

Karena, se-sejati-sejati nya kita mendukung club mapan tersebut, kita belum tentu mampu untuk mendukung club semenjana diatas dengan segala kekurangannya. Dan harus menjadikan kekurangan itu sebagai kelebihan dalam diri kita selaku fans sejati sepak bola yang sesungguhnya.


2 komentar:

  1. Mungkin hanya sekedar suka dari segi permainannya, n bisa juga pemainnya yang ganteng barangkali,,,http://www.ligabolanasional.blohspot.com

    BalasHapus
  2. Mungkin hanya sekedar suka dari segi permainannya, n bisa juga pemainnya yang ganteng barangkali,,,http://www.ligabolanasional.blohspot.com

    BalasHapus