Rabu, 28 Oktober 2015

Memahami Valentino Rossi


Dunia sangat cepatberputar, dan akan terus berputar. Tapi, dalam satu titik lingkaran putaran itu, akan ada waktunya dimana dunia akan berhenti sejenak untuk meredam semua keganjilan agar dapat menghapus jejak hitam.



Minggu lalu, perputaran dunia berhenti sesaat di sirkuit Sepang, Malaysia, ketika para pembalap memacu motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Bukan permasalahan Pedrosa yang menyabet juara, melainkan satu insiden yang melibatkan maestro balap, Valentino Rossi dan bocah ajaib, Marc Marquez lah penyebab utamanya.



Balapan memang dimulai hari minggu, dan sekarang adalah hari kamis. empat hari sudah, media, para pembalap, penikmat balap, enggan beranjak satu meter pun dari kejadian tersebut. kita tidak perlu memperdebatkan lagi kronologis kejadiannya, karena semua sudah didokumentasikan lewat kamera. Tapi apa sebenarnya yang terjadi dibalik “kegilaan” valentino Rossi, yang sampai hati melakukan hal tersebut?



Izinkan saya berasumsi untuk hal yang satu ini. jika ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan, namanya juga asumsi. Kan? Sebelum race dimulai, Valentino Rossi sebenarnya sudah mewanti sikap Marquez yang berpotensi tidak sportif, ungkapan Rossi ini memang cukup beralasan, karena pada race sebelumnya di Philips Island, Australia, Marquez seolah hanya bermain-main dengannya, menghalanginya agar peluang Rossi menjadi juara sirna.



“Marc bisa saja langsung memimpin balapan dan meninggalkan pembalap lain dari awal-awal lap, tapi ia tidak melakukannya. Dia justru bermain dengan pembalap lain, terutama saya, menghalangi saya yang ingin bersaing dengan Jorge Lorenzo”. Ungkap Rossi saat diwawancarai setelah race di Philip Island.



Kecurigaan saya terhadap tidak sportifnya Marquez pun memuncak ketika ia dengan tenangnya memberi jalan Lorenzo untuk mendahuluinya, dan tentu saja, tanpa duel yang berarti Lorenzo mampu melewati Marc dengan damai dan dengan sekejap, Lorenzo pun langsung menjauh dari Marquez. Saat itu saya berpikir, bahwa selanjutnya Rossi pun akan melewatinya dengan mudah. Namun apa yang terjadi? Duel hebat nan tak
sehat pun terjadi. Tak lama saya saya bergumam satu kata “bangke nih bocah”



Sesaat setelah Rossi menyalip Marquez, kedua pembalap ini pun silih berganti merebut tempat ketiga. Kejengahan The Doctor terhadap Baby Alien terlihat dalam beberapa moment, ketika ia beberapa kali kedapatan melirik pembalap asal Spanyol tersebut. saat ia berhasil melewati Marquez pun, The Doctor masih sempat melihat kebelakang dan menunjukkan gelagat murka terhadap sang junior dengan mengacungkan tangannya.



Hingga pada puncaknya, ketika ia berduel untuk kesekian kalinya di lap yang sama, Rossi benar-benar hilang kendali atas dirinya sendiri, dia pun dengan “sadar” menjahili Marquez. Sebelum kakinya bergerak, mata Rossi telah bergerak terlebih dahulu ketika Marquez tepat berada disisi kanannya. Tatapan kosong dari mata yang tertutup helmnya  ikut menjatuhkan alien kecil yang sekaligus mengakhiri petualangannya di Sepang, saat itu juga.



Dunia berguncang, semua orang memperhatikan. Bahkan kamera pun kelimpungan, tidak tahu pembalap mana yang harus disorot, padahal sebelumnya, sang kamera dengan seksama mengintai persaingan dua pembalap ini. siaran ulang pun silih berganti mengabadikan kejadian itu dari beberapa sisi kamera yang ada. Paddock Honda pun semakin dibanjiri pewarta berita untuk sekedar mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi.



Selepas balapan, Rossi lagi-lagi menunjukkan gelagat tidak senangnya terhadap sikap Marquez tersebut. kita sebagai penonton pun tahu betul bahwa saat itu Marquez mempunyai kesempatan bagus untuk menjauh dari The Doctor, tapi ia urung melakukannya. Justru, Marquez dengan sengaja memperlambat laju motornya untuk menahan Rossi yang sebenarnya ingin mengejar Lorenzo.



Lalu, buat apa Marc Marquez perlu repot-repot berbuat demikian? Toh, peluang beliau ini untuk juara sudah tertutup. Apakah gara-gara ia menjalani musim balapan yang buruk kemudian membuatnya sedikit bercanda dengan sang senior? Moto GP engga sebecanda itu anak muda.



Jelas, alasan logisnya adalah untuk membantu kolega senegaranya, Lorenzo agar merengkuh gelar juara dunia. Alasan ini terlihat mencolok ketika dalam dua balapan terakhir, Rossi selalu di “ganggu” oleh Marc dan selalu finish dibelakang Lorenzo. Puncaknya pun terjadi ketika Lorenzo dengan nyaman melewati Marc, dan Marc sendiri seolah gembira memberi jalan pada Jorge di awal-awal balapan minggu lalu.



Kini, Valentino Rossi sudah mendapat ganjarannya. Pengurangan 3 poin, ditambah menjalani start paling belakang di seri terakhir Valencia nanti menjadi harga setimpal yang harus dibayar sang Italiano. Di sisi lain, Marc Marquez masih dinaungi dewi fortuna, karena ia bebas dari sanksi apapun, padahal jika Race Director lebih berani menyelidiki lebih dalam lagi, bisa saja Marc mendapat sanksi serupa, karena perbuatan tidak sportifnya.



Setali tiga uang dengan amarah dari kubu Marquez dan Honda, Jorge Lorenzo, yang notabene rekan setim Rossi di Yamaha, juga kecewa berat dengan The Flying Donkey’s karena telah menjatuhkan Marc Marquez. Kekecewaan Jorge terpancar jelas dari raut perilakunya yang langsung meninggalkan podium sesaat setelah mendapat piala.



Lalu, siapa yang menjadi antagonis dan protagonist dalam peristiwa ini, apakah Valentino Rossi? Atau Marc Marquez featuring Jorge Lorenzo? Entahlah. Yang pasti kejadian ini telah menghasilkan seribu tafsir dari segala sisi berbeda yang bisa saja benar, bisa juga salah



Beredar kabar pula bahwa ini adalah konspirasi baru di dunia balapan. Dan perlu diketahui pula, mereka berdua adalah orang Spanyol, sementara Valentino Rossi bekewarganegaraan Italia. Dan operator Moto GP berasal dari…..Spanyol. So, silahkan simpulkan sendiri!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar