Sabtu, 17 Oktober 2015

kost-an para santri


Zaman yang semakin maju mau tak mau membuat kita berfikir lebih maju, dan terbuka tentu saja. Tidak hanya dari pemikiran saja, tetapi juga sudah merasuki semua sendi kehidupan manusia, termasuk pergaulan dan perilaku kaula muda di milenium baru ini.



Sebagai anak kost, saya sudah lumrah dengan perilaku anak-anak kost-an zaman sekarang yang  semakin nakal, terkadang binal, walau tak jarang normal-normal ( ya…ehem kayak saya lah yaa ).  Saya tidak ingin menceritakan tempat kost yang lain, karena bagi saya, kost-kostan dimana pun ya sama saja ( syarat dan ketentuan berlaku ).



Kost-an yang saya tempati berada dekat kampus, di daerah Ciputat ( engga perlu nyebutin merek ya, ntar lo pada kesini semua lagi ). Awal pindah kesini, saya takjub dengan fakta bahwa para penghuni kost merupakan jebolan pesantren dan mayoritas kuliah jurusan tafsir hadist, syariah, dan ilmu keagamaan lainnya. 

Bisa dibilang, saya lah satu-satunya yang bukan jebolan pesantren, bukan juga jurusan yang berbau agama. Ke-takjub-an saya pun semakin berada di titik nadir ketika menyadari bahwa mayoritas dari mereka nyatanya sering mengajak teman wanitanya kencan didalam kamar, tanpa rasa salah dan tentu lupa dengan dosa. Sejenak saya berfikir lembek “yah namanya juga manusia, suka buat salah”, namun, lama kelamaan saya kembali berfikir, kali ini saya berfikir keras“ anak pesantren, tiap hari belajar kitab, surga neraka, pada nyangkut dimana tuh pelajaran dan tausiah-tausiah kyai nya? Dijemuran tetangga? Apa dijemuran pondok? Masa “gituan” mulu di kost-an?”



Kemudian, secara langsung, mereka pun menyadarkan saya bahwa tidak semua jebolan pesantren seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Banyak dari kelakuan mereka yang diluar bayangan orang-orang, wa-bil-khusus masalah perempuan tentu saja. Jika hukum tidak memandang bulu, maka nafsu tanpa memandang ilmu.



Jika yang bukan berlatar belakang pesantren atau sekolah agama lainnya, rasa-rasanya kita akan sedikit memaklumi perilaku negatif itu karena mereka bisa saja berdalih “ pengetahuan agama gue cetek  men”, tapi tentu saja kita tidak bisa membenarkan perbuatan semacam itu, apapun alasannya. Tapi, apa yang harus kita perbuat jika yang menerapkan hal seperti itu adalah jebolan pesantren dengan pengetahuan agama nomor wahid? Ingin mengingatkan mereka pun kita segan, segan bukan karena akan diomeli, melainkan segan akan diceramahi lengkap beserta hadistnya, atau mungkin dengan gaya woles nya dia berkata “yaelah masih kaku aja lo”….. duuaaar kiamat bung



Keajaiban lainnya yang saya alami disini adalah mereka yang jelas-jelas paham agama, berlabel santri pula, tidak melulu menjalankan ibadah sebagai mana mestinya. Memang tidak semuanya begitu, tapi ya….sebagian  besarlah. Alih-alih beribadah, mereka malah larut dalam dentuman musik dangdut koplo yang di remix-kan ( udah koplo, remix pula. Dahsyat juga lewat ini ). Mungkin dengan ilmu yang sudah diatas rata-rata, menghafal beberapa juz al-qur’an diluar kepala, menguasai bahasa arab sama baiknya dengan orang arab, sudah cukup bagi mereka menikmati surga dikemudian hari.



Selama tiga atau enam tahun mengabdi dipesantren, beribadah dengan taat selama masa bakti di pondok, ibadah tiada henti, mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba menjadi lelaki seutuhnya selepas mondok. Berperilaku nakal, menjadi anak nongkrong ala ibukota, bercinta dengan orang yang dicinta semaunya, menjadi salah satu karakteristik  yang tak bisa dilepaskan (sepenglihatan saya sih gitu ya, tau deh yang lain).



Dibalik itu semua, satu hal yang membuat saya berempati pada mereka adalah sikap toleransi dan setia kawan yang sangat tinggi antar sesamanya. Seperti makan bersama-sama, sepiring atau sebakul beramai-ramai dan satu kamarpun mereka bergerombolan.



Namun  yang  terpenting adalah jika salah satu diantaranya ada yang membawa pacar ke kamar, yang lain pun berhamburan keluar tanpa diperintah, menyambangi kamar-kamar sebelah yang bisa dijadikan tempat berteduh seraya memberi waktu dan tempat bagi yang sedang bersenggama ( mungkin ini yang dimaksud Sindentosca dalam lirik “persahabatan bagai kepompong”, pengertian dan peka banget ya mereka ).



Kebinalan mereka-mereka ini pun tidak mengenal waktu, mata saya terbelalak ketika pada bulan ramadhan pun, hal seperti itu sulit dibendung, mereka jelas kuat menahan nafsu dari godaan makan dan minum, tapi jika godaan selangkangan? ( who knows ). Sekalipun – sepertinya mereka tetap menjalankan puasa, kegiatan semacam itu sepertinya akan tetap dilakukan demi keseimbangan hidup antara ying dan 
yang.



Ke-luar biasa-an indekos ini seakan sudah menembus galaksi, karena bagi mereka yang sudah tidak tinggal disini pun masih bisa leluasa lalu-lalang di kost-an ini. Oh, lalu-lalang sih boleh-boleh aja ya…. oke ralat… mereka yang sudah pindah kost pun masih bisa menginap disini jika ada kamar yang kosong – mending kalo bermalam seorang diri, nah ini bawa pacar men –. Dengan modal 50.000++ sudah bisa menginap semalam disini dengan pacar tersayang – malemnya mau ngapain ya wallahua’lam lah ya.


****

Kesimpulan dari sekelumit cerita ini adalah….
Nikmat tuhan mana lagi yang kalian dustakan???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar