Kamis, 22 Oktober 2015

Belajar Dari Seorang Teman

Tidak pernah terfikirkan sebelumnya jika saya menjadi suka baca, apalagi baca novel. Jangankan kepikiran, ngebayanginnya aja engga pernah. Saya yang – ehemmm – sarjana ekonomi, pada dasarnya adalah seorang yang kurang gemar, maaf bukan kurang, tapi ya memang engga suka baca.

Jika pun harus membaca, saya biasanya hanya akan membaca biografi seorang tokoh, atau hal-hal yang bersifat sepak bola, karena memang itu yang saya gemari. Walau begitu, minat baca saya pun mulai tumbuh, karena dampak dari kesukaan saya pada sepak bola.

Secara tiba-tiba, terfikir oleh saya ingin menulis sepak bola, dan menjadi penulis bola. Empat tulisan pertama saya pun selesai tanpa membaca satu buku pun, modalnya hanya beberapa artikel dari Pandit Football yang saya baca. Hasilnya bisa ditebak, kurang memuaskan, tulisan saya hancur berantakan.

Dan pada perjalanannya, seorang teman mulai mendorong saya agar gemar membaca. “Penulis hebat berasal dari pembaca hebat”. Begitu katanya. Saya pun mulai diajak ke toko buku bekas langganannya, yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat kost saya tinggal. Saya memang tidak membeli satu pun buku, begitupula dia yang – sedang – tidak membeli buku. Tapi, dengan perlahan, saya pun sadar, minat baca sudah mulai tumbuh dari situ.

Cukup sering ia mendoktrin pikiran saya agar mau membaca, tapi sesering itu pula saya mengacuhkannya, karena memang dasarnya males baca. Tapi lambat laun, minat baca muncul dengan sendirinya. Ditambah dengan nyinyiran teman lain yang sekaligus menjadi panutan saya, ikut membulatkan tekat saya agar mau baca.

Mendengar suara sumbing “ gue aja kadang-kadang baca buku bisa seharian, sampe selesai satu buku”. Kata teman yang berinisial Adi Sucipto Rahman, yang sesekali dilengkapi dengan sentilan dari seorang pemerhati sejarah, Ahmad Rifai, yang ilmu sejarahnya berasal dari membaca tersebut. maka, saya mulai tertantang setelah mendengar pernyataan dari 2 karib saya itu – ya walaupun males juga seharian baca buku sampe selesai. Ha..haha..ha.. – dan mulai mengulik beberapa buku yang menurut saya menarik untuk dibaca.

Buku pertama yang saya baca berjudul “50 Tahun Hubungan Indonesia – Rusia”. Alasan saya membaca buku ini cukup sederhana, ya gue suka banget Rusia. Buku kedua yang saya baca pun tidak jauh-jauh dari Rusia, “Menjadi Mahasiswa di Uni Soviet” karya Koesalah Ananta Toer, adik Pramoedia Ananta Toer.

Yang menceritakan kehidupannya sebagai mahasiswa di kampus Kabelnaya, Rusia ( dulu Uni Soviet )
Dan lagi-lagi… buku ketiga yang saya baca pun masih tentang Rusia, yang berjudul “Dari Uni Soviet Hingga Rusia”. Bisa dibilang, keperkasaan Rusia telah membuat saya nge fans banget, bahkan sampe ke ubun-ubun. #PENTING!

Sampai akhirnya, secara tidak sengaja, saya membaca beberapa postingan Pangeran Siahaan, seorang satiris, yang pada waktu itu sedang membahas seorang Haruki Murakami. Saya sih cukup familiar dengan nama Murakami, tapi, ya belum pernah baca bukunya.

Selang beberapa hari kemudian, seorang teman yang berinisial Adi Sucipto Rahman tadi merekomendasikan sebuah buku – yang menurut gue sih tebel – untuk saya baca. Entah kebetulan atau tidak, dari berkilo-kilo buku yang tertumpuk rapi dikamarnya, ia pun menunjuk satu buku ke arah saya, berjudul “1Q84” nya Murakami yang kesohor itu. Dia sepertinya sadar bahwa saya memang sedang mencari buku Haruki Murakami. Tentu, tanpa berpikir lagi, saya pun langsung merebut buku jilid pertama itu dari genggamannya, dan langsung membacanya.

Walaupun membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku setebal 453 halaman tersebut, tapi setidaknya, tulisan saya sangat terbantu setelah membaca novel ini. keberagaman kata dan bahasa semakin banyak saya kuasai, tulisan saya pun menjadi tidak kaku untuk dibaca – ya walaupun masih banyak kurangnya sih.

Meskipun tulisan saya mengenai sepak bola, buku-buku novel yang saya baca seperti “1Q84”, “LOLITA” nya Vladimir Nobokov, dan yang sedang dibaca sekarang ini, “CANTIK ITU LUKA” karya Eka Kurniawan, sama sekali tidak berhubungan dengan bola, tapi, sangat amat membantu saya dalam menelurkan ide-ide baru, berimajinasi lebih luas dengan kata, dan berfantasi lebih tinggi dengan cerita.
Tentu tulisan saya masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu pula, saya harus menantang diri sendiri agar terus membaca, tidak hanya terpaku oleh satu jenis buku, tetapi, bisa menyatu dengan semua buku.

Menulis tanpa membaca sama halnya seperti menggoreng ikan tanpa mengulitinya terlebih dahulu, sekalipun ikan itu selesai di goreng, rasanya pasti tidak enak untuk di makan. Begitu juga dengan menulis jika tidak membaca, tentu akan menghasilkan tulisan yang tidak renyah untuk dibaca.

Sama halnya dengan saya, yang senang menulis tapi tidak bisa menghasilkan tulisan menarik jika tanpa dukungan, masukan, dan petuah-petuah membangun dari bung Adi selaku penggiat sastra kawasan Ciputat dan sekenanya.

Seperti yang diungkapkan seorang Eka Kurniawan yang ingin dikenal sebagai pembaca ketimbang penulis, saya pun ingin melakukan hal demikian. Tapi rasa-rasanya, saya harus berusaha lebih keras untuk melakukan itu, keluar dari zona nyaman agar bisa mewujudkan itu. Ya, walaupun engga sehari baca langsung kelar satu buku!!!

Nuhun bung Adi, sudah menyadarkan. Makasih bang pa’i sudah mengajarkan. Btw…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar