Balada Perantau Aceh

Leave a Comment

Sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan dan ekonomi negara, wajar rasanya jika Jakarta tiap tahunnya diserbu oleh para pendatang yang berasal dari seluruh pelosok negeri. Suku jawa, sunda, makasar, batak dan suku lainnya bisa kita jumpai di Jakarta.



Sebagai suku paling barat Indonesia, keberadaan orang Aceh masih bisa dihitung dengan jari, berbeda dengan saudara se-pulau sumatera seperti batak dan padang yang sudah tak terhingga jumlahnya. Meskipun keberadaan orang Aceh di Jakarta masih sedikit, tetapi masyarakat ibukota sudah peka dengan bentuk wajah orang aceh, tanpa mendengar bahasanya pun, mereka bisa menebak “orang Aceh ya mas?”.



Berbeda dengan orang Padang yang hanya bisa ditebak asalnya ketika sedang berdagang, atau orang batak melalui logat bicaranya, atau sedang – maaf – narik angkutan. Menurut pendapat banyak orang, wajah orang orang Aceh terlalu identik satu sama lain. Sama halnya dengan warna kulit yang hampir serupa, kalau hitam ya hitam pekat, kalau putih yang engga putih-putih banget.



Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami orang Aceh karena banyak yang menganggap bahwa orang Aceh itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Dan tidak jarang pula mereka berseloroh “mas keturunan arab ya?” Setiap tanggapan positif pasti dihiasi dengan pandangan negatif, ini juga sering menghinggapi kami anak aceh. Bukan berita baru lagi jika Aceh memiliki ladang ganja terbesar di Indonesia, sehingga, ketika saya hendak mudik pun, pesan dari kawan-kawan hanya satu, “gue pesen ganja ya sekilo” tentu ini hanya anehdot dari seorang teman, walau terkadang ada juga yang serius.



Jika berbicara Aceh, pasti tidak lepas dari yang namanya ganja. Itu pula yang membebani jiwa dan raga saya ketika orang-orang langsung menghardik “ladang ganja lo berapa hektar” teeeng…saya mulai berpikir “gagal gue jadi orang Aceh, engga punya ladang ganja soalnya”.



Demi menjaga tingkat bromance dengan para sahabat, mereka dengan akrabnya memanggil saya dengan sebutan “ganjo”, pelesetan dari ganja itu sendiri. Awalnya sih risih, tapi demi teman, tak apa lah. Toh mereka
juga saya panggil dengan nama alias masing-masing.



Semua hal yang menyangkut Aceh selalu dihubungkan dengan ganja. Makanan pake ganja, mulai dari mie aceh sampe kuah bakso. Dan yang lagi hangat-hangatnya adalah kopi ganja. Pertanyaan besar saya adalah “dari mana mereka tahu kopi ganja? Wong saya yang orang Aceh aja engga tau ada kopi ganja”. Fix, Gagal total saya jadi orang Aceh gara-gara ini.



Hal pertama yang selalu saya jelaskan pada semua teman atau kenalan adalah tidak semua orang Aceh mempunyai ladang ganja, sama halnya seperti, tidak semua orang Aceh itu ganteng dan cantik. Kebiasaan ini pun menjadi rutinitas berulang-ulang seiring bertambahnya kenalan. Tentu ini menjadi keuntungan tersendiri bagi saya yang secara tidak langsung memperkenalkan budaya Aceh, karena setiap jawaban yang muncul selalu ditambah dengan pertanyaan yang semakin beranak pinang dari mereka



Satu pertanyaan dari seorang teman yang membuat saya jengkel adalah “njo, di Aceh syariat islamkan? cewenya pada pake kerudung semua kan? Pertama lo ke Jakarta berarti lo kaget dong liat cewe-cewe yang pake tengtop, rok mini, celana gemez, baju yang setengah jadi?” mungkin menurut mereka, di Aceh tidak ada TV yang menampakkan semua jenis manusia sehingga pada beranggapan seperti itu.



Berlabel syariat Islam, membuat saya, sebagai putra daerah Aceh dibebani tanggung jawab besar oleh teman sesama muslim, karena sudah pasti orang pertama yang ditunjuk untuk menjadi imam saat sholat ya saya. Alasan mereka singkat “ lo kan orang Aceh, bacain ayat mestinya bagus”. Alasan mereka memang terdengar klise, tapi percayalah, setiap orang Aceh yang tinggal di Jakarta pasti bernasib serupa dengan saya.



Terakhir, sempat menjadi daerah konflik dalam jangka waktu lama, dan beberapa kali menuntut merdeka dari NKRI, saya bersyukur pada akhirnya Aceh tidak jadi merdeka. bukan apa-apa, saya tidak mau dianggap sebagai turis asing di Jakarta, yang direpotkan dengan urusan imigrasi yang sewaktu-waktu bisa saja di deportasi dari Indonesia









&�
ex
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar