Minggu, 13 September 2015

Sepak Bola Memang Tak Beragama

Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, itulah yang membedakan kita satu sama lain, namun perbedaan tersebut tidak berlaku pada sepak bola yang memang tak beragama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan dari kehidupan. Dalam prakteknya, agama dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan pernikahan,meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek lain dari budaya manusia. Selain itu, agama mungkin juga mengandung mitologi. Di dunia ini sendiri, cukup banyak agama yang tersebar dipenjuru bumi dengan perbedaannya masing-masing, dan umumnya setiap agama mengklaim bahwa ajaran merekalah yang paling benar dan menjamin surga pada kehidupan selanjutnya. Menurut jajak pendapat global pada 2012melaporkan bahwa 59% dari populasi dunia beragama dan 36% tidak beragama, termasuk penganut atheis 13%.

Saat keberadaan agama muncul sebagai jarak antar sesama umat, sepak bola hadir sebagai penyatu umat manusia yang dibedakan oleh agamanya masing-masing, ia hadir sebagai pematah hati berantai manusia yang getir hatinya akibat keyakinan yang berbeda dan tak jarang saling bertolak belakang.

Ketika seluruh negara Arab berbondong-bondong menolak pengungsi Suriah ( yang notabene sama-sama muslim ), pecinta sepak bola di tanah Jerman dan Spanyol justru menerima mereka dengan tangan terbuka. Beberapa hari yang lalu, fans kesebelasan Jerman, Borussia Dortmund secara tegas menyambut setiap pengungsi yang datang ke wilayah mereka melalui spanduk-spanduk yang dibentangkan, tak hanya itu, pihak club bahkan memberikan tiket gratis kepada 2500an pengungsi asal timur tengah agar bisa menonton pertandingan Dortmund di Signal Iduna Park. Pada akhirnya, kemuliaan yang dilakukan oleh club beserta fans Dortmund pun diikuti oleh seluruh club di Jerman, dan Eropa tentunya. Akhir pekan ini, kompetisi La Liga akan diwarnai big match yang mempertemukan Barcelona vs Atletico Madrid yang sekaligus menjadi ajang solidaritas kontestan liga Spanyol lainnya akan nasib pengungsi Suriah.

Jauh sebelum ramai kasus pengungsi Suriah, kemuliaan sepak bola telah menunjukkan kemurniannya yang tak pernah memandang golongan dalam memberi pertolongan. Kabut hitam yang dirasakan warga Palestina selama puluhan tahun menjadi bukti nyata bagaimana sepak bola selalu menghadirkan cinta bagi para pemujanya. Ketika tentara zionis Israel menyerang warga Palestina di Jalur Gazza, sepak bola tak pernah diam melihat kejadian tersebut, Cristiano Ronaldo, Leonel Messi, dan beberapa pemain lainnya secara sukarela menyisihkan penghasilannya untuk diberikan kepada korban perang disana, membangun infrastruktur publik, sekolah, dan juga makanan.

Toleransi dalam beragama nyatanya juga terjadi dalam sepak bola, Frederice Kanoute, Frank Ribery, Karim Benzema merupakan segelintir pemain muslim yang berkarir di Eropa yang mayoritas non muslim. Ketika kompetisi bergulir ditengah-tengah ramadhan, para pemain ini dituntut tetap bugar seperti biasanya, dan mereka pun benar-benar menjalankan keduanya, puasa dan berlatih serta bertanding seperti biasanya, meskipun mereka kerap mendapat keringanan dari pihak club yang sadar dengan ibadah yang tengah mereka jalankan. Namun tak jarang pula mereka menunda puasanya jika sedang menjalankan kompetisi yang amat ketat dan mengganti puasa dikemudian hari.

Sebagai brand terbesar dunia, Real Madrid sadar betul dengan membludaknya para fans yang mendukung mereka, dengan segala pertimbangan pula, akhirnya lambang club kebanggaan ibukota spanyol tersebut sedikit dirubah dengan menghilangkan simbol keagamaan yang kadung tertanam di benak pengagumnya selama puluhan tahun. Hal ini dilakukan pihak club untuk menghormati pecintanya yang berasal dari semua agama. Keputusan ini pun akhirnya membawa berkah tersendiri bagi club borjuis tersebut karena mereka mendapat kontrak besar dari perusahaan raksasa asal timur tengah.

Di Indonesia sendiri, permasalahan agama juga sempat membelenggu sepak bola tanah air. Kerusuhan yang terjadi di Maluku beberapa tahun silam akibat permasalahan agama juga berdampak pada wajah sepak bola Maluku. Kejadian ini pun diabadikan dalam sebuah karya film bertajuk “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku”. Dalam ceritanya, film ini menceritakan bagaimana upaya Sani Tawainella ( Chicco Jericho ) ingin menyelamatkan nasib anak-anak di kampung halamannya dari konflik agama yang terjadi melalui sepak bola. 

Singkat cerita, ia pun membawa anak-anak Maluku untuk berlaga dikejuaraan nasional tingkat junior di Jakarta. Permasalahan Sani sebenarnya bukanlah teknis permainan, melainkan latar belakang agama para anak asuhnya yang berbeda-beda ditambah konflik agama yang pernah mendera mereka sehingga membuat anak didiknya memiliki rasa sentimental yang amat tinggi terhadap agama yang berlainan. Dukungan keluarga, persamaan tujuan masyarakat sekitar, dan tekad bulat kaka Sani untuk sepak bola Maluku akhirnya mengalahkan  segala konflik dan rasa tabu terhadap agama, mereka memenangkan kejuaraan junior, dan dari situlah terbit cahaya baru dari timur yang telah lama tenggelam dalam diri Ramdani Lestaluhu, Hasyim Kipuw, Alfin Tuasalamony, dll.

Dalam sepak bola, agama bukanlah penghambat talenta bagi setiap pemeluknya, tak jarang pula, melalui sepak bola lah, para pelakunya memberi kontribusi lebih terhadap agamanya. Seperti yang dilakukan oleh Kanoute ketika masih membela Sevilla di Spanyol. Bermain untuk club asal Andalusia dengan sejarah Islam yang begitu kental, ia tak ragu membangun mesjid di daerah tersebut agar dunia tidak melupakan sejarah panjang Islam di tanah Spanyol. Selain Kanoute, Paus Fransiskus juga tak luput dari pemberitaan sepak bola. 
Terpilihnya pria asal Argentina ini sebagai pemimpin umat Kristen dunia juga turut memunculkan beberapa fakta baru mengenai pribadinya, dan salah satunya adalah dia seorang fans San Lorenzo, club asal kampung halaman yang telah ia kagumi sedari kecil, totalitasnya dalam mendukung club kesayangan pun diabadikan dengan kartu keanggotaan fans yang ia punya. Fakta ini pula yang pada akhirnya membawa San Lorenzo untuk pertama kali menginjakkan kaki ke Vatikan untuk menyerahkan trofi Copa Libertadores yang didapat tahun lalu untuk diserahkan kepada sang Paus sebagai hadiah ulang tahunnya.

Sepak bola adalah sebuah mukjizat disaat keberadaan manusia dibedakan oleh agama yang diyakini, dia lah lah yang menetralkan perbedaan tersebut, ia tak pernah membedakan keyakinan manusia, ketika dunia memposisikan manusia lainnya melalui agama, sepak bola justru menghimpun semua agama agar masuk kedalamnya, berjuang bersama atas nama kemanusiaan, bukan agama.

Sepak bola memang tak mempunyai agama, yang ada ia lah agama itu sendiri, ketika orang membedakan agama dengan simbol-simbol tertentu, maka sepak bola disatukan oleh satu simbol, yakni, bola itu sendiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar