Selasa, 08 September 2015

"Persatuan" Mourinho dan Vladimir Putin

pada awal berdirinya 1905 hingga memasuki millennium baru 2003, Chelsea hanya dianggap sebagai pelengkap dalam kompetisi tertinggi liga Inggris, karena club yang berada di pusat kota London tersebut hanya mampu mondar mandir di papan tengah liga dan baru sekali tercatat menjuarai divisi 1 Inggris. Cuma warga London saja yang mengelu-elukan mereka sebagai simbol kebanggaan daerah timur. 

Di Indonesia sendiri, tak satupun rakyat pribumi yang mengidolakan Chelsea sebagai club pujaan, dengan alasan cukup masuk akal, tak ada titel juara yang bisa dibanggakan dari mereka. Meski sempat disinggahi pemain kelas satu dunia seperti Gianfranco Zola, Ruud Gullit dan Gianluca Vialli, nyatanya tak cukup menyadarkan warga dunia untuk berpaling mendukung Chelsea.

Nasib dan peruntungan Chelsea sebagai anggota Big Four liga Inggris pun mulai berubah sejak pengakuisisian yang dilakukan oleh raja minyak Rusia, Roman Abrahamovic yang dengan sekejap menyulap The Blues menjadi penantang serius hegemoni Manchester United dan Arsenal yang silih berganti menjuarai kompetisi liga. Seluruh pemain top dunia pun dikumpulkan di satu tempat bernama Stamford Bridge, kandang Chelsea. 

Stadion mereka pun tak lepas dari perhatian taipan Rusia tersebut, Stamford Bridge yang tadinya dijuluki sebagai kandang babi ( akibat kualitas rumputnya yang sangat jelek ) dipercantik secara total sehingga dapat dinikmati oleh setiap pemain yang sedang bertanding. Pemain bagus sudah didapat, stadion pun sudah dipugar, tinggal pelatih hebatlah yang belum Abrahamovic temukan.

 Sampai pada akhirnya pilihan pun jatuh pada sosok muda potensial penuh ambisi besar dalam diri Jose Mourinho yang sebelumnya mempersembahkan trofi liga Champions bagi FC Porto. Club besar yang masih “hijau” dilatih oleh pelatih yang masih “hijau” pula dengan deretan piala yang sudah ia peroleh, jelas, ini menjadi sebuah simbiosis mutualisme yang menguntungkan keduanya.

Hadirnya Mourinho di Inggris pada 2004 tentu melebarkan persaingan menuju tangga juara, tapi di satu sisi, kehadirannya malah mengernyitkan para tetua-tetua Premier League seperti Alex Ferguson dan Arsene Wenger yang seolah menjadi penguasa abadi di negeri monarki tersebut. Ambisi besar Mou sejalan dengan “mulut besarnya” yang dengan seketika membuat para pesaing menjadi lebih waspada dari sebelumnya. 

Tensi tinggi yang biasa terjadi antara Ferguson dan Wenger pun harus terbagi antara Ferguson vs Mourinho, Wenger vs Mourinho, atau tak jarang Ferguson, Wenger vs Mourinho. Diserang kanan kiri oleh legenda pelatih BPL sama sekali tak mengecilkan nyali Mou, ia bahkan semakin meruncingkan kata-katanya yang sering menyudutkan para rival, selama untuk kebaikan Chelsea, bisa membawa clubnya juara, Mou tak mengenal rasa takut.

Ketika Mourinho hadir sebagai penantang utama kedigdayaan Ferguson beserta “sekutunya”, dibelahan Eropa Timur muncul satu sosok penting nan lantang yang menentang hegemoni Amerika Serikat dengan sekutu baratnya, dialah Vladimir Putin. Sama halnya dengan Mou, ditunjuknya Putin sebagai presiden Federasi Rusia kembali membangkitkan semangat warga Rusia dengan keberhasilannya meningkatkan taraf hidup masyarakat. 

Kekuatan Putin tak hanya terdapat dari kebijakannya yang memakmurkan bangsa Rusia, faktor utama kekuatan Putin sangat jelas terletak pada mulutnya yang tanpa ragu mengancam AS dan Uni Eropa, kekuatan inilah yang membuat ia amat disegani oleh kawan dan lawan politiknya. Berpuluh-puluh tahun lamanya, tak ada seorang pun yang berani menantang kekuasaan Amerika, hadirnya Putin jelas menawarkan perspektif baru, bahwa dunia tidak hanya dikuasai Amerika dan sekutunya sebagai negara adidaya, tapi selalu ada Rusia yang menghadirkan keseimbangan dunia sebagai negara adikuasa. Itupula yang coba diwujudkan oleh Mourinho yang jengah dengan kekuasaan United dan Arsenal di Inggris, dengan memberi harapan lain bagi para penggila bola dibelahan bumi lain.

Sebagai pelatih muda, bertuankan seorang Rusia, jelas Mou dituntut untuk mendobrak kekuasaan lama yang rasa-rasanya susah digoyah oleh pelatih-pelatih yang ada. Terbentuk sebagai seorang pragmatis, ia jelas tak menghiraukan sebuah proses dalam mencapai tujuannya, dalam otaknya hanya ada satu kata, yakni menang, walaupun didapat dengan cara yang tak indah dilihat, Mou tetap bergeming dengan caranya demi mendapat sebuah kemenangan. Hujatan, sindiran, sampai gurauan terhadap dirinya akibat permainan “parkir bus” nya pun mengalir deras bak serangan fajar yang terjadi tiap saat.

 Serangan yang ia terima dari segala penjuru nyatanya tak mengerutkan nyalinya, dengan tegas ia membela permainan “membosankan” tersebut, “ jika bermain jelek saja bisa meraih kemenangan, buat apa harus bermain indah jika hanya mendapat hasil imbang,” tandasnya menjawab kritikan para lawan.

Saat dunia hanya dikuasai oleh Amerika Serikat beserta para sahabatnya, Rusia muncul kepermukaan dengan Vladimir Putin sebagai aktor utamanya, meski sempat bolak-balik menjadi presiden dan perdana menteri bersama Dimitri Medvedev, Putin kembali mendapatkan kekuasaan di negara beruang merah tersebut pada 2012 sampai sekarang. Pragmatisme Jose Mourinho dalam melatih sebuah club pun diamini oleh Putin dalam memimpin negara sebesar Rusia. Ia tak akan berpikir dua kali dalam bertindak jika kedaulatan negaranya dirusak oleh para lawan, termasuk ancaman Amerika Serikat dan Uni Eropa sekalipun akan ditindak olehnya tanpa rasa takut. 

Sebagai pengendali kekuasaan, orang yang berani menantang Amerika sebagai negara adidaya, Putin selalu menghitung setiap kemungkinan dengan begitu cermatnya, sadar dengan kekuatan militer yang ia punya, negara-negara sekitar yang berada dibawah federasi Rusia, ia pun selalu memperbaharui persenjataan militer, memaksimalkan pertahanan negara, meskipun anggaran negara cukup terkuras untuk membangun pertahanannya, Putin tak akan ambil pusing oleh kritikan yang datang padanya. Bagi Putin, kritikan yang ditujukan padanya muncul karena timbul ketakutan dari pihak barat yang semakin khawatir dengan kekuatan Rusia di Eropa.

Perhatian besar Putin pada persenjataan militer ini pula yang disadari oleh Mourinho dengan secara berkala mendatangkan amunisi-amunisi baru dalam tubuh tim utama The Blues. Harga mahal, gaji menjulang, tak menghambat ambisi Mou untuk mendatangkan pemain berkualitas dari Didier Drogba, Michael Ballack, Cesc Fabregas hingga Diego Costa yang secara bersamaan mendatangkan beberapa trofi major ke Chelsea. 

Kebiasaan Mou mendatangkan pemain mahal ini pula yang dikritik oleh lawannya di Inggris yang menganggap ia tak bisa mencetak pemain dari akademi sendiri. Akan tetapi, sama halnya dengan Putin, Mou pun beranggapan kalau semua kritikan yang menghujaninya hanyalah bentuk rasa takut para rival akan kekuatan Chelsea yang semakin sulit untuk dikalahkan.

Ketegasan Putin dalam mempertahankan kedaulatan negaranya pun sangat tampak terlihat dalam konflik yang terjadi di Ukraina, sebagai negara yang berada persis dibawah federasi Rusia, membelotnya Ukraina ke blok barat tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sang presiden, yang kemudian membuat ia berusaha mengamankan kawasan Crimea ke tangan Rusia dan terus berusaha mengembalikan Ukraina ke tempat semestinya berada, yakni federasi Rusia. 

Cara Putin untuk mendapatkan kembali Ukraina dengan kekuatan militer tentu mendapat pertentangan keras dari barat, namun Putin tetaplah Putin, ia tetap bergeming demi kembalinya Ukraina ke pangkuan “elang berkepala dua” meski dengan agresi militer sekalipun. Ia tahu betul apa yang terbaik bagi negara dan kawasannya. Sekalipun Rusia menerima embargo besar-besaran dari Uni Eropa, jatuhnya nilai mata uang Rubel terhadap Euro dan dollar, Putin tak pernah mundur selangkahpun, bahkan ia terus melangkah maju demi mencapai Rusia yang berdaulat.

Jose Mourinho dan Vladimir Putin sejatinya adalah dua tokoh dengan karakter sama yang memiliki kepentingan yang serupa pula, yaitu menjadikan Chelsea dan Rusia menjadi kekuatan besar di masing-masing dunianya. Sebagai negara yang punya sejarah panjang dengan Uni Sovietnya yang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia seperti Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Leon Trotski, dan masih banyak lagi, Putin dituntut untuk mengembalikan kejayaan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet dan mengembalikan kejayaan ekonomi Rusia yang semakin melemah ketika negara beruang merah tersebut diambil alih oleh Mikhail Gorbachev hingga Boris Yeltsin.

 Begtupula yang dilakukan oleh Jose Mourinho yang untuk kedua kalinya menukangi Chelsea. Sebagai club kaya dengan sokongan bangsawan Rusia, Mou juga dituntut untuk mengemballikan kejayaan Chelsea seperti saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di Inggris. The Blues yang sempat terseok-seok dibawah Andre Villas Boaz dan Rafael Benitez membuat Pemilik Chelsea membawa The Special One kembali pulang ke London dengan harapan membawa Chelsea ke tangga juara liga.

Bermulut tajam, tak segan mengancam para lawan, Mou dan Putin seolah menjadi parameter tersendiri bagi kaum-kaum yang ingin menentang kerasnya dunia dengan segala keterbatasan. Jika Mou datang ke Inggris sebagai pemecah kebuntuan akan singgasana sepak bola Inggris yang selalu berada di Manchester “pinggiran”, maka kehadiran Putin sebagai pemimpin Rusia untuk menyadarkan dunia akan bahaya besar yang ditimbulkan Amerika Serikat beserta sekutunya yang secara terus menerus menguras kekayaan alam negara lain dengan dalih melawan terorisme, dan tentu membuat warga dunia semakin bergantung dengan Amerika Serikat.

Kedua tokoh dunia ini layaknya seorang pejuang kiri yang mencoba merubah dunia dari ketamakan yang rasa-rasanya sudah lazim terjadi di bidangnya masing-masing, mereka bak seorang filsuf Yunani yang tengah mencari keadilan sembari melawan aristrokasi yang semakin lama semakin mengkerdilkan kaum Proletar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar