Senin, 28 September 2015

Menanti Kebangkitan Serie A Italia

Beauty Of Serie A” itulah slogan program sepak bola di salah satu televisi nasional, meski dalam beberapa tahun ini pamornya sedang merosot, Serie A Italia masih, dan akan selalu menampilkan keindahan abadi sepak bola.

Bukan tanpa alasan pula program berita “One Stop Football” menjuluki Serie A seindah itu. Italia memang terlalu indah untuk dijelekkan, budaya permainan yang terkesan pengecut dikemas apik dalam bentuk Catenacio, kita dibuat nyaman dengan rasa bosan yang tak jarang melanda dalam bentuk permainan “santainya”, tak berdaya pula bagi kita untuk melawan rasa nyaman itu. Karena memang, kebosanan Catenacio lah keindahan sepak bola negeri pizza sebenarnya.

Meski sempat beberapa musim kehilangan jati dirinya sebagai liga terbaik di dunia, kecantikan Serie A Italia tidak pernah benar-benar pudar termakan zaman. Ia selalu memanjakan indera dengan hal yang tak biasa, juga tak terduga. Gol indah diluar nalar, aksi mengolah bola yang aduhai, hingga penyelamatan menawan si penjaga gawang, semua tersaji manis dilapangan hijau.

Terpuruknya tim-tim Italia dipentas Eropa, ditambah merosotnya presetasi dua tim kota Milan sedikit banyaknya memiliki andil besar atas runtuhnya kedigdayaan Serie A, belum lagi kasus Calciopolli pada 2006 lalu, dan beberapa kasus suap lainnya yang menghinggapi sepak bola italia menjadi momok tersendiri bagi keberlangsungan liga.

Namun, tampaknya itu hanya akan menjadi cerita kelabu belaka, cerita yang hanya akan menjadi sepotong kisah dari sejarah panjang sepak bola Italia. Kini, tim-tim italia mulai bangkit kembali, tak hanya domestiknya, tapi juga performa tim yang berlaga di kompetisi Eropa. Tentu masih hangat dalam ingatan bagaimana raja Serie A empat musim beruntun, Juventus mencapai final liga Champions musim lalu, ditambah keberhasilan mereka mengalahkan penguasa Liga Inggris, Manchester City di matchday pertama liga Champions pekan kemarin di Inggris dan keberhasilan AS Roma yang mampu mengimbangi Barcelona di Olimpico menjadi salah satu contoh bahwa sepak bola Italia mulai kembali menapaki kejayaan era 90-an.

Menanjaknya pamor Serie A di pentas Eropa ternyata tak hanya melibatkan club secara keseluruhan, melainkan individu para pemainnya. Nama Mateo Darmian tentu menjadi sosok paling mencolok pada bursa transfer musim ini. kesangsian para fans United akan kehebatan dirinya pun terbayar dengan performa impresif yang ia tunjukkan di Old Trafford, kini, ia pun menjadi salah satu diantara sedikit pemain asal Italia yang berhasil menguasai sepak bola Inggris.

Terlalu tradisionalnya cara bermain pemain Italia menjadi alasan tersendiri bagi para gladiator lapangan hijau Italia tidak berkutik jika bermain diluar negaranya.  Ini pula yang coba digebrak oleh Darmian, sehingga membuatnya meraih sukses di Manchester United saat ini.

Salah satu masalah yang sempat menimpa club-club mapan italia adalah masalah finansial yang membuat Inter dan AC Milan harus melego pemain bintangnya, dan disisi lain, mereka hanya mampu menggantinya dengan pemain gratisan. Kini, masalah krisis keuangan sepertinya sudah mulai meninggalkan Serie A, ini bisa terlihat dari aktivitas transfer Italia yang meningkat dua kali lipat dari musim sebelumnya.

Tidak hanya AS Roma dan Juventus yang aktif di jendela transfer musim panas, dua saudara sekota, Inter Milan dan AC Milan pun seakan menggila menghadapi transfer pemain, mereka kembali sikut-sikutan demi mendatangkan pemain idaman. Jika sebelumnya mereka hanya mendatangkan pemain berstatus Free Agent, maka kali ini mereka benar-benar merogoh kantong cukup dalam untuk mendatangkan pemain seperti Geoffrey Kondogbia, Ivan Perisic, Luiz Adriano, dan Carlos Bacca yang dibandrol cukup mahal.

Kedatangan pemodal baru bisa menjadi faktor utama kebangkitan duo Milano ini, Inter yang sejak tahun lalu dipegang oleh pengusaha tanah air,Eric Thohir tampaknya mulai menapaki kembali kejayaan era Morrati, sedangkan AC Milan yang baru memperkenalkan investornya asal Thailand, Mr Bee langsung tancap gas dengan membeli pemain mahal dan mendatangkan pelatih potensial, Sinisa Mihajlovic.

Aktivitas transfer yang begitu masif dari para kontestan mapan ini pun berbanding lurus dengan prestasi dilapangan. Sejauh ini, Inter Milan yang pada detik terakhir jendela transfer ditutup masih bisa mendapatkan tiga pemain tambahan bertengger sebagai capolista dengan catatan sempurna, sedangkan sang tetangga, AC Milan terus menapaki tangga klasemen untuk bersaing di papan atas.

Kebangkitan lain yang kini terjadi di Italia adalah meningkatnya performa tim-tim semenjana seperti Torino, Sambdoria, Fiorentina, bahkan Chievo yang pada pekan kedua lalu berhasil menjinakkan elang ibukota, Lazio dengan skor mencolok, 4-0. Padahal beberapa tahun lalu keempat tim tersebut hanya menjadi bulan-bulanan club mapan Italia dan hanya menjadi penghangat papan tengah dan bawah clasifica, namun sekarang, mereka mulai menghantui tabel klasemen. Kini, Torino tengah bersanding dibawah Inter Milan di posisi kedua, sementara sisanya menguntit sejajar dibawah.

Secara tidak langsung, kemerosotan Serie A diakibatkan oleh kolepsnya dua tim kota mode, sehingga berimbas pada persaingan yang timpang antar kontestan lain, inilah yang membuat Juventus sangat nyaman, bahkan terkesan tenang dalam mempertahankan scudetto nya. Dan, dengan kembali segarnya skuat Inter dan Milan, maka bisa dipastikan Serie A Italia akan kembali bergaung nyaring seperti sedia kala, seperti seharusnya.

Setiap dahaga akan kehampaan pecinta keindahan sepak bola Italia akan kembali tertuang manis dalam layar kaca. Kita tak perlu lagi sendu menatap masa lalu liga yang sempat mendayu-dayu, kita bisa bergerak maju sambil menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dari sebuah kemunduran yang luar biasa.

Dan tentu, dengan terpuruknya kontestan asal Inggris diajang Liga Champions musim ini bisa dimanfaatkan Italia untuk kembali menempatkan empat wakilnya di kejuaraan terbesar Eropa tersebut. yang tak kalah penting adalah, kita kembali bisa melihat Internazionale Milan dan AC Milan bermain di liga Champions, yang menjadi tempat dimana semestinya mereka berada, demi menjaga marwah “Beauty Of Serie A”.
Forza Calcio



Tidak ada komentar:

Posting Komentar