Senin, 21 September 2015

Habis Luis Terbitlah Diego

Kedatangannya pada pertengahan musim 2010-2011 benar-benar membuka angin segar bagi Liverpool yang baru ditinggal penyerang andalan, Fernando Torres. Luis Suarez hadir di Anfield sebagi pengganti sepadan Torres yang kadung bosan dengan prestasi The Reds yang tak kunjung membaik tiap tahunnya.

Musim 2013-2014 menjadi puncak kejayaan Suarez bersama Liverpool – begitupun sebaliknya, ia membawa club pelabuhan nyaman menjadi runner-up di akhir musim yang sekaligus mengukuhkan dirinya menjadi top skor liga dengan 28 gol.

Akan tetapi, musim lalu El Pistolero sudah meninggalkan Liverpool untuk bermain bersama Barcelona. Meninggalkan Inggris dengan predikat top skor, dan tentu dengan status kontroversial yang telah terlanjur lekat dengannya. Inggris pun kehilangan sosok penyerang asal Uruguay yang mampu “menari” didepan gawang lawan laiknya pemain Amerika Latin.

Habis Luis Suarez terbitlah Diego Costa. Pemain berpaspor Spanyol yang kini menjadi andalan Jose Mourinho di Chelsea memang tak memiliki hubungan apa-apa dengan Suarez, tapi mereka mempunyai banyak kesamaan, mulai dari yang positif, hingga negatif.

Didatangkan dari Atletico Madrid senilai 45 juta pounds, tak membuat ia terbebani dengan biaya transfernya, Costa justru mampu memenuhi ekspektasi orang-orang pada dirinya. Alhasil, musim perdananya bersama The Blues pun berbuah trofi Liga dan piala Carling, belum lagi predikatnya sebagai striker tersubur The Blues dengan 23 gol. Sama halnya dengan Suarez, Diego Costa menjalani turnamen dengan beberapa kisah menjengkelkan diatas lapangan. mulai dari memprovokasi wasit, bersandiwara diatas lapangan, hingga menyerang lawan telah ia lakukan. Dan sekali lagi, hal itu diimbangi dengan gelontoran gol yang tak pernah henti ia ciptakan.

Selama tiga tahun membela Liverpool, Luis Suarez tak pernah henti menjadi buah bibir media Inggris yang memang dikenal sangat ampuh “menjual” isu atau membesarkan berita seputar pemain dari luar Biritania. Mulai dari tuduhan rasisnya terhadap Patrice Evra, gigitan mautnya pada Ivanovic hingga Chiellini di piala dunia 2014 lalu, senantiasa menjadi headline media di negeri ratu Elizabeth tersebut. Ini pula yang mendalangi kepergian Luisito dari Inggris. Seperti yang dilansir media Spanyol, Marca, Suarez berujar bahwa Alasan utamanya meninggalkan Liverpool karena tak tahan dengan pemberitaan media Inggris yang terus memojokkannya.

Beberapa kasus yang sempat membelenggu El Pistolero memang tak layak mendapat pembelaan, akan tetapi media semestinya tidak mengambil porsi yang amat besar terhadap pemberitaan dirinya. Berkat peran media pula, publik Inggris menanam kebencian terhadap mantan pemain Nacional tersebut. padahal, dalam kasus rasisme nya, Suarez dan pihak Liverpool tanpa perlawanan menerima hukuman larangan bermain 10 laga dan 4 laga yang diterima akibat menggigit lengan Branislav Ivanovic.

Tidak berbeda jauh dengan Suarez, Diego Costa yang sama-sama berperangai tempramen pun merasakan apa yang dirasakan mantan pemain Ajax Amsterdam tersebut. belum setahun berkiprah di tanah Britania, ia telah menimbun banyak musuh di Inggris. Beberapa aksi jailnya ketika melawan Liverpool musim lalu, membuat Costa menjadi bulan-bulanan Skrtel dan Henderson, aksi tak pentingnya tersebut membuatnya beberapa kali bersitegang dengan dua pemain Liverpool tersebut, termasuk injakannya terhadap Emre Can. Hingga jelang akhir pertandingan, Diego Costa masih sempat cekcok dengan Henderson yang nyaris baku hantam. Belum lagi tindakannya yang lain yang kerap memantik emosi lawan.

Atas tingkah lakunya tersebut, Costa  dihadiahi sebuah chants sarkas yang dinyanyikan oleh para Liverpudlian “The elephant man, the elephant man…Diego Costa, the elephant man” itulah penggalan chants untuk menggambarkan seorang Diego Costa. Setali tiga uang dengannya, Luis Suarez pun tak luput dari chants plesetan fans lawan, ia harus menerima nyanyi puja-puji dari para Kopites diplesetkan oleh fans Manchester United yang menyebutnya sebagai “racist bastard” yang mengacu pada kasusnya dengan kapten United saat itu, Patrice Evra.

Dari semua kasus diatas, kita tidak bisa mengelak akan kehebatan dua pemain asal Amerika Latin ini, selain mendulang nama atas dirinya sendiri, mereka pun berhasil meningkatkan performa tim lebih tinggi lagi. Liverpool yang terakhir kali bersaing di dua besar pada 2008 kembali menjadi penantang juara saat Suarez menggila pada 2013-2014, bahkan ia hampir membawa club asal Merseyside menjadi juara sebelum tangisnya membasahi stadion Selhurst Park, kandang Crystal Palace. Begitupula Diego Costa yang membawa Chelsea Juara Liga dengan catatan sempurna di musim perdananya.

Namun, meski kontroversial, Suarez dikenal tidak memiliki musuh dalam lapangan ( ya, mungkin Evra yang masih sakit hati ), Ivanovic dan Chiellini bahkan tak menaruh dendam padanya, begitupula Suarez yang tegas telah meminta maaf. Persaingan hanya terjadi selama 90 menit dilapangan. Setelah itu, semua adalah teman baginya, tak ada perselisihan yang melibatkan dirinya seusai pertandingan, tidak ingin pula dia mencari masalah dengan pemain lain.

Berbeda dengan Costa yang memang kerap memancing emosi pemain lain, beberapa gerakan treatikal, dan – mungkin ditambah perawakan yang jauh menggambarkan usia aslinya membuat ia terlalu sering bersitegang dengan pemain lain. Dari kaki, tangan, hingga mulutnya pun ia manfaatkan untuk menjahili pemain lawan yang membuat emosi naik bukan kepalang.

Tak jarang, ia tak segan membuat pemain asal negaranya, Brazil, naik pitam. Yang terbaru adalah bek Arsenal, Gabriel Paulista yang tak tahan dengan provokasinya terhadap wasit pada laga Derby London sabtu kemarin. Paulista, yang sama-sama dari Brazil tak kuat menahan emosi yang semakin membuncah ketika meilhat Costa dengan semangat memprovokasi wasit agar memberi hukuman padanya. Bahkan emosinya harus diredam oleh pemain Chelsea lainnya, Oscar, yang juga asal Brazil.

Suarez dan Costa, mereka sama-sama mengisi kekosongan yang tertinggal di Spanyol dan Inggris, bertukar negara disaat yang bersamaan, menyisakan rekor yang sukar ditandingi oleh penerusnya di Liverpool dan Atletico Madrid. 

Dan satu hal yang pasti, Luis Suarez dan Diego Costa tidak suka dengan kehidupan malam. Suarez lebih memilih berkumpul bersama keluarganya, sementara Costa lebih memilih menyendiri di apartemennya sambil memanjakan mata dengan film….ya, film porno koleksinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar