Minggu, 13 September 2015

Allegri Yang Suka Alergi

            Double winner musim lalu, plus menjadi finalis liga Champions nyatanya tak membuat kehebatan Massimiliano Alegri membekas, tak ada satupun sisa kejayaan musim lalu yang dirasakannya musim ini. memulai dua pertandingan liga Serie A Italia, Juve malah tersungkur dua kali dari club sekelas Udinese di Turin dan berlanjut saat lawatannya ke Ibukota ketika dikalahkan oleh tuan rumah AS Roma dengan skor 2-0. 

Masih terlalu dini memang jika menilai masa kejayaan “si nyonya tua” mulai memudar.Walau begitu, penilaian semacam ini mungkin ada benarnya jika kita mencermati track record allenatore Allegri yang lazim terkena syndrome hilangnya pemain bintang ketika tim asal kota Turin tersebut ditinggal tiga pemain vital sekaligus. Pada bursa transfer musim panas ini, club terpaksa memulangkan Carlos Tevez ke Boca Junior karena sang pemain sudah amat rindu dengan “rumahnya”. Kepergian Carlitos pun seakan mengiringi dua bintang lainnya seperti Arturo Vidal yang kembali ke Jerman untuk membela Bayern Munchen, Fernando Llorente yang lebih memilih ke Sevilla, dan sang maestro, Andrea Pirlo yang terbawa arus ke MLS untuk mengikuti jejak pemain-pemain renta usia lainnya.

Hal semacam ini bukan sekali dialami oleh pelatih asal provinsi Sardinia tersebut, ketika Allegri masih melatih AC Milan, dia juga pernah merasakan keadaan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini. saat mengambil alih nahkoda Milan pada 2010 lalu, ia telah diwarisi skuat komplit oleh Leonardo dengan nama tenar seperti Alexandre Pato, Andrea Pirlo, Boateng, Cassano, Zlatan Ibrahimovic, dan Thiago Silva. Belum lagi ditambah dengan kedatangan Mark Van Bommel yang semakin memperkokoh lini tengah Rossoneri. Mewarisi skuat jempolan tentu tak membuat Allegri mendapatkan kesulitan berarti dalam meramu komposisi pemainnya, dan ia pun akhirnya berhasil membawa club kota mode tersebut meraih Scudetto untuk pertama kalinya sejak 2007.

Sukses Milan meraih Scudetto ternyata tak mampu menahan eksodus para bintang mereka, ditambah dengan kesulitan finansial yang tengah melanda club, mau tak mau harus diterima sang pelatih yang menjual seluruh pemain bintang ( yang disebut diatas ). Inilah yang menjadi awal kemerosotan Allegri bersama AC Milan, karena pemain baru yang didatangkan tak mampu meneruskan pakem permainan yang ia terapkan pada musim sebelumnya sehingga berujung pada pemecatan dirinya pada tahun ketiga ia menukangi Il Diavollo Rosso.

Musim 2015-2016 sudah resmi bergulir sejak dua minggu lalu, sebagai club dengan finansial paling sehat diantara para pesaingnya, Juventus bisa dengan leluasa mendatangkan pemain berbanderol mahal seperti Paulo Dybala yang kerap disebut sebagai titisan Messi, Mario Manzukic dari Atletico, Sami Khedira dari Real Madrid, dan kembalinya Simone Zaza dari “kuliah” nya di Sossoulo. Menjual pemain kunci dan membeli pemain bintang harusnya bukan menjadi kesulitan yang berarti bagi Allegri karena pemain yang didatangkan tak kalah kelas dengan pemain yang telah pergi. Namun, apa boleh buat, Allegri sudah kadung alergi dengan kelemahan masa lalunya yang gagal membangun tim dari awal.

Seperti yang kita ketahui bersama, skuat Juve musim lalu adalah skuat warisan pelatih sebelumnya, Antonio Conte yang susah membangun tim dari angka “nol” dan telah mencetak hatrick Scudetto, sehingga kedatangan Alegri musim lalu hanya sekedar menyempurnakan permainan yang telah dibentuk sebelumnya oleh Conte. Dan musim ini, Alegri benar-benar meramu sendiri formasi idealnya, tanpa warisan dari pendahulu, tiada penyempurnaan sistem permainan sebelumnya. Kini, ia dituntut  menjadi pelatih “seutuh”nya yang membangun tim dari awal tanpa campur tangan pelatih masa lalu.

Pertanyaan kemudian pun muncul, apakah Alegri mampu membawa Juve kembali menjadi raja di Italia dengan kemampuannya sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini patut ditunggu, mengingat, Alegri tidak begitu ahli menemukan sistem permainan baru setelah kehilangan pemain bintang. Setidaknya itulah yang terjadi sejak menanjaknya ia bersama Cagliari dan kemudian berujung sukses bersama AC Milan. Allegri bisa dibilang sebagai pelatih yang mampu menyempurnakan strategi yang digunakan pelatih sebelumnya, sementara soal urusan eksperimen baru, kegagalannya di AC Milan bisa menjadi bukti nyata bahwa dia tak begitu “menyukai” cara baru tanpa pemain bintang yang telah membentuk tim sebelumnya.

Ya, Allegri kini sedang menghadapi dejavu saat melatih AC Milan dua musim lalu. Hengkangnya Arturo Vidal, Pirlo, dan Carlos Tevez tentu saja akan membuat Allegri mencari formasi baru, dan “mengulik” para pemain barunya agar mendapatkan kembali formasi terbaiknya untuk Juventus saat ini. namun, jika ia kembali mengidap alergi saat melatih Milan, maka bisa kembali disimpulkan, jika Allegri memang pelatih yang hanya bisa meneruskan strategi pelatih lama. Dan, kedatangan awalnya ke Juventus stadium yang dihujani hinaan para tifosi, bisa saja berbuah hujatan dari Juventini yang berujung pada pemecatan dirinya.

Setujukah para Juventini?...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar