Sabtu, 15 Agustus 2015

Ketika Kekerasan dan Keindahan Menjadi Kesatuan Dalam Sepak Bola


Sebagai permainan yang keras, sepak bola tentu tak bisa terhindar dari aksi-aksi keras pula yang berujung pada permainan kasar dari setiap permainannya.Saling berebut bola dengan dorongan, tekel-tekel keras ditambah sedikit aksi jail para pelakunya tentu tak bisa terelakkan dari pandangan.Cukup lumrah rasanya kita melihat para pemain belakang atau para gelandang mencuri bola dari lawannya dengan cara-cara seperti itu, dan tentu saja hal itu memang dibutuhkan,tanpa menciderai lawan tentunya.

Kita pasti hafal dengan nama-nama seperti Roy Keane atau Paul Scholes yang setia “merontokkan” kaki lawan-lawannya hingga beterbangan di udara, atau Gennaro Gattuso dan Marco Materrazzi yang tanpa ampun menyeruduk lawannya untuk mengamankan gawang club yang mereka bela, dan tentu masih banyak lagi pemain-pemain dengan tipe yang sama seperti itu.

Pada dasarnya, sepak bola adalah permainan yang sangat indah untuk ditonton dan dinikmati, dengan segala keindahannya, sepak bola sudah menjadi candu bagi para penikmatnya. Bagaimana Diego Maradona memberi sentuhan indah tiada tara ketika dia “membodohi” seluruh pemain Inggris dari tengah lapangan pada piala dunia 1986, atau bagaimana bocah belia berusia 16 tahun bernama Edson Arantes do Nascimento, atau beken dengan sebutan Pele menjadi penentu kemenangan Brazil pada final piala dunia 1958 adalah salah satu bukti sahih bagaimana keindahan alami yang ditawarkan permainan bernama sepak bola. Kita semua dibuat terbuai dengan keindahan-keindahan yang telah mereka ciptakan dalam dunia sepak bola.

Akan tetapi, seindah apapun permainan sepak bola, ia tentu tak bisa melepaskan kekerasan dalam jati dirinya, dan memang harus kita akui, mungkin hanya sepak bola lah yang bisa mempadu padankan antara keindahan dan kekerasan menjadi satu kesatuan yang amat nikmat untuk disaksikan – tentu bukan permainan keras yang menjurus kasar maksudnya. Kita tentu tak perlu meragukan akan keindahan permainan sepak bola sebagaimana yang selama ini ditunjukkan oleh Lionel Messi dan keloga dalam wujud tiki-taka ala Barcelona yang tengah menjadi magnet utama dari keindahan itu sendiri, pun begitu dengan keindahan yang ditawarkan oleh pendukung sepak bola yang saban hari memenuhi bangku stadion untuk melihat persatuan antara keindahan dan kekerasan dalam setiap permainan yang mereka tonton. Sama halnya dengan para pemain, pendukung sepak bola juga menawarkan keindahan yang acap kali ditunjukkan di stadion, dan tentu, keindahan itu juga berbalut indah dengan kekerasan yang terkandung didalamnya.

Fans Barcelona tentu sangat hafal bagaimana megahnya stadion Nou Camp denganmozaik indah yang disuguhkan tiap club kesayangan berlaga, atau bagaimana seisi Nou Camp dengan sangat keras mengkritik Real Madrid dengan kerajaan spanyolnya, atau bahkan, bagaimana dengan “tega”nya pendukung mereka membuang kepala babi tepat dihadapan Luis Figo yang saat itu berbelok arah ke club ibukota Spanyol tersebut.

Keindahan dan kekerasan dalam sepak bola nyatanya tak hanya terjadi didalam lapangan permainan, melainkan terjadi pula di pinggir lapangan yang  melibatkan penontonnya, malah bisa dikatakan mereka mempertontonkan keindahan yang lebih dari apa yang mereka tonton, dan tentu masih dengan kekerasan ala penonton yang mereka tawarkan. 

Berbicara keindahan dan kekerasan dalam sepak bola, rasa-rasanya tidak elok jika kita melupakan Negara Turki, Liga Turki memang kalah jauh jika dibandingkan liga-liga lainnya di Eropa, tapi jika berbicara fans, mereka wajib diperhitungkan, setidaknya bagi fans Galatasaray dan Fenerbahce. Dua club yang berpredikat sebagai kiblat sepak bola Turki ini bagaikan kisah animasi Tom and Jerry yang sukar untuk berdamai, sudah tak terhitung kerusuhan yang terjadi akibat kedua pendukung ini, tapi dibalik kekerasan yang – rasa-rasanya wajar mereka lakukan, selalu ada keindahan yang mereka tunjukkan pada dunia. 

Mari kita tanyakan kepada skuat Manchester United atau club manapun yang sempat bertandang ke Negara lintas benua tersebut. Mereka dibuat tak mampu mendengar satu kata pun saat berbicara di stadion, hal ini diakibatkan karena terlalu berisiknya suasana stadion ketika pertandingan berlangsung, dengan kata lain, keriuhan stadion Galatasaray atau Fenerbahce melebihi kecepatan suara jet tempur F16, keindahan yang amat mengesankan bukan?. Sekeras-kerasnya mereka mendukung tim andalan, seindah-indahnya mereka melakukan koreo di stadion, tetap saja mereka hanya manusia biasa yang memiliki sisi kebaikan dalam dirinya. Hal ini bisa terlihat ketika kedua pendukung yang saling bertolak belakang ini bersatu padu membantu korban bencana alam, dan beberapa aksi solidaritas lainnya, bahkan tanpa ragu mereka menyatu melawan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat kecil.

Sepak bola Inggris yang sejak awal kita kenal dengan istilah Kick and Rush tentu tak terlalu enak untuk dinikmati karena hanya mempertunjukkan tekel-tekel keras dan umpan langsung kedepan gawang, tapi tak jarang dari permainan seperti itulah muncul gol-gol indah dari tengah lapangan yang kerap disuguhkan oleh David Beckham, Steven Gerrard dan lainnya. Atau, bagaimana Lionel Messi hanya bermain seorang diri di Liga Spanyol tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo di kubu seberang, Real Madrid, tentulah dia akan menjadi penguasa tunggal di Spanyol. Sehingga kehadiran Ronaldo di ibukota Spanyol pun menawarkan keindahan lainnya dalam sepak bola, yaitu persaingan untuk menjadi yang terbaik karena mereka akan selalu menawarkan keindahan-keindahan lainnya dengan talenta yang mereka punya. Bahkan keindahan permainan Messi dan Ronaldo pun tak akan berarti apa-apa jika mereka tidak menghadapi bek-bek tangguh seperti Sergio Ramos, Javier Mascherano, atau Diego Godin yang tak sungkan menghentikan permainan indah mereka dengan cara yang cukup keras.

Tak cukup rasanya jika kita tidak menyinggung keindahan dan kekerasan sepak bola dari Eropa Timur. Sebagai wilayah yang dulunya memiliki sejarah amat panjang terhadap perang dunia, Negara-negara pecahan Uni Soviet ini tentu memiliki tingkatan tersendiri dalam memberikan keindahan yang disertai kekerasan dan tentu berbeda dari fans sepak bola lainnya. Sebut saja Georgia, Negara yang juga berdekatan dengan Turki ini memang tidak bisa berbicara lebih banyak dalam dunia sepak bola, baik club ataupun tim nasionalnya, tapi jangan ragukan keindahan yang ada di Negara yang baru menyelenggarakan Piala Super Eropa ini. Pada 2012 lalu, kesebelasan asal Georgia, Zestafoni bersua Club Brugge dalam play off liga Europa. Club yang bermarkas di stadion Boris Paichadze Dinamo Arena ini tak hanya didukung oleh fans club nya sendiri, melainkan juga mendapat support dari fans rivalnya, Dinamo Tbilisi. Mereka bukannya tak mengenal loyalitas, tapi disaat yang bersamaan, Dinamo Tbilisi sedang bertandang ke AEK Athens, Yunani, sehingga mereka mempunyai waktu luang untuk mendukung club lain dari negaranya. Lalu, pekan depannya, ketika Dinamo berganti menjamu AEK Athens di Tbilisi, stadion pun dipenuhi oleh supporter Zestafoni seolah ingin berbalas budi kepada Fans Dinamo. Uniknya, di liga domestiknya sendiri, kedua club ini merupakan rival utama dalam perebutan gelar tiap tahunnya, dan mereka juga dikenal memiliki Ultras yang saling benci satu sama lain.

Jauh sebelum sepak bola modern bergulir, tepatnya di era perang dunia dua, tokoh revolusioner dunia, Che Guevara sudah lebih dulu memulai kegetiran perihal sepak bola dalam dirinya sebagai pejuang kemerdekaan Amerika Latin. Che, yang saat itu tengah berada di Peru, tergetar hatinya saat melihat tempat pengasingan para penderita lepra. Disana, dia bukan hanya merayakan ulang tahunnya yang ke-24, tapi juga bermain sepak bola, ya, selama perjalanan panjang dengan segala kekerasan yang telah ia lihat, Che menemukan keindahan lain dalam sepak bola. Dimana pun dia singgah, sepak bola selalu menjadi cara terbaiknya untuk berkomunikasi paling efektif. Di banyak tempat, Che bahkan menyempatkan diri bermain bola dengan rakyat setempat, dari semua itu, dia mampu mengunduh makna terdama solidaritas umat manusia. Dari pengalamannya tersebut, ia menulis: “Bentuk tertinggi dari solidaritas dan loyalitas kemanusiaan muncul di antara orang-orang yang kesepian dan putus asa.”

Atas kebesaran sepak bola lah, kekerasan dan keindahan menyatu dalam romansa cinta yang tak terkira harganya.

Kekerasan dan keindahan, rasa-rasanya hanya sepak bola yang mampu menyatukan dua kata yang sebenarnya mustahil untuk disatukan dalam banyak hal.Nyatanya, keindahan dan kekerasan pun saling mengisi kebutuhannya masing-masing dalam sepak bola, melebihi dari apapun. Jika sepak bola layaknya secangkir kopi, maka keindahan yang terkandung didalamnya merupakan bubuk kopi hitam pekat dengan keharuman baunya, sedangkan kekerasan dijadikan butiran gula sebagai pemanisnya yang kemudian diolah sedemikian rupa agar menghasilkan rasa manisyang lembut dengan bau semerbak yang terhirup indra perasa, sehinggaakan terasa nikmat untuk dikonsumsi oleh para pencintanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar