Selasa, 21 Juli 2015

On This Day LFC tour 2013 jakarta


Hari ini, 20 juli 2013, dua tahun lalu menjadi hari yang sangat bersejarah bagi fans Liverpool di seluruh Indonesia. Bagaimana tidak, ketika itu club besar Inggris Liverpool FC menginjakkan kakinya di tanah air untuk pertama kali sepanjang sejarah. Menumpangi pesawat kebanggaan negara, Garuda Indonesia yang juga sponsor club, Liverpool di terbangkan “sang garuda” dari bandara John Lennon ke Halim Perdana Kesuma, Jakarta.

seluruh pemain liverpool mendarat di bandara halim perdana kusuma

             Sebuah mimpi yang disambut meriah oleh para kopites seluruh tanah air yang ikut menjemput pasukan Brendan Rodgers di Halim Perdana Kusuma. Bandara yang biasa digunakan untuk menyambut tamu negara ini pada akhirnya menyala oleh kilauan “cahaya” merah khas Liverpool yang dibanjiri oleh pemujanya. bulan suci Ramadhan yang diikuti hawa panas ala tropis Asia Tenggara tak menghalangi kegilaan mereka yang setia menanti kedatangan Steven Gerrard cs. Pelataran bandara yang cukup besar pun tak mampu menampung ribuan fans yang memadati tiap sudut Halim Perdana Kesuma, terbatasnya permukaan tanah yang tersedia tak menghabiskan akal para supporter, bahkan mereka rela bergelantungan di pohon-pohon agar bisa melihat sang pahlawan dari dekat.

fans liverpool ketika menyambut para pemain di bandara halim perdana kusuma


Sayangnya, saat itu saya tidak ikut menjemput club yang saya banggakan ini. Namun, saya ikut hanyut melihat saudara semerah yang hadir di sana. Tentu saya sangat iri melihat teman-teman yang berada di bandara. Tapi tak apa lah, yang penting bisa melihat kedatangan pemain pujaan walau dalam layar kaca. Saya semakin tenggelam dalam euforia ketika melihat para pemain melewati fans yang seolah menjadi karpet merah bagi para pahlawannya. Sambutan hangat, nyanyian khas club dari para pemujanya pun disambut dengan senyum manis sang pahlawan sembari melambaikan tangan ke para si pemuja. Melihat kejadian itu saya pun tak sabar menanti hari pertandingan untuk melihat langsung pahlawan saya dari dekat. Tiket sudah di tangan, jersey sudah rapi dan wangi, teropong pun siap untuk digunakan di hari itu.

bus yang membawa pemain liverpool disambut bak pahlawan oleh fans yang datang


Keesokan harinya, saya beserta pasangan ( saat itu ), dan adiknya langsung meluncur ke stadion Gelora Bung Karno ( GBK ), bukan untuk menonton pertandingan, karena memang bukan saat itu pertandingannya. kami hanya ingin melihat pemain-pemain idola berlatih di Senayan sembari mencoba peruntungan agar bisa bertemu mereka secara langsung. Rencana awal kami bisa dikatakan sukses ketika berhasil melihat para pemain latihan (walaupun tidak sempat mengantar mereka pulang ke hotel) tidak di dalam stadion memang, tapi setidaknya kami bisa memanfaatkan teropong yang kami bawa dan membidik setiap pemain agar terasa lebih dekat.

 Satu persatu pemain kami bidik, sekejap saya melihat Daniel Agger, pemain idola saya yang sekaligus membuat mulut saya bergetar dan berteriak “wiiih Agger” yang seketika membuat pasangan saya agak iri mendengarnya dan langsung merebut teropong yang sedang saya pakai agar dia juga bisa melihat Daniel Agger, Agger adalah salah satu idola kami berdua, selain sang kapten tentunya. Namun lebih dari itu, kami bisa bertemu dengan para pendukung yang lain dari seluruh Indonesia, tidak terhitung bus yang terparkir rapi untuk  mengantar para supporter dari seluruh pelosok negeri. Kami terkesima, terdiam tanpa kata melihat banyaknya orang yang mengenakan “liverbird” di dada sambil ada yang berujar “  Liverpool latihan aja yang nonton rame banget, apalagi besok pas match nya.“

Dan akhirnya hari pertandingan pun tiba, saya sudah semaleman tidak bisa tidur karena tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi di Senayan nanti. Namun, hal lain yang tak kalah mengejutkan pun datang. Yap, hujan turun dengan kencang tepat disaat kami hendak berangkat ke stadion. Untungnya saya dan pasangan saya ( ya, masih saat itu ) sudah mempersiapkan semua hal yang tak diinginkan, termasuk jika hujan turun. Bermodalkan mantel, hujan deras sore itu dengan perut kosong karena puasa pun tak menjadi penghalang tekad  kami untuk segera ke stadion kebanggaan Indonesia. Genangan air dan amburadulnya lalu lintas ibu kota ketika itu tak mampu menjatuhkan mental kami, malah itu semua menjadi saksi akan kegigihan dan totalitas kami untuk Liverpool. Di sepanjang jalan, kami pun melihat cukup banyak fans Liverpool yang bernasip sama. Hujan bukanlah suatu halangan yang bisa dijadikan alasan, karena bagi kami semua, hujan tidak hujan, puasa tidak puasa, sedongkol-dongkolnya kami dengan buruknya lalu lintas Jakarta, menyaksikan pertandingan Liverpool secara langsung merupakan Fardhu a’in yang haram hukumnya jika tidak dikerjakan.

hujan tak mengurangi semangat fans liverpool untuk datang ke stadion

Dan yang membuat kami lebih bangga dengan Liverpool adalah, diantara 3 club Inggris yang datang ke tanah air, hanya Liverpool yang datang tanpa promotor, sementara Chelsea dan Arsenal di “temani” oleh promotor masing-masing yang menyokong kedatangan mereka ke Indonesia. Saya tidak yakin club seperti Arsenal, terlebih-lebih lagi Chelsea mau datang kesini jika tidak ada promotor yang mendanai mereka.

Kick off dimulai sekitar pukul 19.00, sementara kami tiba di stadion tepat sejam sebelum dimulai, dan tentu saja bersamaan dengan waktu berbuka puasa. Jika di hari-hari sebelumnya, saat tibanya waktu berbuka saya langsung membatalkan puasa dengan memakan semua yang ada di depan mata, hari itu beda cerita. Saya memang sangat amat lapar, tapi bukan lapar dengan makanan, melainkan mata saya yang lapar karena tidak sabar ingin melihat pemain idola bermain di “rumput” Indonesia, kebanggaan Indonesia, stadion Gelora Bung Karno. Saya dan puluhan ribu fans lainnya mengacuhkan makanan yang dijual di seantero Gelora, bagi kami sebotol minuman sudah cukup untuk melepas rasa lelah seharian, tak masalah menunda rasa lapar seharian, karena yang pasti kami tidak boleh meninggalkan sepersekian detik pun momen-momen bersejarah di dalam stadion.

Badan yang basah dan sedikit merasakan gatal di dalam karena kencangnya hujan yang menembus tebalnya mantel dan baju yang saya pakai tak menghalangi keceriaan malam itu. “ bodo amat lah ntar juga kering sendiri kalo liat Liverpool,“ gumam saya. Sebagai muslim, saya pun tak lupa menjalankan ibadah maghrib dengan segenap kopites muslim lainnya, tak ada mushola di stadion, tapi ini tentu tak menjadi soal karena banyak tempat yang bisa kami manfaatkan untuk mengucap dan berserah diri pada tuhan. Lalu tiba pula saatnya kami memasuki stadion yang berkapasitas lebih dari 85.000 penonton itu. Pertandingan belum di mulai, bahkan pemain belum juga melakukan pemanasan, tapi fans dengan riuh rendahnya sudah melantunkan chants-chants kebanggaan club seperti Fields of Anfield Road, Steve Gerrard-gerrard, Luis Suarez, oh  Campione, oh When The Reds, dan tentu lagu wajib You’ll Never Walk Alone dan masih banyak lagi.

Ketika para pemain memasuki lapangan untuk menggelar pemanasan, kami pun bersorak-sorai  menyambutnya, teriakan kami memang tidak di dengar oleh para pemain karena memang jarang tribun dan lapangan yang cukup jauh, tapi pemain menjawab teriakan kami dengan lambaian tangan sebagai ucapan terima kasih. Steven Gerrard tak henti-hentinya bertepuk tangan melihat “kegilaan” kami di stadion yang seketika kami sambut dengan chants
 “steve gerrard gerrard his pass the ball 40 yard his big and his fucking hard steve gerrard gerrard.”

Saya dan pasangan saya ( lagi-lagi saat itu ) duduk di tribun belakang gawang ala tribun Stand Kop di Anfield, tepatnya di sektor 5-7. Sadar dengan jarak lapangan dan stadion yang cukup jauh, kami pun membawa teropong untuk melihat para pemain agar terasa dekat, alat itu bukan milik kami tentunya melainkan milik teman yang cukup baik untuk meminjamkan pada kami berdua. Satu persatu pemain kami bidik dengan seksama, dari sudut ke sudut, dari ujung ke ujung,  dari yang jauh hingga yang paling dekat tanpa ada yang terlewatkan dan tanpa terkecuali. Saya tidak terlalu sering menggunakan teropong itu, pasangan saya yang lebih banyak memakainya, dia memang lebih membutuhkan itu agar bisa mencintai Liverpool lebih dalam lagi, dan lagi sampai ke sendi-sendinya. Dan benar saja, ia pun terdiam ketika bidikannya “menemui” Steven Gerrard dan matanya pun tak bisa pindah ke sosok lainnya, dia mengikuti langkah Gerrard kemana pun sang kapten berlari. Seketika dia terpaku pada Stevie G dan seolah-olah melupakan pemain lainnya, dan sejenak melinangkan air mata penuh bahagia ketika mata kapten Liverpool tersebut menemui mata teropong dan melihat kearahnya.

Pertandingan antara Liverpool vs Indonesia All Stars pun di mulai, dan seperti syarat sah pertandingan Liverpool, GBK pun melantunkan lagu “kebangsaan”, You’ll Never Walk Alone. Tanpa arahan dari panitia, dengan sendirinya kami semua terbawa ke Anfield saat menyanyikan itu, jiwa saya bergetar, tak menyangka bisa bernyanyi dengan lebih dari 80 ribu fans yang memerahkan GBK. Memakai jersey kebanggaan club yang dilengkapi scarf Liverpool yang terbentang, saya benar-benar merasakan aroma Anfield di sana. Tidak ada suara terompet di Senayan ketika itu yang memang menjadi ciri khas tersendiri supporter Indonesia, BIGREDS selaku official supporter Liverpool Indonesia melarang menggunakan alat itu. Alasannya jelas, agar kita benar-benar berada di Anfield, dengan nyanyian dalam bentuk suara mulut, bukan suara dari suatu alat.

kopites memberi dukungan luar biasa saat liverpool bertanding

80 ribu Kopites yang memadati GBK tentu tidak hanya mengharapkan Liverpool menang, tapi lebih dari itu. Fans hanya ingin merasa lebih intim dengan pemainnya, bagi para fans kemenangan bukanlah segalanya karena Liverpool telah mengajarkan kami apa arti penting keluarga dan apa itu loyalitas, pun begitu dengan fans yang telah mengajarkan totalitas bagi club kesayangannya tersebut.

Hari itu Liverpool menang dengan skor 2-0 melalui gol yang masing- masing di cetak oleh Coutinho dan Raheem Sterling pada masing-masing babak. Philipe Coutinho membuka gemuruh GBK ketika golnya di babak pertama membangkitkan penonton dari duduknya untuk merayakan gol bersama sang pemain yang langsung menghampiri tribun stadion. Kegembiraan fans pun ditutup lewat aksi Sterling di akhir babak kedua ketika ia berhasil menuntaskan umpan manis Ousama Assaidi.

Pertandingan yang diawali dengan You’ll Never Walk Alone ini akhirnya ditutup pula dengan lagu yang sama sebagai pertanda berakhirnya pertandingan, sebagaimana biasanya terjadi dalam setiap pertandingan Liverpool. tapi berakhirnya pertandingan Liverpool vs Indonesia All Star tidak mangakhiri kehadiran fans yang tetap setia duduk manis di tribun. Tidak ada satupun sudut GBK yang renggang saat pertandingan usai. Yang ada fans ikut maju kedepan untuk melihat pemainnya lebih dekat.

Kapten Steven Gerrard yang pada awal babak kedua ditarik keluar memimpin pasukannya untuk melakukan “tawaf” dan memberi ucapan terima kasih pada seluruh fans Liverpool di Indonesia. Uniknya, saat pemain lain memakai sepatu dan atribut lengkap club, sang kapten malah santai mengenakan sandal hotel. Tapi apa mau di kata, Gerrard tetap lah Gerrard, dia tetap disambut Chants “Gerrard…Gerrard…Gerrard” oleh kopites seantero GBK. Saat itu pula kami semua hanya mengaharapkan dua hal pada tuhan, yaitu hentikan waktu disaat itu juga dan ulang kembali waktu yang sudah berjalan agar kami bisa terus melihat pahlawan-pahlawan kebanggaan di depan mata dan kepala.

Sudah dua tahun waktu itu berlalu, namun tak ada pula memori yang saya lupakan. Dan sudah sepatutnya pula tiap 20 Juli setiap tahunnya kami merayakan kehadiran Liverpool ke tanah air. Sebagai fans sepak bola sejati kami akan selalu “mengampanyekan” slogan menolak lupa untuk hal yang satu ini, kami pun seolah tak mengenal dengan istilah – yang sedang kekinian – Move On. Hari ini, 20 juli dua tahun lalu akan selalu membekas dalam benak, tak akan hilang dimakan zaman. setiap zaman berganti, setiap itu pula kami akan membagi cerita ini pada generasi setelah kami agar bisa abadi dalam setiap ingatan dan hati. kami sangat menikmati dengan apa yang kami miliki, kami pun sangat mencintai yang kami punya, yaitu Liverpool Football Club.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar