Kamis, 30 Juli 2015

Nestapa Seorang Mario Balotelli

Ketika penikmat sepak bola tengah di gemparkan dengan transfer berlebihan Raheem Sterling dari Liverpool menuju Manchester City, terpercik sedikit kabar yang seyogya nya akan menjadi gempar juga di hari-hari mendatang, dan masih melibatkan Liverpool sebagai pemilik hak penuhnya, Mario Balotelli kembali menjadi buah bibir yang tak akan pernah basi sekalipun tak pernah dinikmati.

Sama seperti yang sudah-sudah, Balotelli selalu rajin menggoreskan kisah “magisnya” sendiri di dunia sepak bola, baik itu cerita indah, walau pula ia lebih “gemar” menulis cerita aneh nan menjengkelkan dalam catatan kehidupan sehari-harinya yang tak pernah memiliki ujung kejelasan dalam setiap lembaran kisahnya.

Pada awal kemunculannya pada tahun 2007 lalu, Super Mario langsung menjadi pusat perhatian dunia sepak bola, khususnya Italia, ketika ia melakoni debut profesionalnya bersama Inter Milan yang langsung memberi kesan mendalam kepada Interisti, tak terkecuali Roberto Mancini, pelatihnya saat itu di Inter Milan. Memiliki darah segar khas pemuda belia, Balotelli selalu mempertontokan kebolehannya memainkan si kulit bundar hingga mengelabui lawan-lawannya yang tak jarang lebih berpengalaman darinya. Berkat potensi besar yang dikandung Super Mario, seorang Fransesco Totti bahkan sempat mendapat masalah yang bisa dibilang tidak penting-penting amat saat hendak berduel dengan pemain berdarah Ghana tersebut. Totti yang dibuat frustasi akibat kelihaian Balo memainkan bola, memaksa ia menendang paha Balotelli yang langsung terkapar kesakitan, kejadian ini pun langsung membuat “pangeran Roma” diusir dari rumahnya sendiri, stadion Olimpico.

Kisah-kisah “fantasi” ala Mario Balotelli dimulai pasca ia meninggalkan Italia dan terbang ke kota Manchester di Inggris untuk kembali bersatu dengan pelatihnya saat di Inter, Roberto Mancini. “perkenalannya” dengan sepak bola Inggris nyatanya tak buruk-buruk amat dan terbukti dengan andil besarnya yang membawa Manchester City merebut trofi Liga Inggris untuk pertama kalinya, akan tetapi, disinillah dia mengawali coretan-coretan tak penting dalam karir sepak bolanya. Kehidupan ala jetset yang selalu menjadi racun tersendiri dalam sepak bola Inggris membawanya masuk, dan terjerumus dalam gaya hidup yang sangat glamour bagi pemain seusianya, ditambah dengan tunjangan gaji menjulang yang ia dapat di City juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kehidupan sosialnya.

Balo mengawali cerita hebohnya jauh dari tanah Inggris, tepatnya di Amerika Serikat, tapi masih membela City. The Citizen yang saat itu melakoni laga eksebisi di negeri Paman Sam membawa serta seluruh bintang mahal yang dimiliki, termasuk Super Mario. Merasa di anak emaskan oleh Mancini, dia pun menunjukkan aksi akrobatiknya yang fenomenal, dikatakan fenomenal disini tidak berarti layak dicontoh, apalagi diabadikan. Dikatakan fenomenal karena bola yang sejatinya bisa masuk gawang hanya dengan sentuhan ujung kaki, diputar-putar tak tentu arah tujuannya oleh Balo dan berakibat keluarnya bola yang sudah berada tepat didepan gawang lawan. Aksi nyeleneh Balotelli pun berlanjut setibanya ia di Manchester kala menjalani latihan rutin bersama timnya, berbeda dengan cerita diatas, kejadian ini malah mengundang gelak tawa penonton yang melihat dan rekan setim yang tepat berada di sekelilingnya yang tak tahan melihat tingkahnya perihal sifat kudetnya  akan rompi latihan yang seharusnya gampang dikenangan oleh siapa saja, tapi baginya, memakai rompi latihan bagaikan seekor kura-kura yang bisa berlari cepat, sesuatu yang mustahil yang bisa dilakukan.

Mungkin tingkah pola Balotelli yang amat konyol yang sekaligus membuat kita mengerutkan dahi adalah sayembara yang ia buat dengan mengorbankan sang kekasih sendiri sebagai alat taruhan. Kala itu dia bertaruh kepada siapa saja pemain timnas Jerman yang berhasil mengalahkan Italia pada ajang Euro 2012 berhak menikmati tubuh sang pacar.

Perangai Balotelli yang semakin tak karuan pun akhirnya dirasakan langsung oleh Roberto Mancini ketika keduanya terlibat perkelahian dalam sesi latihan City beberapa tahun lalu. Kejadian ini harus dikatakan sungguh ironis, mengingat beberapa waktu sebelumnya sang pemain memuji sang pelatih laksana seorang ayah kandung dimatanya.

Tentu masih banyak tumpukkan dengan lembaran yang cukup tebal perihal tindak tanduk super Mario didalam dan luar lapangan. Tapi, rasa-rasanya akan menimbulkan kejenuhan tersendiri bagi kita untuk membacanya satu demi satu, saya pun yakin jika kalian sudah hafal luar kepala dengan segala kontroversi yang ditimbulkan oleh pemain kulit hitam pertama di tim nasional Italia ini. tapi dibalik semua tingkahnya diluar sepak bola, mau tak mau, suka tidak suka, kita wajib mengakui bakat hebat yang ia miliki, dan tidak bisa pula kita mengelak dari fakta yang menunjukkan keberhasilannya meraih gelar juara bersama club yang ia bela, mulai dari Inter Milan dengan Treble nya, dan Manchester City yang dibawa kesinggasana atas Inggris.

Dengan usia yang semakin menua tiap tahunnya, kita sebagai manusia sudah seharusnya mematangkan perilaku dan menanggalkan kebiasaan buruk masa lalu. Itupula yang wajib dilakukan Balotelli saat ini agar dia tidak di cap sebagai produk gagal Italia hanya karena perilaku buruknya. Masih banyak waktu yang bisa ia manfaatkan, masih banyak kesempatan yang masih bisa dibuktikan olehnya, meskipun kesempatan itu agak mustahil dia dapat bersama Liverpool musim ini yang sepertinya sudah tak sabar ingin menjual pemainnya ini – walaupun saya berharap Liverpool masih mau memberinya kesempatan bermain. kalau pun pada akhirnya Liverpool benar-benar harus melegonya ke club lain, siapa tahu tuhan sudah mempersiapkan rencana yang tak kalah indah dari apa yang ia dapat selama ini, tentu tanpa bumbu-bumbu penyedap yang sejatinya tak perlu ditambahkan dalam karir sepak bolanya. Setidaknya saat ini maha pencipta sudah merancang rencana tak terkira kala menunjuk Sambdoria dan Fiorentina, dua club Italia yang setia menunggu kedatangannya.

Mario Balotelli harus cepat-cepat bangun dari tidur panjangnya, kala semua yang pernah menjalin kerja sama dengannya sudah tak sudi mengakui kehebatannya. Inter Milan, club yang telah mengorbitkannya sudah tak rela meminangnya kembali, AC Milan, club yang sempat menyelamatkan karirnya pun sudah ogah melirik pemain yang akrab dengan nomor 45 ini, dan sekarang Liverpool, club yang ia bela sekarang pun sepertinya akan bahagia jika ada club yang mau menampung “si bengal” walaupun mereka harus membanting harga Balotelli yang diprediksi akan jatuh di bursa transfer kali ini.


Saat ini, hanya dirinya sendiri yang bisa menyelamatkan masa depannya, bukan club yang ia bela sekarang, bukan juga club yang akan dia bela pada masa mendatang. Kita tinggal menunggu bagaimana dia, Mario Balotelli memperlakukan dirinya agar tak lenyap termakan perangainya sendiri, karena kita tahu dia memiliki potensi besar yang terkandung dalam dirinya, agar ia bisa melakukan apa yang dilakukan para pendahulunya, bahkan bisa saja melebihi itu. Selanjutnya, tentu terserah Super Mario sendiri, apakah ia ingin dikenang sebagai pesakitan, atau pemenang!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar