Senin, 27 Juli 2015

Ideologi Politik Sebagai Bumbu Sepak Bola


kita di anugerahi dengan munculnya pemahaman-pemahaman atau idiologi politik yang dapat merubah nasib suatu bangsa untuk menjadi lebih baik. Ada banyak ideologi politik yang kita ketahui di antaranya, pemahaman Marxisme yang kemudian berkembang menjadi Komunisme-Sosialisme yang di kenal dengan haluan kiri dengan penganut setia di Rusia (dulunya Uni Soviet), China, dan Amerika Latin dengan menyebarkan pemikiran Karl Mark yang kemudian di refleksikan oleh Lenin di Uni Soviet, Mao Zedong di China, liberalism-kapitalisme yang ada di tengah dengan Amerika Serikat dan Inggris nya, dan Fasisme yang lebih condong ke kanan yang di perkenalkan oleh Hitler di jerman melalui NAZI nya, lalu meluas ke daratan Spanyol melalui jendral Franco, Italia dengan benito Mussolini nya, dan dengan cepat menjalar hampir seluruh daratan Eropa . 

Melalui ideologi-ideologi inilah para penganutnya mulai memasuki ranah sepak bola, baik hanya sebagai propaganda politik untuk menampung dukungan rakyat ataupun sebagai simbol perjuangan kaum tertentu.

 Italia sebagai salah satu negara yang kental dengan fasisme nya dikenal dengan beberapa club yang berpandangan politik kanan, seperti Lazio dan Sampdoria yang memang di bentuk oleh Benito Mussolini yang dikenal sangat kejam dalam menjalankan kekuasaannya. Sampdoria, club yang bermarkas di Luigi Ferraris ini didirikannya atas dasar ketidaksukaan sang penguasa pada club Genoa (satu kota dengan sampdoria) yang banyak menggunakan jasa pemain-pemain yang berasal dari luar italia. Seperti yang kita ketahui, aliran fasisme yang merunut pada pemikiran Ultra-nasionalis memang sangat mengagungkan bangsanya sendiri dan menganggap kalau bangsa lain sebagai sampah yang harus ditumpas. Sementara itu, Lazio didirikan memang hanya semata-mata untuk dijadikan alat politik Mussolini agar mendapatkan dukungan kaum borjuis Italia. 

Jika fans Sampdoria masih malu-malu kucing mengakui Mussolini sebagai “orang tua asuhnya”, maka tidak begitu dengan fans Lazio yang secara terbuka dan bangga mengakui Mussolini sebagai bapak bangsa mereka yang wajib diagungkan. Bahkan salah satu legenda mereka Paolo Di Canio sempat membuat geger dunia sepakbola dengan merayakan golnya ala Hitler. Dikenal sebagai penganut Fasisme yang kolot selama merumput di negerinya, Di Canio menggegerkan publik sepak bola Inggris ketika menerima pinangan club asal London, West Ham United. Lalu apa hubungannya? Inggris merupakan salah satu negara Eropa yang mempunyai sejarah panjang yang cenderung kelam dengan Jerman yang “memperkenalkan” fasisme di dunia, dan tentu mayoritas masyarakat Inggris berasal dari kaum buruh yang sangat bertentangan dengan aliran kanan tersebut. Untuk meredam amarah fans tentang pemahaman politiknya, Di Canio pun buru-buru menepis isu tersebut dan mengatakan bahwa dia tidak ada sangkut-pautnya dengan ideologi tertentu.

Di balik loyalitas fans Lazio terhadap pendirian politiknya, terdapat kejadian menarik ketika Lazio berhasil menjuarai Serie A pada medio 2000. Ketika itu, bintang mereka asal Argentina, Juan Sebastian Veron mendapatkan kecupan hangat dari Laziale ( sebutan fans Lazio ),  bukan kecupan biasa yang diberikan, karena yang mereka cium adalah tato seorang sosialisme sejati yang notabene berlawanan dengan faham fasisme asal Argentina Che Guevara yang memang melekat di kaki pesepakbola plontos tersebut. 

Kentalnya aroma Fasisme di Italia tidak menyurutkan sekumpulan orang yang muncul dengan club yang berhaluan kiri, mungkin Livorno menjadi sedikit diantara club-club italia yang berani mengungkapkan jati diri ideologi mereka, fans dengan bangga memakai atribut club yang menyebarkan pesan-pesan berbau Marxisme-Leninisme dan tidak segan-segan menghina fans Lazio dengan Mussolini nya yang memang sangat di benci oleh mereka. Bahkan sebagai pesaing berat Lazio dalam hal ideologi, Livorno pun mendapuk sang kapten, Cristiano Lucarelli sebagai simbol perjuangan kaum kiri Italia. Tak heran jika keberadaan fans Livorno banyak mengundang pertikaian dalam setiap pertandingan, karena mereka dikelilingi oleh orang-orang “kanan” yang loyal, namun, mereka masih tetap bertahan dengan “kesendiriannya” melawan arus di negeri Pizza tersebut.


Italia sebagai negara yang memiliki sejarah politik yang panjang, rasanya sudah lumrah jika sering terjadi gesekan-gesekan berlatar belakang politik antar supporter ketika tim nya sedang bertanding baik itu melalui banner-banner raksasa, atau dengan banter chants antar suporter garis kerasnya yang di kenal dengan sebutan Ultras, bahkan tidak jarang berakhir dengan bentrok antar suporter yang seakan-akan sudah menjadi identitas di sepakbola Italia, terlebih jika sedang berlangsungnya derby Della Capitale yang mempertemukan AS Roma dan Lazio yang memang bersebrangan, baik sisi politiknya atau kehidupan sosial. Untuk diketahui, fans Lazio yang berhaluan fasisme di huni oleh fans berduit, dan sangat bertolak belakang dengan AS Roma yang berhaluan kiri, yang identik dengan kelas menengah ke bawah. 

Kebencian kedua tim ibukota Italia ini memang sudah mendarah daging, saking bencinya, fans Lazio pernah meminta tim kesayangannya untuk mengalah pada inter Milan pada musim 2009-2010 agar memudahkan Inter untuk meraih Scudetto, dan ketika itu Inter sedang bersaing ketat dengan Roma dalam perburuan gelar juara, ironisnya disaat yang bersamaan, Lazio sendiri sedang berjuang lolos dari zona degradasi dan terancam turun kasta  ke Serie B. Disini, kita bisa melihat dengan jelas kalau fans Lazio sangat tidak senang jika AS Roma mengangkat piala, bahkan mereka dengan sukarela mengorbankan club kesayangannya sendiri untuk berlaku curang.


Sedikit cerita tentang kekejaman Mussolini, ketika piala dunia tahun 1938 berlangsung di Perancis, ketika itu Italia sebagai salah satu pesertanya  lolos ke final dan berhadapan dengan Hungaria di partai puncak. Sadar dengan ancaman Hungaria yang saat itu sedang kuat-kuatnya, Mussolini dengan segala kekuasaanya mengancam akan membunuh seluruh pemain Italia jika gagal membawa pulang trofi piala dunia. Tapi, beruntunglah tuhan masih amat sayang dengan skuat Gli Azzuri, karena tak ada satupun pemain italia yang meregang nyawa karena mereka berhasil memenangkan pertandingan dengan skor mencolok 4-0. Akan tetapi, cerita tak hanya berhenti disitu, bahkan lebih heroik lagi, karena tidak ada raut wajah merintih sedih yang diperlihatkan pemain Hungaria, malah, dengan kekalahan itu para pemain merasa bangga. Seperti yang diungkapkan kiper mereka saat itu Antal Szab√≥ “tidak masalah gawang saya kebobolan empat gol, setidaknya kami sudah menyelamatkan nyawa mereka (pemain italia) dan itu lebih baik daripada kami juara tapi dengan cara membunuh secara tidak langsung orang-orang yang tak berdosa”.

Tidak jauh beda dengan Mussolini di italia, Jendral Franco juga melakukan hal yang sama di sepakbola spanyol, bahkan bisa dikatakan lebih parah lagi karena sang jendral lah yang mengatur semua urusan tetek bengek liga, sang jendral memonopoli setiap club di spanyol, baik dalam hal gelar, ataupun identitas club, sehingga tidak heran jika Real Madrid yang menjadi kebanggaan franco merajai spanyol dan bahkan eropa selama franco berkuasa. Spanyol sendiri merupakan negara yang memiliki beberapa etnis didalamnya, seperti Andalusia (Sevilla, Malaga, Granada, Real Betis), Castilla (Real Madrid, Atletico Madrid) , Basque (Athletic Bilbao, Real Sociedad), Catalan (Barcelona, Espanyol). Bahkan dua etnis terakhir masih menyuarakan kemerdekaan mereka dari negara Spanyol sampai sekarang. 


Kebencian antara etnis Basque dan Catalan terhadap Spanyol ( khususnya Madrid ) sangat terasa terlihat jika kedua club ini bertanding melawan Real Madrid yang merupakan jantung negara Spanyol, setiap Athletic Bilbao atau Barcelona bertemu el real kedua fans mereka pun selalu membawa lambang kedaerahannya masing-masing sebagai identitas, kita tidak akan bisa melihat bendera Spanyol berkibar di San Mames atau Nou Camp, stadion beserta isinya di pastikan akan di sesaki bendera etnis Basque dan Senyera khas Catalonia dengan nyanyian-nyanyian anti Franco, tidak hanya itu fans Barcelona secara berani mengungkapkan diri ingin berpisah dari Spanyol setiap El Clasico digelar. Sedangkan didaerah Basque, masih terdapat pejuang-pejuang ETA yang hingga saat ini masih terus berjuang untuk kebebasan rakyat Basque dari Tirani kerajaan Spanyol 


 Tidak hanya fans, para pemain yang memiliki darah Basque dan Catalan juga melakukan hal yang hampir sama, bahkan amat sama, dan jelas. Ketika Spanyol memenangi piala dunia 2010 dan uero 2012 tidak ada kekompakan dalam selebrasi tim, hanya pemain yang berasal dari Madrid saja yang mengalungkan bendera Spanyol di tubuh mereka, sedangkan pemain lain seperti Fernando Llorente malah bangga mengenakan bendera Basque nya, dan juga beberapa pemain Barcelona yang memakai bendera senyera khas Catalan dalam merayakan keberhasilan Spanyol meraih gelar juara.


Tapi tidak semua club yang berasal dari kota Madrid memiliki fans yang berhaluan sayap kanan, terletak di pinggiran kota, Rayo Vallecano mencoba melawan derasnya arus yang mengelilingi mereka. Dengan segala kesederhanaan, kebersamaan hakiki khas kaum pekerja yang ditawarkan, cukup jelas menggambarkan perbedaan yang terjadi antara club ini dengan penghuni kota Madrid lainnya. Tidak hanya fans, tapi para pemain, dan petinggi club pun ikut menjunjung tinggi nilai-nilai sosialisme yang biasa di refleksikan melalui spanduk-spanduk raksasa ataupun chants-chants dari suporter. Sebuah kolaborasi indah yang menyatukan tiga elemen penting dalam sebuah tim dalam menjunjung tinggi sebuah ideologi.

Perbedaan yang cukup mencolok terjadi di sepakbola Inggris, sebagai negara yang mengklaim dirirnya sebagai pencetus olahraga ini, massa sepakbola Inggris seakan acuh dengan pemikiran-pemikiran politik yang ada, sehingga gesekan-gesekan yang terjadi antar fans bola di Inggris lebih di karenakan isu sosial ekonomi atau agamanya. Hal ini terjadi di karenakan penduduk Inggris mayoritas berasal dari kelas buruh sehingga kita hampir tidak bisa melihat isu-isu ideologi yang disajikan antar seporter jika terjadi keributan. Ada fakta menarik yang terjadi di sepakbola Inggris ketika Iron Lady, Margareth Teatcher memimpin negara monarki itu pada periode 1979-1990. 

Sebagai kader Partai Konservatif Margareth Teatcher sontak menjadi public enemy bagi para pencinta sepakbola Britania Raya yang “dikuasai” oleh kelas pekerja yang selalu ditindas sepak terjangnya oleh orang-orang konservatif melalui kebijakan yang dikeluarkan, bahkan pelatih legendaries Manchester United, Sir Alex Ferguson yang memang berasal dari kaum buruh Skotlandia sangat membenci dan menudingnya sebagai pembunuh kaum pekerja didaratan Britania Raya. Dan ketika Margareth Teacher meninggal pada 2013 silam, tak sedikitpun terlihat raut kesedihan dari publik sepakbola inggris akan kematiannya, bahkan mereka cenderung bahagia dengan meninggalnya si “wanita besi”.

Persaingan antar suporter di Inggris lebih di karenakan faktor ekonomi, salah satunya terjadi antara musuh yang tak bisa dipisahkan, Manchester United vs Liverpool. Isu sosial ekonomi sangat kental jika kedua tim ini bertanding. Liverpool yang dahulu di kenal sebagai kota pelabuhan dan menjadi tulang punggung pendistribusian barang baik yang keluar ataupun masuk ke Inggris dan mayoritas penduduk Liverpool menggantungkan hidupnya sebagai pekerja pelabuhan, sedangkan Manchester sangat dikenal sebagai kawasan industri yang menjadi jantung ekonomi Inggris. 

Dalam setiap melakukan kegiatan industrinya, setiap barang yang masuk dan keluar harus melalui pelabuhan Liverpool yang membuat pengeluaran warga Manchester membengkak, hal ini terjadi karena jarak antara kedua kota ini sangat jauh, sehingga berakibat pada membengkaknya pengeluaran yang dilakukan warga Manchester. awal permusuhan Liverpudlian dan Manchunian dimulai ketika otoritas di Manchester mulai membangun pelabuhan sendiri yang bertujuan untuk menekan biaya produksi mereka, dan meringankan beban ekonomi warga. Kebijakan ini tak ayal membuat penduduk Manchester senang bukan kepalang karena mereka tidak perlu mengeluarkan uang tambahan lagi, tapi di sisi lain hal ini seolah menjadi bencana bagi penduduk Liverpool karena mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran yang selama ini menggantungkan hidup mereka melalui kegiatan pelabuhan. 

Inilah yang melatarbelakangi permusuhan abadi antara fans Liverpool dan Manchester united sampai saat ini dan fakta unik mengenai pihak club yang seolah-olah mengharamkan pemain mereka menyebrang ke club rival pun menjadi bumbu tersendiri dalam tiap laga yang dipertontonkan.

Para pemikir-pemikir masa lalu yang menciptakan komunis-sosialisme, liberal-kapitalisme, dan fasisme memang sudah lama tiada tapi buah pemikiran mereka sudah banyak merubah dunia menjadi lebih baik dan telah menjadi bumbu penyedap rasa di dunia sepakbola dengan segala ceritanya, karena sesungguhnya setiap ideologi itu menawarkan kedamaian, tapi sejarahlah yang menciptakan kekejaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar