Minggu, 28 Juni 2015

Karena Reporter Adalah Kunci



Dalam setiap pertandingan sepak bola, terlebih bagi kita pecinta bola yang hanya bisa menikmati pertandingannya melalui layar kaca, peran reporter sangat vital posisinya untuk dapat merangsang emosi jiwa para penontonnya. Tanpa adanya reporter, siaran bola dinilai janggal bagi berbagai kalangan. Sebagai olahraga keras dan berisik, sepak bola secara alamiah memang diwajibkan menghadirkan sosok-sosok pegantar pertandingan agar pertandingan sepak bola lebih terasa “hidup” dan bergairah bagi para penikmatnya yang berasal dari layar kaca.

Sebelum maraknya era digital seperti yang kita rasakan saat ini, para “penyaji” pertandingan ini sudah lebih dulu heboh saat sepak bola hanya bisa dinikmati melalu saluran radio saja, bapak saya pun sempat menjadi penikmat pertandingan bola melalui siaran radio. Menurut beliau, walaupun tidak bisa melihat secara visual, tetapi dia tetap bisa menikmati pertandingan tersebut seolah sedang berada di tribun penonton. Jelas faktornya adalah sang reporter yang mampu merangsang dan membuat perasaan pendengarnya bergejolak tanpa henti akibat kejadian-kejadian diatas lapangan yang digambarkan sedemikian rupa oleh si penyiar radio tersebut.

Di era modern seperti ini peran komentator pun semakin penting saja dikancah sepak bola dunia, di setiap negara, para penyaji pertandingan ini pun memiliki karakteristiknya masing-masing dalam mengemas jalannya pertandingan. Kita tentu sangat lumrah mendengar nama-nama seperti John Champion dan Jim Beglin yang sudah amat terkenal baik di dunia nyata maupun maya, selain rutin menjadi pundit di ajang liga Inggris dan liga Eropa lainnya, keduanya juga mengisi suara di ajang Pro Evolution Soccer ( PES ) — yang merupakan permainan virtual sepak bola yang sangat digandrungi orang-orang saat ini.

Tapi bukan merekalah yang menjadi komentator bola terbaik sepanjang masa, setidaknya itu menurut saya. Karena, dibelahan dunia lain pun masih sangat banyak komentator yang mampu memandu pertandingan lebih baik lagi dari mereka berdua, tepatnya di Amerika Latin yang baru saja menggelar ajang Copa America 2015 di Chili. 

Sang komentator ajang Conmebol ini memang dikenal memiliki ciri khasnya sendiri, yaitu meneriakkan kata “Goooooooool” yang cukup lama ketika ada pemain yang berhasil mencetak gol, mungkin sekitar 15 detik ia berteriak hanya untuk satu kata “gol” itu saja. Saya tidak tahu namanya, terlebih lagi rupa-nya, tapi saya akan selalu ingat suaranya dan gayanya ketika mendengungkan “gooool” dengan syahdu nya. Mulai dari ajang Copa Libertadores, Copa America, hingga kejuaraan yang ada di kawasan Amerika Selatan, selalu mempercayainya untuk memandu penikmat bola.

Jika di luar negeri sana, mereka sebagai pemandu pertandingan bisa menerjemahkan suatu pertandingan secara elegan, lalu, bagaimana yang terjadi dengan reporter yang ada di Indonesia? Saya sangat yakin kalau kalian selalu mendengar kata “jegeeer”, “jebreeeeet”, “ahayyyy”, atau mungkin yang sedang mewabah saat ini “ganteng maksimal” dalam setiap pertandingan ISL atau timnas Indonesia bertanding!!! kata-kata itulah yang menjadi jati diri pemandu sepak bola tanah air. Tidak ada yang salah memang dengan kata-kata tersebut, tapi, nyamankah kita sebagai penikmat bola mendengar kata-kata itu? 

Mungkin buat sebagian orang, itu adalah bagian dari kreativitas dan ekspresi diri dari seorang reporter pertandingan, tapi buat saya dan beberapa teman sejawat yang lain, itu adalah hal yang menjijikkan yang bisa merusak khasanah pertandingan sepak bola. Malah, terkadang, saya berharap dalam setiap pertandingan di Indonesia, baik liga atau timnas, tidak terjadi gol supaya pemandu pertandingan tidak perlu mengeluarkan “bahasa planet” tersebut.  

Dalam lubuk hati paling dalam, tentu kami ingin melihat timnas menjebol gawang lawan, tapi sering juga terlintas dalam hati, kami tidak sudi melihat kegagahan pemain-pemain Indonesia dengan kerja kerasnya untuk mencetak gol tercoreng karena reporter pertandingan mengeluarkan bahasa yang teramat sangat aneh bin ajaib itu

Yang bikin kami sakit hati adalah kemunculan bahasa “jeger” dan “ganteng maksimal” itu tak lain dan tak bukan dipelopori oleh sponsor yang menaungi mereka dalam menyiarkan langsung pertandingan sepak bola. Ini sungguh sangat di sayangkan, karena dibalik membludaknya sponsor yang ingin berpartisipasi di kancah sepak bola tanah air, mereka juga menyimpan ambisi terselubung dengan mewajibkan reporter pertandingan membudayakan tagline produk mereka yang memang sangat nyeleneh itu. Sah-sah saja sebenarnya jika mereka ingin mendapat keuntungan, tapi haruskah reporter meneriakkan tagline mereka ketika gol terjadi? Tidak cukup kah uang yang mereka dapat melalui iklan atau bahkan catalog produknya yang mereka pajang rapi di studio TV tersebut?

Berbeda dengan bung “jebret” dan bung “ahay” yang memang tidak mewakili produk manapun dalam tiap selebrasinya. Tapi, toh tetap saja menggelikan mendengar ocehan mereka ketika terjadinya gol. Dalam beberapa kesempatan wawancara, kedua reporter bola ini mengaku sengaja mengeluarkan kata-kata tersebut sebagai “tanda pengenal” mereka dikancah pertelevisian Indonesia. Tapi lagi-lagi, haruskah mereka memakai bahasa yang entah apa arti dari kata “jebret” dan “ahay” itu???. 

Dalam pertandingan sepak bola, khususnya yang disiarkan televisi, haram hukumnya jika tidak ada reporter yang memandu jalannya pertandingan. Seseru apapun pertandingan itu, sekeras apapun permainan yang diperagakan kedua tim, atau bahkan seluar biasa apapun atmosfer  dalam stadion, tanpa ada reporter pertandingan, bisa dipastikan pertandingan akan terasa hambar, tanpa reporter pula kita tidak akan tahu informasi penting mengenai pertandingan yang sedang berjalan, baik statistik pertandingan, data pribadi si pemain, club, dan lainnya yang berkaitan dengan pertandingan tersebut.

Negeri kita memang termasuk negeri yang cukup lucu dalam berbagai hal, baik itu masyarakatnya yang memang suka bersendau gurau, pemerintahnya yang lucunya suka kebangetan dalam memimpin bangsa, atau mungkin acara televisi yang semakin lama semakin “maksa” untuk menjadi lucu. Kelucuan kita sebagai rakyat Indonesia pun semakin tergambar dengan munculnya reporter-reporter bola yang seharusnya tidak perlu lucu untuk menyajikan pertandingan, tetapi dipaksa lucu oleh perusahaan televisi terkait, atau memaksakan lucu dengan dalih identitas diri demi panjangnya “nyawa” mereka di dunia pertelevisian tanah air. Tidak heran nama mereka pun berubah menjadi bung Hadi “ahay’ Gunawan, Valentino “jebret” Simanjuntak, Rendra “jeger” Sudjono. Nyatanya, memang sekarang ini hanya orang-orang aneh lah, dan berani beda ( jika tidak mau dibilang berani malu ) yang akan dilirik oleh pihak TV dan bisa bertahan lama di dunia jurnalistik.

Sejatinya kita sebagai penonton memang perlu hiburan yang mesti disajikan oleh para reporter pertandingan, tapi, tentu bukan hiburan dalam bentuk ahay, jebret, jeger, dan terlebih ganteng maksimal yang kita kehendaki, melainkan hiburan dalam bentuk informasi seputar pertandingan, data dan statistik pertandingan lah yang kita butuhkan untuk dapat menyelami pertandingan sepak bola lebih dalam lagi hingga mencapai dasar.

Sumber gambar : startupnation.com
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar