Selasa, 12 Mei 2015

Satu Orang Yang Pengaruhi Satu Tim

Apa yang terjadi jika sebuah club terlalu bergantung pada satu orang saja? Tentu permainan tim pun hanya bergantung pada seorang tersebut. Lalu apa yang terjadi jika orang tersebut mengalami cidera? Tentu akan berdampak buruk terhadap tim. Dan apa yang akan terjadi jika orang itu pindah ke club lain? Bisa jadi club yang di tinggalkan akan mengalami kesulitan walaupun di sisi lain pihak club mendatangkan pemain atau pelatih baru. Berikut adalah club-club yang mengalami kemunduran ketika di tinggal oleh sosok penting dalam tubuh club:

1.         Manchester United ( ketika di tinggal Sir Alex Ferguson )
Bukan Wayne Rooney, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, apalagi Patrice Evra yang berpengaruh di United. Sir Alex Ferguson lah satu-satunya orang yang paling berpengaruh di tubuh MU, kebersamaan yang terjalin selama lebih 25 tahun telah membuahkan segudang trofi. Semua kejuaraan yang pernah di ikuti sudah di kuasai, baik domestik dan Internasional, dari liga Inggris sampai piala dunia antar club. Semakin menua nya sang giver dari Skotlandia tersebut dan keinginannya untuk menikmati masa pensiunnya pun akhirnya tak mampu di bendung lagi, sempat menunda beberapa tahun akhirnya waktu jua yang memisahkan kebersamaan kedua nya. Musim 2012-2013 adalah musim terakhir punggawa MU menikmati hair dryer treatment ala Fergie yang pada musim terakhirnya berhasil memberi kado perpisahan yang indah berupa trofi liga Inggris ke 20.
Tanpa di nahkodai oleh Ferguson, club kota industri tersebut langsung kelimpungan menghadapi kompetisi pada musim berikutnya. Fergie yang rutin menonton United di tribun pun tak bisa mengangkat moral pemain MU yang seakan kehilangan arah permainan sepeninggal Ferguson. Pada akhirnya tim asuhan David Moyes hanya mampu “duduk manis” di peringkat 7 yang kemudian di ikuti dengan pemecatan sang suksesor.

2.         Inter Milan ( ketika di tinggal Jose Mourinho )
Orang mengatakan kalau dia adalah seorang pembual dan bermulut besar, tapi semua bualan dan omongannya mampu di jawab dengan sederet trofi juara yang pernah di rasakan. Inter Milan adalah salah satu club besar yang berhasil membuktikan bualan dan omongannya tersebut, La Beneamata di bawa bertahta di singgasana Italia bahkan meraih treble di tahun kedua nya menukangi Inter Milan. Liga Italia, Coppa Italia, dan liga Champions menjadi koleksi nya yang sekaligus menjadikan Inter menjadi satu-satunya tim Italia yang berhasil meraih 3 gelar dalam satu musim. Raihan treble tersebut adalah gelar terakhir yang bisa di persembahkan Mou  karena pada tahun berikutnya The Special One hijrah ke Real Madrid.
“hilangnya” Mourinho dari kota mode juga membuat Inter menghilang dari perebutan Scudetto pada tahun-tahun berikutnya. Gonta-ganti pelatih toh tak membuat permainan Inter membaik bahkan menjelang musim ini berakhir Inter masih berada di luar zona Eropa, lebih tepatnya hanya berada di posisi ke 8 klasemen.

3.         Tottenham Hotspurs ( saat di tinggal Gareth Bale )
Tottenham Hotspurs menikmati masa-masa indah persaingan empat besar BPL selama masih ada Gareth Bale. Wales Wizard yang pada awal karirnya bermain sebagai bek kiri terus ber transformasi menjadi winger yang haus gol. Pada masa kepemimpinan Andre Villas Boaz pemain kidal ini bahkan tak jarang di mainkan sebagai ujung tombak dan seperti membuat pemain lainnya “tidak bermain” karena lebih dari separuh gol Spurs pada musim itu di cetak pemain lulusan akademi Southampton tersebut. Atas performa nya tersebut Bale pun di anugerahi pemain terbaik liga Inggris pada musim 2012-2013.
Sadar akan potensi yang di milikinya, Tottenham langsung membandrolnya dengan harga tak wajar senilai 100 juta euro dan sudah pasti hanya Madrid yang mampu membelinya. Kepergian Bale seolah membuka “kran” transfer besar-besaran yang dilakukan Spurs. Mulai dari Roberto Soldado, Cristian Erriksen, Gylfi Sigurdsson, Pauliho, sampai Erik Lamela untuk menutupi “lubang” yang di tinggalkan Bale. Lalu apa yang terjadi kemudian? Totenham hanya menjadi bulan-bulanan tim lain dan tak bisa berbuat apa-apa tanpa seorang Gareth Bale, pemain baru yang di beli pun seolah tenggelam bersama nilai transfer Gareth Bale ke Spanyol. Dan pada akhirnya pun AVB harus mengucapkan sayonara lebih cepat sebelum musim 2013-2014 berakhir.

4.         Liverpool ( saat di tinggal Luis Suarez )
Liverpool yang bertumpu pada Suarez selama 3,5 tahun kebersamaannya jelas selalu menebar ancaman bagi club peserta liga Inggris lainnya. Terlepas dari semua tingkah polanya di lapangan El Pistolero tetaplah menjadi Striker buas yang di takuti lawan-lawannya. Puncaknya musim lalu ketika dia nyaris membawa Liverpool menjuarai liga Inggris dan hampir seluruh gol Liverpool di cetak Suarez bersama duetnya Daniel Sturridge yang membuat dia meraih sepatu emas Eropa dan pemain terbaik liga Inggris pada musim 2013-2014
Setali tiga uang Tottenham Hotspurs, Liverpool juga merasakan hal yang sama. Jika ada istilah “club kembar” mungkin itu bisa di sematkan ke Spurs-Liverpool. Tepat setahun berselang Liverpool menjual  pemain andalannya tersebut juga ke Spanyol, tepatnya ke Barcelona. Disini lah istilah “kembar” bisa kita sematkan untuk kedua club ini, kepergian satu pemain kunci dengan harga selangit di barengi dengan kedatangan setumpuk pemain yang bisa dikatakan “tidak jelas” kualitasnya. Hampir semua pemain baru yang di datangkan Liverpool tidak memberi dampak apa-apa bagi Liverpool. Bahkan Raheem Sterling yang bermain luar biasa musim lalu juga ikut-ikutan menjadi “biang kerok” kemunduran performa Liverpool.
Pertanyaan nyeleneh pun muncul. Apakah Rodgers akan terkena dampak yang sama dari beberapa diatas? Di pecat setelah kehilangan sosok orang yang berpengaruh dalam tim? Will see


Tidak ada komentar:

Posting Komentar