Minggu, 10 Mei 2015

Rasisme, Bumbu Yang Semakin Menjadi Racun



Pernah kah anda melihat atau setidaknya mendengar kampanye “Say No To Racism” dalam setiap pertandingan sepak bola, di belahan dunia manapun pertandingan di mainkan, FIFA selaku federasi tertinggi selalu mendengungkan kalimat tersebut. Tujuannya jelas, untuk memerangi rasisme di dunia sepak bola. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah rasisme benar-benar bisa hilang? Jawabannya tentu tidak. Tapi kalau pertanyaannya apakah kampanye tersebut bisa mengurangi kasus rasisme? Jawabannya, iya.
Menghilangkan rasisme dari sepak bola seperti “mencari jarum dalam jerami”, hampir mustahil. Alasan saya berani mengatakan demikian di karenakan berbeda nya budaya tiap yang membuat karakter orang yang berbeda pula, alasan lain yang cukup masuk akal adalah sejarah idiologi politik masa lalu setiap negara juga sangat mempengaruhi pola fikir masyarakat setempat. Kenapa saya mengatakan idiologi politik cukup berpengaruh? Alasannya jelas, dari sekian banyak kasus rasisme terjadi di Spanyol dan Italia.
Lalu, apa hubungan kedua negara ini dengan idiologi politik yang saya maksud? Jika kita berpijak pada sejarah kedua negara tersebut tentu kita bisa mendapatkan “benang merah nya” mengingat kedua negara ini menjadi simbol Fasisme di Eropa Selatan.
Fasisme adalah paham yang sangat membanggakan bangsa nya sendiri dan memandang rendah atau cenderung tidak menganggap keberadaan bangsa lain, dengan kata lain Fasisme dapat di artikan sebagai suatu sikap nasionalisme yang berlebihan.
Dari pengertian Fasisme diatas kita bisa menyimpulkan alasan kenapa bangsa Spanyol dan Italia sangat rentan dengan kasus rasisme. Berbekal sejarah masa lalu masyarakat disana masih tabu dengan orang yang berkulit hitam dan seolah menatap warga kulit hitam dengan pandangan sinis seolah bertanya “bagaimana ada orang seperti ini hidup disini?”. Mungkin kita masih ingat kasus yang menimpa Samuel Eto’o ketika masih memperkuat Barcelona, pemain berdarah Kamerun tersebut mendapat hinaan yang tak pantas ketika tim nya menghadapi Real Zaragoza dalam lanjutan La Liga. Selama pertandingan berjalan, setiap Eto’o menyentuh bola fans tuan rumah “menyambutnya” dengan menirukan suara monyet, sontak kejadian ini membuat Samuel Eto’o murka dan langsung meninggalkan lapangan dengan segala amarah yang di simpan dalam benak nya.
eto'o bereaksi setelah mendapat ejekan rasisme dari suporter lawan

Atau bagaimana terkejutnya  kita ketika pelatih karismatik Spanyol Luis Aragones menyemprot pemain nya Jose Antonia Reyes dengan mengatakan bahwa Thierry Henry hanya seekor kera hitam yang tak patut di tiru (ketika itu Reyes adalah teman satu tim Henry di Arsenal). Kejadian heroik yang mendapatkan simpatik banyak orang sempat terjadi di La Liga Spanyol ketika bek Barcelona Dani Alves di lempari pisang ketika hendak menedang bola melalui tendangan sudut, tanpa berpikir panjang Alves langsung mengambil pisang tersebut dan memakan nya dengan nikmat. Kejadian ini pun secara tidak sengaja menjadi kampanye baru bagi pemain bola untuk memerangi rasisme dan membuat aksi Alves tersebut mengilhami banyak orang.
Dani Alves memakan pisang yang di lempar tepat di hadapannya

Apa yang terjadi di Spanyol tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Italia, negara yang dulu nya di kuasai oleh Benitto Mussolini ini memiliki kasus Rasisme yang cukup banyak. Pada 2012 lalu ketika AC Milan melakoni laga persahabatan melawan club semi profesional Pro Patria. Pemain andalan mereka Kevin Prince Boateng menjadi sasaran rasisme fans tuan rumah, sepanjang pertandingan Boateng mendapat olokan fans lawan yang bernada rasisme, banyak dari mereka yang menirukan suara monyet atau memperagakan gaya seekor kera. Tak tahan di hini seperti itu kesabaran nya pun habis, di tengah-tengah pertandingan yang masih berjalan Boateng langsung mengambil bola dan tanpa berfikir panjang langsung menendang bola ke arah penonton, lalu dengan berpeluh keringat yang di penuhi amarah Boateng pun langsung meninggalkan lapangan. Aksi Boateng ini mendapat pujian dari segala lapisan pencinta bola yang menganggap sikap nya sebagai simbol perlawanan rasisme di sepak bola.
Boateng menendang bola ke tribun penonton yang menghina nya

Sedikit berbeda dengan apa yang di alami oleh Mario Balotelli ketika menyudahi petualangannya di ranah Britania Raya. Kembali ke Italia dan memperkuat raksasa Italia AC Milan balotelli secara otomatis menjadi Public Enemy bagi fans Inter Milan, dan benar saja ketika kedua tim bertemu balotelli langsung di hujani cercaan dan makian dari Interisti yang memadati Guessepe Meazza. Chants berbau rasisme menjadi kata yang selalu di dengarkan sepanjang laga berjalan bahkan beberapa fans Inter membawa boneka raksasa berbentuk Pisang untuk menghina Balotelli. Sebagai catatan Mario Balotelli adalah mantan pemain Inter Milan dan bagian dari akademi Inter.
Tapi apa yang terjadi di Italia dan Spanyol tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan yang terjadi di Rusia. Kasus rasisme di negara bekas Uni Soviet ini bahkan lebih mengerikan, setidaknya inilah yang di alami club Spartak Moscow dan Torpedo Moscow. Kedua fans tim ini mengharamkan jika club nya menggunakan jasa pemain berkulit hitam, jika club tidak mendengarkan “instruksi” mereka maka mereka pun tak akan segan-segan mengancam pemain dan manajemen club, ancaman yang mereka lontarkan pun bukan main-main karena mereka tidak akan berfikir dua kali untuk merealisasikan ancaman tersebut. Ancaman yang mereka keluarkan tergolong mengerikan karena mereka bisa saja menculik, menyandera kerabat sang pemain atau bahkan membunuh mereka. Hal ini tentu sangat berlebihan dan tidak bisa di terima dengan akal sehat.
Di antara 5 liga top Eropa mungkin hanya Inggris dan Perancis yang benar-benar bisa memerangi rasisme. Banyak nya orang berkulit hitam yang memang penduduk asli Inggris dan menumpuknya imigran Afrika yang ada di Perancis bisa menjadi alasan yang cukup logis minimnya kasus rasisme di kedua negara tersebut. Keberagaman penduduk dalam suatu negara membuat masyarakatnya bisa lebih menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang ada antar penduduknya.
para pemain makan pisang sebagai kampanye anti rasisme

Tantangan memerangi rasisme setiap tahun nya di prediksi akan semakin sulit karena semakin banyak bermunculan kaum-kaum ekstrimis di belahan dunia. Di Jerman, Inggris, dan Belanda sudah bermunculan gerakan-gerakan supporter yang berhaluan kanan yang menyebut mereka sebagai gerakan anti-salafi dan anti-semit yang saat tertentu bisa saja mengganggu keindahan sepak bola, yang memecah belah antar pencinta sepak bola.
Sejatinya, sebagai penikmat si kulit bundar kita tentu hanya ingin di hibur oleh permainan indah setiap tim di arena rumput hijau, bagaimana setiap tim ingin merebut hati supporter melalui permainan cantik nya dan memperkuat tim nya dengan mendatangkan pemain-pemain berkualitas tanpa adanya trik-trik yang menjijikkan yang tersaji di lapangan atau luar lapangan. Tidak ada kata damai untuk rasisme begitu juga tidak ada kata berhenti untuk terus memerangi rasisme di dunia sepak bola. #SayNoToRasicm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar