Kamis, 21 Mei 2015

menakar cinta terhadap sesama dalam keindahan sepakbola

Sebagai insan paling sempurna di muka bumi ini, kita manusia pasti pernah atau bahkan sering merasakan jatuh cinta. Cinta yang kita rasakan tidak melulu antar sesama umat manusia tapi terhadap sesuatu yang berbeda, misalnya cinta terhadap sebuah club sepakbola. terdapat beberapa persamaan  ketika kita mencintai seseorang dengan kita mencintai sepakbola.

Jika pada umumnya kita mencintai pasangan kita karena kecantikan atau ketampanannya maka dalam sepakbola kita tentu mencintai club tersebut karena keberhasilannya meraih banyak gelar. Atau ketika kita mencintai pasangan kita akan kebaikan hati nya walaupun tak berparas rupawan maka kita akan mencintai sebuah club bola karena keindahan permainan yang di pertontonkan sekalipun club tersebut tidak memenagkan sebuah gelar.

Mungkin ada juga yang mencintai seseorang hanya bermodalkan tampang rupawan tapi memiliki hati yang buruk. Jika dalam sepakbola, orang seperti ini mungkin akan saya masukkan ke dalam kategori orang yang hanya mencintai club nya karena gelar semata tanpa menyajikan permainan yang enak untuk di tonton. Pertanyaannya adalah apakah ada club seperti ini? Tentu ada. Atau mungkin kita hanya akan mencintai seseorang yang ingin yang kaya dan hanya akan menghamburkan kekayaan pasangan kita, dalam sepakbola mungkin ini bisa kita masukkan dalam kategori orang-orang yang hanya mencintai club nya karena membeli pemain-pemain mahal dan selalu menuntut club nya untuk terus menang.

Tapi apa jadinya ketika kita menganalogikan seorang yang hobi selingkuh? Sudah pasti orang ini tiap musimnya akan mengganti club idola nya sesuai dengan club mana yang mampu meraih titel juara. Namun, apa kabar dengan seorang playboy atau playgirl? Dalam hal sepakbola, mereka adalah orang-orang yang mempunyai club idola nya di setiap liga ternama di Eropa. Sehingga, jika salah satu club nya ada yang gagal maka masih ada club di liga lainnya yang bisa meraih kesuksesan. Nah, bagaimana dengan ini, ketika kita mencintai seseorang hanya untuk melampiaskan hasrat seksual kita? Saya tidak ingin menjawab ini. So, silahkan kalian jawab versi kalian sendiri ya.

Cinta adalah suatu keindahan hakiki yang berasal dari nurani setiap umat manusia. Seperti, mencintai sesama manusia yang adalah suatu keindahan, pun dengan mencintai sepakbola, walaupun sepakbola tidak melulu berbicara tentang keindahan, sekalipun kita tidak pernah meragukan sebuah keindahan yang ditimbulkan dari sepakbola. Bedanya, kita punya cukup banyak waktu menikmati keindahan yang terpancar dari pasangan kita, tapi pada saat tertentu bisa saja keindahan itu menimbulkan kejenuhan dalam diri, dalam sepakbola kita juga sering melihat keindahan itu, tapi, sayangnya kita jarang bisa menikmati keindahan tersebut karena memang terjadi satu kali, bahkan hanya berlangsung dalam waktu yang cukup singkat. Namun, itulah yang membuat kita tidak akan pernah jenuh mencintai sepakbola, sadar atau tidak, mau tidak mau, suka tidak suka, kita tentu tidak ingin ketinggalan satu detik pun momen yang tercipta di lapangan sepakbola.

Cinta pada seseorang juga tidak selamanya menceritakan kegembiraan, ada saatnya cinta menimbulkan kekecewaan ketika di tinggal oleh orang yang kita cintai, begitupula dengan sepakbola yang terkadang membuat kita meringis dalam tangis. Semiris hati fans Manchester United ketika di tinggal Sir Alex Ferguson atau sekencang tangisan Steven Gerrard ketika menginjakkan kakinya di Anfield untuk terakhir kali.

Tidak semua orang mencintai apa yang kita cintai, jangankan orang lain, bahkan keluarga kita pun terkadang tidak sehati dengan pilihan hati kita. Itupun terjadi dalam sepakbola. Setidaknya itulah yang terjadi di Liverpool ketika dalam satu keluarga terdapat 2 perbedaan yang cukup mencolok di saat sang ayah menjadi fans Everton tetapi sang anak terlahir sebagai pendukung Liverpool, atau keindahan yang terjadi dalam keluarga bintang Juventus Claudio Marchisio yang beristrikan seorang pemuja Torino, rival abadi Juventus.

Dua contoh diatas dengan jelas mengajarkan kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain, kita juga tidak bisa memaksa orang lain mencintai apa yang kita cintai. Tapi dengan apa yang kita cintai, kita bisa menyatukan setiap perbedaan, permusuhan, bahkan kebencian sekalipun, karena kita hanya melihat kebencian dengan mata telanjang, berbeda halnya dengan cinta yang bisa Nampak jelas terlihat walau hanya dari mata hati setiap insan manusia yang terkadang sungkan di mengerti orang lain atau mungkin diri sendiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar