Sabtu, 23 Mei 2015

Catalan is Not Spain, Aceh Is Indonesia



Spanyol merupakan negara yang terletak di Eropa barat yang berbatasan langsung dengan Portugal, Perancis, dan Italia. Sebagai negara terbesar eropa keempat, Spanyol bisa dikatakan sebagai sedikit dari negara Eropa yang meiliki banyak suku dan bahasa. Seperti Basque, Catalonia, Andalusia. Bahkan di setiap daerahnya bahasa Spanyol diucapkan dengan dialek yang berbeda-beda.

Hampir sama halnya dengan Spanyol, Indonesia sebagai negara kepulauan juga memiliki beragam bahasa dan budaya. Menasbihkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi nyata nya tidak membuat kaku mulut orang-orang Indonesia yang bermukim di pelosok negeri untuk berbicara dengan dialek yang berbeda-beda pula. Orang jawa belum tentu mengerti bahasa Indonesia nya versi orang aceh walaupun sama-sama menggunakan bahasa Indonesia.

Tidak seluruh rakyat Spanyol bangga akan negaranya, bahkan banyak pula daerah-daerah yang iri dan sinis terhadap kota Madrid selaku ibukota negara. Penduduk Basque dan Catalan menuding Spanyol terlalu mementingkan kota Madrid saja dan meng-anak-tiri-kan daerah lainnya yang ada di Spanyol. Tak heran jika kedua daerah ini secara terang-terangan menentang Spanyol dengan Madridnya, bahkan di Basque sudah lama terbentuk Euskadi Ta Askatasuna ( ETA ) sebagai gerakan perlawanan untuk memerangi pemerintahan. Lain Basque lain pula Catalan, Barcelona selaku tanah yang di tempati warga Catalan memang tidak memiliki kelompok bersenjata seperti ETA, tapi soal nasionalisme ke-daerah-an penduduk Catalan tidak kalah, bahkan saya berani katakan penduduk Catalan lebih lantang bersuara tentang kemerdekaan Catalan. Barcelona yang memiliki club sepakbola terbaik dunia FC Barcelona pun “memanfaatkan” kegemilangan club Barcelona sebagai kampanye politiknya. Kita tentu cukup sering melihat spanduk-spanduk anti Spanyol ketika Barcelona bertanding, penduduk aslinya pun lebih senang bercampur bangga jika memakai bahasa Catalonia di kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan timnas sepakbola Catalan juga sempat terbentuk dan sudah melakoni satu pertandingan walaupun tak resmi.

Jika di Spanyol terdapat dua daerah yang ingin memerdekakan diri, maka di Indonesia, setidaknya, kita memiliki tiga kelompok yang tersebar di tiga provinsi yang menuntut kemerdekaan. Dari ujung timur Indonesia terdapat Operasi Papua Merdeka ( OPM ) dan Republik Maluku Selatan ( RMS ). Tapi tentu yang menyita perhatian dunia Internasional dan telah menghabiskan banyak waktu untuk berunding adalah Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ) yang terletak di ujung barat Indonesia, yang pada akhirnya “keajaiban” Tsunami lah yang mendamaikan Aceh dan pemerintah Indonesia. Sebagai daerah yang sangat penduduknya menggilai sepakbola Aceh tidak memiliki Club sepakbola lokal yang bisa di banggakan, sehingga orang Aceh tidak terlalu menggemari sepakbola dalam negeri. 
Kecintaan warga Aceh terhadap tim nasional pun baru muncul belakangan ini saja, itupun karena munculnya putra-putra daerah yang mengharumkan nama bangsa.

Kemunculan gerakan-gerakan bawah tanah tersebut pun memiliki cerita yang sedikitnya sama, ETA dan perlawanan rakyat Catalan muncul di Spanyol akibat kelamnya masa lalu pemerintahan Jenderal Franco. Bahkan sang Jenderal terlalu jauh mencampuri urusan sepakbola Spanyol ketika itu, pada masanya Jenderal Franco memaksa club-club seperti Athletic Bilbao ( Basque ) dan Barcelona ( Catalan )mengganti lambang kebesaran mereka sesuka hatinya. dan pada perjalanannya, tidak merata nya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Spanyol lah yang “berperan besar” sebagai penyebab eksistensinya gerakan-gerakan sayap kiri tersebut .

 Sementara di Indonesia juga tidak terlalu berbeda, terlalu terpusatnya pembangunan di Jakarta dan sebagian pulau Jawa menimbulkan kecemburuan dari daerah lain yang sebenarnya memiliki kekayaan yang sangat amat melimpah seperti Aceh dan Papua, tapi pembangunan disana sangat jauh tertinggal. Sudah sepuluh tahun GAM dan pemerintah Indonesia tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa acuh tak acuh warga Aceh terhadap Jakarta. Rakyat Aceh boleh jumawa akan sumbangan besarnya terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, mereka juga bisa bangga menerima kenyataan bahwa emas yang bertengger di ujung monas juga bagian sumbangan dari warga Aceh, Aceh juga patut bangga bahwa pesawat Garuda Indonesia yang sekarang menjadi sponsor Club ternama Inggris, Liverpool, mengawali penerbangannya melalui hasil sumbangan rakyat Aceh secara sukarela untuk membantu bangsa Indonesia. 

Untungnya tensi panas antara pemerintah Indonesia dan GAM tidak merembet ke urusan sepak bola seperti yang terjadi di Spanyol sana dengan Barcelona dan Athletic Bilbao nya. Mungkin hal ini bisa terjadi karena sepak bola Aceh memang tidak mampu berbicara lebih banyak di kancah Liga Indonesia. Mungkin juga dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar karena melihat kondisi keamanan di daerah Serambi Mekkah ini tidak kondusif, yaitu, ogahnya pemain luar berkualitas bermain untuk club Aceh atas pertimbangan keselamatan. Seiring perdamaian yang tercapai di bumi Aceh, euphoria rakyat Aceh akan sepak bola daerahnya mulai bergeliat lagi dengan munculnya club-club Aceh di pentas Indonesia Super League beberapa musim lalu dan tentu terpilihnya bocah-bocah Aceh untuk mewakili Indonesia di ajang Danone Cup U-12 di Perancis beberapa tahun lalu.
 Lebih dari kebanggaan sebagai orang Aceh, kita tidak perlu muluk-muluk menuntut merdeka. Merdeka tidak berarti rakyat Aceh hidup sejahtera ( lihat saja Timor Leste ). Tapi wajib hukumnya untuk pemerintah agar sadar dan melek dengan apa yang sudah di perbuat dan diperjuangkan rakyat Aceh pada masa kemerdekaan dulu. Dan, sebagai putra asli Aceh, saya bersyukur daerah paling barat Indonesia ini tidak jadi merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar