Sabtu, 23 Mei 2015

Bapak Sepak Bola Yang Sebenarnya



Terlahir sebagai generasi 90-an sudah barang tentu saya terlahir sebagai pecinta sepak bola Italia. Bukan karena liga lain tidak bagus tapi lebih dikarenakan faktor non teknis, ketika itu hanya liga Italia saja yang banyak disiarkan oleh TV swasta. Masih sangat jarang televisi menyiarkan liga Inggris ketika itu, apalagi liga Spanyol. Singkat cerita hati saya langsung kepincut dengan satu club besar Italia, club yang menghuni kota mode di Italia, club yang menjadi rumah besar bagi pemain-pemain hebat dari seluruh dunia ketika para competitor yang lain bangga memakai jasa pemain asli Italia. Ya, Internazionale Milan menjadi cinta pertama saya dalam memahami sepak bola dengan segala ceritanya.

Tapi tentu saya tidak akan berterima kasih kepada Inter karena memang bukan Inter yang menjodohkan saya kepada sepak bola. Selayaknya orang tua yang menjadi wali nikah pada anaknya, maka sudah sepatutnya saya berterima kasih dan mempersembahkan sungkem saya kepada bapak saya karena sudah mengawinkan saya dengan sepak bola. Ketika anak-anak lain seusia saya sibuk bermain dengan teman-temannya, saya juga sibuk, tapi, bukan bermain bersama teman melainkan sibuk menonton bola dengan bapak saya yang pada akhirnya membuat saya larut dalam euphoria dan mengacuhkan ajakan bermain dari teman-teman.

Mungkin harapan bapak mengenalkan saya pada sepak bola agar bisa mengikuti jejak nya sebagai pemuja AC Milan, tapi apa boleh di kata, jiwa berontak saya sudah muncul pada saat itu ketika saya lebih memilih memuja Inter Milan yang notabene rival sekota AC Milan. Ketika bapak sibuk mendoktrin saya akan kehebatan Paolo Maldini dan tajamnya sundulan Oliver Bierhoff “liat tuh, kayak gitu kalo main bola”. Itulah kalimat yang terucap dari mulut bapak. Tapi saya malah terhanyut dengan keindahan samba yang di bawa Ronaldo ke Inter Milan dan kecepatan Javier Zanetti dalam menggiring bola “pemain Milan ada gak yang bisa main kayak dia?”. Sahut saya membalas omongan bapak. Ratusan kali bapak meyakini saya bahwa AC Milan lebih baik dari Inter tapi ribuan kali saya mentahkan omongan orang yang sudah sangat amat berjasa ini.

Masih jelas dalam benak ini ketika tangisan Ronaldo mengiringi kegagalan Inter Milan meraih Scudetto pada laga pamungkas liga di tahun 2002 yang sekaligus membuat air mata saya meluncur tajam untuk pertama kalinya akibat sepak bola, yang sekaligus membuat bapak saya tersenyum “jahat” melihat tangisan saya, itulah pertama kali dan satu-satunya bapak sangat senang melihat saya menagis. Sepak bola, terutama liga Italia memberi arti penting dalam hidup saya, mengingat saya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan bapak, tapi melalui bola saya bisa menjadi lebih intim dengan bapak dan berbicara banyak tentang sepak bola. Dia lah corong ilmu utama saya dalam mengarungi sepak bola secara kaffah.

Tidak sehati dengan bapak di tingkat club, akhirnya saya menemukan kecocokan di tingkat yang lebih tinggi lagi, tim nasional. Kami adalah satu-satunya orang yang mendukung belanda di kampung ketika itu. Kami benar-benar bahu-membahu mendukung Belanda pada Euro 2000 dan saya langsung terpingkal-pingkal melihat kecepatan lari Marc Overmars di sisi lain bapak sudah lama mengagumi si kembar Frank De Boer. Saya tidak tahu persis kenapa saya bisa sangat mengidolai tim nasional Belanda, tapi yang pasti, bagi saya, bapak sangat mirip dengan Frank Rijkaard yang merupakan legenda sepak bola Negeri Tulip tersebut. Mungkin itu alasan yang sangat klise, tapi saya mau kata apa kalau seperti itulah nyatanya.

Gagalnya niatan bapak menjadikan saya seorang Milanisti nyata nya tidak menyurutkan niatnya untuk mencari pelampiasan, dan alhamduillah cita-citanya pun terwujud melalui cucu pertamanya yang sekarang menjadi Milanisti sejati. Yang anehnya adalah saya yang mengajari cucunya ( keponakan saya ) bermain bola dan orang pertama yang mengajaknya nonton bola, tapi apa mau di kata dia lebih memilih bersama dengan kakeknya mendukung AC Milan. Saya kena karma!. Pernah satu malam ketika pertandingan Derby antara AC Milan dan Inter Milan berlangsung dan kami bertiga pun menonton pertandingan itu secara Khusuk. Pertandigan yang pada akhirnya di menangkan Inter dengan skor mencolok 4-0 pun menjadi pelengkap hari saya ketika itu. Tapi sebenarnya bukan itu saja yang menjadikan malam saya bahagia, namun saya merasakan kami adalah benar-benar keluarga lintas generasi yang gila bola. bayangkan saja, sang ayah, anak, dan cucunya berkumpul dalam sunyinya malam dan semuanya terbalut indah dalam setiap debat-debat kecil yang tersaji selama pertandingan berjalan.

Kegilaan saya, bapak, dan keponakan saya pada sepak bola bisa di katakan sudah tingkat akut. Bagaimana tidak, bapak rela menghabiskan uangnya untuk membeli peralatan televisi agar tetap bisa menonton bola ketika siaran bola disana tidak bisa di nikmati akibat channelnya yang di tutup oleh pihak stasiun TV dan jadilah rumah kami kandang bagi seluruh pecinta bola sekampung. Kami selaku anak dan cucunya selalu disuruh untuk menyediakan cemilan-cemilan yang di lengkapi kopi hitam pekat khas Aceh dan bungkusan rokok aneka warna untuk menemani para tamu yang datang untuk menikmati “pesta” 

Sungguh itu menjadi pengalaman sepakbola yang menyenangkan, bahkan jauh lebih menyenangkan daripada kebiasaan nobar saya setahun belakangan ini.
Bertahun-tahun lamanya momen itu telah lewat tapi tidak ada satu memori pun yang terlewatkan dalam pikiran saya. Mungkin pula kecintaan saya terhadap Inter sedikit memudar seiring kedatangan Erik Tohir ke Appiano Gentille tapi kecintaan saya terhadap bapak selaku Tifosi Milan yang telah memberikan saya memori dan cerita indah akan sepak bola mustahil pudar, karena tanpa beliau mustahil pula saya menyukai sepak bola, mustahil juga si cucu ini mengikuti jejaknya.

Kecintaan bapak terhadap sepak bola pada akhirnya mencapai titik nadir ketika hobinya yang selalu ingin “menjadi saksi sejarah” tiap tengah malam yang di temani dengan setumpuk biji kopi dan gumpalan asap rokok merenggut sendi-sendi dan kekuatan tubuhnya perlahan demi perlahan.

 Demi kesehatan dan kecintaannya kepada kami semua dia pun rela mengurangi dan bahkan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan itu, karena, sebesar apapun cintanya terhadap sepak bola dia tidak akan pernah mau kompromi akan kecintaannya pada keluarga. Merasa semakin lemah dengan keadaanya, dia pun dengan lantang meminta saya untuk mengurangi kebiasaan nonton bola saat tengah malam. Alasannya jelas, bapak tidak ingin saya akan berakhir seperti dirinya. Bahkan demi saya pula, dia menguatkan dirinya untuk bangkit dari tidurnya sembari menahan rasa sakit yang sedang ia derita dan mematikan TV yang sedang saya tonton sambil berucap “jangan sampe wanda jadi sakit kayak bapak” dengan nada tinggi. Sontak kejadian itu membuat tangisan saya jatuh hingga membanjiri wajah, bukan karena di marahi, tapi karena sebuah kalimat singkat yang keluar dari suara renta nya yang tepat menusuk dada.

Pada akhirnya dia pun menyerah dan menyatakan dirinya kalah pada sang pemilik nyawa. Tak ada yang di sesalkan dalam hidupnya karena dia selalu dikelilingi anak-anak dan cucu-cucunya yang begitu mencintainya, dia pula yang telah mewariskan keindahan sepak bola kepada anak dan cucunya. Yang ada, penyesalan itu menimpa diri saya, sepanjang hidup saya akan menyesal karena belum bisa membalas kebahagiaan seperti yang dia berikan.  

Kini dia telah menetap abadi disana dan tidak lagi menikmati sisa-sisa keindahan sepak bola yang semakin lama semakin tergores dengan indah. Tapi hingga tiba saatnya nanti saya akan kembali menghampirinya untuk mengantarkan sepenggal kisah indah itu padanya. Sama seperti pertama kali dia mengawali cerita indah sepak bola kepada saya pada satu malam minggu di tahun 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar