anomali gerrard

Leave a Comment


Selain The Beatles, satu nama yang orang sebut ketika mendengar kata Liverpool adalah Steven Gerrard. Ya dia lah kapten Liverpool yang sudah 1 dekade lebih mengabdi untuk club kota rock n roll tersebut. Tumbuh besar dan ditempa di akademi Liverpool fc gerrard menjadi tumpuan lini tengah Liverpool yang tak tergantikan. Berkali-kali ganti pelatih dan berkali-kali pula pelatih baru setia memasang gerrard di lini tengah Liverpool.

Gerrard bagaikan The Beatles nya Liverpool FC, pantaskah titel itu di sematkan pada sang kapten? sah-sah saja predikat itu lengket dengan sang icon club mengingat kontribusi dan pengabdiannya selama bagi club terlebih dia telah mempersembahkan banyak gelar baik di kancah domestik ataupun kompetisi internasional.

               Tapi apa kabar dengan trofi premiere league? ya, hanya satu trofi itu yang tidak bisa di raih gerrard bersama Liverpool, bagi rival Liverpool ataupun haters gerrard hal ini dijadikan lahan empuk untuk menghina sang kapten terlebih dengan adanya insiden terpelesetnya gerrard pada pertandingan melawan Chelsea musim lalu yang membuat trofi BPL yang sudah di tangan Liverpool di ambil paksa oleh Manchester City.


Hanya itu yang di jadikan fans rival untuk menyerang gerrard  dan Liverpool karena memang hanya itu yang bisa di jadi kan bahan olokan untuk menjatuhkan gerrard secara pribadi dan Liverpool secara tim. Gerrard hanya segelintir pemain yang berasal dari akademi club yang kemudian menjadi kapten club dan menjadi harapan kopites seluruh dunia agar dia pensiun di Liverpool. Beberapa tahun lalu harapan itu seperti akan menjadi kenyataan karena memang tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan meninggalkan Liverpool dan setiap pihak club mengajukan perpanjangan kontrak tanpa membaca klausul kontraknya pun dia selalu menyetujuinya.

Tapi apa yang terjadi sekarang? tak ada hujan apalagi badai dia mengumumkan bahwa musim ini akan menjadi musim terakhirnya berseragam Liverpool, apakah semua fans Liverpool kaget? tidak, karena bukan hanya fans Liverpool saja yang kaget tapi fans club-club rival pun di buat kaget dengan keputusan itu.

Sebagai metronom lapangan tengah Liverpool peran gerrard memang sangat vital karena dia lah orang pertama yang menghalangi serangan lawan dan dia juga yang pertama mengatur alur serangan Liverpool sehingga menciptakan permainan yang atraktif dan enak untuk di tonton.

 Gerrard memang bagaikan dewa bagi Liverpool melihat dari loyalitas dan kontribusinya sampai saat ini  tapi ada beberapa anggapan kalau kemampuan gerrard sudah jauh menurun di bandingkan beberapa tahun kebelakang, tidak sebenarnya salah memang jika ada yang beranggapan seperti itu karena faktanya memang seperti itu, jika beberapa tahun lalu kita selalu dimanjakan dengan tekel-tekel bersih dan gol-gol indah nan spektakuler dari si empunya kapten  sekarang sepertinya mustahil gerrard melakukan hal itu lagi.

Tendangan gledek nya yang dulu sudah lama hilang dan berubah menjadi umpan-umpan manja kepada penyerang Liverpool, kemampuan gerrard seakan memudar termakan usia yang semakin senja.

Menginjak usia 34 tahun pada musim ini sang kapten hanya bisa memaksimalkan sisa-sisa keahliannya. Umpan silang menorobos jantung pertahanan lawan, umpan lambung dari sepertiga lapangan permainan yang selalu tepat sasaran selalu menjadi pemandangan berbeda nan manja bagi penikmat sepakbola saya sendiri hampir tidak pernah melihat pemain lain mampu melakukan hal tersebut. Gerrard selalu spesial bagi seluruh fans Liverpool seantero jagat dan menjadi pedoman pesepakbola muda.


Selalu teringat dalam benak saya bagaimana perannya pada final champion 2005 ketika club sudah tertinggal 3 gol dari juara italia AC Milan, satu gol pembuka nya memang terkesan biasa saja tapi yang menjadi luar biasa adalah perayaan gol sang kapten yang mana dia langsung berlari ketengah lapangan dengan mengayunkan kedua tangannya keatas untuk mengangkat moral para pemain dan dia sendiri tentunya, tidak sampai disitu dia tetap membakar semangat teman seperjuangannya  padahal saat itu banyak pemain Liverpool yang berusia lebih tua darinya.

 Bagaikan tersihir oleh semangat yang ditanamkan oleh gerrard Liverpool dengan cepat menyamakan kedudukan, mungkin jika pencetak gol pertama ketika itu bukan gerrad hasilnya bisa saja berbeda.

gerrard membakar semangat tim yang hampir padam ketika membuka keajaiban di istanbul 2005

 

Bukan hanya permainannya yang mampu menyihir seantero jagat tapi setiap perkataannya pun selalu menjadi inspirasi setiap orang yang ada di sekelilingnya. Ketika pertandingan Liverpool vs Man City tahun lalu berkesudahan 3-2 untuk Liverpool gerrard mengumpulkan pasukannya di tengah lapangan dan memberikan kata-kata pembangkit semangat dan tangisan gerrard yang pecah yang memperlihatkan sisi humanis dari seorang captain fantastic yang membuat kita semakin mencintai orang ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Tercatat kalimat We Go Again yang keluar dari mulutnya saat itu menjadi role model bagi seluruh kopites sedunia sampai sekarang dan tak jarang pula kalimat itu sering bergentayangan di ranah maya official club dan fans. Ini menunjukkan seolah dia menjadi kapten sembari pelatih tim yang setiap perkataannya menjadi inspirasi semua pemain dan fans.

gerrard tak bisa membendung air mata ketika berhasil mengalahkan man city tahun lalu

 

Sehebat apapun gerrard yang dianugerahi pesona kharismatik yang cukup tinggi dia tetaplah manusia biasa yang terkadang tidak luput dari kelakuan konyolnya seperti yang terlihat dalam pertandingan kemarin di partai yang bertajuk northwest derby. Dia hanya membutuhkan waktu 38 detik saja untuk mencatatkan sejarah buruk bagi dirinya dan club. Bermain dari awal babak kedua kapten sesungguhnya Liverpool ini langsung di beri hadiah kartu merah oleh wasit martin Atkinson setelah menginjak kaki ander Herrera, bahkan saya sendiri tidak tahu kalau gerrard di mainkan pada babak kedua.  Gerrard mungkin ingin memperlihatkan bahwa bagi pesepakbola ketinggalan dari lawan tak boleh menjadi alasan untuk tampil sebagai kesebelasan yang melempem, ketertinggalan justru harus menjadi gairah agar tak tertinggal sampai pertandingan berakhir.

Gerrard bukanlah pesepakbola yang baru malang melintang satu dua tahun, kalau dihitung secara keseluruhan sudah dua puluh delapan tahun sejak dia melakoni debutnya di tim junior Liverpool. Dia tahu betul bagaimana rasanya di pandang sebelah mata ketika bermain pertama kali dan di elu-elukan bahkan saat ia masih bersiap memasuki lapangan atau hanya duduk manis di bangku cadangan, ia punya beban selain trofi liga inggris, yaitu citra. seperti yang pernah di katakan sahabat karipnya, Jamie Carragher bahwa Gerrard bermain bola tidak menggunakan otaknya melainkan dengan hatinya


Tidak banyak memang pemain yang memiliki citra sebaik gerrard yang juga sangat dihormati oleh kawan dan lawannya. Ketika dia bermain semua pemain Liverpool pun seakan terangsang dengan hadirnya gerrard, gerrard seolah menjadi obat penenang bagi pemain Liverpool lainnya, dia seakan membawa pesan dari tuhan kepada pemain lainnya untuk bermain lebih baik lagi dengan semangat pantang menyerah. Kehadiran gerrard di lapangan memang tak bisa dijelaskan lewat statistik karena angka tak tak bisa menjelaskan reaksi kimia yang terjadi pada para pemain lain saat mengetahui sang skipper berada di lapangan.

stevie G mengumpulkan pemainnya di tengah lapangan usai pertandingan (saya tidak yakin kapten lain bisa melakukan ini)

 

Seburuk apapun permainan gerrard pelatih, pemain, dan fans tetap tak mampu menjadikannya biang keladi. Satu dua kesalahan tetap tak mampu membutakan para fans dan pemain Liverpool lainnya akan pengabdiannya pada club yang dicintai dengan gelar yang berjejer rapi yang sudah dia persembahkan.

Steven Gerrard’s a supernova, isn’t he. He moves like a tornado on fire, twisting in all directions at once and always has his eyes on the goal. The ball is the moon and he is the earth. Whatever he wishes, his legs make so. He’s a football supernova.” Itulah sepenggal kalimat yang mengambarkan seorang gerrard yang didengungkan dalam film WILL.

Mungkin musim ini kita sudah terbiasa melewati pertandingan Liverpool tanpa gerrard yang sering di bekap cidera tapi saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Liverpool tanpa adanya gerrard musim depan. Bisa jadi fans Liverpool diseluruh dunia berharap kalau musim ini tidak pernah berakhir agar mereka selalu bisa melihat gerrard bermain dengan lambang liverbird di dada yang di iringi You’ll Never Walk Alone yang selalu “membakar” permainan Liverpool

0 komentar:

Posting Komentar