Sabtu, 23 Desember 2017

Hujan selalu menemukan ceritanya sendiri di kehidupan manusia. Dengan segala jenis latar belakang ia hadir memenuhi ruang hidup kita. Hujan tidak hanya tentang mereka yang kehujanan, kebanjiran, atau mereka yang hanya menari-nari di film India. Ia sudah menjadi saksi bagaimana kita mengenal, berjalan, bertahan, hingga mengukir kisah-kisah yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tak perlu berapa kali hujan yang buat kita semakin dekat, saling menghangatkan dalam kedinginan yang cukup menusuk tulang. Bahkan disaat berada di tempat berbeda pun kita selalu merasa ada di ruang yang sama.

Hujan pertama datang tepat disaat kita memutuskan mengukir kisah berdua. Kita tertahan cukup lama hingga larut di tepian jalan, menikmati basah hingga ke tulang. Tapi itu lah indahnya, ketika kita bisa menangkap hangat genggaman pertama. Hingga pada dalam perjalanannya ia selalu mengiringi kita kemana pun tujuannya.

Kita bermula dengan cara yang menurut orang-orang tidak biasa. Bahkan terlalu berani, kata mereka. Namun, inilah kita. Membuat awal yang tak biasa berjalan luar biasa. Hingga sekarang, kita, atau aku setidaknya, masih tak menyangka bisa berujung hingga sedemikian rupa.

Kita membuat jarak yang terbentang sama sekali tak terasa. Menikmati bersama hingga akhirnya berada pada titik yang sebelumnya tak pernah aku lakukan sebelumnya. Dia adalah wanita pertama yang ku kenalkan pada keluarga hingga akhirnya mereka saling tatap muka. Ini adalah sebuah keberanian yang luar biasa, kata mereka. Ya, tidak satu wanita pun yang ku kenalkan langsung pada keluarga sebelumnya. Cuma dia.

Bahkan ada satu obrolan yang sangat jauh kita bicarakan. Di hadapan mereka aku berujar dan hingga saat ini ku pegang. Kita berproses kian jauh saat dia terhubung langsung dengan wanita yang turut melahirkanku. Wanita pertama yang ku cintai di dunia. Satu hal yang tak  dapat disangka sebelumnya. Apalagi, ibu sendiri yang minta dikenalkan.

Tentu awalnya saya takut karena saya kenal bagaimana responnya pada orang lain. Tapi niatnya yang memang ingin mengenal satu-satunya wanita yang bukan dari rahimnya dalam keluarga membuat saya luluh dan membiarkan mereka bercengkrama. Mereka akhirnya saling bercerita. Bahkan ibu lebih sering menghubunginya daripada berbicara dengan saya.

Dia yang saat pertama bertemu dengan keluarga saya sangat kikuk, tampak cukup leluasa berbicara dengan ibu. Ya mungkin karena hanya lewat gawainya. Entah bagaimana rupanya jika bertatap muka.

Kita terus berjalan dengan entah berapa kali hujan dan berapa waktu dihabiskan di tepi jalan. Tapi sebab itu lah cerita kita berbeda sedari awal. Kebersamaan yang kita jaga di sela waktu dalam bekerja menjadi kenikmatan tersendiri. Kita berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang kita inginkan. Hingga akhirnya beberapa perbedaan turut serta dalam cerita. Aku pindah kerja, yang otomatis membuat waktu Bersama berantakan, sekalipun jarak semakin dekat. Dengan apa yang selama ini telah kami lewati, semua akhir kembali pada waktu. Waktu akan perubahan, atau juga pada kekurangan satu sama lain.

Pada akhirnya kita dengan terpaksa menjadi siapa. Hujan yang membuat semua cerita turut mengambilkannya. Membuat tidak ada lagi rindu yang tercipta pada dirinya, tak ada pula tatapan hangat darinya. Mata kami tak lagi bertemu di sore itu, sekalipun aku tak pernah mengalihkan mata dari wajahnya. Tapi, tentu genggaman terakhir masih terasa sama seperti yang pertama. Tapi mungkin itu hanya bagiku, entah baginya.

Manusia memang tidak ada yang sama. Semua tercipta berbeda, hanya tinggal bagaimana kita yang menyatukannya. Banyak yang bersatu karena perbedaan, tapi memang tidak sedikit pula yang terpisah dan saling serang karenanya. Dan kita? Salah satu diantara kita memilih kalah atas perbedaan tersebut.


Selain mati yang tak punya jawabannya di dunia. Keputusan siapa, apa, atau apa pun itu namanya juga tak keluar dari bibirnya . Banyak pertanyaan yang terlontar, tapi sebanyak itu pula mulutnya bungkam. Biarlah. Biar dia yang tahu apa sebenarnya, karena mungkin jawaban sesungguhnya akan sakit untuk diterima. Sedangkan saya? Saya cukup berfantasi dengan praduga yang hilir mudik di kepala.

gambar: pinterest.com

Jumat, 22 Desember 2017

Di awal pertemuan dalam hujan ku bersimpuh di bahumu, bersandar penuh dengan kenyamanan. Saat itu ku merasa egois, egois akan kenyamaan ini, berharap dan meminta tetap senyaman ini.
Sepertinya alam selalu mendukung keberadaan kita, disaat bersama saling bermanja, saling beradu kenyamanan. 

Saat itu cukup untuk kita tersadar bahwa cinta begitu indah untuk dirasakan, begitu lebih baik untuk suasana hati.
Saat ini juga aku hanya ingin tetap seperti ini,
Tetap dengan kenyamanan ini, dengan perasaan ini..

Namun kala itu ...
Kita sama sama kembali egois untuk saling mencinta.. 
aku selalu terpejam berdoa agar kita selalu dalam satu genggaman.
Tak lama itu kita hanya menyadari untuk tidak berlebih mencinta, 
Semuanya telah pudar seperti langit biru tertutup awan hitam ...
Saat itu aku takut, takut semuanya memudar kala warna indah telah tergambar ...

Tak sampai hati ini memilih tinggal 
Sampai perasaan ini memilih untuk meninggalkan 
Perasaan ini begitu adil seperti alam menyuguhi terik dan gelap ..
Aku ingin tetap tinggal namun hati terlalu berat untuk mempertahankan ...

Dan kembali lagi seperti di awal.
Alam ikut seperti berbicara dikala mulut tak sanggup mengucap kata untuk berpisah ..
Seperti mengetahui segala isi hati dan pikiran.
Sejujur inilah akhir yang berat ,
Saat mata tak sanggup bertemu 
saat sentuhan yang selalu nyaman namun kali ini sulit untuk dirasakan , 
Disaat pelukan yang selalu inginkan kini tak sanggup untuk dilakukan 
Dan saat gengaman tangan yang begitu sulit untuk digapai ...

Dan kamu bisa rasakan ini ...
Hujan yang tiba-tiba begitu datang seperti yang paling memahami, memahami segala kata yang sulit terucap namun mata berbicara ...
Untuk itu maafkan untuk segalanya 
Untuk perpisahan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya ...
Terima kasih untuk segala kenyamanan 
Untuk setiap hujan yang selalu datang disaat tepat kita bersama , 
Ia seperti saksi bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengakhirinya ....


Tulisan oleh Cahya Tzurayya

gambar: awakeningclaritynow.com



Minggu, 10 Desember 2017


Di Italia, AC Milan adalah klub raksasa. Bersama Juventus dan Inter Milan, mereka bergantian menguasai Serie A. Namun, apa yang ditunjukkan beberapa tahun ke belakang tentu tidak mencerminkan Milan yang sebenarnya. Dengan Inter yang juga kehilangan arah, dua sekota ini terlempar dari persaingan, tidak hanya tiga besar, tapi juga pentas Eropa.

Baik Milan dan Inter seakan bernasib sama dengan klub-klub Indonesia yang kolaps secara prestasi ketika dana APBD dicabut untuk kegiatan sepak bola. Ya, keduanya tidak bisa berbuat banyak ketika tim dililit hutang yang berimbas pada kekuatan pemain yang dimiliki.

Salah satu cara yang dianggap ampuh adalah mendatangkan investor baru untuk memulihkan keuangan tim. Dan keduanya lagi-lagi kompak dalam hal ini. Inter mendahului sang tetangga ketika mendapuk Suning Grup sebagai pemilik klub. Sedangkan I Rossoneri baru beberapa bulan ini dikendalikan oleh Yonghong Li, yang katanya pengusaha tajir Tiongkok.

Namun, di sinilah perbedaan mereka. Milan langsung menggebrak dengan limpahan 12 pemain baru, hanya di musim ini saja. Sedangkan Suning masih dipusingkan dengan keseimbangan neraca keuangan klub sehingga harus berpikir sekian kali untuk menghamburkan uang 200 juta Euro. Bahkan jika digabung dengan dana transfer musim lalu, Suning belum melampaui uang yang dikeluarkan kompatriotnya itu di Milanello musim ini.

I Rossoneri sejatinya sudah berada pada trek yang benar musim lalu. Bersama Vincenzo Montella, mereka kembali menapaki kompetisi Eropa, meskipun hanya sekelas Liga Europa. Setidaknya, prestasi ini lebih baik dari Inter yang lagi-lagi tak tersentuh kompetisi regional.

Dengan pemain yang masih apa adanya, Montella berhasil membuat Milan bermain konsisten sepanjang musim. Bahkan ia suskses menaklukkan Juventus musim lalu. Tapi entah kenapa tuah tersebut tidak berbekas musim ini. Padahal, legenda AS Roma tersebut punya modal lebih bagus nan mumpuni.

Sedangkan Inter, dengan jumlah pemain yang didatangkan musim ini yang hanya setengahnya dari Milan, mereka mampu bertengger di puncak klasemen. Bahkan, sepanjang musim 2017-2018, Skuat Luciano Spalletti belum tersentuh kekalahan. 

gambar dibikinin @andhikamppp
Performa Suso dkk justru limbung musim 2017-2018. Euforia tifosi pun hanya sebatas laga pertama di kualifikasi Liga Europa ketika membenamkan klub asal Makedonia, Shkendija, 6-0, dan tim-tim semenjana lainnya. Itu pun di awal musim. Setelahnya, Milan secara bergantian dilumat oleh klub  Serie A, seperti Lazio, AS Roma, Sampdoria, Inter, dan Napoli.

Rentetan kekalahan dan hasil imbang membuat posisi Montella di ujung tanduk. Hingga akhirnya skor 0- 0 kontra Torino membuat ia harus melepas jabatannya dua hari setelah pertandingan. Menariknya, keputusan itu hanya berselang sehari setelah Massimiliano Mirabelli mengatakan Milan sudah berada di jalur yang tepat bersama eks pelatih Fiorentina tersebut.

Tifosi kemudian gembira mendengar kabar pemecatan itu. Mereka yang tadinya enggan menyaksikan klub kesayangan bertanding selama Montella masih memegang kendali, mulai berani begadang lagi demi melihat 12 pemain baru berlari di lapangan. Namun, di sinilah klub pujaannya mengulang kesalahan yang sama ketika menunjuk Gennaro Gattuso.

Ketika memberhentikan Massimiliano Allegri beberapa musim lalu, Adriano Galliani mengumpulkan legenda klub yang sudah pensiun untuk memulai legacy baru di San Siro. Mulai dari Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, hingga…Christian Brocchi untuk menjadi juru taktik klub pemilik 7 gelar Liga Champions tersebut.

Hasilnya? Tidak hanya nihil, tapi mubazir. Tiga legenda satu generasi itu hanya berkarier singkat dan kian memperkuat status Milan sebagai klub medioker. Masalah keuangan mungkin alasan yang tepat bagi klub untuk mengontrak para debutan itu. Jangankan pelatih, pemain yang didatangkan pun mayoritas hanya berstatus bebas transfer, alias gratis.

Ingin memutus hal tersebut, Galliani memanggil allenatore yang sedang naik daun bersama Sampdoria ketika itu, Sinisa Mihajlovic. Perlu diketahui, penunjukkan ini menyakitkan hati saya sebagai fans pemain yang pernah mencetak hat-trick lewat tendangan bebas itu. Tapi keberadaan Miha nyatanya tidak membuat klub semakin baik. Ia tercatat hanya sukses memproklamirkan Gianluigi Donnarumma dan Alessio Romagnoli sebagai bintang masa depan Il Diavolo Rosso.

Pria Serbia akhirnya diganti oleh Montella, yang juga pernah melatih Sampdoria. Sempat menanjak dengan pemain seadanya di musim pertama, peraih scudetto bersama Roma ketika masih menjadi pemain ini tak berkutik ketika dihadiahi skuat baru sehingga tim diambil alih oleh Rhino yang sebelumnya menjadi Indra Sjafri-nya Milan di U-19.


Satu hal yang diingat banyak orang ketika mendengar nama Gattuso tentu saja sikapnya yang suka berapi-api di lapangan ketika masih aktif bermain – alih-alih prestasi selama menjadi pelatih. Bagaimana tidak, empat tim antah berantah yang ia latih hanya membuat cv-nya jelek.

Menukangi FC Sion, Palermo, Pisa, dan OFI Crete, pria 39 tahun itu tidak pernah menyelesaikan kontraknya. Kariernya selalu berujung pada pemecatan. Menilik pada catatan tersebut, Milan bukan saja mencoba bunuh diri, tapi juga mencari mati, mengingat peran pelatih sangat vital dalam sebuah tim.


Jika manajemen ingin melestarikan para legenda, kenapa mereka tidak memanggil pulang Inzaghi, yang kini sukses membawa Venezia promosi ke Serie B saja? Atau Massimo Oddo, yang meski belum berprestasi tapi karier manajerialnya lebih mumpuni dari pelatih yang semasa bermain dijuluki Hariono-nya Milan tersebut.

Kiprah Gattuso dengan status barunya ini pun mulai bisa ditebak. Ia gagal menang melawan Benevento di laga debut. Untuk diketahui, Benevento adalah satu-satunya tim di lima liga top Eropa yang belum meraih satu poin pun. Heroiknya, poin pertama mereka raih ketika kiper Alberto Brignoli membobol gawang Donnarumma di menit 95 hingga membuat Gattuso tidak bisa tidur setelahnya.

Tidak puas imbang dengan Benevento, Milan kemudian ditaklukkan Rijeka 0-2 di Liga Europa. Mungkin kekalahan ini masih bisa dimaklumi karena dua hal. Pertama, I Rossoneri sudah memastikan lolos ke babak berikutnya. Kedua, pemain yang diturunkan adalah pemain lapis kedua. Oke, klasik. Tapi ya terima saja, toh ada waktunya kita beralasan demikian.

“Performa tim di lapangan adalah tanggung jawab saya sebagai pelatih. Pelatih akan selalu menjadi orang terdepan yang disalahkan pada performa klubnya dan akan selalu begitu,” kurang lebih seperti itulah kata Montella sesaat dirinya dipecat. Dan memang benar, kegagalan sebuah tim adalah kesalahan mutlak juru taktik. Itu sudah menjadi hukum di sepak bola dan tidak bisa dibantah lagi.

Tapi hal lain yang dilupakan Milanisti adalah keberadaan Marco Fassone di belakang layar. Selain mengulang kesalahan dalam menentukan pelatih, klub yang berdiri pada 1899 lampau ini juga mengulang kesalahan Inter saat mempekerjakan pria yang sekilas mirip Lee Mason tersebut. Iya, wasit yang larinya lebih cepat dari Jesse Lingard itu.

Fassone adalah orang di balik transfer-transfer Inter di pada medio 2012 hingga 2015. Saya tidak perlu menyebutkan siapa saja pemain yang ia datangkan ke Appiano Gentile ketika itu. Kalian cukup lihat I Nerazzuri di tabel klasemen saja. Kini dengan kekuatan uang yang dimiliki Milan, kepekaan Fassone terhadap kebutuhan tim tidak juga membaik.

Leonardo Bonucci kini jadi pesakitan di Milan. Ingat gol pemain Austria Wien di San Siro pertengahan November lalu? Atau bagaimana Andre Silva yang tokcer di Timnas Portugal justru belum mencetak satu gol pun di Serie A. Malah hanya seorang Fabio Borini yang mampu tampil konsisten sepanjang musim ini. Oke, maaf.

Jadi, fans Milan tidak perlu lah senang dengan pemecatan Montella dan bangga pada penunjukkan Gattuso. Trofi Liga Champions dan scudetto saat menjadi pemain bukan jadi jaminan saat jadi pelatih. Diego Maradona yang didapuk sebagai tuhan oleh publik Argentina saat masih bermain saja kembali jadi manusia biasa ketika menangani Albiceleste.

Kalau pun keluguan kalian masih berpegang teguh dengan capaian seperti itu, tidak perlu Gattuso yang turun gunung, cukup Valerio Fiori saja. Selain sama-sama setia bersama I Rossoneri, torehan trofinya juga mentereng di Milan. Dan yang pasti pria yang sudah pensiun sejak 2008 silam ini tidak pernah terpeleset.

Tapi, setidaknya Gattuso sudah menunjukkan kemajuan ketika mengalahkan Bologna 2-1 pada giornata ke-16. Ia membawa timnya menang disaat Inter, Juventus, Napoli, dan AS Roma imbang. Serta tentu saja ketika tribun San Siro lebih sepi dari sebelumnya. 





Jumat, 17 November 2017

Nama Diego Costa sudah kadung memiliki kesan buruk bagi seluruh pecinta sepak bola Inggris, termasuk pendukung Chelsea dan saya tentu saja (yang bukan fan Chelsea). Sampai saat ini, sulit rasanya jika kita tidak berpikir negatif tentang perangainya, baik di dalam maupun luar lapangan.

Di dalam lapangan, sudah tidak terhitung jumlah musuh Costa yang tersebar diseantero tim-tim Inggris, Spanyol, dan tentu saja kompatriotnya dari Brasil. Sedangkan di luar sepak bola, banyak orang yang kesal (terutama tetangga) ketika ia tengah asyik berfantasi pada seperempat malam dengan video kualitas 720p selama beberapa menit di kediamannya.

Terkadang saya masih begitu kesal jika mengingat kelakuannya saat Chelsea menghadapi Liverpool beberapa musim lalu. Banyak yang percaya Costa dengan sengaja menginjak Emre Can dan nyaris baku pukul dengan Jordan Henderson juga Martin Skrtel di Stamford Bridge. Tapi ya sudahlah, itu sudah berlalu dan ia tidak melanjutkan perbuatan hina itu di pertemuan kedua klub selanjutnya.
zimbio.com


Beberapa sifat buruk Costa nyatanya tak bisa diterima Antonio Conte di Chelsea. Pelatih asal Italia itu bahkan berani mengeluarkannya dari tim, sekalipun dia adalah faktor vital keberhasilan The Blues menggondol trofi Liga Inggris musim lalu. Costa murka, begitupula sang manajer. Keduanya sama-sama mempertahankan keyakinannya untuk menolak minta maaf.

Pada akhirnya, pemain naturalisasi Spanyol itu pun kabur ke kampung halamannya di Brasil. Menenangkan diri, menunggu Chelsea ikhlas menjualnya ke tim lain. Namun, hal itu tidak mudah ia dapatkan lantaran permintaan mutlaknya yang cukup berat untuk dikabulkan. Bukan. Ia tidak menuntut gaji menjulang pada klub peminat atau fasilitas wahid sebagai syarat dirinya bersedia hengkang. Costa hanya ingin pulang ke Atletico Madrid.

Atletico bukanlah tim pertamanya di Eropa. Ia sempat singgah di Portugal sebelum benar-benar merapat ke klub ibu kota Spanyol itu. Di sana pun dirinya tidak serta merta menjadi penghuni tetap tim utama. Costa bahkan harus empat kali disekolahkan ke klub semenjana, semisal Celta Vigo, Albacete, Real Valladolid, dan tim sekota kelas tiga, Rayo Vallecano.

2007 menginjakkan kaki di Vicente Calderon - kandang Atletico - baru di tahun 2012 namanya lalu-lalang di skuat utama Merah Putih (bukan Indonesia). Namun, pembelajaran itulah yang membuat Costa selalu ingin pulang ke Madrid. Dia tidak kehilangan satu apa pun bersama Chelsea. Gelar top skorer, trofi Liga Inggris, dan gaji melimpah sudah ia rasakan di sana. Tapi ia sadar hanya Atletico tempat impiannya.

Klub yang dilatih legenda Argentina, Diego Simeone, awalnya tidak bisa berbuat banyak karena embargo transfer yang tengah mereka hadapi. Tapi Costa tidak patah arang. Klub kaya baru, AC Milan, coba melihat kesempatan untuk melegonya, sama halnya tim raksasa Turki, fenerbahce, yang bersedia hanya disinggahi Costa selama enam bulan sampai hukuman FIFA kepada Atletico selesai. Namun, ia bergeming.

Costa bukanlah Neymar yang rela diperdagangkan oleh ayahnya. Ia juga bukan Wayne Rooney yang menunggu uzur dan tidak terpakai lagi baru bersedia pulang ke Everton. Costa adalah.....Costa. Pemain bengal berupa tua yang menyimpan cinta untuk satu tim yang menjadi tonggak sejarah kariernya. 

Atletico yang sempat berpikir dua kali memulangkannya akhirnya luluh pada permohonan Costa. Mereka resmi mendatangkan kembali pemain kelahiran Brasil itu September lalu, dengan catatan, Ia baru boleh dimainkan Januari 2018, setelah banned FIFA berakhir. 

Pemain 27 tahun yang tadinya asyik bersantai di Brasil, buru-buru terbang ke Madrid setelah mendengar Chelsea dan Atletico menyetujui kepindahannya. Ia pun menjadi pemain termahal Los Rojiblancos dengan bandrol 50 juta Euro, lebih mahal 15 juta euro ketika Chelsea mendatangkannya dari Atletico 2014 lalu.

Kegalauan Costa sejak Juli lalu pun berakhir klimaks setelah ia akhirnya pulang ke rumah keduanya. Kendati harus sabar menunggu sampai tahun depan, itu tidak masalah. Seperti yang ia katakan, "Saya hanya ingin pulang ke Atletico dan akan menunggu hingga mereka membawa saya,".

Di balik itu semua, ia tetap saja dicaci karena lebih memilih Spanyol sebagai negara yang ia bela, bukan Brasil yang notabene adalah tumpah darahnya. Tapi, lagi-lagi Costa punya alasan cukup kuat berbaju La Furia Roja (julukan Spanyol). Seperti yang diungkapkan beberapa tahun lalu, ia berhutang budi pada Spanyol. Tidak hanya di karier sepak bola, tetapi juga kehidupan sosialnya.

Membela Spanyol bukan berarti dia lupa dengan Brasil. Seperti yag disampaikan di atas, konflik yang dihadapi di Chelsea membuat dirinya pulang ke Lagarto, sebuah kota kecil di Brasil, bukan ke Madrid. Kehidupan sepak bola-nya memang ada di Spanyol, tapi di luar itu, ia adalah seorang anak yang selalu rindu asal usulnya.

Saat ini, Diego da Silva Costa baru saja menuntaskan rasa cintanya yang belum usai di Atletico setelah beberapa tahun berpetualang ke London Barat. Dan setelah ini, jika boleh saya menduga, ia akan menyempurnakan hal yang sama di Brasil nantinya.