Minggu, 10 Desember 2017


Di Italia, AC Milan adalah klub raksasa. Bersama Juventus dan Inter Milan, mereka bergantian menguasai Serie A. Namun, apa yang ditunjukkan beberapa tahun ke belakang tentu tidak mencerminkan Milan yang sebenarnya. Dengan Inter yang juga kehilangan arah, dua sekota ini terlempar dari persaingan, tidak hanya tiga besar, tapi juga pentas Eropa.

Baik Milan dan Inter seakan bernasib sama dengan klub-klub Indonesia yang kolaps secara prestasi ketika dana APBD dicabut untuk kegiatan sepak bola. Ya, keduanya tidak bisa berbuat banyak ketika tim dililit hutang yang berimbas pada kekuatan pemain yang dimiliki.

Salah satu cara yang dianggap ampuh adalah mendatangkan investor baru untuk memulihkan keuangan tim. Dan keduanya lagi-lagi kompak dalam hal ini. Inter mendahului sang tetangga ketika mendapuk Suning Grup sebagai pemilik klub. Sedangkan I Rossoneri baru beberapa bulan ini dikendalikan oleh Yonghong Li, yang katanya pengusaha tajir Tiongkok.

Namun, di sinilah perbedaan mereka. Milan langsung menggebrak dengan limpahan 12 pemain baru, hanya di musim ini saja. Sedangkan Suning masih dipusingkan dengan keseimbangan neraca keuangan klub sehingga harus berpikir sekian kali untuk menghamburkan uang 200 juta Euro. Bahkan jika digabung dengan dana transfer musim lalu, Suning belum melampaui uang yang dikeluarkan kompatriotnya itu di Milanello musim ini.

I Rossoneri sejatinya sudah berada pada trek yang benar musim lalu. Bersama Vincenzo Montella, mereka kembali menapaki kompetisi Eropa, meskipun hanya sekelas Liga Europa. Setidaknya, prestasi ini lebih baik dari Inter yang lagi-lagi tak tersentuh kompetisi regional.

Dengan pemain yang masih apa adanya, Montella berhasil membuat Milan bermain konsisten sepanjang musim. Bahkan ia suskses menaklukkan Juventus musim lalu. Tapi entah kenapa tuah tersebut tidak berbekas musim ini. Padahal, legenda AS Roma tersebut punya modal lebih bagus nan mumpuni.

Sedangkan Inter, dengan jumlah pemain yang didatangkan musim ini yang hanya setengahnya dari Milan, mereka mampu bertengger di puncak klasemen. Bahkan, sepanjang musim 2017-2018, Skuat Luciano Spalletti belum tersentuh kekalahan. 

gambar dibikinin @andhikamppp
Performa Suso dkk justru limbung musim 2017-2018. Euforia tifosi pun hanya sebatas laga pertama di kualifikasi Liga Europa ketika membenamkan klub asal Makedonia, Shkendija, 6-0, dan tim-tim semenjana lainnya. Itu pun di awal musim. Setelahnya, Milan secara bergantian dilumat oleh klub  Serie A, seperti Lazio, AS Roma, Sampdoria, Inter, dan Napoli.

Rentetan kekalahan dan hasil imbang membuat posisi Montella di ujung tanduk. Hingga akhirnya skor 0- 0 kontra Torino membuat ia harus melepas jabatannya dua hari setelah pertandingan. Menariknya, keputusan itu hanya berselang sehari setelah Massimiliano Mirabelli mengatakan Milan sudah berada di jalur yang tepat bersama eks pelatih Fiorentina tersebut.

Tifosi kemudian gembira mendengar kabar pemecatan itu. Mereka yang tadinya enggan menyaksikan klub kesayangan bertanding selama Montella masih memegang kendali, mulai berani begadang lagi demi melihat 12 pemain baru berlari di lapangan. Namun, di sinilah klub pujaannya mengulang kesalahan yang sama ketika menunjuk Gennaro Gattuso.

Ketika memberhentikan Massimiliano Allegri beberapa musim lalu, Adriano Galliani mengumpulkan legenda klub yang sudah pensiun untuk memulai legacy baru di San Siro. Mulai dari Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, hingga…Christian Brocchi untuk menjadi juru taktik klub pemilik 7 gelar Liga Champions tersebut.

Hasilnya? Tidak hanya nihil, tapi mubazir. Tiga legenda satu generasi itu hanya berkarier singkat dan kian memperkuat status Milan sebagai klub medioker. Masalah keuangan mungkin alasan yang tepat bagi klub untuk mengontrak para debutan itu. Jangankan pelatih, pemain yang didatangkan pun mayoritas hanya berstatus bebas transfer, alias gratis.

Ingin memutus hal tersebut, Galliani memanggil allenatore yang sedang naik daun bersama Sampdoria ketika itu, Sinisa Mihajlovic. Perlu diketahui, penunjukkan ini menyakitkan hati saya sebagai fans pemain yang pernah mencetak hat-trick lewat tendangan bebas itu. Tapi keberadaan Miha nyatanya tidak membuat klub semakin baik. Ia tercatat hanya sukses memproklamirkan Gianluigi Donnarumma dan Alessio Romagnoli sebagai bintang masa depan Il Diavolo Rosso.

Pria Serbia akhirnya diganti oleh Montella, yang juga pernah melatih Sampdoria. Sempat menanjak dengan pemain seadanya di musim pertama, peraih scudetto bersama Roma ketika masih menjadi pemain ini tak berkutik ketika dihadiahi skuat baru sehingga tim diambil alih oleh Rhino yang sebelumnya menjadi Indra Sjafri-nya Milan di U-19.


Satu hal yang diingat banyak orang ketika mendengar nama Gattuso tentu saja sikapnya yang suka berapi-api di lapangan ketika masih aktif bermain – alih-alih prestasi selama menjadi pelatih. Bagaimana tidak, empat tim antah berantah yang ia latih hanya membuat cv-nya jelek.

Menukangi FC Sion, Palermo, Pisa, dan OFI Crete, pria 39 tahun itu tidak pernah menyelesaikan kontraknya. Kariernya selalu berujung pada pemecatan. Menilik pada catatan tersebut, Milan bukan saja mencoba bunuh diri, tapi juga mencari mati, mengingat peran pelatih sangat vital dalam sebuah tim.


Jika manajemen ingin melestarikan para legenda, kenapa mereka tidak memanggil pulang Inzaghi, yang kini sukses membawa Venezia promosi ke Serie B saja? Atau Massimo Oddo, yang meski belum berprestasi tapi karier manajerialnya lebih mumpuni dari pelatih yang semasa bermain dijuluki Hariono-nya Milan tersebut.

Kiprah Gattuso dengan status barunya ini pun mulai bisa ditebak. Ia gagal menang melawan Benevento di laga debut. Untuk diketahui, Benevento adalah satu-satunya tim di lima liga top Eropa yang belum meraih satu poin pun. Heroiknya, poin pertama mereka raih ketika kiper Alberto Brignoli membobol gawang Donnarumma di menit 95 hingga membuat Gattuso tidak bisa tidur setelahnya.

Tidak puas imbang dengan Benevento, Milan kemudian ditaklukkan Rijeka 0-2 di Liga Europa. Mungkin kekalahan ini masih bisa dimaklumi karena dua hal. Pertama, I Rossoneri sudah memastikan lolos ke babak berikutnya. Kedua, pemain yang diturunkan adalah pemain lapis kedua. Oke, klasik. Tapi ya terima saja, toh ada waktunya kita beralasan demikian.

“Performa tim di lapangan adalah tanggung jawab saya sebagai pelatih. Pelatih akan selalu menjadi orang terdepan yang disalahkan pada performa klubnya dan akan selalu begitu,” kurang lebih seperti itulah kata Montella sesaat dirinya dipecat. Dan memang benar, kegagalan sebuah tim adalah kesalahan mutlak juru taktik. Itu sudah menjadi hukum di sepak bola dan tidak bisa dibantah lagi.

Tapi hal lain yang dilupakan Milanisti adalah keberadaan Marco Fassone di belakang layar. Selain mengulang kesalahan dalam menentukan pelatih, klub yang berdiri pada 1899 lampau ini juga mengulang kesalahan Inter saat mempekerjakan pria yang sekilas mirip Lee Mason tersebut. Iya, wasit yang larinya lebih cepat dari Jesse Lingard itu.

Fassone adalah orang di balik transfer-transfer Inter di pada medio 2012 hingga 2015. Saya tidak perlu menyebutkan siapa saja pemain yang ia datangkan ke Appiano Gentile ketika itu. Kalian cukup lihat I Nerazzuri di tabel klasemen saja. Kini dengan kekuatan uang yang dimiliki Milan, kepekaan Fassone terhadap kebutuhan tim tidak juga membaik.

Leonardo Bonucci kini jadi pesakitan di Milan. Ingat gol pemain Austria Wien di San Siro pertengahan November lalu? Atau bagaimana Andre Silva yang tokcer di Timnas Portugal justru belum mencetak satu gol pun di Serie A. Malah hanya seorang Fabio Borini yang mampu tampil konsisten sepanjang musim ini. Oke, maaf.

Jadi, fans Milan tidak perlu lah senang dengan pemecatan Montella dan bangga pada penunjukkan Gattuso. Trofi Liga Champions dan scudetto saat menjadi pemain bukan jadi jaminan saat jadi pelatih. Diego Maradona yang didapuk sebagai tuhan oleh publik Argentina saat masih bermain saja kembali jadi manusia biasa ketika menangani Albiceleste.

Kalau pun keluguan kalian masih berpegang teguh dengan capaian seperti itu, tidak perlu Gattuso yang turun gunung, cukup Valerio Fiori saja. Selain sama-sama setia bersama I Rossoneri, torehan trofinya juga mentereng di Milan. Dan yang pasti pria yang sudah pensiun sejak 2008 silam ini tidak pernah terpeleset.

Tapi, setidaknya Gattuso sudah menunjukkan kemajuan ketika mengalahkan Bologna 2-1 pada giornata ke-16. Ia membawa timnya menang disaat Inter, Juventus, Napoli, dan AS Roma imbang. Serta tentu saja ketika tribun San Siro lebih sepi dari sebelumnya. 





Jumat, 17 November 2017

Nama Diego Costa sudah kadung memiliki kesan buruk bagi seluruh pecinta sepak bola Inggris, termasuk pendukung Chelsea dan saya tentu saja (yang bukan fan Chelsea). Sampai saat ini, sulit rasanya jika kita tidak berpikir negatif tentang perangainya, baik di dalam maupun luar lapangan.

Di dalam lapangan, sudah tidak terhitung jumlah musuh Costa yang tersebar diseantero tim-tim Inggris, Spanyol, dan tentu saja kompatriotnya dari Brasil. Sedangkan di luar sepak bola, banyak orang yang kesal (terutama tetangga) ketika ia tengah asyik berfantasi pada seperempat malam dengan video kualitas 720p selama beberapa menit di kediamannya.

Terkadang saya masih begitu kesal jika mengingat kelakuannya saat Chelsea menghadapi Liverpool beberapa musim lalu. Banyak yang percaya Costa dengan sengaja menginjak Emre Can dan nyaris baku pukul dengan Jordan Henderson juga Martin Skrtel di Stamford Bridge. Tapi ya sudahlah, itu sudah berlalu dan ia tidak melanjutkan perbuatan hina itu di pertemuan kedua klub selanjutnya.
zimbio.com


Beberapa sifat buruk Costa nyatanya tak bisa diterima Antonio Conte di Chelsea. Pelatih asal Italia itu bahkan berani mengeluarkannya dari tim, sekalipun dia adalah faktor vital keberhasilan The Blues menggondol trofi Liga Inggris musim lalu. Costa murka, begitupula sang manajer. Keduanya sama-sama mempertahankan keyakinannya untuk menolak minta maaf.

Pada akhirnya, pemain naturalisasi Spanyol itu pun kabur ke kampung halamannya di Brasil. Menenangkan diri, menunggu Chelsea ikhlas menjualnya ke tim lain. Namun, hal itu tidak mudah ia dapatkan lantaran permintaan mutlaknya yang cukup berat untuk dikabulkan. Bukan. Ia tidak menuntut gaji menjulang pada klub peminat atau fasilitas wahid sebagai syarat dirinya bersedia hengkang. Costa hanya ingin pulang ke Atletico Madrid.

Atletico bukanlah tim pertamanya di Eropa. Ia sempat singgah di Portugal sebelum benar-benar merapat ke klub ibu kota Spanyol itu. Di sana pun dirinya tidak serta merta menjadi penghuni tetap tim utama. Costa bahkan harus empat kali disekolahkan ke klub semenjana, semisal Celta Vigo, Albacete, Real Valladolid, dan tim sekota kelas tiga, Rayo Vallecano.

2007 menginjakkan kaki di Vicente Calderon - kandang Atletico - baru di tahun 2012 namanya lalu-lalang di skuat utama Merah Putih (bukan Indonesia). Namun, pembelajaran itulah yang membuat Costa selalu ingin pulang ke Madrid. Dia tidak kehilangan satu apa pun bersama Chelsea. Gelar top skorer, trofi Liga Inggris, dan gaji melimpah sudah ia rasakan di sana. Tapi ia sadar hanya Atletico tempat impiannya.

Klub yang dilatih legenda Argentina, Diego Simeone, awalnya tidak bisa berbuat banyak karena embargo transfer yang tengah mereka hadapi. Tapi Costa tidak patah arang. Klub kaya baru, AC Milan, coba melihat kesempatan untuk melegonya, sama halnya tim raksasa Turki, fenerbahce, yang bersedia hanya disinggahi Costa selama enam bulan sampai hukuman FIFA kepada Atletico selesai. Namun, ia bergeming.

Costa bukanlah Neymar yang rela diperdagangkan oleh ayahnya. Ia juga bukan Wayne Rooney yang menunggu uzur dan tidak terpakai lagi baru bersedia pulang ke Everton. Costa adalah.....Costa. Pemain bengal berupa tua yang menyimpan cinta untuk satu tim yang menjadi tonggak sejarah kariernya. 

Atletico yang sempat berpikir dua kali memulangkannya akhirnya luluh pada permohonan Costa. Mereka resmi mendatangkan kembali pemain kelahiran Brasil itu September lalu, dengan catatan, Ia baru boleh dimainkan Januari 2018, setelah banned FIFA berakhir. 

Pemain 27 tahun yang tadinya asyik bersantai di Brasil, buru-buru terbang ke Madrid setelah mendengar Chelsea dan Atletico menyetujui kepindahannya. Ia pun menjadi pemain termahal Los Rojiblancos dengan bandrol 50 juta Euro, lebih mahal 15 juta euro ketika Chelsea mendatangkannya dari Atletico 2014 lalu.

Kegalauan Costa sejak Juli lalu pun berakhir klimaks setelah ia akhirnya pulang ke rumah keduanya. Kendati harus sabar menunggu sampai tahun depan, itu tidak masalah. Seperti yang ia katakan, "Saya hanya ingin pulang ke Atletico dan akan menunggu hingga mereka membawa saya,".

Di balik itu semua, ia tetap saja dicaci karena lebih memilih Spanyol sebagai negara yang ia bela, bukan Brasil yang notabene adalah tumpah darahnya. Tapi, lagi-lagi Costa punya alasan cukup kuat berbaju La Furia Roja (julukan Spanyol). Seperti yang diungkapkan beberapa tahun lalu, ia berhutang budi pada Spanyol. Tidak hanya di karier sepak bola, tetapi juga kehidupan sosialnya.

Membela Spanyol bukan berarti dia lupa dengan Brasil. Seperti yag disampaikan di atas, konflik yang dihadapi di Chelsea membuat dirinya pulang ke Lagarto, sebuah kota kecil di Brasil, bukan ke Madrid. Kehidupan sepak bola-nya memang ada di Spanyol, tapi di luar itu, ia adalah seorang anak yang selalu rindu asal usulnya.

Saat ini, Diego da Silva Costa baru saja menuntaskan rasa cintanya yang belum usai di Atletico setelah beberapa tahun berpetualang ke London Barat. Dan setelah ini, jika boleh saya menduga, ia akan menyempurnakan hal yang sama di Brasil nantinya.

Rabu, 18 Oktober 2017


Jakarta baru saja melantik pemimpin barunya. Tanda-tanda kemajuan ibu kota kian terasa di depan mata. Ya... Setidaknya untuk saya. Karena dua pribumi itu lah saya nulis lagi di blog ini. 

Tadinya saya seolah dikutuk karena tidak menulis pasca-tulisan buzzer xl beberapa bulan lalu. Tapi sehari setelah gubernur dilantik saya baru sadar ternyata memang saya malas. Bukan pula karena buzzer yang sudah merambah dunia akting ratusan episode.

Sebenarnya saya punya tulisan baru pada pertengahan September lalu. Tapi entah ini persekutuan tuhan atau apa, akhirnya saya baru memutuskan nulisnya sekarang.  

Saya tahu, pak anis dan bang sandi masih kelimpungan, kaget, dan kaku menjalani amanah baru ini. Ada pun saya sebagai warga Jakarta pinggiran pemuja ibu Airin ingin merekomendasikan orang-orang yang cakap untuk membantu kinerja bapak dan abang. Yang pasti, mereka adalah pribumi tulen. 

tribunnews.com

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit. Awal dibentuknya kabinet kerja Presiden Jokowi, beliau sempat dikritik karena mempekerjakan orang-orang yang dekat dengan Megawati (saya tidak perlu jelaskan siapa orang ini). 

Dengan santai presiden menjawab "Ya kalo ada orang yang dekat dan kita kenal baik, kenapa harus pake orang yang nggak kita kenal,"  kira-kira begitu lah intinya. 

Atas dasar itu pula saya memberanikan diri untuk memberi sedikit masukan pada Pak Gub dan Bang Wagub baru. Sekiranya nanti orang-orang ini mampu membuat Jakarta jauh lebih baik, saya bersedia selipkan nomor rekening agar bapak tidak bingung harus berterima kasih ke mana. 



Mungkin orang-orang seperti Fahri Hamzah, Pandji, Ahmad Dani, terlebih lagi Fadli Zon (yang menurut kawan saya, orang ini masa muda nya seorang tekno-blogger) bisa menjadi bumerang bagi elektabilitas bapak, saya berani jamin orang-orang yang saya rekomendasikan ini akan memperkuat posisi bapak di balai kota. 

Pak Anis dan Bang Sandi mesti tahu, di balik jutaan harap warga dki, nama Yosfiqar, atau yang akrab disapa Naq Ummi dengan sebutan Iqbal ini merupakan orang yang pertama mengucap takbir setelah anda berdua dinyatakan menang.

Ia bisa dijadikan alat propaganda laiknya Pandji di media sosial. Kemampuan keduanya pun setara, Pandji bahkan masih beberapa tingkat di bawahnya. Ia  bisa menggiring opini publik tanpa ada yang tersakiti. Asal jangan ada yang mengungkit selebrasi jemur baju ala Mauro Icardi, surga dunia maya ada digenggaman.



Bayangkan, ketika dia diserang, misalnya dari Tsamara Amany perihal pribumi, dengan menawan Bang Yos berkata "Pribumi pribumi apa yang bikin nggak bisa tidur?" saya berani bertaruh Dik Sam langsung mengucap ampun sambil bertekuk lutut.


Seperti pula Pandji yang kerap mengajak para Stand Up Comedy-an muda tur luar kota, Bang Yos senantiasa membawa netizen liburan ke beberapa spot pilihan tanpa harus memilah jumlah follower dan bagian dari blogger hits atau bukan. 

Orang kedua yang kompeten adalah Fandi. Kita semua tahu Pak Anis bisa menenggelamkan rakyat hanya bermodalkan kata. Keberadaan Fandi di dalam tim saya rasa sangat dibutuhkan untuk memperkuat harmonisasi keduanya. 

Sekiranya Pak Anis atau Bang Sandi ingin nulis buku biografi, sudah ada Fandi yang membantu. Jika ini tercapai, saya yakin buku tersebut tebalnya akan melebihi buku Ensiklopedia Islam yang dulu saya baca di perpustakaan sekolah.

Selain itu, Fandi bisa dijadikan penulis teks pidato kenegaraan atau juru bicara sekalian. Asal jangan diposisikan sebagai admin pemda di twitter. Karena bisa jadi upaya media sosial berlambang burung itu menambah karakter menjadi 280 kata bisa sia-sia. 

Selanjutnya, saya rasa keberadaan orang ini sangat fundamental. Namanya Andhika, atau Ia lebih ikhlas namanya disebut Ucha. Layaknya ungkapan "apa artinya Fahri Hamzah tanpa Fadli Zon" ini pula yang terjadi jika keberadaan Bang Yos tak diimbangi dengan kehadiran Ucha di sampingnya. 

Pak Anis, Bang Sandi. Ucha ini fighter ulung, perusak mental orang, senantiasa menjatuhkan lawan di segala medan. Jika Fahri Hamzah dianggap sudah overrated, Ucha lah yang pas menggantikan. Terlebih lawan politik anda ada yang jomblo dan tidak mendapat perhatian, serahkan padanya.


Kendati suka berapi-api, apa yang dia suarakan ada benarnya. Banyak malah. Persis seperti politisi PKS itu. Jadi, daripada dia selalu dikaitkan dengan vokalis band yang merupakan aset bangsa, lebih baik Ucha mendapat posisi yang layak di tim anda. 

Dengan kondisi anda yang insyaallah banyak hatersnya, keberadaan Ucha sangat penting demi menjaga bargain politik dihadapan penguasa negeri. Yang penting adalah dia tidak perlu digaji, cukup bayar dengan buku Tere Liye, bahagia dia.

Satu orang yang dirasa perlu mengimbangi dream team ini adalah Oky Maulana Saraswati. Apa artinya tim yang kuat tanpa makanan yang berkhasiat? Dengan bekaldarinyokap, baik Bang Yos, Fandi, dan Ucha bisa bekerja lebih maksimal. 

Oky juga bisa menjadi penengah jika sewaktu-waktu Ucha mempertanyakan kesendirian Bang Yos. Dan yang paling penting adalah Oky bisa dengan lembut menyerang buzzer lawan.


Sabtu, 22 Juli 2017

Jakarta, dengan kesemerawutannya menjadi oase tersendiri sebagai ibu kota Negara dan pusat pemerintahan. Ditambah dengan prediksi jika Jakarta terancam lumpuh pada 2030 nanti tentu menjadi momok besar bagi kita semua.

Acakadutnya jalanan ibu kota pun semakin parah Beberapa bulan terakhir. Di beberapa kawasan, terutama pusat-pusat perkantoran, sedang dibangun jembatan layang dan perlintasan MRT yang memakan banyak bahu jalan. Dan salah satu akbat dari peyempitan jalan itu tentu saja kemacetan yang kian panjang tanpa mengenal “tengah pekan” dan “akhir pekan”.

Ini pun saya rasakan hari minggu (16/7/17) kemarin kala harus saling tikung menikung dengan pengendara lainnya kalo nikung kamu sih mending ya untuk menghadiri acara peluncuran sistem transportasi online yang diadakan di kantor BPTJ Kementerian Perhubungan, di Pancoran.

Acara peluncuran sistem transportasi online ini dikemas apik, yang menghadirkan Raim La Ode, si stand up comedyan, yang tampaknya nyambi jadi duta transportasi. Tapi tentu bukan dia bintang utama hari itu, melainkan Ibu Airin Rahmy Diani yang masyaallah cantiknya. Ya, blio Walikota saya.
saat peluncuran sistem online di resmikan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya

Lewat BPTJ (Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek) Kemenhub meluncurkan sistem perizinan transportasi online pada hari minggu kemarin, yang dihadiri langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya dan Walikota Tangerang Selatan yang masyaallah cantiknya itu.

Peluncuran ini memang harus dilakukan agar perusahaan transportasi, baik yang konvensional ataupun online tidak lagi terjadi pergesekan karena tidak jelasnya trayek yang berlaku pada transportasi online.

Dalam rapat kerja yang digelar pada Kamis (13/7/17) BPTJ mengungkapkan bahwa pemanfaatan sistem perizinan online ini bersifat cepat, mudah, efisien dan efektif dalam memberi layanan yang terukur.

Bambang Prihartono, selaku plt Kepala BPTJ menambahkan, bahwa keunggulan sistem online ini adalah non tunai dan telah terintegrasi dengan sistem SIMPONI Kementerian Keuangan. Nantinya operator angkutan langsung menerima e-billing PNBP melalui email tanpa harus ke kantor BPTJ, ini sekaligus bisa meminimalisir praktek pungli. tambah Bambang Prihartono.

Rapat kerja BPTJ pun langsung direspon oleh pihak-pihak terkait. Bersama Kemenhub meresmikan perizinan tersebut yang disaksikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya.

Dalam sambutannya, Budi Karya mengungkapkan satu fakta yang cukup mencengangkan. Bahwa warga Jabodetabek melakukan 45 juta kali pergerakan dalam sehari, yang dominan dilakukan saat jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari.

Fakta ini tentu menjadi alarm bagi kita semua. Sebagai kota megapolitan, pemerintah diwajibkan untuk mengakomodir kebutuhan warga Jakarta dan sekitarnya dalam hal kelancaran aktivitas sehari-hari. Transportasi, yang menjadi tulang punggung aktivitas warga terus membenahi diri dari segala sisi.

sadar dengan semakin maraknya sistem berbasis digital, Sistem online ini pun tidak hanya berlaku dalam hal legalitas saja, namun juga bisa untuk merealisasikan armada baru, serta peremajaannya.

Pembaharuan sistem transportasi ini tidak hanya membidik para pengguna alat transportasinya saja, tetapi juga untuk menertibkan para pramudi agar tidak ugal-ugalan dan membahayakan penumpang.

Ya, salah satu kegunaan sistem ini adalah untuk mengontrol si pengemudi agar tetap mengemudikan kendaraannya sesuai standar yang dianjurkan. Baik dari segi kecepatan (di jalan lurus atau tikungan), pengereman, hingga lamanya ngetem, semua terkontrol by sistem.

Selebihnya, tinggal kita yang wajib memanfaatkan fasilitas ini sebaik mungkin. Dengan kenyamanan dan fasilitas yang terus dikembangkan moda transportasi di Jakarta, tentu tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi. Dan dengan sendirinya, kita bisa mengurangi kemacetan Jakarta yang semakin menjadi.