Selasa, 20 Februari 2018

“Saya main bola karena kehendak tuhan, saya kembali ke Indonesia juga karena kehendak Tuhan,” lebih kurang demikianlah aksi gelandang Sriwijaya FC Palembang, Makan Konate, dalam sebuah iklan Kukubima Ener-G! beberapa waktu lalu. Tentu dia bukanlah satu-satunya pemain bola yang menjadi bintang minuman energi ini, tapi selama ajang Piala Presiden, Konate jadi bintang utamanya.

Saya cukup yakin hanya 1 persen dari kita yang tidak tahu apa itu Kukubima. Bagi yang tidak pernah mengonsumsinya sekali pun, merk ini sudah cukup terkenal di banyak kalangan. Saya sendiri sangat familiar dengan minuman ini, karena kerap mengonsumsinya selepas bermain Futsal, atau hanya sekadar lagi pengen saja. Tidak bisa dipungkiri memang jika minuman ini sangat menyegarkan.

Kemarin, Senin (19/2/2018) bertempat di Pondok Indah Golf Course saya berkesempatan menghadiri acara launching Kukubima Ener-G! yang turut dihadiri beberapa bintang lapangan hijau seperti Hamka Hamzah, Beto Goncalves dari Sriwijaya FC, Demerson, Yandi Sofyan, Miftahul Hamdi dari Bali United, Marko Simic, Maman Abdurrahman dari Persija Jakarta, Reva Adi Utama, Hasim Kipuw dari PSM Makassar, Hadi Abdillah, serta Gilang Ginarsa yang berasal dari PSIS Semarang.

 


Para bintang Liga 1 itu mewakili klub mereka masing-masing yang baru saja menjalin kerja sama dengan Kukubima. Bagi yang mengikuti gelaran Piala Presiden kemarin, tentu sudah melihat lambang Kukubima menempel di jersey kelima kesebelasan tersebut.

Melalui Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul TBK, Bapak Irwan Hidayat, tujuan Kukubima terjun ke ranah sepak bola adalah untuk mendukung kemajuan sepak bola Indonesia, terutama kompetisi Liga 1 yang baru berjalan tahun lalu.
para pemain dan manajemen klub berfoto bersama sebagai tanda terjalinnya kerja sama dengan Kukubima

“Semoga bergabungnya Kukubima di dunia sepak bola bisa membuat banyak orang semakin termotivasi untuk memajukan bola di Indonesia untuk terus berprestasi, baik di kancah nasional maupun internasional, apalagi sekarang kita mau mengadakan Asian Games. Jadi ini bisa dijadikan momen agar olahraga di Indonesia, khususnya sepak bola makin berkembang,” kata beliau, Senin (19/2/2018).

Selain itu, Pak Irawan menambahkan bahwa Kukubima ingin ikut andil dalam perkembangan industri sepak bola Indonesia yang sudah tidak lagi menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk operasional klub, sehingga pihak sponsorlah yang akan menjadi kekuatan utama keberlangsungan sebuah klub dalam mengarungi kompetisi.
Pak Irwan Hidayat saat memaparkan tujuan Kukubima terjun ke dunia sepak bola 

Imbas dari kerja sama ini tentu saja nama Kukubima yang semakin dikenal masyarakat luas, apalagi Persija baru saja menjadi juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United di final. Selain itu, Marko Simic juga menyabet dua gelar individu bergengsi, yaitu pemain terbaik dan top skorer turnamen dengan 11 golnya.
dibawa dong sama Simic dua trofinya

“Kami tidak menyangka Persija bisa juara Piala Presiden dan itu berdampak bagus bagi kami sebagai sponsor. Kami ingin semua CSR ikut berpartisipasi memajukan sepak bola dan kompetisi kita agar lebih kompetitif tiap tahunnya,” sambung Pak Irwan.

Kendati demikian, ada yang unik dari launching Kukubima kali ini. Selain sepak bola, produk asli Sido Muncul ini nyatanya memiliki misi lain di luar dunia olahraga, yaitu untuk menyelamatkan Sungai Citarum dari sampah yang selama ini mengancam. Bahkan hal ini menjadi tema utama acara yang diberi nama ‘Ayo Selamatkan Citarum’.

Keadaan sungai Citarum saat ini sudah tercemar berbagai limbah, seperti limbah rumah tangga, limbah industri yang tidak menggunakan IPAL membuat warna air sungai yang makin lama semakin coklat kehitaman, serta limbah peternakan dan perikanan. Tentu ini sangat ironis karena sungai itu punya fungsi yang sangat vital untuk masyarakat, salah satunya adalah menjadi sumber air minum warga sekitar.
salah satu concern Kukubima Ener-G! saat ini, ayo selamatkan Citarum

Sekilas mungkin tidak ada hubungannya minuman energi dengan keadaan lingkungan yang ada. Tapi lagi-lagi Kukubima ingin semua masyarakat sadar bahwa fenomena lingkungan, terutama kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama.

Berawal dari inisiatif Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo, yang kerap membersihkan sungai Citarum bersama anggotanya, Kukubima pun ikut tergerak untuk sama-sama membersihkan kawasan sungai yang selama ini dikenal sebagai tempat yang tidak layak akibat kebiasaan warga yang membuang sampah di tepi sungai.

Gerakan ini dirasa perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran warga agar tidak membuang sampah sembarangan supaya bisa terhindar dari bencana banjir yang selama ini terus menghantui. Apa yang dilakukan Kukubima ini pun bukan hanya sebatas kampanye semata, tapi mereka juga sudah turun langsung untuk membersihkan Sungai Citarum.

Jadi jelas tujuan Kukubima Ener-G sangat bermakna dan tidak cuma untuk kemajuan sepak bola. Lebih dari itu, mereka ingin membentuk kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan lama yang masih membuang sampah sembarangan agar lebih aware pada masalah sekitarnya. Karena salah satu cara mencegah terjadi banjir berasal dari kesadaran kita sendiri terhadap lingkungan.


Senin, 29 Januari 2018

gambar: zimbio.com

Sepak bola adalah olahraga rakyat yang tak bisa jauh dari kontroversi. Memang, semua olahraga tak luput dari kontroversi, tapi cabang lain perlahan mulai berbenah dengan segala kemajuan teknologi yang bisa membuat pertandingan menjadi lebih adil dan dapat diterima banyak penggemarnya.

Kita mengenal Tenis sebagai salah satu permainan paling melelahkan. Untuk menghabiskan satu pertandingan saja, ia bisa memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Dulu, permainan yang menggunakan raket ini hanya mengandalkan wasit dan beberapa petugas yang mengamati apakah bola yang dipukul Andre Agassi ketahuan deh umur saya dan kawan-kawannya masuk atau keluar.

Sekarang Tenis sudah menggunakan teknologi yang bernama Hawk Aye. Gunanya tentu saja untuk membantu sang pengadil menentukan keputusan apakah bola masuk dalam garis lapangan atau tidak. Begitupula dengan bulutangkis. Kini, andai Taufik Hidayat masih bermain, ia sudah tak perlu lagi walk out gara-gara wasit yang tidak becus itu ketika berlaga di Asian Games Korea Selatan beberapa tahun lalu. Cukup acungkan tangan ke atas meminta challenge.

Sepak bola juga demikian. Banyaknya kotroversi yang terjadi membuat FIFA sebagai induk organisasi berpikir keras bagaimana membuat olahraga semilyar umat ini bisa lebih berdaulat adil dan makmur. Maka terciptalah Video Assistant Referee, atau kondang dengan sebutan VAR.

Tapi hal itu tidak serta merta membuat semua orang puas. Di Italia dan Jerman (kompetisinya sudah menggunakan VAR) banyak yang tidak puas dengan kinerja teknologi itu. Pasalnya, wasit membutuhkan waktu yang lama untuk membuat keputusan. Contoh: ketika para pemain sudah meluapkan kegembiran karena berhasil mencetak gol, tiga menit kemudian sang pengadil bisa menganulir gol tersebut setelah melihat tayangan ulang VAR. Kan pemain sama fans jadi ngomong anjeeeeeng kalo gitu.

Salah satu kompetisi elit yang belum menggunakan VAR adalah Liga Inggris. Tapi tampaknya teknologi itu akan segera dipakai Premier League seiring makin seringnya opa Arsene Wenger ngambek karena kinerja wasit, yang menurutnya makin terbelakang.

Tidak bisa dipungkiri memang jika Liga Inggris menjadi sarang kontroversi yang salah satunya disebabkan oleh wasit. Ya, hampir sama dengan Liga Italia. Tapi di Serie A kontroversi hanya tersentralisasi pada pertandingan Juventus saja. di Negeri Ratu Elizabeth, momen-momen itu terjadi merata, terutama setelah Sir Alex Ferguson mangkat dari jabatannya di klub yang itu.

Jauh sebelum Wasit Lee Mason membuat kontroversi karena larinya lebih kencang dari bintang muda Manchester United, Jesse Lingard (LAAAAH), Inggris memiliki satu nama tenar lainnya dalam diri Mark Clattenburg.

Bagi fans Liverpool, Clattenburg dicap sebagai wasit yang selalu membela Manchester United. Sedangkan menurut fans United, ia tak lebih dari sekedar musuh yang harus disoraki tiap meniupkan peluit. (Aneh kan? ya iyalah, kalo nggak ya bukan kontroversi namanya).

Pada 2016 lalu, Clattenburg pernah membuat Raheem Sterling ngamuk karena dianggap handball. Padahal dalam tayangan ulang terlihat jelas bola mengenai badannya. Keputusan ini pun membuat Manchester City takluk 1-2 dari Tottenham Hotspur.

Sedangkan di luar lapangan, wasit 42 tahun itu juga tak luput dari kontroversi. Ia ketahuan selingkuh dengan seorang wanita muda bernama Andrea. Hebatnya, Clattenburg mengaku masih bujangan pada Andrea dan rela melepas jabatannya sebagai wasit demi memulai hidup bersama. Nahasnya, perbuatannya itu diketahui oleh sang istri, Claire, yang melabraknya langsung.

Yang tak kalah kontroversi dari sosok wasit asal Inggris ini adalah ucapan rasisnya kepada pemain Chelsea ketika itu, John Obi Mikel. 2012 lalu, ia dituding mengucapkan kata 'monyet' pada pemain asal Nigeria tersebut. Tak hanya Mikel, ucapan Clattenburg juga menyasar Juan Mata dengan menyebutnya sebagai orang Spanyol yang idiot.

Kendati pada akhirnya ia membantah tuduhan rasis itu, dirinya sudah kadung menjadi buah bibir seantero Inggris dan dunia. Mungkin, entah benar atau salah, hal ini secara ridak langsung membuatnya di deportasi dari Liga Inggris. Sejak musim ini, Clattenburg di pindah tugaskan menuju Arab Saudi.

Lama tak terdengar namanya, Clattenburg tiba-tiba muncul membawa cerita baik nan menghangatkan. Di negara salah satu peserta Piala Dunia 2018 itu, wasit kharismatik ini membuat semua orang takjub dan kembali membicarakannya. Tidak hanya media dari negara asalnya yang terkenal kejam, rekan sejawat, maupun pelaku sepak bola, tapi juga dari warganet yang menyaksikan aksi terbarunya.

Pada sebuah pertandingan bertajuk King's Cup antara Al Feiha vs Al Fateh, Clattenburg mengguncang dunia ketika laga memasuki menit 95 di babak tambahan. Pasalnya, laga yang tengah berjalan panas ini dihentikan oleh sang pengadil. Bukan karena ada pemain yang tergeletak di lapangan, atau lemparan botol dari penonton, apalagi aksi walk out dari salah satu manajer tim. Tapi karena kumandang azan yang menggema di King Salman bin Abdul Aziz Sport City Stadium.


Bukan satu dua menit ia menghentikan laga. Nyaris empat menit pertandingan berhenti hingga azan benar-benar selesai. Penonton, staff pelatih, dan pemain yang berada di bangku cadangan, maupun 22 penggawa yang sedang bertarung di lapangan, semua tampak diam. Suasana hening semakin menambah syahdu lantunan azan dari muazin. Bahkan, komentator yang tadinya bersemangat memandu laga juga larut dalam takbir.

Setelah azan selesai, laga kembali dilanjutkan dengan diawali tepukan tangan penonton yang memadati stadion. Mereka memuji keputusan Clattenburg yang menghentikan laga itu. Ketika video ini tersebar, banyak warganet yang memuji keputusan wasit kelahiran Consett, Inggris. Mereka menganggap sang pengadil telah mempertontonkan rasa hormat yang tinggi kepada orang-orang muslim di seluruh dunia.

Praktis kontroversi yang selama ini melekat dari dirinya berubah menjadi puja-puji. Bukan hanya karena ia menghentikan laga saat azan berkumandang, tapi juga latar belakangnya yang memiliki kepercayaan berbeda dan statusnya sebagai warga Inggris yang baru kali ini bertugas di Timur Tengah, terlebih Arab Saudi yang memiliki peraturan sangat ketat.

Saya tidak tahu apakah semua pertandingan di sana akan dihentikan jika terdengar suara azan karena memang belum melihat video serupa sebelumnya. Tapi setidaknya di Indonesia hal tersebut tidak terjadi di Liga Bank Mandiri, Liga Super Indonesia, Indonesia Super Championship, Liga 1, atau apa pun federasi menamakan kompetisi di tanah air.

Dari banyak stadion, kandang Persiba Balikpapan (sebelum pindah ke Stadion Batakan) memiliki jarak sangat dekat dengan Mesjid. Bahkan kerap terdengar suara azan di tengah-tengah pertandingan. Tapi apakah wasit menghentikan laga? Tidak. Ia tetap melanjutkan, hanya suporter yang berhenti bernyanyi dan menari mendukung klubnya bertanding.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan Clattenburg bisa dibilang sikap luar biasa di tengah kontroversi yang membelenggu sepanjang kariernya. Sebagai orang yang tidak tahu apa maksud dari azan dan bagaimana sakralnya arti azan bagi umat muslim di dunia, dia bukan hanya patut dipuji, tapi juga harus dikenang. Terlebih bagi kita masyarakat Indonesia yang masih harus banyak belajar toleransi dan menghormati agar bisa keluar dari jebakan batman bernama kaum bumi datar, bumi bulat, cebong, atau kaum apalah-apalah itu yang sering dijuluki oleh netizen.

Sabtu, 23 Desember 2017

Hujan selalu menemukan ceritanya sendiri di kehidupan manusia. Dengan segala jenis latar belakang ia hadir memenuhi ruang hidup kita. Hujan tidak hanya tentang mereka yang kehujanan, kebanjiran, atau mereka yang hanya menari-nari di film India. Ia sudah menjadi saksi bagaimana kita mengenal, berjalan, bertahan, hingga mengukir kisah-kisah yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tak perlu berapa kali hujan yang buat kita semakin dekat, saling menghangatkan dalam kedinginan yang cukup menusuk tulang. Bahkan disaat berada di tempat berbeda pun kita selalu merasa ada di ruang yang sama.

Hujan pertama datang tepat disaat kita memutuskan mengukir kisah berdua. Kita tertahan cukup lama hingga larut di tepian jalan, menikmati basah hingga ke tulang. Tapi itu lah indahnya, ketika kita bisa menangkap hangat genggaman pertama. Hingga pada dalam perjalanannya ia selalu mengiringi kita kemana pun tujuannya.

Kita bermula dengan cara yang menurut orang-orang tidak biasa. Bahkan terlalu berani, kata mereka. Namun, inilah kita. Membuat awal yang tak biasa berjalan luar biasa. Hingga sekarang, kita, atau aku setidaknya, masih tak menyangka bisa berujung hingga sedemikian rupa.

Kita membuat jarak yang terbentang sama sekali tak terasa. Menikmati bersama hingga akhirnya berada pada titik yang sebelumnya tak pernah aku lakukan sebelumnya. Dia adalah wanita pertama yang ku kenalkan pada keluarga hingga akhirnya mereka saling tatap muka. Ini adalah sebuah keberanian yang luar biasa, kata mereka. Ya, tidak satu wanita pun yang ku kenalkan langsung pada keluarga sebelumnya. Cuma dia.

Bahkan ada satu obrolan yang sangat jauh kita bicarakan. Di hadapan mereka aku berujar dan hingga saat ini ku pegang. Kita berproses kian jauh saat dia terhubung langsung dengan wanita yang turut melahirkanku. Wanita pertama yang ku cintai di dunia. Satu hal yang tak  dapat disangka sebelumnya. Apalagi, ibu sendiri yang minta dikenalkan.

Tentu awalnya saya takut karena saya kenal bagaimana responnya pada orang lain. Tapi niatnya yang memang ingin mengenal satu-satunya wanita yang bukan dari rahimnya dalam keluarga membuat saya luluh dan membiarkan mereka bercengkrama. Mereka akhirnya saling bercerita. Bahkan ibu lebih sering menghubunginya daripada berbicara dengan saya.

Dia yang saat pertama bertemu dengan keluarga saya sangat kikuk, tampak cukup leluasa berbicara dengan ibu. Ya mungkin karena hanya lewat gawainya. Entah bagaimana rupanya jika bertatap muka.

Kita terus berjalan dengan entah berapa kali hujan dan berapa waktu dihabiskan di tepi jalan. Tapi sebab itu lah cerita kita berbeda sedari awal. Kebersamaan yang kita jaga di sela waktu dalam bekerja menjadi kenikmatan tersendiri. Kita berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang kita inginkan. Hingga akhirnya beberapa perbedaan turut serta dalam cerita. Aku pindah kerja, yang otomatis membuat waktu Bersama berantakan, sekalipun jarak semakin dekat. Dengan apa yang selama ini telah kami lewati, semua akhir kembali pada waktu. Waktu akan perubahan, atau juga pada kekurangan satu sama lain.

Pada akhirnya kita dengan terpaksa menjadi siapa. Hujan yang membuat semua cerita turut mengambilkannya. Membuat tidak ada lagi rindu yang tercipta pada dirinya, tak ada pula tatapan hangat darinya. Mata kami tak lagi bertemu di sore itu, sekalipun aku tak pernah mengalihkan mata dari wajahnya. Tapi, tentu genggaman terakhir masih terasa sama seperti yang pertama. Tapi mungkin itu hanya bagiku, entah baginya.

Manusia memang tidak ada yang sama. Semua tercipta berbeda, hanya tinggal bagaimana kita yang menyatukannya. Banyak yang bersatu karena perbedaan, tapi memang tidak sedikit pula yang terpisah dan saling serang karenanya. Dan kita? Salah satu diantara kita memilih kalah atas perbedaan tersebut.


Selain mati yang tak punya jawabannya di dunia. Keputusan siapa, apa, atau apa pun itu namanya juga tak keluar dari bibirnya . Banyak pertanyaan yang terlontar, tapi sebanyak itu pula mulutnya bungkam. Biarlah. Biar dia yang tahu apa sebenarnya, karena mungkin jawaban sesungguhnya akan sakit untuk diterima. Sedangkan saya? Saya cukup berfantasi dengan praduga yang hilir mudik di kepala.

gambar: pinterest.com

Jumat, 22 Desember 2017

Di awal pertemuan dalam hujan ku bersimpuh di bahumu, bersandar penuh dengan kenyamanan. Saat itu ku merasa egois, egois akan kenyamaan ini, berharap dan meminta tetap senyaman ini.
Sepertinya alam selalu mendukung keberadaan kita, disaat bersama saling bermanja, saling beradu kenyamanan. 

Saat itu cukup untuk kita tersadar bahwa cinta begitu indah untuk dirasakan, begitu lebih baik untuk suasana hati.
Saat ini juga aku hanya ingin tetap seperti ini,
Tetap dengan kenyamanan ini, dengan perasaan ini..

Namun kala itu ...
Kita sama sama kembali egois untuk saling mencinta.. 
aku selalu terpejam berdoa agar kita selalu dalam satu genggaman.
Tak lama itu kita hanya menyadari untuk tidak berlebih mencinta, 
Semuanya telah pudar seperti langit biru tertutup awan hitam ...
Saat itu aku takut, takut semuanya memudar kala warna indah telah tergambar ...

Tak sampai hati ini memilih tinggal 
Sampai perasaan ini memilih untuk meninggalkan 
Perasaan ini begitu adil seperti alam menyuguhi terik dan gelap ..
Aku ingin tetap tinggal namun hati terlalu berat untuk mempertahankan ...

Dan kembali lagi seperti di awal.
Alam ikut seperti berbicara dikala mulut tak sanggup mengucap kata untuk berpisah ..
Seperti mengetahui segala isi hati dan pikiran.
Sejujur inilah akhir yang berat ,
Saat mata tak sanggup bertemu 
saat sentuhan yang selalu nyaman namun kali ini sulit untuk dirasakan , 
Disaat pelukan yang selalu inginkan kini tak sanggup untuk dilakukan 
Dan saat gengaman tangan yang begitu sulit untuk digapai ...

Dan kamu bisa rasakan ini ...
Hujan yang tiba-tiba begitu datang seperti yang paling memahami, memahami segala kata yang sulit terucap namun mata berbicara ...
Untuk itu maafkan untuk segalanya 
Untuk perpisahan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya ...
Terima kasih untuk segala kenyamanan 
Untuk setiap hujan yang selalu datang disaat tepat kita bersama , 
Ia seperti saksi bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengakhirinya ....


Tulisan oleh Cahya Tzurayya

gambar: awakeningclaritynow.com