Jumat, 19 April 2019

Udah? Udah? Udah copras-capresnya? Udah cebong-kampretnya? Udah klaim kemenangannya? Selesai sudah keruwetan negara seiring berakhirnya Pemilu dan Pilpres 17 April kemarin. Sekarang hingga seterusnya kita bisa kembali hidup tenang tanpa dipisahkan antara 01 maupun 02. Tapi tentu, ini tidak menjamin apa-apa.

Walau begitu, saya setidaknya pantas berterima kasih dengan diselenggarakannya Pemilu pada Rabu kemarin. Berkat pesta demokrasi inilah mata batin saya kembali terbuka untuk menghidupkan lagi wandasyafii ini.

Adalah Andhika Manggala orang pertama yang membuat saya ingin kembali menulis di blog. Secara tidak langsung memang pengaruh yang dia berikan, tapi cukup berdampak signifikan dengan gairah ngeblog saya.

Suatu siang, Ketua Umum Warung Blogger yang akrab disapa Ucha ini meminta saya untuk membantunya dalam menyelesaikan tulisan berjudul "Setelah 17 April" di blognya. Setelah tanya ini tanya itu, saya menyanggupi permintaannya. Sayang, 400-an kata yang sudah saya setorkan tidak pernah benar-benar muncul di blognya.

Tapi dari situlah saya mulai sadar dan ingin kembali menulis di blog. Satu hari sebelum pencoblosan, wandasyafii pun lahir kembali dengan segala macam pertimbangan. Dua kawan saya, Andhika dan Yosfiqar Iqbal meminta saya untuk berpikir ulang sebelum ngeblog lagi.

Tujuan mereka jelas, mereka tidak ingin keinginan saya menghidupkan wandasyafii ini hanya karena semangat sesaat. "Wan mending senang-senang dulu sama yang gratisan, kalo udah nemu ritme nulisnya baru suruh Ucha ngerjan," kata Bang Yos di Grup WhatsApp, yang kemudian diamini Ucha.

Apa yang dikatakan Bang Yos 100 persen benar. Sudah hampir dua tahun saya kesulitan menemui ritme nulis di blog seperti dulu. Hal ini juga yang menyebabkan wandasyafii mangkrak selama 256 hari. Ini bukan jumlah hari saya tidak menulis di blog, tapi jumlah hari saya tidak bayar domain. YHA!

Jika soal menulis di blog, saya lupa tepatnya berapa hari. Mungkin nyaris setahun mengingat tulisan terakhir saya di sini mengenai kiper Liverpool, Loris Karius, yang membuat blunder konyol di final Liga Champions 2018 lalu.

Omongan Bang Yos tersebut benar-benar menjadi cambuk buat saya. Apalagi hilangnya ritme ngeblog saya disebabkan oleh rutinitas pekerjaan yang sangat padat. Masalah ini bukan soal waktu saja, tapi juga gaya penulisan dan, ya, ritme tulisan yang cukup berubah drastis.

Begini, saya sekarang menjadi reporter di salah satu media sepak bola yang diwajibkan menulis 12 artikel perharinya. Belum lagi gaya penulisan hard news yang menjadi makanan sehari-hari membuat perlahan tapi pasti, saya terbawa irama menulis sebuah berita dengan segala tata krama yang ada di dalamnya.

Cara ini secara perlahan mengikis gaya lama saya dalam menulis blog. Dalam ngeblog, saya orang yang cukup ceplas-ceplos dengan tulisan lumayan panjang. Tapi lama kelamaan saya kesulitan menulis di atas 500-an kata. Hal ini terjadi karena kebiasaan pekerjaan yang mengharuskan bobot satu tulisan tak lebih dari 200-an kata.

Jika dilihat sekilas, hal di atas tidak cukup menjadi alasan. Tapi bagi saya, ini benar-benar jadi masalah. Jelas saya tidak menyalahkan pekerjaan dan rutinitas di kantor. Ini murni faktor dari saya pribadi yang malas, mudah lelah, dan jengah jika diharuskan menulis terus menerus.

Beberapa kali saya coba menulis lagi di blog. Setidaknya ada dua tulisan yang sempat saya bikin tapi tidak pernah selesai. Kenapa tidak selesai? Ya karena itu tadi, saya mulai kesulitan menulis panjang seperti dulu lagi.

Tapi belakangan saya seolah dberikan pertanda baik. Di kantor, saya beberapa kali dipercaya untuk menulis panjang, baik itu Artikel Khusus, Legenda, maupun E-Magazine. Bahkan di rubrik Legenda, tiga tulisan saya mencapai seribuan kata per-artikel. Treatment ini jelas sangat membantu mengembalikan ritme tulisan panjang saya yang dulu.

Berbekal dengan trend tersebut, ditambah "pancingan" yang dibuat Ucha, saya akhirnya memutuskan untuk kembali menghidupkan wandasyafii. Saya yakin dan percaya bahwa masalah-masalah di atas bisa kembali terjadi beberapa waktu ke depan.

Lalu, setelah memutuskan kembali, apakah saya akan hilang lagi dari dunia blogger? Entahlah. Yang jelas saya tidak bisa pastikan akan produktif ngeblog seminggu sekali atau sebulan sekali. Saya hanya ingin memastikan bahwa blog ini tidak akan kosong sampai tiga bulan lamanya.

Ada banyak cerita yang nantinya saya bagikan di sini. Soal anak yang baru lahir, atau apa pun itu. Akan banyak pula keluh kesah yang akan saya nyinyirkan di sini. Baik soal buzzer XL jika nanti juga kembali, perpolitikan indonesia ke depannya, atau masalah yang saat ini punya dampak masif pada sisi humanis kita, gim online.

Dengan mengucap Bismillah, semoga saja tidak ada kembali-kembali berikutnya!!!

gambar: steemit.com

Senin, 28 Mei 2018


Entah apa yang menjadi pertimbangan Juergen Klopp ketika menawarkan nama Loris Karius kepada manajemen Liverpool untuk meminangnya. Memiliki track record mumpuni soal transfer semenjana dan menjadikan seorang pemain memiliki talenta kelas dunia, manajemen pun tidak berpikir dua kali untuk memenuhi keinginan sang pelatih.

Seperti yang diketahui, Klopp sukses besar dengan transfer pemain kasta bawah. Di Borussia Dortmund ia sukses besar ketika mengorbitkan nama-nama yang sulit ditulis, apalagi dilafalkan seperti Lucasz Piszcek, Jakup Blaszczykowski, Kevin Groskreutz, Sinji Kagawa, hingga striker yang terus berjalan sendiri di tabel top skorer Bundesliga, Robert Lewandowski.

Tapi mungkin manajemen Liverpool lupa bahwa tidak semua transfer Klopp yang serupa berakhir sempurna. Ia gagal bersama pemain antah berantah lain semisal Tinga, Patrick Njambe, Damir Vrancic, bahkan karier Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang juga tidak terlalu mentereng ketika Dortmund masih dikendalikan pelatih berkacamata itu.
gambar: zimbio.com
Datang ke Liverpool, Klopp seperti ingin bernostalgia pada kesuksesannya di Dortmund dengan mendatangkan beberapa nama awam seperti Ragnar Klavan, Dominic Solanke, dan tentu saja Loris Karius. Namun, ada baiknya kita meninggalkan dua nama pertama karena keduanya tidak berkontribusi apa-apa, setidaknya untuk tulisan ini.

Nama Karius sudah menjadi buah bibir ketika ia menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Melwood. Datang ketika berusia 22 tahun dan berstatus sebagai kiper Tim U-21 Jerman, banyak ekspektasi yang menghinggapi dirinya, paling minimal ia harus bisa bermain lebih baik dari Simon Mignolet.

Pada siklus yang berbeda, kehadiran Karius menjadi magnet tersendiri bagi perkembangan populasi suporter Liverpool di seluruh dunia, terutama wanita. Karius bukan hanya dikarunia kehebatan menjaga gawang, ia juga dianugerahi tampang rupawan yang buat sebagian orang, itu sudah cukup menutupi performa di lapangan.
gambar: liverpoolfc.com
Sayangnya, dia datang di waktu yang salah. Tugasnya memikul beban berat gagal ia laksanakan di tahun pertama. Ambisinya menjadikan Mignolet sebagai penyakitan di bangku cadangan justru berbalik padanya karena penampilan buruk dan kesalahan tingkat kacangan yang ia buat. Seketika itu pula, fans perempuan yang memuji ketampanan Karius juga ikut gerah dan tak segan menghujat permainan buruknya.

Tapi Karius tidak menyerah. Ia terus berusaha keras dan melahap latihan dengan semangat. Kesempatan kembali datang musim ini ketika dirinya dipercaya sebagai penjaga gawang utama khusus Liga Champions – awalnya – oleh Klopp. Dewi fortuna kian mendekatinya ketika performa minor Mignolet di Premier League membuat manajer mengambil keputusan penting. Karius resmi jadi pilihan utama untuk semua kompetisi.

Keputusan tersebut terbukti tepat. Sejak dikawal Karius, keperawanan gawang Liverpool mengalami peningkatan. Di Liga Champions, Liverpool mencatatkan enam cleansheet. Sedangkan di Premier League, gawangnya 10 kali tidak kebobolan dari 19 pertandingan, lebih banyak dari Mignolet yang notabene bermain lebih sering.

Karius kian matang sejak dipercaya menjadi kiper utama. Beberapa penyelamatan krusial pun kerap ia lakukan, seperti saat menepis tandukan Shane Long (Southampton), tendangan keras Pablo Sarabia (Sevilla), sepakan melengkung Mohamed Diame (Newcastle United), penalti Harry Klaim Kane (Spurs), hingga tendangan volley Marko Arnautovic.

Dengan penuh kesombongan saya mengatakan Karius layaknya seorang David De Gea, yang hanya menjadi bahan lelucon ketika pertama kali datang ke Manchester United lalu berubah bak pahlawan seorang diri ketika Setan Merah mampu mempertahankan tempat di papan atas. Karius sedang melewati fase yang pernah dirasakan De Gea beberapa waktu lalu. Hingga sebelum final Liga Champions, saya masih yakin dia mampu seperti itu dan Liverpool tidak perlu membeli kiper baru seperti Alisson Becker, terlebih seorang parasit bernama Gianluigi Donnarumma.
gambar: zimbio.com
Semua bayangan saya di atas berjalan mulus hingga final Liga Champions....sepanjang babak pertama. Ia berhasil menunjukkan dirinya layak bermain di final. Terbang menghalau crossing Dani Carvajal, menepis sundulan Cristiano Ronaldo di muka gawang, hingga menghalau sepakan jarak dekat Isco, Karius telah sah menjadi penyelamat Liverpool pada interval pertama.

Tapi apa daya, tuah 45 pertama berubah menjadi tulah pada paruh kedua. Karius membuat dua blunder di luar logika. Gol pertama bisa dikatakan berkat andil kepintaran Karim Benzema yang mengangkat kakinya. Tapi untuk gol kedua yang dicetak Gareth Bale, agama mana yang bisa memaafkan perbuatan horor itu???

Karius tidak hanya menghancurkan harapan Kopites seluruh dunia. Lebih dari itu, ia bisa mengubur kariernya sendiri akibat kesalahan tersebut. Pertandingan final sekaliber Liga Champions, blunder seperti itu, tentu bisa mengganggu psikis sang pemain. Bahkan dia sendiri mengaku tidak bisa tidur setelah pertandingan.

Usai laga pun Karius tidak kuasa menahan tangis sembari memohon ampun kepada fans. Hal serupa terulang ketika skuat The Reds tiba di bandara John Lennon, Liverpool. Karius menuruni tangga pesawat dengan menutupi wajahnya dengan tangan.

Setelah itu penjaga gawang yang pernah menimba ilmu di Manchester City menulis surat terbuka, yang intinya minta maaf pada semua orang. Ia mengaku kekalahan Liverpool disebabkan oleh aksi horornya di bawah mistar.

Dia sudah malu, sudah minta maaf, dan seakan tak sanggup melihat lingkungannya. Sekarang yang harus dilakukan adalah bangkit dan terus memperbaiki diri agar Klopp tidak berpaling darinya pada musim depan. Rekan setim yang saat di lapangan membiarkannnya berjalan sendirian menghampiri fans pun mulai menguatkan sang kiper. Mereka kompak menginginkan Karius bangkit dan terus membenahi performanya. Bahkan Inter Milan dan Napoli juga tidak ketinggalan memberikan dukungan lewat media sosial. Tidak ketinggalan, seorang legenda layar handphone, Mia Khalifa, juga menyemangati pemain yang disekujur tubuhnya dipenuhi tato itu.

Kita sebagai fans pun sudah semestinya kembali memberinya dukungan dan membuat Karius berdiri tegak lagi. Saya pun masih cukup percaya dengan kapabilitasnya untuk terus mengawal gawang Liverpool kecuali Liverpool dapetin Alisson.

Tanpa perlu kita bilang, Karius sudah pasti berpikir untuk bermain lebih baik lagi. Mengubur memori buruk 27 Mei 2018 demi terus berjalan bersama pemain lainnya untuk menggapai prestasi yang sudah menunggu Liverpool di masa mendatang. Semoga!

Selebihnya, sudah sepatutnya Karius mengurangi kegiatannya di media sosial. Tidak perlu juga dia kerap memamerkan kegantengannya di sana jika performa di lapangan justru mengatakan sebaliknya. Mubazir itu namanya.  Cukup performa Paul Pogba di Instagram saja yang mendapat banyak like, tapi dihujat di lapangan.

Selasa, 20 Februari 2018

“Saya main bola karena kehendak tuhan, saya kembali ke Indonesia juga karena kehendak Tuhan,” lebih kurang demikianlah aksi gelandang Sriwijaya FC Palembang, Makan Konate, dalam sebuah iklan Kukubima Ener-G! beberapa waktu lalu. Tentu dia bukanlah satu-satunya pemain bola yang menjadi bintang minuman energi ini, tapi selama ajang Piala Presiden, Konate jadi bintang utamanya.

Saya cukup yakin hanya 1 persen dari kita yang tidak tahu apa itu Kukubima. Bagi yang tidak pernah mengonsumsinya sekali pun, merk ini sudah cukup terkenal di banyak kalangan. Saya sendiri sangat familiar dengan minuman ini, karena kerap mengonsumsinya selepas bermain Futsal, atau hanya sekadar lagi pengen saja. Tidak bisa dipungkiri memang jika minuman ini sangat menyegarkan.

Kemarin, Senin (19/2/2018) bertempat di Pondok Indah Golf Course saya berkesempatan menghadiri acara launching Kukubima Ener-G! yang turut dihadiri beberapa bintang lapangan hijau seperti Hamka Hamzah, Beto Goncalves dari Sriwijaya FC, Demerson, Yandi Sofyan, Miftahul Hamdi dari Bali United, Marko Simic, Maman Abdurrahman dari Persija Jakarta, Reva Adi Utama, Hasim Kipuw dari PSM Makassar, Hadi Abdillah, serta Gilang Ginarsa yang berasal dari PSIS Semarang.

 


Para bintang Liga 1 itu mewakili klub mereka masing-masing yang baru saja menjalin kerja sama dengan Kukubima. Bagi yang mengikuti gelaran Piala Presiden kemarin, tentu sudah melihat lambang Kukubima menempel di jersey kelima kesebelasan tersebut.

Melalui Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul TBK, Bapak Irwan Hidayat, tujuan Kukubima terjun ke ranah sepak bola adalah untuk mendukung kemajuan sepak bola Indonesia, terutama kompetisi Liga 1 yang baru berjalan tahun lalu.
para pemain dan manajemen klub berfoto bersama sebagai tanda terjalinnya kerja sama dengan Kukubima

“Semoga bergabungnya Kukubima di dunia sepak bola bisa membuat banyak orang semakin termotivasi untuk memajukan bola di Indonesia untuk terus berprestasi, baik di kancah nasional maupun internasional, apalagi sekarang kita mau mengadakan Asian Games. Jadi ini bisa dijadikan momen agar olahraga di Indonesia, khususnya sepak bola makin berkembang,” kata beliau, Senin (19/2/2018).

Selain itu, Pak Irawan menambahkan bahwa Kukubima ingin ikut andil dalam perkembangan industri sepak bola Indonesia yang sudah tidak lagi menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk operasional klub, sehingga pihak sponsorlah yang akan menjadi kekuatan utama keberlangsungan sebuah klub dalam mengarungi kompetisi.
Pak Irwan Hidayat saat memaparkan tujuan Kukubima terjun ke dunia sepak bola 

Imbas dari kerja sama ini tentu saja nama Kukubima yang semakin dikenal masyarakat luas, apalagi Persija baru saja menjadi juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United di final. Selain itu, Marko Simic juga menyabet dua gelar individu bergengsi, yaitu pemain terbaik dan top skorer turnamen dengan 11 golnya.
dibawa dong sama Simic dua trofinya

“Kami tidak menyangka Persija bisa juara Piala Presiden dan itu berdampak bagus bagi kami sebagai sponsor. Kami ingin semua CSR ikut berpartisipasi memajukan sepak bola dan kompetisi kita agar lebih kompetitif tiap tahunnya,” sambung Pak Irwan.

Kendati demikian, ada yang unik dari launching Kukubima kali ini. Selain sepak bola, produk asli Sido Muncul ini nyatanya memiliki misi lain di luar dunia olahraga, yaitu untuk menyelamatkan Sungai Citarum dari sampah yang selama ini mengancam. Bahkan hal ini menjadi tema utama acara yang diberi nama ‘Ayo Selamatkan Citarum’.

Keadaan sungai Citarum saat ini sudah tercemar berbagai limbah, seperti limbah rumah tangga, limbah industri yang tidak menggunakan IPAL membuat warna air sungai yang makin lama semakin coklat kehitaman, serta limbah peternakan dan perikanan. Tentu ini sangat ironis karena sungai itu punya fungsi yang sangat vital untuk masyarakat, salah satunya adalah menjadi sumber air minum warga sekitar.
salah satu concern Kukubima Ener-G! saat ini, ayo selamatkan Citarum

Sekilas mungkin tidak ada hubungannya minuman energi dengan keadaan lingkungan yang ada. Tapi lagi-lagi Kukubima ingin semua masyarakat sadar bahwa fenomena lingkungan, terutama kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama.

Berawal dari inisiatif Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo, yang kerap membersihkan sungai Citarum bersama anggotanya, Kukubima pun ikut tergerak untuk sama-sama membersihkan kawasan sungai yang selama ini dikenal sebagai tempat yang tidak layak akibat kebiasaan warga yang membuang sampah di tepi sungai.

Gerakan ini dirasa perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran warga agar tidak membuang sampah sembarangan supaya bisa terhindar dari bencana banjir yang selama ini terus menghantui. Apa yang dilakukan Kukubima ini pun bukan hanya sebatas kampanye semata, tapi mereka juga sudah turun langsung untuk membersihkan Sungai Citarum.

Jadi jelas tujuan Kukubima Ener-G sangat bermakna dan tidak cuma untuk kemajuan sepak bola. Lebih dari itu, mereka ingin membentuk kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan lama yang masih membuang sampah sembarangan agar lebih aware pada masalah sekitarnya. Karena salah satu cara mencegah terjadi banjir berasal dari kesadaran kita sendiri terhadap lingkungan.


Senin, 29 Januari 2018

gambar: zimbio.com

Sepak bola adalah olahraga rakyat yang tak bisa jauh dari kontroversi. Memang, semua olahraga tak luput dari kontroversi, tapi cabang lain perlahan mulai berbenah dengan segala kemajuan teknologi yang bisa membuat pertandingan menjadi lebih adil dan dapat diterima banyak penggemarnya.

Kita mengenal Tenis sebagai salah satu permainan paling melelahkan. Untuk menghabiskan satu pertandingan saja, ia bisa memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Dulu, permainan yang menggunakan raket ini hanya mengandalkan wasit dan beberapa petugas yang mengamati apakah bola yang dipukul Andre Agassi ketahuan deh umur saya dan kawan-kawannya masuk atau keluar.

Sekarang Tenis sudah menggunakan teknologi yang bernama Hawk Aye. Gunanya tentu saja untuk membantu sang pengadil menentukan keputusan apakah bola masuk dalam garis lapangan atau tidak. Begitupula dengan bulutangkis. Kini, andai Taufik Hidayat masih bermain, ia sudah tak perlu lagi walk out gara-gara wasit yang tidak becus itu ketika berlaga di Asian Games Korea Selatan beberapa tahun lalu. Cukup acungkan tangan ke atas meminta challenge.

Sepak bola juga demikian. Banyaknya kotroversi yang terjadi membuat FIFA sebagai induk organisasi berpikir keras bagaimana membuat olahraga semilyar umat ini bisa lebih berdaulat adil dan makmur. Maka terciptalah Video Assistant Referee, atau kondang dengan sebutan VAR.

Tapi hal itu tidak serta merta membuat semua orang puas. Di Italia dan Jerman (kompetisinya sudah menggunakan VAR) banyak yang tidak puas dengan kinerja teknologi itu. Pasalnya, wasit membutuhkan waktu yang lama untuk membuat keputusan. Contoh: ketika para pemain sudah meluapkan kegembiran karena berhasil mencetak gol, tiga menit kemudian sang pengadil bisa menganulir gol tersebut setelah melihat tayangan ulang VAR. Kan pemain sama fans jadi ngomong anjeeeeeng kalo gitu.

Salah satu kompetisi elit yang belum menggunakan VAR adalah Liga Inggris. Tapi tampaknya teknologi itu akan segera dipakai Premier League seiring makin seringnya opa Arsene Wenger ngambek karena kinerja wasit, yang menurutnya makin terbelakang.

Tidak bisa dipungkiri memang jika Liga Inggris menjadi sarang kontroversi yang salah satunya disebabkan oleh wasit. Ya, hampir sama dengan Liga Italia. Tapi di Serie A kontroversi hanya tersentralisasi pada pertandingan Juventus saja. di Negeri Ratu Elizabeth, momen-momen itu terjadi merata, terutama setelah Sir Alex Ferguson mangkat dari jabatannya di klub yang itu.

Jauh sebelum Wasit Lee Mason membuat kontroversi karena larinya lebih kencang dari bintang muda Manchester United, Jesse Lingard (LAAAAH), Inggris memiliki satu nama tenar lainnya dalam diri Mark Clattenburg.

Bagi fans Liverpool, Clattenburg dicap sebagai wasit yang selalu membela Manchester United. Sedangkan menurut fans United, ia tak lebih dari sekedar musuh yang harus disoraki tiap meniupkan peluit. (Aneh kan? ya iyalah, kalo nggak ya bukan kontroversi namanya).

Pada 2016 lalu, Clattenburg pernah membuat Raheem Sterling ngamuk karena dianggap handball. Padahal dalam tayangan ulang terlihat jelas bola mengenai badannya. Keputusan ini pun membuat Manchester City takluk 1-2 dari Tottenham Hotspur.

Sedangkan di luar lapangan, wasit 42 tahun itu juga tak luput dari kontroversi. Ia ketahuan selingkuh dengan seorang wanita muda bernama Andrea. Hebatnya, Clattenburg mengaku masih bujangan pada Andrea dan rela melepas jabatannya sebagai wasit demi memulai hidup bersama. Nahasnya, perbuatannya itu diketahui oleh sang istri, Claire, yang melabraknya langsung.

Yang tak kalah kontroversi dari sosok wasit asal Inggris ini adalah ucapan rasisnya kepada pemain Chelsea ketika itu, John Obi Mikel. 2012 lalu, ia dituding mengucapkan kata 'monyet' pada pemain asal Nigeria tersebut. Tak hanya Mikel, ucapan Clattenburg juga menyasar Juan Mata dengan menyebutnya sebagai orang Spanyol yang idiot.

Kendati pada akhirnya ia membantah tuduhan rasis itu, dirinya sudah kadung menjadi buah bibir seantero Inggris dan dunia. Mungkin, entah benar atau salah, hal ini secara ridak langsung membuatnya di deportasi dari Liga Inggris. Sejak musim ini, Clattenburg di pindah tugaskan menuju Arab Saudi.

Lama tak terdengar namanya, Clattenburg tiba-tiba muncul membawa cerita baik nan menghangatkan. Di negara salah satu peserta Piala Dunia 2018 itu, wasit kharismatik ini membuat semua orang takjub dan kembali membicarakannya. Tidak hanya media dari negara asalnya yang terkenal kejam, rekan sejawat, maupun pelaku sepak bola, tapi juga dari warganet yang menyaksikan aksi terbarunya.

Pada sebuah pertandingan bertajuk King's Cup antara Al Feiha vs Al Fateh, Clattenburg mengguncang dunia ketika laga memasuki menit 95 di babak tambahan. Pasalnya, laga yang tengah berjalan panas ini dihentikan oleh sang pengadil. Bukan karena ada pemain yang tergeletak di lapangan, atau lemparan botol dari penonton, apalagi aksi walk out dari salah satu manajer tim. Tapi karena kumandang azan yang menggema di King Salman bin Abdul Aziz Sport City Stadium.


Bukan satu dua menit ia menghentikan laga. Nyaris empat menit pertandingan berhenti hingga azan benar-benar selesai. Penonton, staff pelatih, dan pemain yang berada di bangku cadangan, maupun 22 penggawa yang sedang bertarung di lapangan, semua tampak diam. Suasana hening semakin menambah syahdu lantunan azan dari muazin. Bahkan, komentator yang tadinya bersemangat memandu laga juga larut dalam takbir.

Setelah azan selesai, laga kembali dilanjutkan dengan diawali tepukan tangan penonton yang memadati stadion. Mereka memuji keputusan Clattenburg yang menghentikan laga itu. Ketika video ini tersebar, banyak warganet yang memuji keputusan wasit kelahiran Consett, Inggris. Mereka menganggap sang pengadil telah mempertontonkan rasa hormat yang tinggi kepada orang-orang muslim di seluruh dunia.

Praktis kontroversi yang selama ini melekat dari dirinya berubah menjadi puja-puji. Bukan hanya karena ia menghentikan laga saat azan berkumandang, tapi juga latar belakangnya yang memiliki kepercayaan berbeda dan statusnya sebagai warga Inggris yang baru kali ini bertugas di Timur Tengah, terlebih Arab Saudi yang memiliki peraturan sangat ketat.

Saya tidak tahu apakah semua pertandingan di sana akan dihentikan jika terdengar suara azan karena memang belum melihat video serupa sebelumnya. Tapi setidaknya di Indonesia hal tersebut tidak terjadi di Liga Bank Mandiri, Liga Super Indonesia, Indonesia Super Championship, Liga 1, atau apa pun federasi menamakan kompetisi di tanah air.

Dari banyak stadion, kandang Persiba Balikpapan (sebelum pindah ke Stadion Batakan) memiliki jarak sangat dekat dengan Mesjid. Bahkan kerap terdengar suara azan di tengah-tengah pertandingan. Tapi apakah wasit menghentikan laga? Tidak. Ia tetap melanjutkan, hanya suporter yang berhenti bernyanyi dan menari mendukung klubnya bertanding.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan Clattenburg bisa dibilang sikap luar biasa di tengah kontroversi yang membelenggu sepanjang kariernya. Sebagai orang yang tidak tahu apa maksud dari azan dan bagaimana sakralnya arti azan bagi umat muslim di dunia, dia bukan hanya patut dipuji, tapi juga harus dikenang. Terlebih bagi kita masyarakat Indonesia yang masih harus banyak belajar toleransi dan menghormati agar bisa keluar dari jebakan batman bernama kaum bumi datar, bumi bulat, cebong, atau kaum apalah-apalah itu yang sering dijuluki oleh netizen.